Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Moody penyihir hebat pada zamannya,” kata Bill.

“Dia teman lama Dumbledore, kan?” kata Charlie.

“Dumbledore juga tak bisa disebut normal, kan?” kata Fred. “Maksudku, aku tahu dia jenius dan hebat…”

“Siapakah Mad-Eye?” tanya Harry.

“Dia sudah pensiun, dulu kerja di Kementerian,” kata Charlie. “Aku pernah ketemu dia sekali waktu Dad membawaku ke tempat kerjanya. Dia Auror— salah satu yang terbaik… penangkap Penyihir Hitam,” dia menambahkan ketika melihat wajah Harry yang kosong. “Separo sel di Azkaban penuh berkat dia. Tapi karena itu dia punya banyak musuh… keluarga orang-orang yang ditangkapnya, terutama… dan kudengar dia jadi paranoid dalam usia tuanya ini. Tak lagi percaya siapa pun. Seolah melihat Penyihir Hitam di mana-mana.”

Bill dan Charlie memutuskan ikut mengantar ke Stasiun King’s Cross, tetapi Percy, minta maaf dengan sangat, berkata bahwa dia benar-benar harus bekerja.

“Aku tak bisa cuti lagi sekarang,” katanya kepada mereka. “Mr Crouch mulai tergantung kepadaku.”

“Yeah, tahu tidak, Percy?” kata George serius. “Kurasa dia akan segera tahu namamu.”

Mrs Weasley telah memberanikan diri menggunakan telepon di kantor pos desa untuk memesan tiga taksi Muggle biasa untuk membawa mereka ke London.

“Arthur mencoba meminjam mobil Kementerian untuk kita,” Mrs Weasley berbisik kepada Harry sementara mereka berdiri di halaman yang basah tersiram hujan, memandang ketiga sopir taksi keberatan mengangkat enam koper Hogwarts berat ke dalam mobil mereka. “Tapi tak ada mobil yang bisa dipinjam… Oh, astaga… mereka tak kelihatan senang, ya?”

Harry segan memberitahu Mrs Weasley bahwa sopir taksi Muggle jarang sekali mengangkut burung hantu yang kelewat bergairah, dan teriakan-teriakan Pigwidgeon sungguh memekakkan telinga. Apalagi ketika beberapa Kembang Api Filibuster Tanpa-Api, Awal-Basah tiba-tiba menyala ketika koper Fred terbuka, membuat si sopir yang mengangkutnya berteriak kesakitan karena Crookshanks mencakar kakinya.

Perjalanan tidak nyaman. Mereka berdesakan di bagian belakang taksi, dengan koper-koper mereka. Perlu beberapa waktu bagi Crookshanks untuk mengatasi kekagetannya gara-gara kembang api tadi, dan pada saat mereka memasuki London, Harry, Ron, dan Hermione sudah kena cakar di mana-mana. Mereka lega sekali turun di King’s Cross, meskipun hujan turun lebih lebat dari sebelumnya, dan mereka jadi basah kuyup menyeret koper mereka menye-berangi jalanan yang ramai dan memasuki stasiun.

Harry sekarang sudah terbiasa memasuki peron sembilan tiga perempat. Dia hanya tinggal berjalan melewati penghalang yang kelihatannya kokoh di antara peron sembilan dan sepuluh. Yang sulit adalah melakukannya secara tidak mencolok, agar tidak menarik perhatian Muggle. Mereka melakukannya berkelompok hari ini. Harry, Ron, dan Hermione (yang paling mencolok, karena mereka ditemani Pigwidgeon dan Crookshanks), masuk paling dulu. Mereka bersandar ke palang rintangan, mengobrol santai, dan berhasil masuk… peron sembilan tiga perempat tibatiba muncul di hadapan mereka.

Hogwarts Express, kereta uap merah berkilauan, sudah ada di sana, mengepul-ngepulkan asap. Para murid Hogwarts dan orangtua mereka bermunculan ke peron dari dalam asap itu seperti hantu-hantu hitam. Pigwidgeon jadi lebih ribut dari sebelumnya, membalas uhu-uhu burung-burung hantu lain yang terdengar dari dalam kabut asap. Harry, Ron, dan Hermione mencari tempat duduk, dan segera saja memasukkan koper-koper mereka dalam kompartemen di pertengahan kereta. Setelah itu mereka turun lagi untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Mrs Weasley, Bill, dan Charlie.

“Mungkin aku akan ketemu kalian lagi lebih cepat dari dugaan kalian,” kata Charlie tersenyum sambil memeluk Ginny.

“Kenapa?” tanya Fred tajam.

