Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Tapi sudah ada yang mati!” kata Hermione dengan cemas ketika mereka melewati pintu yang tersembunyi di balik permadani hias dan menaiki tangga lain yang lebih sempit.

“Yeah,” kata Fred ringan, “tapi sudah bertahuntahun lalu, kan? Lagian, mana seru kalau tak ada sedikit risiko? Hei, Ron, bagaimana kalau kami berhasil menemukan cara mengelabui Dumbledore? Mau ikutan juga?”

“Bagaimana menurutmu?” Ron menanyai Harry. “Cool juga kalau ikut, ya? Tapi kurasa mereka menginginkan anak yang lebih besar… Entahlah, apa sudah cukup yang kami pelajari…”

“Kalau aku jelas belum cukup,” terdengar suara muram Neville dari belakang Fred dan George.

“Tapi kuduga nenekku ingin aku ikut. Dia selalu omong tentang bagaimana aku harus mempertahankan kehormatan keluarga. Aku akan… oops…”

Kaki Neville terjeblos anak tangga di tengah tangga. Ada banyak tangga tipuan semacam ini di Hogwarts. Kebanyakan anak-anak yang sudah lama di Hogwarts otomatis akan melompati anak tangga yang satu ini, tetapi ingatan Neville parah sekali. Harry dan Ron menyambar ketiaknya dan menariknya, sementara seperangkat baju zirah di atas tangga berderik dan berkelontangan, tertawa berdesis.

“Diam kau,” kata Ron pada si baju zirah, membanting turun visornya ketika melewatinya.

Mereka naik menuju pintu masuk Menara Gryffindor, yang tersembunyi di balik lukisan besar seorang nyonya gemuk bergaun sutra merah jambu.

“Kata kunci?” tanya si Nyonya Gemuk ketika mereka tiba. “Balderdash,” kata George. “Prefek di bawah mem-beritahuku.”

Lukisan mengayun ke depan, memperlihatkan lubang di dinding. Mereka semua memanjat masuk. Api yang berderik menghangatkan ruang rekreasi berbentuk bundar itu, yang penuh kursi berlengan empuk dan meja-meja. Hermione melirik sengit lidah api yang menari-nari riang, dan Harry mendengarnya bergumam jelas, “Perbudakan,” sebelum mengucapkan selamat tidur kepada mereka semua dan menghilang ke pintu yang menuju kamar anak-anak perempuan.

Harry, Ron, dan Neville menaiki tangga spiral terakhir sampai tiba di kamar mereka, yang terletak di puncak menara. Lima tempat tidur besar dengan kelambu merah tua berdiri merapat ke dinding. Masingmasing koper pemiliknya di kaki tempat tidur itu.

Dean dan Seamus sudah naik ke tempat tidur. Seamus telah menyematkan mawar Irlandia-nya ke kepala tempat tidurnya, dan Dean menempelkan poster Viktor Krum di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Poster tim sepakbola West Ham-nya yang lama tertempel di sebelahnya.

“Sinting,” Ron menghela napas, menggeleng memandang para pemain bola yang tak bergerak.

Harry, Ron, dan Neville berganti piama dan naik ke tempat tidur. Ada yang telah meletakkan pemanas di antara seprai dan selimutnya—pasti peri-rumah. Nyaman sekali, berbaring di tempat tidur dan mendengarkan badai yang menggemuruh di luar.

“Aku mungkin saja ikut,” kata Ron dengan suara mengantuk dalam kegelapan, “kalau Fred dan George berhasil tahu bagaimana… turnamen… siapa tahu, kan?”

“Ya, siapa tahu….”

Harry berguling di tempat tidurnya, serangkaian gambar baru yang menyenangkan terbentuk dalam benaknya… Dia berhasil mengelabui si juri yang tak berpihak sehingga si juri percaya bahwa dia sudah tujuh belas tahun… dia terpilih menjadi juara Hogwarts… dia berdiri dengan lengan terangkat penuh kemenangan di depan seluruh sekolah, yang semuanya bertepuk riuh dan berteriak-teriak… dia baru saja memenangkan Turnamen Triwizard… wajah Cho tampak jelas sendiri di antara kerumunan samarsamar, wajahnya bercahaya penuh kekaguman…

Harry nyengir sendiri, senang Ron tidak bisa melihat apa yang bisa dibayangkannya.

