Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Suara dingin itu berasal dari kursi berlengan antik di depan perapian, tetapi Frank tidak bisa melihat si pembicaranya. Si ular, sebaliknya, sekarang bergelung di atas karpet rusak di depan perapian, seperti karikatur anjing piaraan yang mengerikan.

Wormtail memberi isyarat agar Frank masuk. Meskipun masih sangat terguncang, Frank memegang tongkatnya semakin erat dan berjalan timpang melangkahi ambang pintu.

Perapian itu, satu-satunya sumber penerangan dalam ruangan, memantulkan bayang-bayang panjang bergoyang pada dinding. Frank memandang ke punggung kursi berlengan. Orang yang duduk di situ rupanya lebih kecil daripada pelayannya, karena belakang kepalanya pun tak kelihatan.

“Kau mendengar semuanya, Muggle?” tanya si suara dingin.

“Kau menyebutku apa?” tanya Frank menantang, karena sekarang setelah dia berada dalam ruangan, sekarang setelah tiba saatnya untuk bertindak, dia merasa lebih berani; begitulah selalu yang terjadi dalam peperangan.

“Aku menyebutmu Muggle,” kata suara itu dingin. “Itu berarti kau bukan penyihir.”

“Aku tak tahu apa maksudmu dengan penyihir,” kata Frank, suaranya semakin mantap. “Yang kutahu hanyalah, aku sudah mendengar cukup untuk membuat polisi tertarik malam ini. Kau sudah melakukan pembunuhan dan kau merencanakan pembunuhan lain! Dan asal kau tahu saja,” dia menambahkan, mendadak mendapat inspirasi, “istriku tahu aku ada di sini, dan kalau aku tidak pulang…”

“Kau tidak punya istri,” kata suara dingin itu perlahan. “Tak ada yang tahu kau ada di sini. Kau tidak memberitahu siapa pun kau akan ke sini. Jangan bohong kepada Lord Voldemort, Muggle, karena dia tahu… dia selalu tahu…”

“Betulkah?” kata Frank kasar. “Lord, ya? Aku tak menghargai sikapmu, My Lord. Berbaliklah dan hadapi aku seperti laki-laki.”

“Tetapi aku bukan laki-laki, Muggle,” kata suara dingin itu, nyaris tak terdengar karena sekarang ditingkahi derik api. “Aku lebih dari sekadar laki-laki, jauh lebih dari itu. Meskipun demikian… kenapa tidak? Aku akan menghadapimu…. Wormtail, putarlah kursiku.”

Pelayan itu merengek.

“Kau mendengarku, Wormtail.”

Perlahan, dengan wajah mengerut seakan dia lebih baik melakukan apa saja daripada mendekati tuannya dan karpet tempat berbaring si ular, laki-laki kecil itu maju dan mulai memutar kursi. Si ular mengangkat kepalanya yang jelek berbentuk segitiga dan mendesis pelan ketika kaki kursi tersangkut karpetnya.

Dan kemudian kursi itu menghadap Frank, dan dia melihat apa yang duduk di atasnya. Tongkatnya jatuh berkelontangan di lantai. Dia membuka mulut dan menjerit. Frank menjerit luar biasa kerasnya sehingga dia tak pernah mendengar kata-kata yang diucapkan makhluk di atas kursi itu saat dia mengangkat tongkatnya. Ada kilatan cahaya hijau, suara menderu, dan Frank Bryce terpuruk. Dia sudah meninggal sebelum menyentuh lantai.

Tiga ratus kilometer dari tempat itu, anak yang bernama Harry Potter terbangun dengan kaget.

 

Bab 2:

Bekas Luka

HARRY berbaring telentang, terengah-engah seakan habis berlari. Dia terbangun dari rnimpi yang sangat nyata dengan tangan menekan wajahnya. Bekas luka lama di dahinya, yang berbentuk sambaran kilat, membara di bawah jari-jarinya, seakan ada orang yang baru saja menekankan kawat panas ke kulitnya.

Harry duduk. Satu tangan masih pada bekas lukanya, satunya lagi terjulur dalam kegelapan mencaricari kacamatanya, yang terletak di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Dipakainya kacamatanya dan kamarnya sekarang tampak lebih terfokus, diterangi cahaya jingga redup yang menembus melalui gorden dari lampu jalan di luar jendelanya.

Harry meraba lagi bekas lukanya dengan jarinya. Bekas luka itu masih sakit. Dia menyalakan lampu di sebelahnya, turun dari tempat tidur, menyeberang ruangan, membuka lemari pakaiannya dan memandang ke dalam cermin di balik pintu lemari. Anak laki-laki kurus berusia empat belas tahun balas memandangnya, matanya yang hijau cemerlang kebingungan di bawah rambut hitamnya yang berantakan. Harry mengamati bekas lukanya yang berbentuk sambaran kilat dengan lebih teliti. Kelihatannya biasa saja, tapi rasanya masih menyengat.

