Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Sudahlah, Molly, mereka tak apa-apa,” kata Mr Weasley menghibur, melepaskannya dari si kembar dan membawanya ke arah rumah. “Bill,” dia menambahkan pelan, “ambil koran itu, aku ingin baca beritanya…”

Ketika mereka semua sudah berdesakan di dapur kecil itu, dan Hermione telah membuatkan secangkir teh amat kental untuk Mrs Weasley, dan Mr Weasley memaksa menuang sedikit Wiski-Api Tua Ogdens ke dalamnya, Bill menyerahkan korannya kepada ayahnya. Mr Weasley membaca halaman depan, sementara Percy ikut melihat dari balik bahunya.

“Aku sudah menduga,” kata Mr Weasley berat. “Ke-salahan Besar Kementerian… pelaku tidak tertangkap… pengamanan longgar… Penyihir-penyihir hitam berkeliaran betas… aib nasional… Siapa yang menulis ini? Ah, tentu saja… Rita Skeeter.”

“Perempuan itu sentimen pada Kementerian Sihir!” kata Percy berang. “Minggu lalu dia berkata kami membuang-buang waktu bercekcok tentang ketebalan kuali, ketika seharusnya kami membasmi vampir! Padahal kan sudah jelas dikatakan di paragraf dua belas Petunjuk Perlakuan terhadap Non-Penyihir Sebagian-Manusia…”

“Tolong deh, Perce,” kata Bill, menguap, “tutup mulut.”

“Aku disebut di sini,” kata Mr Weasley, matanya melebar di balik kacamatanya ketika dia tiba di bagian akhir artikel.

“Di mana?” kata Mrs Weasley yang sampai tersedak teh dan wiskinya. “Kalau aku melihatnya, aku akan tahu kau masih hidup!”

“Tidak menyebut nama,” kata Mr Weasley “Dengar ini: ‘Kalau para penyihir yang ketakutan, yang menahan napas menunggu berita di tepi hutan, mengharapkan penen-teraman hati dari Menteri Sihir, mereka sangat kecewa. Seorang petugas Kementerian keluar dari hutan beberapa waktu setelah kemunculan Tanda Kegelapan, mengatakan tak ada yang terluka, namun menolak memberikan informasi lebih jauh lagi. Apakah pernyataan ini cukup untuk meredam desas-desus bahwa beberapa tubuh disingkirkan dari dalam hutan satu jam kemudian, masih akan kita lihat lagi.’ Oh, astaga,” kata Mr Weasley putus asa, menyerahkan surat kabar itu kepada Percy. “Memang tak ada yang luka. Aku mesti ngomong apa? Desas-desus bahwa beberapa tubuh disingkirkan dari dalam hutan…

nah, sekarang pasti akan ada desas-desus, setelah dia menulis begitu.” Dia menarik napas dalam-dalam. “Molly, aku harus ke kantor, ini harus diluruskan.”

“Aku ikut, Ayah,” kata Percy sok penting. “Mr Crouch memerlukan semua stafnya. Dan aku bisa memberikan laporan kualiku secara pribadi.”

Dia bergegas keluar dari dapur. Mrs Weasley tampak sangat cemas.

“Arthur, kau kan sedang cuti! Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kantormu. Pastilah mereka bisa menangani ini tanpa kau.”

“Aku harus pergi, Molly,” kata Mr Weasley. “Aku telah membuat keadaan bertambah buruk. Aku akan berganti memakai jubah dan berangkat…”

“Mrs Weasley,” kata Harry tiba-tiba, tak bisa lagi menahan diri. “Hedwig belum datang membawa surat untukku?”

“Hedwig, Nak?” kata Mrs Weasley tak berkonsentrasi. “Belum… belum… tak ada pos sama sekali.”

Ron dan Hermione memandang Harry ingin tahu.

Dengan pandangan penuh arti kepada mereka, Harry berkata, “Boleh aku taruh barang-barang di kamarmu, Ron?” “Yeah… kurasa aku juga mau menaruh barangbarangku,” kata Ron segera tanggap. “Hermione?” “Ya,” katanya cepat-cepat, dan ketiganya meninggalkan dapur, menaiki tangga. “Ada apa, Harry?” tanya Ron begitu mereka sudah menutup pintu kamar Ron.

“Ada yang belum kuceritakan kepada kalian,” kata Harry. “Pada hari Sabtu pagi, aku terbangun dengan bekas lukaku sakit lagi.”