 

Bab 13:

Mad-Eye Moody

BADAI telah reda keesokan harinya, meskipun langitlangit Aula Besar masih muram, awan-awan abu-abu gelap berpusar di atas ketika Harry, Ron, dan Hermione membaca daftar pelajaran baru mereka saat sarapan. Beberapa kursi dari mereka, Fred, George, dan Lee Jordan mendiskusikan metode-metode sihir untuk menuakan diri dan cara-cara mendaftar ke Turnamen Triwizard.

“Hari ini boleh juga… di luar sepanjang hari,” kata Ron, yang menelusuri kolom hari Senin di daftar pelajarannya. “Herbologi bersama Hufflepuff dan Pemeliharaan Satwa Liar… brengsek, masih juga bareng Slytherin…”

“Dua jam Ramalan sore ini,” Harry mengeluh. Ramalan adalah pelajaran yang paling tak disukainya, selain Ramuan. Profesor Trelawney tak bosan-bosannya meramalkan kematian Harry, membuatnya sebal.

“Mestinya didrop saja, seperti aku,” kata Hermione tajam sambil mengoleskan mentega ke rotinya. “Jadi kau bisa ambil pelajaran yang lebih masuk akal seperti Arithmancy.”

“Eh, kau sudah mau makan lagi, rupanya,” kata Ron, mengawasi Hermione menambahkan banyak selai ke rotinya.

“Aku sudah memutuskan ada banyak cara lebih baik untuk memperjuangkan hak-hak peri-rumah,” kata Hermione angkuh.

“Yeah… dan kau lapar,” kata Ron, nyengir.

Mendadak terdengar bunyi berkeresak ribut di atas mereka, dan seratus burung hantu melesat masuk dari jendela yang terbuka, membawa surat-surat pagi itu. Harry mendongak, tapi tak tampak warna putih di antara kerumunan cokelat dan abu-abu. Burungburung itu terbang mengitari meja, mencari anakanak kepada siapa surat-surat dan paket-paket itu dialamatkan. Seekor burung hantu besar jingga kecokelatan terbang menukik ke arah Neville Long-bottom dan menjatuhkan bungkusan besar ke pang-kuannya—Neville hampir selalu lupa mengepak sesuatu. Di sisi lain aula, burung hantu-elang Draco Malfoy telah mendarat di bahunya, kelihatannya membawa persediaan permen dan kue-kue dari rumah. Berusaha mengabaikan kekecewaannya, Harry kembali menghadapi buburnya. Mungkinkah sesuatu telah terjadi pada Hedwig dan Sirius tidak menerima suratnya?

Pikiran ini memenuhi benaknya sampai mereka melewati kebun-kebun sayur yang becek dan tiba di rumah kaca nomor tiga. Di sini perhatiannya teralihkan oleh Profesor Sprout yang menunjukkan tanaman paling jelek yang pernah dilihat Harry. Tanaman itu lebih mirip siput raksasa hitam yang mencuat tegak dari tanah. Masing-masing menggeliat pelan dan memiliki beberapa benjolan berkilap yang tampaknya berisi cairan.

“Bubotuber,” Profesor Sprout memberitahu mereka. “Mereka perlu dipencet. Kalian harus mengumpulkan nanahnya…”

“Apanya?” tanya Seamus Finnigan jijik.

“Nanah, Finnigan, nanah,” ujar Profesor Sprout, “dan nanah ini berharga sekali, jadi jangan sampai tercecer. Kumpulkan dalam botol ini. Pakai sarung tangan kulit naga kalian. Nanah bubotuber bisa berdampak aneh-aneh pada kulit kalau tidak dicairkan dulu.”

Memencet bubotuber menjijikkan, tapi anehnya juga memuaskan. Setiap kali benjolan dipencet, cairan kental hijau-kekuningan memancar keluar, baunya mirip bensin. Mereka menampungnya di botol, seperti yang diperintahkan Profesor Sprout, dan pada akhir pelajaran, berhasil mengumpulkan beberapa liter.

“Ini akan membuat Madam Pomfrey senang,” kata Profesor Sprout, menutup botol terakhir dengan gabus. “Ini obat sangat mujarab untuk jerawat yang paling bandel. Anak-anak tak perlu lagi cari cara nekat menghilangkan jerawat.”

“Seperti si Eloise Midgen,” bisik Hannah Abbott, anak Hufflepuff. “Kasihan, dia mencoba menyihir lenyap jerawatnya.”

“Anak bodoh,” kata Profesor Sprout, menggelengkan kepala. “Untung Madam Pomfrey berhasil menempelkan kembali hidungnya.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.