“Lihat saja nanti,” kata Charlie. “Cuma saja jangan bilang Percy aku menyebut-nyebut ini… kan ini ‘informasi rahasia, sampai pihak Kementerian merasa sudah tiba waktunya diumumkan.'”

“Yeah, rasanya aku ingin sekali balik ke Hogwarts tahun ini,” kata Bill, tangannya dalam saku, menerawang memandang kereta api.

“Kenapa?” tanya George penasaran.

“Tahun ini akan asyik sekali bagi kalian,” kata Bill, matanya berkilauan. “Mungkin aku akan cuti untuk menonton sebagian…”

“Sebagian apa?” tanya Ron. Tetapi saat itu peluit bertiup, dan Mrs Weasley menggiring mereka ke pintu kereta.

“Terima kasih kami boleh menginap, Mrs Weasley,” kata Hermione setelah mereka naik, menutup pintu, dan menjulurkan kepala ke luar jendela untuk bicara kepadanya.

“Yeah, terima kasih untuk segalanya, Mrs Weasley,” kata Harry

“Oh, aku senang kalian datang, Nak,” kata Mrs Weasley. “Aku ingin mengundang kalian Natal nanti, tapi… yah, kurasa kalian semua ingin tinggal di Hogwarts, apalagi dengan adanya… ini-itu.”

“Mum!” kata Ron sebal. “Apa sih yang kalian bertiga ketahui tapi kami tidak?”

“Kalian akan tahu malam ini, kurasa,” kata Mrs Weasley, tersenyum. “Akan sangat menyenangkan… aku senang sekali mereka sudah mengubah peraturannya…”

“Peraturan apa?” tanya Harry, Ron, Fred, dan George bersamaan.

“Nanti Profesor Dumbledore akan memberitahu kalian… Nah, jangan nakal, ya? Ya, Fred? Dan kau, George?”

Piston berdesis keras dan kereta mulai bergerak.

“Bilang dong akan ada apa di Hogwarts!” teriak Fred dari jendela sementara Mrs Weasley, Bill, dan Charlie tertinggal semakin jauh dari mereka. “Peraturan apa yang mereka ubah?”

Tetapi Mrs Weasley hanya tersenyum dan melambai. Sebelum kereta membelok di tikungan, dia, Bill, dan Charlie telah ber-Disapparate.

Harry, Ron, dan Hermione kembali ke kompartemen mereka. Hujan lebat yang menimpa jendela membuat mereka sulit sekali memandang ke luar. Ron membuka kopernya, mengeluarkan jubah pestanya yang merah, dan menyelubunginya ke sangkar Pigwidgeon untuk meredam uhu-uhunya.

“Bagman saja ingin memberitahu kita apa yang akan berlangsung di Hogwarts,” omelnya, seraya duduk di samping Harry. “Di Piala Dunia lalu, ingat? Masa ibuku sendiri tidak mau bilang. Apa kira-kira…”

“Shhh!” mendadak Hermione berbisik, meletakkan jari di bibirnya dan menunjuk kompartemen di sebelah mereka. Harry dan Ron mendengarkan, dan suara dipanjang-panjangkan yang sudah mereka kenal terdengar melalui pintu yang terbuka.

“… Ayah sebetulnya lebih suka menyekolahkan aku di Durmstrang daripada Hogwarts. Dia kenal kepala sekolahnya. Kalian kan tahu bagaimana pendapatnya tentang Dumbledore—orang itu pecinta berat Darah-lumpur—dan Durmstrang tidak menerima jembel ma-cam begitu. Tapi Ibu tidak suka aku bersekolah di tempat yang begitu jauh. Ayah bilang, Durmstrang bersikap lebih masuk akal daripada Hogwarts terhadap

Ilmu Hitam. Murid-murid Durmstrang mempelajarinya, bukan cuma pertahanan omong kosong seperti kita…” Hermione bangkit, berjingkat ke pintu kompartemen, dan menutupnya, memblokir suara Malfoy.

“Jadi dia pikir Durmstrang lebih cocok buatnya, begitu?” katanya berang. “Sayang sekali dia tidak sekolah di sana, supaya kita tak usah kenal dengannya.”

“Durmstrang itu sekolah sihir yang lain?” tanya Harry.

“Ya,” kata Hermione sengit. “Dan reputasinya buruk. Menurut Penilaian Pendidikan Sihir di Eropa, sekolah itu memberi banyak tekanan pada Ilmu Hitam.”

“Rasanya aku sudah pernah dengar deh,” kata Ron tak yakin. “Di mana sih? Negara mana?” “Kan tak ada yang tahu,” kata Hermione, mengangkat alisnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.