Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Oh, cepat dong,” ratap Ron, di sebelah Harry. “Aku bisa menghabiskan Hippogriff saking laparnya.”

Baru saja mulutnya mengatup, pintu-pintu Aula Besar terbuka dan ruangan menjadi hening. Profesor McGonagall memimpin sederet panjang anak-anak kelas satu ke bagian depan aula. Kalau Harry, Ron, dan Hermione sudah basah kuyup, itu belum seberapa dibanding anak-anak kelas satu. Dilihat dari penampilan mereka, orang akan menyangka mereka berenang menyeberangi danau dan bukannya naik perahu. Semuanya gemetar kedinginan dan ketakutan ketika berjajar di depan meja guru menghadap murid-murid yang lain—semuanya, kecuali anak yang paling kecil, anak laki-laki dengan rambut sewarna bulu tikus, yang terbungkus mantel tikus mondok yang dikenali Harry sebagai mantel Hagrid. Mantel itu sangat kebesaran untuknya sehingga kelihatannya dia dibungkus tenda sirkus besar berbulu. Mukanya yang kecil mencuat dari atas kerahnya, tampak luar biasa bergairah. Setelah ikut berjajar bersama teman-temannya yang ketakutan, dia memandang Colin Creevey, mengangkat kedua ibu jarinya dan mulutnya bergerak mengucapkan, “Aku jatuh ke danau!” Kelihatannya dia bangga sekali.

Profesor McGonagall sekarang meletakkan bangku berkaki-empat di lantai di depan anak-anak kelas satu. Di atas bangku itu ada topi penyihir yang sudah amat butut, kotor, dan bertambal. Anak-anak kelas satu memandangnya. Begitu pula semua yang lain. Sejenak suasana hening. Kemudian, robekan lebar di dekat tepi topi menganga lebar seperti mulut dan topi itu bernyanyi:

Lebih dari seribu tahun lalu,

Waktu aku masih baru berkilap,

Ada empat penyihir terkenal,

Yang namanya kini masih diingat:

Gryffindor si gagah berani dari padang liar,

Gadis gunung Ravenclaw yang jelita,

Hufflepuff yang manis dari lembah luas,

Si pintar Slytherin dari tanah berawa.

Mereka berbagi keinginan, harapan, impian,

Mereka menetaskan rencana berani, Untuk mendidik para penyihir muda, Begitulah Sekolah Hogwarts dimulai. Keempat pendiri Hogwarts ini Masing-masing mendirikan asrama Karena mereka menentukan nilai berbeda Bagi murid-murid pilihan mereka. Gryffindor paling menghargai Mereka yang gagah berani; Bagi Ravenclaw, yang terpintarlah Yang paling berarti; Bagi Hufflepuff, yang mau bekerja keras Itulah yang diterima; Dan Slytherin yang haus kekuasaan Menyukai mereka yang besar ambisinya. Sewaktu mereka masih hidup Murid-murid favorit mereka pilih sendiri, Tapi bagaimana menentukan murid yang cocok Setelah mereka meninggal dan tak ada lagi? Gryffindor-lah yang menemukan cara, Dia melepasku dari kepalanya Keempatnya menyumbangkan otak kepadaku Supaya aku bisa memilih bagi mereka! Sekarang selipkan aku di atas telingamu, Aku belum pernah k’eliru, Aku akan mengintip benakmu, Dan memberitahu di mana tempatmu!

Aula Besar dipenuhi sorak riuh ketika Topi Seleksi usai bernyanyi. “Itu bukan lagu yang dinyanyikannya waktu me

nyeleksi kita,” kata Harry, ikut bertepuk bersama yang lain.

“Setiap tahun nyanyinya lain,” kata Ron. “Hidupnya pasti membosankan, kan, jadi topi? Kurasa dia menghabiskan sepanjang tahun mengarang nyanyian baru.”

Profesor McGonagall sekarang membuka gulungan besar perkamen.

“Yang kusebut namanya maju, memakai topi, dan duduk di atas bangku,” katanya kepada anak-anak kelas satu. “Setelah Topi Seleksi menyebutkan asrama kalian, kalian duduk di meja masing-masing.

“Ackerley, Stewart!”

Seorang anak laki-laki maju, gemetar dari kepala sampai ke kaki. Dia mengambil Topi Seleksi, memakainya, dan duduk di bangku.

“RAVENCLAW!” teriak si topi.

Stewart Ackerley melepas topinya dan bergegas ke tempat duduk di meja Ravenclaw. Semua anak di situ bersorak menyambutnya. Sekilas Harry melihat Cho, Seeker Ravenclaw, bersorak mengiringi Stewart duduk. Sedetik Harry punya perasaan aneh ingin bergabung ke meja Ravenclaw juga.

“Baddock, Malcolm!”

“SLYTHERIN!”

