Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Dia tidak berkeliaran mengacau!” teriak Hermione. “Dia cuma memungut tongkat itu dari tanah!”

“Hei, apakah ada yang bisa menjelaskan apa artinya tengkorak itu?” kata Ron tak sabar. “Tengkorak itu tidak mencelakai siapa-siapa… Kenapa begitu diributkan?”

“Kan sudah kubilang, itu simbol Kau-Tahu-Siapa, Ron,” kata Hermione sebelum yang lain bisa menjawab. “Aku pernah membacanya di Jatuh-Bangunnya Sihir Hitam.”

“Dan simbol itu tak pernah terlihat selama tiga belas tahun,” kata Mr Weasley serius. “Tentu saja orang-orang panik… rasanya seperti melihat Kau-Tahu-Siapa muncul lagi.”

“Aku tak mengerti,” kata Ron, mengernyit. “Maksudku… itu kan cuma bentuk di langit…”

“Ron, Kau-Tahu-Siapa dan pengikut-pengikutnya me-ngirim Tanda Kegelapan ke angkasa setiap kali mereka membunuh,” kata Mr Weasley. “Teror yang ditimbul-kannya… kau tak bisa memahaminya, kau masih terlalu kecil. Bayangkan saja kau pulang dan menemukan Tanda Kegelapan melayang-layang di atas rumahmu, dan tahu apa yang akan kautemukan di dalam rumahmu…” Mr Weasley berjengit. “Ketakutan paling besar semua orang… yang paling buruk…”

Sesaat sunyi. Kemudian Bill, membuka seprai dari lengannya untuk memeriksa lukanya, berkata, “Malam ini tak membantu kita, kalaupun kita tahu siapa yang membuat tanda itu. Tanda itu membuat para Pelahap Maut ketakutan. Mereka semua ber-Disapparate sebelum kami bisa cukup dekat untuk membuka topeng salah satu dari mereka. Tapi kami berhasil menangkap keluarga Roberts sebelum mereka terjatuh ke tanah. Sekarang ingatan mereka sedang dimodifikasi.”

“Pelahap Maut?” kata Harry. “Apa Pelahap Maut itu?”

“Begitulah para pendukung Kau-Tahu-Siapa menyebut diri mereka,” kata Bill. “Kurasa malam ini kita melihat sisa-sisa para pendukungnya—mereka yang berhasil menghindari Azkaban, paling tidak. ”

“Kita tak bisa membuktikan itu mereka, Bill,” kata Mr Weasley. “Walaupun mungkin ada benarnya juga,” dia menambahkan tak berdaya.

“Yeah, berani taruhan dugaan Bill benar,” kata Ron tiba-tiba. “Dad, kami bertemu Draco Malfoy di hutan, dan secara tersirat dia mengatakan kepada kami ayahnya salah satu orang gila bertopeng itu! Dan kita semua tahu keluarga Malfoy pendukung Kau-Tahu-Siapa!”

“Tetapi apa maunya pendukung Voldemort…,” Harry baru berkata begitu, semua orang sudah berjengit—seperti hampir semua orang di dunia sihir, keluarga Weasley selalu menghindari menyebut nama Voldemort. “Maaf,” kata Harry buru-buru. “Apa maunya pendukung Kau-Tahu-Siapa membuat Muggle melayang begitu? Maksudku, apa gunanya?”

“Gunanya?” kata Mr Weasley tertawa hampa. “Harry, menurut mereka itu lucu. Separo pembunuhan Muggle yang terjadi waktu Kau-Tahu-Siapa berkuasa dilakukan hanya untuk lucu-lucuan. Kurasa mereka kebanyakan minum malam ini, dan tak tahan untuk tidak mengingatkan kita semua bahwa banyak di antara mereka masih berkeliaran. Reuni kecil yang menyenangkan untuk mereka,” dia mengakhiri dengan muak.

“Tetapi kalau mereka memang Pelahap Maut, kenapa mereka ber-Disapparate waktu melihat Tanda Kegelapan?” ujar Ron. “Mestinya kan mereka senang melihatnya?”

“Gunakan otakmu, Ron,” kata Bill. “Kalau mereka benar-benar Pelahap Maut, mereka bekerja keras menghindari Azkaban sewaktu Kau-Tahu-Siapa kehilangan kekuasaannya, dan menyebarkan segala macam ke-bohongan tentang bagaimana mereka dipaksa membunuh dan menyiksa orang-orang. Pasti mereka lebih takut daripada kita melihat Kau-Tahu-Siapa muncul kembali. Mereka menyangkal punya hubungan dengan dia ketika dia kehilangan kekuasaannya, dan kembali menjalani hidup sehari-hari mereka… kurasa mestinya dia tak akan senang pada mereka, kan?”

