Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Peeves, tentu,” kata Nick, menggelengkan kepala, yang bergoyang nyaris copot. Dia menarik rimpelnya lebih tinggi. “Perdebatan yang biasa, kalian tahu, kan. Dia ingin menghadiri pesta… mana mungkin, kalian tahu hantu macam apa dia, sangat tak tahu adat. Setiap kali melihat sepiring makanan, maunya untuk main lempar-lemparan. Kami lalu mengadakan rapat hantu—si Rahib Gemuk ingin memberinya kesempatan. Untunglah si Baron Berdarah bijaksana, menentangnya habis-habisan.”

Baron Berdarah adalah hantu Slytherin, hantu kurus kering pendiam yang dipenuhi bercak darah keperakan. Dia satu-satunya makhluk di Hogwarts yang bisa mengendalikan Peeves.

“Pantas Peeves tadi sewot,” kata Ron. “Jadi, apa yang dilakukannya di dapur?”

“Oh, biasa,” kata Nick, mengangkat bahu. “Bikin kekacauan. Panci dan wajan beterbangan. Lantai banjir sup. Peri-peri rumah sampai ketakutan sekali…”

Klang. Hermione menyenggol piala emasnya sampai terguling. Jus labu kuning langsung melebar di atas taplak meja, membuat linen putih itu menjadi jingga. Tetapi Hermione tak peduli.

“Ada peri-rumah di sini?” katanya, memandang Nick dengan kaget. “Di Hogwarts?”

“Tentu saja,” kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus, heran melihat reaksi Hermione. “Jumlahnya paling banyak dibanding di tempat mana pun di Inggris, kukira. Lebih dari seratus.”

“Aku belum pernah melihat satu pun!” kata Hermione.

“Yah, mereka kan tidak pernah meninggalkan dapur di siang hari,” kata Nick. “Mereka muncul di malam hari untuk bersih-bersih… memeriksa perapian… dan macam-macam lagi… Maksudku, kalian memang tidak diharapkan melihat mereka. Bukankah tanda perirumah yang baik adalah kalau kalian tak tahu mereka ada?”

Hermione memandangnya tak percaya.

“Tetapi mereka dibayar?” tanyanya. “Mereka mendapat libur, kan? Dan… dan cuti sakit, dan pensiun, dan lain-lainnya?”

Nick si Kepala-Nyaris-Putus terkekeh kegelian sampai rimpelnya merosot dan kepalanya terkulai, berjuntai pada kira-kira hanya dua senti kulit hantu dan otot yang masih menempel di lehernya.

“Cuti sakit dan pensiun?” katanya, mendorong kepalanya balik ke lehernya dan menahannya lagi dengan rimpelnya. “Peri-rumah tidak menginginkan cuti sakit dan pensiun!”

Hermione memandang piring makanannya yang nyaris belum tersentuh, kemudian meletakkan pisau dan garpunya di atasnya, dan mendorongnya menjauh darinya.

“Oh, jangan begitu, ‘Er-my-knee,” kata Ron bergurau. Nama Hermione memang dilafalkan “ermaini”, sama dengan bunyi er-my-knee—er-lututku. Harry tak sengaja kecipratan makanan Ron. “Oops… sori, ‘Arry…” Ron menelan pudingnya. “Kau tak akan dapat cuti sakit walaupun mogok makan!”

“Perbudakan,” kata Hermione, mengembuskan napas keras-keras lewat hidungnya. “Begitu caranya makan malam ini dibuat. Perbudakan.”

Dan dia menolak makan sesendok pun lagi.

Hujan masih terus mengguyur kaca-kaca yang tinggi dan gelap. Gelegar guruh sekali lagi menggetarkan jendela-jendela, dan petir menyambar di langit-langit gelap, menerangi piring-piring emas sementara sisasisa menu pertama lenyap dan langsung digantikan oleh makanan penutup.

“Kue tart, Hermione!” kata Ron, sengaja mengarahkan harumnya aroma kue ke arahnya. “Puding, lihat! Kue cokelat!”

Tetapi Hermione memandangnya dengan cara yang mirip sekali Profesor McGonagall sehingga Ron menyerah.

Ketika makanan penutup juga sudah dilahap habis, dan remah terakhir sudah lenyap dari atas piring, meninggalkan piringnya bersih berkilau lagi, Albus Dumbledore sekali lagi berdiri. Dengung celoteh yang memenuhi aula langsung berhenti, sehingga hanya deru angin dan gerujuk hujan yang terdengar.