Meja di sisi lain aula bersorak riuh rendah. Harry bisa melihat Malfoy bertepuk tangan ketika Baddock bergabung dengan anak-anak Slytherin. Dalam hati Harry bertanya, apakah Baddock tahu bahwa Asrama Slytherin telah menghasilkan lebih banyak penyihir hitam daripada asrama-asrama lainnya. Fred dan George mendesis ketika Malcolm Baddock duduk.

“Branstone, Eleanor!”

“HUFFLEPUFF!”

“Cauldwell, Owen!”

“HUFFLEPUFF!”

“Creevey, Dennis!”

Dennis Creevey yang mungil terhuyung maju, nyaris jatuh terserimpet mantel tikus mondok Hagrid, tepat ketika Hagrid sendiri menyelinap masuk ke dalam Aula Besar lewat pintu di belakang meja guru. Kira-kira dua kali lebih tinggi dari pria normal, dan tiga kali lebih lebar, dengan rambut hitamnya yang kusut masai dan jenggot yang awut-awutan, Hagrid tampak agak mengerikan—kesan yang menyesatkan, karena Harry, Ron, dan Hermione tahu Hagrid sangat baik hati. Dia mengedip kepada mereka seraya duduk di ujung meja guru dan memandang Dennis Creevey memakai Topi Seleksi. Robekan di tepinya membuka lebar…

“GRYFFINDOR!” si topi berteriak.

Hagrid ikut bertepuk bersama anak-anak Gryffindor ketika Dennis Creevey dengan wajah berseri-seri melepas topinya, meletakkannya kembali di atas bangku, dan bergegas mendatangi kakaknya.

“Colin, aku tadi jatuh!” katanya nyaring sambil duduk di kursi kosong. “Seru sekali! Dan ada sesuatu di air yang menangkapku dan mendorongku kembali ke dalam perahu!”

“Cool!” kata Colin, sama bergairahnya. “Mungkin yang mendorongmu si cumi-cumi raksasa, Dennis!”

“Wow!” kata Dennis, seakan terlempar ke dalam danau dalam yang sedang bergolak karena badai, dan didorong ke atas lagi oleh monster air raksasa adalah sesuatu yang luar biasa dan membuat iri banyak orang.

“Dennis! Dennis! Lihat anak yang di sana itu? Yang rambutnya hitam dan pakai kacamata? Lihat? Tahu siapa dia, Dennis?”

Harry memalingkan wajah, berkonsentrasi memandang Topi Seleksi, yang sekarang sedang menyeleksi Emma Dobbs.

Seleksi berlanjut. Anak-anak dengan tingkat ketakutan yang berbeda pada wajah mereka, bergerak satu demi satu ke bangku berkaki empat. Antrean berkurang dengan lambat, Profesor McGonagall baru sampai ke huruf L.

“Aduh, cepat dong,” keluh Ron, mengusap-usap perutnya.

“Ron, Seleksi jauh lebih penting daripada makanan,” kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus ketika “Madley, Laura!” terpilih masuk Hufflepuff.

“Terang saja, kau kan sudah mati,” tukas Ron.

“Mudah-mudahan yang masuk Gryffindor tahun ini hebat-hebat,” kata Nick, bertepuk ketika “McDonald, Natalie!” bergabung ke meja Gryffindor. “Kita tak ingin kehilangan rentetan keberuntungan kita, kan?”

Selama tiga tahun berturut-turut Gryffindor telah memenangkan Kejuaraan Antar-Asrama.

“Pritchard, Graham!”

“SLYTHERIN!”

“Quirke, Orla!”

“RAVENCLAW!”

Dan akhirnya, dengan “Whitby, Kevin!” (“HUFFLEPUFF!”) acara seleksi usai sudah. Profesor McGonagall mengangkat kursi berikut topinya dan membawanya pergi.

“Sudah waktunya,” kata Ron, menyambar pisau dan garpunya dan memandang penuh harap pada piring emasnya.

Profesor Dumbledore sudah berdiri. Dia tersenyum ke semua muridnya, lengannya membuka lebar menyambut mereka.

“Cuma dua kata yang akan kusampaikan kepada kalian,” katanya, suaranya yang dalam bergema di seluruh Aula Besar. “Selamat makan.”

“Horeeee!” seru Harry dan Ron ketika piring-piring kosong di depan mereka tiba-tiba penuh berisi makanan.

Nick menatap merana ketika Harry, Ron, dan Hermione mengisi piring mereka penuh-penuh. “Aaah, ‘nak,” kata Ron, mulutnya penuh kentang tumbuk. “Kalian beruntung malam ini bisa pesta,” ujar Nick. “Tadi ada keributan di dapur.” “Kenapa? Ada ‘pa?” tanya Harry, mengunyah sepotong besar daging.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.