Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Dia… dia bisa belajar dari mana saja…”

“Persis, Amos,” kata Mr Weasley. “Dia bisa belajar dari mana saja… Winky?” katanya ramah, menoleh kepada si peri. Tetapi Winky tetap berjengit, seakan Mr Weasley juga membentaknya. “Di mana tepatnya kau menemukan tongkat Harry?”

Winky memilin-milin tepi serbetnya begitu kerasnya, sampai serbet itu rusak berjumbai.

“Saya… saya menemukannya… menemukannya di sana, Sir…,” dia berbisik, “di sana… di antara pohonpohon, Sir…”

“Kaulihat kan, Amos?” kata Mr Weasley “Siapa pun yang menyihir Tanda Kegelapan bisa langsung ber-Disapparate seusai melakukannya, meninggalkan tongkat Harry di situ. Pintar sekali, tidak menggunakan tongkat mereka sendiri, karena bisa membongkar rahasia mereka. Dan Winky ini bernasib sial melihat tongkat itu beberapa saat sesudahnya dan mengambilnya.”

“Tetapi kalau begitu, dia berada dekat sekali dengan si pelaku!” kata Mr Diggory tak sabar. “Peri? Apa kau melihat ada orang?”

Winky gemetar lebih keras dari sebelumnya. Matanya yang superbesar berpindah-pindah dari Mr Diggory ke Ludo Bagman, lalu ke Mr Crouch. Kemudian dia menelan ludah dan berkata, “Saya tidak melihat siapa-siapa, Sir… tak ada orang…”

“Amos,” kata Mr Crouch kaku, “aku sadar betul bahwa, dalam keadaan biasa, kau tentu ingin membawa Winky ke departemenmu untuk diinterogasi. Meskipun demikian, untuk kali ini, kumohon izinkan aku yang menanganinya.”

Mr Diggory tampak seolah-olah dia tidak setuju, tetapi jelas bagi Harry bahwa Mr Crouch pejabat penting di Kementerian Sihir sehingga dia tidak berani menolaknya.

“Yakinlah bahwa dia akan dihukum,” Mr Crouch menambahkan dengan dingin.

“T-t-tuan…,” Winky tergagap, mendongak memandang Mr Crouch, air matanya berlinang. “T-ttuan, j-j-jangan…”

Mr Crouch balas memandangnya, wajahnya semakin menajam, setiap guratan di wajahnya terpeta jelas. Tak ada belas kasihan dalam pandangannya.

“Winky malam ini telah berkelakuan yang tak pernah terpikir olehku bisa dilakukannya,” katanya perlahan. “Aku menyuruhnya tinggal di dalam kemah. Aku menyuruhnya tetap di sana sementara aku keluar membereskan masalah. Dan ternyata dia tidak mematuhiku. Ini berarti pakaian.”

“Jangan!” jerit Winky, meniarapkan diri di depan kaki Mr Crouch. “Jangan, Tuan! Jangan pakaian, jangan pakaian!”

Harry tahu bahwa satu-satunya cara untuk membebaskan peri-rumah adalah dengan menghadiahinya pakaian yang pantas. Sungguh kasihan melihat cara Winky mencengkeram serbet tehnya sementara dia tersedu-sedu di kaki Mr Crouch.

“Tapi dia takut!” Hermione meledak marah, memandang Mr Crouch berapi-api. “Peri-rumah Anda takut ketinggian, dan para penyihir bertopeng itu membuat orang-orang melayang tinggi! Anda tak bisa menyalahkannya kalau dia ingin menyingkir!”

Mr Crouch mundur selangkah, membebaskan diri dari sentuhan dengan peri-rumahnya, yang dipandangnya seakan peri-rumah itu sesuatu yang kotor dan busuk dan mengotori sepatunya yang kelewat berkilap.

“Peri-rumah yang membantahku tak ada gunanya bagiku,” katanya dingin, memandang Hermione. “Aku tak bisa memakai pelayan yang lupa akan apa yang harus diperbuat untuk tuannya, dan lupa menjaga reputasi tuannya.”