Reaksi Ron dan Hermione nyaris persis seperti yang dibayangkan Harry dalam kamarnya di Privet Drive. Hermione terpekik kaget dan langsung memberikan saran-saran, menyebutkan beberapa buku acuan, dan mengusulkan nama semua orang, dari Albus Dumbledore sampai Madam Pomfrey, matron rumah sakit Hogwarts. Ron bengong.

“Tapi… dia tidak di sana, kan? Kau-Tahu-Siapa? Maksudku… terakhir kalinya bekas lukamu sakit, dia kan ada di Hogwarts?”

“Aku yakin dia tidak ada di Privet Drive,” kata Harry. “Tetapi aku mimpi tentang dia… dia dan Peter—kalian tahu, Wormtail. Aku tak ingat seluruhnya sekarang, tetapi mereka merencanakan membunuh… orang.”

Sesaat tadi dia nyaris mengatakan “aku”, tetapi tak tega membuat Hermione lebih ketakutan lagi. “Itu cuma mimpi,” kata Ron menghibur. “Cuma mimpi buruk.”

“Yeah, tapi apa benar cuma mimpi buruk?” kata Harry, menoleh untuk memandang ke luar jendela, ke langit yang semakin terang. “Aneh, kan?… Bekas lukaku sakit, dan tiga hari kemudian Pelahap Maut berpawai, dan simbol Voldemort muncul di langit lagi.”

“Jangan… sebut… namanya!” Ron mendesis melalui giginya yang mengertak.

“Dan ingat apa yang dikatakan Profesor Trelawney?” Harry meneruskan, mengabaikan Ron. “Pada akhir tahun ajaran lalu?”

Profesor Trelawney adalah guru Ramalan mereka di Hogwarts. Ketakutan di wajah Hermione sirna ketika dia mendengus mengejek.

“Oh, Harry, memangnya kau percaya pada apa saja yang dikatakan perempuan sinting itu?”

“Kau tidak di sana,” kata Harry. “Kau tidak men-dengarnya. Kali itu berbeda. Kan sudah kuceritakan, dia trans… sungguhan. Dan dia bilang Pangeran Kegelapan akan bangkit lagi… lebih hebat dan lebih mengerikan daripada sebelumnya… dan dia berhasil melakukannya karena abdinya akan kembali kepadanya… dan malam itu Wormtail lolos.”

Dalam keheningan yang menyusul, Ron dengan linglung bermain-main dengan lubang pada seprai Chudley Cannons-nya.

“Kenapa tadi kau tanya apakah Hedwig sudah datang, Harry?” Hermione bertanya. “Apakah kau mengharapkan surat?”

“Aku bercerita pada Sirius tentang bekas lukaku,” kata Harry, mengangkat bahu. “Aku menunggu jawabannya.”

“Pemikiran bagus!” kata Ron, ekspresinya menjadi cerah. “Berani taruhan Sirius akan tahu apa yang harus dilakukan!”

“Mudah-mudahan dia cepat membalas suratku,” kata Harry.

“Tetapi kita tidak tahu di mana Sirius… dia bisa saja di Afrika atau di mana saja, kan?” kata Hermione masuk akal. “Hedwig tak akan mampu menempuh perjalanan sejauh itu dalam waktu beberapa hari.”

“Yeah, aku tahu,” kata Harry, tetapi ada perasaan berat menggayuti perutnya ketika dia memandang ke luar jendela, ke langit yang tanpa-Hedwig.

“Ayo ikut main Quidditch di kebun buah, Harry,” ajak Ron. “Ayo… tiga lawan tiga, Bill dan Charlie dan Fred dan George akan main… Kau bica mencoba Wronski Feint…”

“Ron,” kata Hermione, dalam nada menurutku-kausama-sekali-tidak-peka, “Harry tidak ingin main Quidditch sekarang… Dia sedang cemas, dan capek… Kita semua perlu tidur…”

“Yeah, aku mau main Quidditch,” kata Harry tibatiba. “Tunggu, kuambil dulu Firebolt-ku.”

Hermione meninggalkan kamar, menggumamkan sesuatu yang kedengarannya mirip sekali “Dasar cowok.”

Baik Mr Weasley maupun Percy tak banyak berada di rumah selama minggu berikutnya. Mereka berdua meninggalkan rumah setiap pagi sebelum yang lain bangun, dan kembali lama setelah makan malam usai.

“Benar-benar gempar,” Percy memberitahu mereka dengan lagak penting hari Minggu malam, sebelum mereka kembali ke Hogwarts. “Aku tak hentinya memadamkan api sepanjang minggu. Orang-orang terus saja mengirim Howler, dan tentu saja kalau Howler tak langsung dibuka, dia meledak. Mejaku penuh bekas-bekas terbakar dan pena buluku yang paling bagus jadi arang.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.