Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Er… kenapa tidak?” tanya Harry.

“Sudah tradisi ada banyak persaingan di. antara semua sekolah sihir. Durmstrang dan Beauxbatons menyembunyikan keberadaan mereka supaya tak ada yang bisa mencuri rahasia mereka,” kata Hermione tanpa berbelit-belit.

“Yang benar saja,” kata Ron, mulai tertawa. “Durmstrang pasti sama besarnya dengan Hogwarts— bagaimana kau bisa menyembunyikan kastil besar begitu?”

“Tetapi Hogwarts tersembunyi,” kata Hermione, ke-heranan. “Semua orang tahu itu… yah, semua orang yang sudah membaca Sejarah Hogwarts lah.”

“Cuma kau, kalau begitu,” kata Ron. “Jadi, teruskan… bagaimana menyembunyikan tempat seperti Hogwarts?”

“Dengan sihir,” kata Hermione. “Kalau ada Muggle yang melihatnya, yang mereka lihat hanyalah reruntuhan bangunan tua berlumut dengan papan peringatan di depannya bertulisan BERBAHAYA, DILARANG MASUK.”

“Jadi, Durmstrang juga kelihatan seperti reruntuhan bagi orang luar?”

“Mungkin,” kata Hermione, mengangkat bahu, “atau bisa saja mereka memakai Mantra Penolak Muggle, seperti stadion Piala Dunia. Dan untuk mencegah penyihir asing menemukannya, mereka akan membuatnya tak-terpeta…”

“Apa, coba bilang lagi?”

“Yah, kau bisa menyihir bangunan supaya tak bisa tampak di peta, kan?”

“Er… kalau menurutmu begitu,” kata Harry.

“Tetapi menurutku, Durmstrang pastilah di suatu tempat jauh di utara,” kata Hermione menerawang. “Di tempat yang sangat dingin, karena mereka punya seragam mantel bulu.”

“Ah, pikirkan kemungkinan-kemungkinannya,” kata Ron melamun. “Mudah sekali mendorong Malfoy ke sungai es, pura-pura kecelakaan… Sayang sekali ibunya menyayanginya….”

Hujan makin lama makin lebat ketika kereta meluncur makin jauh ke utara. Langit amat gelap dan jendela amat berkabut, sehingga lampu-lampu sudah dinyalakan pada siang hari. Troli penjual makanan berderik di koridor, dan Harry membeli setumpuk besar Bolu Kuali untuk dimakan bersama.

Beberapa teman mereka berdatangan sementara siang berganti sore, termasuk Seamus Finnigan, Dean Thomas, dan Neville Longbottom, remaja berwajah bundar, sangat pelupa, yang dibesarkan oleh neneknya yang galak. Seamus masih memakai mawar Irlandianya. Sebagian sihirnya rupanya sudah memudar. Mawar itu masih meneriakkan “Troy—Mullet—Moran!” tetapi amat lemah dan terdengar amat letih. Setelah kira-kira setengah jam, Hermione, yang bosan mendengar obrolan tentang Quidditch yang tak habis-habisnya, membenamkan diri sekali lagi membaca buku Kitab Mantra Standar, Tingkat 4, dan mulai mempelajari Mantra Panggil.

Neville mendengarkan dengan iri ketika yang lain ramai membicarakan Piala Dunia. “Nenek tak mau pergi,” katanya merana. “Tak mau beli tiket. Kedengarannya seru sekali.”

“Memang,” kata Ron. “Lihat ini, Neville…”

Dia mencari-cari dalam kopernya di atas tempat bagasi dan mengambil figur miniatur Viktor Krum. “Oh, wow,” kata Neville iri ketika Ron meletakkan Krum di atas tangannya yang gemuk. “Kami juga melihatnya dari dekat,” kata Ron. “Kami nonton di Boks Utama…” “Untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupmu, Weasley.”

Draco Malfoy telah muncul di pintu. Di belakangnya berdiri Crabbe dan Goyle, kroninya yang bertubuh besar dan sangar, keduanya kelihatannya bertambah tinggi tiga puluh senti selama musim panas. Rupanya mereka mendengar obrolan tentang Qudditch itu dari

pintu kompartemen yang dibiarkan sedikit terbuka oleh Dean dan Seamus. “Rasanya kami tak mengundangmu bergabung, Malfoy,” kata Harry dingin.

“Weasley… apa itu?” kata Malfoy, menunjuk sangkar Pigwidgeon. Lengan jubah pesta Ron menjuntai bergoyang-goyang sesuai irama guncangan kereta, pergelangan lengannya yang berenda kelihatan jelas sekali.

Ron berusaha menyingkirkan jubah itu, tetapi Malfoy lebih cepat darinya. Dia menyambar lengan jubah itu dan menariknya.