“Jadi… siapa pun yang membuat Tanda Kegelapan…,” kata Hermione lambat-lambat, “apakah mereka melakukannya untuk menunjukkan dukungan kepada para Pelahap Maut, atau untuk menakut-nakuti mereka?”

“Tebakanmu sama dengan tebakan kami, Hermione,” kata Mr Weasley. “Tetapi kuberitahu kalian… hanya Pelahap Maut yang tahu bagaimana caranya menyihir Tanda Kegelapan. Aku akan heran sekali kalau orang yang membuatnya malam ini bukan Pelahap Maut, walaupun sekarang tidak lagi… Dengar, sekarang sudah larut malam, dan kalau ibu kalian mendengar apa yang terjadi, dia akan cemas setengah mati. Kita akan tidur beberapa jam dan mencoba mendapatkan Portkey yang berangkat pagi-pagi sekali untuk meninggalkan tempat ini.”

Harry naik ke tempat tidurnya dengan kepala amat penuh. Dia tahu seharusnya dia merasa lelah. Saat itu sudah hampir pukul tiga pagi, tetapi dia tidak mengantuk—matanya masih terbuka lebar, dan dia cemas.

Tiga hari yang lalu—rasanya sudah jauh lebih lama, tetapi baru tiga hari—dia terbangun dengan bekas lukanya terasa sakit sekali. Dan malam ini, untuk pertama kalinya selama tiga belas tahun, simbol Lord Voldemort telah muncul di langit. Apa artinya ini?

Dia memikirkan surat yang telah ditulisnya kepada Sirius sebelum dia meninggalkan Privet Drive. Sudahkah Sirius menerimanya? Kapankah dia akan menjawab? Harry berbaring menatap kanvas, tetapi tak ada fantasi terbang yang membuainya tidur sekarang, dan lama sesudah dengkur Charlie memenuhi kemah, barulah Harry terlelap.

 

Bab 10:

Penganiayaan di Kementrian Sihir

BARU beberapa jam tidur, Mr Weasley sudah mem-bangunkan mereka. Dia menggunakan sihir untuk mengepak kedua kemah, dan mereka meninggalkan bumi perkemahan secepat mungkin, melewati Mr Roberts di pintu pondoknya. Mr Roberts tampak bingung dan melambai kepada mereka seraya mengucapkan, “Selamat Natal”.

“Dia akan baik-baik saja,” kata Mr Weasley pelan sementara mereka berjalan ke tanah kosong. “Kadang-kadang, kalau memori orang dimodifikasi, untuk sementara dia jadi bingung selama beberapa waktu… apalagi yang harus dilupakannya hal besar.”

Mereka mendengar suara-suara tegang ketika mendekati tempat Portkey, dan setiba di tempat itu mereka melihat serombongan besar penyihir mengerumuni Basil, pengurus Portkey, semua mendesak ingin meninggalkan bumi perkemahan secepat mungkin. Mr Weasley berunding singkat dengan Basil, mereka bergabung dengan antrean, dan berhasil mendapatkan ban bekas untuk kembali ke Bukit Stoatshead sebelum matahari terbit. Mereka berjalan melintasi Ottery St. Catchpole dan menyusur jalan setapak berembun menuju The Burrow dalam keremangan subuh, hanya sedikit sekali bicara karena mereka amat letih, dan merindukan sarapan. Ketika berbelok di sudut dan The Burrow tampak, terdengar jeritan bergaung di jalan setapak.

“Oh, syukurlah, syukurlah!”

Mrs Weasley yang rupanya sudah menunggu mereka di halaman depan, berlari menyongsong mereka, masih memakai sandal kamarnya, wajahnya pucat dan tegang, tangannya mencengkeram Daily Prophet yang tergulung.

“Arthur… aku cemas sekali… cemas sekali…”

Dia merangkul leher Mr Weasley, dan Daily Prophet terjatuh dari tangannya yang lemas ke tanah. Harry melihat kepala beritanya: TEROR DI PIALA DUMA QUIDDITCH, lengkap dengan foto hitam-putih Tanda Kegelapan yang berpendar di atas pepohonan.

“Kalian tak apa-apa,” Mrs Weasley bergumam ham-pa, melepaskan Mr Weasley dan memandang mereka semua dengan mata merah. “Kalian tak apa-apa… Oh, Nak…”

Dan betapa herannya semua orang ketika dia menarik Fred dan George dan memeluk mereka begitu eratnya, sampai kepala keduanya beradu.

“Ouch! Mum… kami tercekik nih…”

“Aku memarahi kalian sebelum kalian berangkat!”

kata Mrs Weasley, terisak. “Itulah yang memenuhi pikiranku! Bagaimana kalau Kau-Tahu-Siapa berhasil menangkap kalian, dan kalimat terakhir yang kuucapkan pada kalian adalah OWL kalian tidak cukup tinggi? Oh, Fred… George…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.