Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Aku memperkenalkan guru baru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam,” kata Dumbledore riang, memecah keheningan. “Profesor Moody.”

Biasanya guru baru disambut dengan tepukan, tetapi tak seorang pun dari guru-guru ataupun para murid yang bertepuk, kecuali Dumbledore dan Hagrid. Tetapi tepukan mereka bergaung suram dalam keheningan, dan mereka pun segera berhenti. Yang lain rupanya terpana dengan penampilan Moody yang ajaib sehingga hanya mampu menatapnya.

“Moody?” Harry bergumam kepada Ron. “Mad-Eye Moody? Moody si Mata-Gila, yang pagi tadi dibantu ayahmu?”

“Mestinya,” kata Ron pelan, terkesima.

“Kenapa dia?” bisik Hermione. “Kenapa wajahnya!”

“Entah,” Ron balas berbisik, terpesona memandang Moody.

Moody tampaknya tak peduli dengan sambutan yang sama sekali tak hangat ini. Mengabaikan teko jus labu kuning di depannya, dia merogoh mantel bepergiannya lagi, mengeluarkan botol minuman, dan minum banyak-banyak. Saat dia mengangkat tangan untuk minum, mantelnya terangkat beberapa senti dari lantai, dan Harry melihat di bawah meja, beberapa senti kaki kayu dengan ujung seperti cakar.

Dumbledore berdeham.

“Seperti tadi mau kusampaikan,” katanya, tersenyum pada lautan anak-anak di hadapannya, yang semuanya masih terpana memandang Mad-Eye Moody, “kita mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pertandingan luar biasa di bulan-bulan mendatang, pertandingan yang sudah tidak diselenggarakan lebih dari seratus tahun. Dengan sangat gembira aku mengumumkan bahwa Turnamen Triwizard—Turnamen Trisihir—akan dilangsungkan di Hogwarts tahun ini.”

“Anda BERGURAU!” seru Fred Weasley keras.

Ketegangan yang memenuhi aula sejak Moody tiba mendadak mencair. Hampir semua anak tertawa, dan Dumbledore terkekeh senang.

“Aku tidak bergurau, Mr Weasley,” katanya, “walaupun setelah kau menyebut kata itu, aku memang mendengar lelucon seru waktu liburan musim panas tentang Troll, hantu nenek jahat, dan Leprechaun yang bersama-sama ke bar…”

Profesor McGonagall berdeham keras.

“Er—tapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat… bukan…,” kata Dumbledore. “Sampai mana aku tadi? Ah, ya, Turnamen Triwizard… nah, sebagian dari kalian mungkin belum tahu turnamen apa ini, maka kuharap mereka yang sudah tahu memaafkanku yang akan memberi penjelasan singkat, dan kuizinkan mereka melayangkan pikiran ke mana-mana.

“Turnamen Triwizard pertama kali diselenggarakan kira-kira tujuh ratus tahun lalu sebagai kompetisi persahabatan di antara ketiga sekolah sihir terbesar di Eropa: Hogwarts, Beauxbatons, dan Durmstrang. Se-orang juara dipilih untuk mewakili masing-masing sekolah, dan ketiga juara ini bersaing dalam menyelesaikan tiga tugas sihir. Ketiga sekolah ini bergiliran menjadi tuan rumah turnamen ini lima tahun sekali, dan kegiatan ini disepakati sebagai cara paling luar

biasa untuk membina tali persahabatan di antara para penyihir muda yang berbeda bangsa—sampai, angka kematiannya menjadi tinggi sekali, sehingga turnamen ini tidak diteruskan.”

“Angka kematian?” bisik Hermione kaget. Tetapi rupanya anak-anak lain tidak cemas seperti dia. Sebagian besar dari mereka saling berbisik dengan bersemangat, dan Harry sendiri jauh lebih tertarik mendengar ten-tang turnamen ini daripada mencemaskan kematian yang telah terjadi ratusan tahun lalu.

“Selama seratus tahun ini telah beberapa kali diusahakan untuk mengadakan kembali turnamen ini,” Dumbledore melanjutkan, “sayang tak satu pun berhasil. Meskipun demikian, Departemen Kerjasama Sihir Internasional dan Departemen Permainan dan Olahraga Sihir memutuskan sudah saatnya kita mencoba lagi. Kami telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk memastikan bahwa kali ini, para juara tidak dalam bahaya maut.