“Lihat ini!” kata Malfoy kegirangan, mengangkat jubah Ron dan memperlihatkannya kepada Crabbe dan Goyle. “Weasley, memangnya kau mau pakai ini? Maksudku… ini memang mode yang ngetop di tahun delapan belas sembilan puluhan…”

“Bukan urusanmu!” kata Ron, wajahnya sama merahnya dengan jubah pesta yang disambarnya kembali dari tangan Malfoy. Malfoy terbahak-bahak. Crabbe dan Goyle tertawa konyol.

“Jadi… mau ikut, Weasley? Mau coba mengharumkan nama keluarga? Ada hadiah uang juga, tahu… kau akan bisa beli jubah yang layak kalau menang…”

“Kau bicara apa?” tukas Ron.

“Apakah kau mau ikut?” Malfoy mengulangi. “Kalau kau pasti ikut, Potter? Kau tak perriah melewatkan kesempatan untuk pamer, kan?”

“Jelaskan apa yang kauocehkan, kalau tidak, pergi sana, Malfoy,” kata Hermione jengkel dari atas Kitab Mantra Standar, Tingkat 4.

Senyum kegirangan merekah di wajah pucat Malfoy.

“Memangnya kalian tidak tahu?” katanya senang. “Kau punya ayah dan kakak di Kementerian dan kau tidak tahu? Bukan main! Ayahku sudah memberitahuku lamaaa sekali… dia dengar dari Cornelius Fudge. Tapi Ayah memang punya hubungan dekat dengan orang-orang top di Kementerian… Mungkin ayahmu tingkatnya cuma junior, jadi tak tahu, Weasley… ya… mungkin mereka tidak bicara tentang soal-soal penting di depannya…”

Tertawa sekali lagi, Malfoy memberi isyarat kepada Crabbe dan Goyle, dan ketiganya menghilang. Ron bangkit dan membanting pintu geser kompartemen begitu kerasnya sampai kacanya pecah.

“Ron!” tegur Hermione. Dia mencabut tongkatnya, menggumamkan, “Reparo!” dan serpihan-serpihan kaca menyatu kembali menjadi selembar kaca dan kembali menempel di pintu.

“Menyebalkan sekali… seakan dia tahu segalanya dan kita tidak…,” omel Ron. “‘Ayah punya hubungan dekat dengan orang-orang top di Kementerian’… Dad bisa naik pangkat dari dulu-dulu… cuma saja dia senang di tempatnya sekarang…”

“Tentu saja,” kata Hermione tenang. “Jangan biarkan Malfoy membuatmu panas, Ron…”

“Anak itu! Membuatku panas? Bagaimana tidak!” kata Ron, mencomot salah satu sisa Bolu Kuali dan meremasnya hingga hancur.

Ron jadi marah-marah terus sepanjang sisa perjalanan. Dia tidak banyak bicara ketika mereka berganti jubah seragam sekolah, dan masih panas ketika

Hogwarts Express mulai mengurangi kecepatannya dan akhirnya berhenti di stasiun Hogsmeade yang gelap gulita.

Ketika pintu-pintu kereta membuka, gemuruh guntur terdengar. Hermione membungkus Crookshanks dalam mantelnya dan Ron membiarkan jubah pestanya tetap menyelubungi sangkar Pigwidgeon ketika mereka turun dari kereta dengan kepala menunduk dan mata menyipit menerobos hujan. Hujan sekarang demikian lebatnya sehingga seakan berember-ember air dingin diguyurkan ke atas kepala mereka.

“Hai, Hagrid!” teriak Harry, melihat siluet sosok raksasa di ujung peron di kejauhan.

“Baik-baik saja, Harry?” Hagrid balas berseru, melambai. “Sampai ketemu di pesta kalau kami tidak tenggelam!”

Murid-murid kelas satu secara tradisi mencapai kastil Hogwarts dengan berlayar menyeberangi danau bersama Hagrid.

“Oooh, aku tak mau menyeberangi danau dalam cuaca macam ini,” kata Hermione sungguh-sungguh, gemetar, sementara mereka beringsut pelan sepanjang peron gelap bersama anak-anak lain. Seratus kereta tanpa-kuda siap menunggu mereka di depan stasiun. Harry, Ron, Hermione, dan Neville naik penuh syukur ke salah satu di antaranya. Pintu menutup, dan beberapa saat kemudian, dengan entakan keras, iringiringan panjang kereta berkeretak, menggelinding dengan mencipratkan air, menuju ke Kastil Hogwarts.

 

Bab 12:

TurnamenTrwiizard

MELEWATI gerbang, yang kanan-kirinya dijaga patung babi hutan bersayap, dan mendaki jalan menanjak, kereta menggelinding, berguncang mengerikan

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.