“Nah!” kata Dumbledore, tersenyum kepada mereka semua. “Sekarang setelah kita semua kenyang makan dan minum,” (“Hmph!” dengus Hermione) “sekali lagi aku minta perhatian kalian untuk beberapa pengumuman.

“Mr Filch, si penjaga sekolah, memintaku untuk menyampaikan kepada kalian bahwa daftar benda yang dilarang di dalam kastil tahun ini ditambah dengan Yo-yo Menjerit, Frisbee Bertaring, dan Boomerang Menampar. Daftar lengkapnya terdiri atas empat ratus tujuh puluh macam, kurasa, dan bisa dilihat di kantor Mr Filch, kalau ada yang mau mengeceknya.”

Ujung-ujung bibir Dumbledore bergerak-gerak. Dia meneruskan, “Seperti biasa, aku mau mengingatkan kalian semua bahwa hutan di ujung halaman sekolah itu terlarang untuk para pelajar, begitu juga desa Hogsmeade, terlarang untuk anak-anak di bawah kelas tiga.

“Dengan sangat berat hati aku harus menyampaikan juga bahwa pertandingan antar-asrama untuk memperebutkan Piala Quidditch tahun ini tidak akan diadakan.”

“Apa?” Harry terpekik kaget. Dia berpaling memandang Fred dan George, sesama anggota tim Quidditch-nya. Mulut mereka terbuka mengatakan sesuatu pada Dumbledore, tapi tanpa suara. Rupanya mereka tak bisa bicara saking terkejutnya. “Ini dikarenakan ada pertandingan yang akan dimulai di bulan Oktober dan berlanjut sepanjang tahun ajaran, menyita banyak waktu dan tenaga para guru—tetapi aku yakin kalian semua akan sangat menikmatinya. Dengan kegembiraan luar biasa kuumumkan bahwa tahun ini di Hogwarts…”

Tetapi tepat saat itu terdengar gelegar guntur memekakkan telinga dan pintu Aula Besar menjeblak terbuka.

Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu, bersandar pada tongkat panjang, memakai mantel bepergian berwarna hitam. Semua kepala di Aula Besar menoleh memandang orang asing ini, yang mendadak diterangi cahaya petir yang menyambar di langit-langit. Dia menurunkan kerudung kepalanya, mengguncang ram-but panjangnya yang beruban, kemudian berjalan ke meja guru.

Bunyi tok bergaung di seluruh aula setiap kali dia melangkah. Dia tiba di ujung meja guru, berbelok ke kanan, dan terpincang-pincang mendekati Dumbledore. Kilat menyambar lagi dan Hermione memekik pelan.

Cahaya kilat menerangi wajah laki-laki itu sehingga tampak jelas. Belum pernah Harry melihat wajah seperti itu. Seakan dipahat dari kayu yang sudah diterpa cuaca oleh orang yang nyaris tak tahu bagaimana seharusnya wajah manusia, dan tak begitu andal menggunakan pahatnya. Setiap senti kulitnya tampaknya bekas terluka. Mulutnya seperti torehan serong, dan sepotong besar hidungnya hilang. Tetapi matanyalah yang membuatnya mengerikan.

Satu matanya kecil, hitam, seperti manik-manik. Satunya lagi besar, bundar seperti koin dan berwarna biru elektrik terang. Mata biru itu bergerak tak hentinya, tanpa berkedip, berputar ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri, bergerak bebas tidak sewajarnya mata normal—dan kemudian bola mata itu berbalik sepenuhnya, menghadap ke bagian belakang kepalanya, sehingga yang bisa terlihat hanyalah warna putihnya.

Si orang asing tiba di tempat Dumbledore. Dia mengulurkan tangan yang juga penuh bekas luka, seperti wajahnya, dan Dumbledore menjabatnya, menggumamkan kata-kata yang tak bisa didengar Harry. Tampaknya dia bertanya-tanya kepada si orang asing, yang menggeleng tanpa senyum dan menjawab dengan suara pelan. Dumbledore mengangguk dan menunjuk ke kursi kosong di sebelah kanannya.

Orang asing itu duduk, menggoyang rambutnya supaya tidak menutupi wajahnya, menarik sepiring sosis ke dekatnya, mengangkatnya ke sisa hidungnya, dan mengendusnya. Dia kemudian mengeluarkan pisau kecil dari sakunya, menusuk sosis dengan ujungnya, dan mulai makan. Matanya yang normal memandang sosis, tetapi mata birunya masih bergerak tak kenal lelah di dalam rongganya, memandang seluruh aula dan semua murid.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.