“Kepala sekolah Beauxbatons dan Durmstrang akan tiba bersama calon-calon mereka di bulan Oktober, dan seleksi ketiga juara akan berlangsung pada malam Halloween. Juri yang tidak memihak akan memutuskan pelajar mana yang paling layak bertanding untuk memperebutkan Piala Triwizard, piala yang akan mengharumkan nama sekolahnya, dan hadiah pribadi sebesar seribu Galleon.”

“Aku ikut!” Fred Weasley mendesis, wajahnya bercahaya memikirkan keagungan dan kekayaan sebesar itu. Dia bukan satu-satunya yang rupanya membayangkan diri sebagai juara Hogwarts. Di semua meja asrama, Harry bisa melihat anak-anak menatap terpesona Dumbledore, atau berbisik-bisik seru pada tetangga duduknya. Tetapi kemudian Dumbledore berbicara lagi, dan sekali lagi aula hening.

“Meskipun aku tahu kalian semua bersemangat untuk memenangkan Piala Triwizard bagi Hogwarts,” katanya, “para kepala sekolah yang muridnya akan ambil bagian, bersama Menteri Sihir, telah sepakat untuk menerapkan pembatasan umur untuk para peserta tahun ini. Hanya pelajar yang telah cukup umur—yaitu tujuh belas tahun atau lebih—diizinkan mengajukan nama mereka untuk dipertimbangkan. “Ini,”—Dumbledore sedikit mengeraskan suaranya, karena beberapa anak mengeluarkan suara marah mendengar keterangannya, dan si kembar Weasley men-dadak tampak berang—”adalah tindakan yang kami anggap perlu, mengingat tugas-tugas turnamen itu akan tetap sulit dan berbahaya, kendati kami telah mengambil langkah pengamanan, dan sangatlah tidak mungkin pelajar di bawah kelas enam dan tujuh sanggup menanganinya. Aku sendiri yang akan memastikan bahwa tak ada pelajar di bawah umur yang memperdayakan juri kita agar memilihnya menjadi juara Hogwarts.” Mata biru mudanya bercahaya ketika memandang wajah murka Fred dan George. “Oleh sebab itu kuminta kalian tidak usah membuang-buang waktu mendaftarkan diri jika usia kalian belum tujuh belas tahun.

“Delegasi dari Beauxbatons dan Durmstrang akan tiba Oktober nanti dan tinggal bersama kita hampir sepanjang tahun ajaran. Aku tahu bahwa kalian semua akan bersikap sopan dan ramah kepada tamu-tamu asing kita selama mereka tinggal bersama kita, dan akan memberikan dukungan sepenuh hati kepada juara Hogwarts, siapa pun dia, yang terpilih nanti. Nah, sekarang sudah malam, dan aku tahu kalian perlu beristirahat agar besok bisa segar ketika menerima pelajaran. Waktunya tidur!”

Dumbledore duduk lagi dan berpaling untuk berbicara kepada Mad-Eye Moody. Terdengar bunyi derit dan dentang ketika anak-anak bangkit dan beramairamai berjalan ke pintu ganda yang membuka ke Aula Depan.

“Tidak bisa begitu!” kata George Weasley, yang tidak bergabung dengan rombongan yang bergerak ke pintu, melainkan berdiri dan mendelik ke arah Dumbledore. “April nanti kami tujuh belas, kenapa kami tak boleh ikut?”

“Tak ada yang bisa mencegahku mendaftar,” kata Fred keras kepala, juga memandang marah ke meja guru. “Para juara akan diharuskan melakukan berbagai hal yang biasanya tak boleh kita lakukan. Dan hadiah uang seribu Galleon…!”

“Yeah,” kata Ron, menerawang. “Yeah, seribu Galleon…” “Ayo,” kata Hermione, “tinggal kita di sini kalau kau tak bergerak.”

Harry, Ron, Hermione, Fred, dan George berjalan ke Aula Depan. Fred dan George memperdebatkan cara-cara yang mungkin digunakan Dumbledore untuk mencegah mereka yang belum berusia tujuh belas tahun mengikuti turnamen.

“Siapa juri tak memihak yang akan menentukan siapa juaranya?” tanya Harry.

“Entahlah,” kata Fred, “tetapi merekalah yang harus kita tipu. Kurasa dua tetes Ramuan Tua bisa berhasil, George…”

“Tapi Dumbledore tahu kalian belum cukup umur,” kata Ron.

“Yeah, tapi bukan dia yang menentukan siapa juaranya, kan?” kata Fred galak. “Menurutku begitu juri ini tahu siapa saja yang ingin ikut, dia akan memilih yang terbaik dari masing-masing sekolah dan tak peduli berapa umur mereka. Dumbledore akan berusaha mencegah kita memasukkan nama kita.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.