Harry berusaha mengingat-ingat mimpinya tadi, sebelum terbangun. Mimpinya serasa nyata sekali… Ada dua orang yang dikenalnya dan satu yang tidak… Dia berkonsentrasi keras, mengerutkan kening, berusaha mengingat….

Gambaran samar sebuah ruangan gelap muncul… Ada ular di atas karpet… seorang laki-laki kecil bernama Peter, dengan nama panggilan Wormtail… dan suara dingin, melengking tinggi… suara Lord Voldemort. Harry merasa seakan sepotong es meluncur ke dalam perutnya begitu teringat pada Lord Voldemort….

Dia memejamkan mata rapat-rapat dan berusaha mengingat seperti apa Voldemort, tetapi tak mung-kin… Yang Harry tahu hanyalah, pada saat kursi Voldemort diputar dan Harry melihat apa yang ada di atasnya, dia merasakan entakan kengerian, yang membuatnya bangun… atau, rasa sakit pada bekas lukanyakah yang membangunkannya?

Dan siapakah laki-laki tua itu? Karena jelas tadi ada laki-laki tua. Harry melihatnya terjatuh ke lantai. Segalanya jadi membingungkan. Harry membenamkan muka ke dalam tangannya, memblokir kamarnya, berusaha mempertahankan gambaran ruang berpenerangan samar-samar, tetapi itu seperti mempertahankan air dalam genggaman tangan. Detail-detailnya sekarang menetes-netes sama cepatnya dengan usahanya menggenggamnya… Voldemort dan Wormtail tadi membicarakan seseorang yang telah mereka bunuh, meskipun Harry tak bisa mengingat namanya… dan mereka sedang merencanakan membunuh orang lain lagi… membunuh dia!

Harry mengangkat wajah, membuka mata, dan me-mandang sekeliling kamar tidurnya seakan mengharap melihat sesuatu yang luar biasa. Kebetulan memang ada beberapa hal luar biasa di dalam kamar ini. Sebuah koper kayu besar berdiri terbuka di kaki tem-pat tidurnya, menampakkan kuali, sapu, jubah-jubah hitam, dan bermacam buku mantra. Bergulung-gulung perkamen berserakan di atas mejanya, di bagian yang tidak ditempati sangkar besar kosong. Hedwig, burung hantunya yang seputih salju, biasanya bertengger di dalam sangkar itu. Di lantai di sebelah tempat tidurnya, sebuah buku terbuka. Harry sedang membacanya sebelum dia tertidur semalam. Foto-foto di dalam buku ini semua bergerak-gerak. Pria-pria berjubah jingga cemerlang meluncur-luncur di atas sapu, se-bentar tampak sebentar menghilang, saling lempar sebuah bola merah.

Harry berjalan ke buku itu, memungutnya, dan melihat salah satu penyihir mencetak gol spektakuler dengan memasukkan bola ke dalam lingkaran setinggi lima belas meter. Kemudian dia menutup bukunya”. Bahkan Quidditch—yang menurut Harry olahraga paling hebat di seluruh dunia—tak dapat mengalihkan perhatiannya saat itu. Dia meletakkan Terbang Bersama The Cannons di atas meja di sebelah tempat tidurnya, berjalan ke jendela, dan membuka gordennya untuk memeriksa jalan di bawah.

Privet Drive tampak seperti yang diharapkan dari sebuah jalan terhormat di kota kecil menjelang fajar di hari Sabtu. Semua gorden tertutup. Sejauh yang bisa Harry lihat dalam kegelapan, tak tampak satu makhluk hidup pun, bahkan seekor kucing pun tidak.

Meskipun demikian… Harry kembali ke tempat tidurnya dengan resah, dia duduk dan meraba bekas lukanya lagi. Bukan rasa sakitnya yang mengganggunya. Rasa sakit dan luka bukan hal asing bagi Harry. Dia pernah kehilangan semua tulang di lengan kanannya dan ditumbuhkan lagi dengan amat sakit dalam semalam. Lengan yang sama pernah tertusuk taring berbisa sepanjang tiga puluh senti tak lama sesudahnya. Baru tahun lalu Harry terjatuh dari ketinggian lima belas meter dari atas sapu terbangnya. Dig. sudah terbiasa dengan kecelakaan dan luka-luka aneh; itu tak bisa dihindari kalau kau bersekolah di Sekolah Sihir Hogwarts dan Harry rupanya punya kecakapan khusus, untuk membuat banyak masalah tertarik kepadanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.