Winky menangis keras sekali sehingga isaknya bergaung di sekeliling tanah terbuka itu. Keheningan yang amat tidak menyenangkan diakhiri oleh Mr Weasley yang berkata, “Nah, kurasa aku akan membawa kembali rombonganku ke kemah, kalau tak ada yang keberatan. Amos, tongkat itu telah memberitahu kita segala yang dia bisa… tolong, apakah sudah bisa dikembalikan kepada Harry…”

Mr Diggory menyerahkan kembali tongkat Harry dan Harry mengantonginya.

“Ayo, kalian bertiga,” kata Mr Weasley pelan. Tetapi Hermione kelihatannya tak mau bergerak, matanya masih menatap si peri-rumah yang terisak. “Hermione,” Mr Weasley berkata, lebih mendesak. Hermione berbalik dan mengikuti Harry dan Ron meninggalkan tempat terbuka itu dan menerobos selasela pepohonan.

“Apa yang akan terjadi pada Winky?” tanya Hermione, begitu mereka telah meninggalkan tempat itu.

“Entahlah,” kata Mr Weasley.

“Keterlaluan sekali cara mereka memperlakukannya!” kata Hermione berang. “Mr Diggory terus-menerus menyebutnya peri… dan Mr Crouch! Dia tahu Winky tidak melakukannya, tapi tetap saja dia akan memecatnya! Dia tak peduli betapa takutnya Winky, atau betapa sedihnya dia… seakan Winky bukan manusia saja!”

“Memang bukan,” kata Ron.

Hermione berputar menghadapi Ron. “Itu tidak berarti dia tak punya perasaan, Ron. Sungguh memuakkan cara…”

“Hermione, aku setuju denganmu,” kata Mr Weasley buru-buru, memberi isyarat agar dia berjalan terus, “tapi sekarang bukan waktunya mendiskusikan hakhak peri-rumah. Aku ingin kalian kembali ke kemah secepat mungkin. Apa yang terjadi dengan yang lain?”

“Kami kehilangan mereka dalam gelap,” kata Ron. “Dad, kenapa semua orang begitu tegang dengan munculnya tengkorak itu?”

“Akan kujelaskan kalau kita sudah tiba di kemah nanti,” kata Mr Weasley tegang.

Tetapi setiba di tepi hutan, jalan mereka terhalang. Serombongan besar penyihir yang ketakutan berkumpul di sana, dan ketika mereka melihat Mr Weasley berjalan ke arah mereka, banyak di antara mereka yang maju.

“Apa yang terjadi dalam hutan?”

“Siapa yang menyihirnya?”

“Arthur… bukan… dia, kan?”

“Tentu saja bukan dia,” kata Mr Weasley habis sabar. “Kami tak tahu siapa, mereka sudah ber-Disapparate. Sekarang maafkan aku, aku mau tidur.”

Dia membawa Harry, Ron, dan Hermione menerobos kerumunan itu dan kembali ke bumi perkemahan. Suasana sepi sekarang, para penyihir bertopeng sudah tak tampak lagi, meskipun beberapa kemah yang hancur masih berasap.

Kepala Charlie menyembul dari kemah anak lakilaki.

“Dad, ada apa?” tanyanya dalam kegelapan. “Fred, George, dan Ginny kembali dengan selamat, tapi yang lain…”

“Mereka di sini bersamaku,” kata Mr Weasley, menunduk dan memasuki kemah. Harry, Ron, dan Hermione masuk menyusulnya.

Bill sedang duduk di depan meja dapur kecil, memegangi seprai ke lengannya yang berdarah-darah. Kemeja Charlie robek besar, dan hidung Percy berdarah. Fred, George, dan Ginny tidak luka, tapi tampak terguncang.

“Apakah kalian berhasil menangkap mereka, Dad?” tanya Bill tajam. “Orang yang menyihir Tanda Kegelapan?”

“Tidak,” kata Mr Weasley. “Kami menemukan perirumah Barty Crouch memegangi tongkat Harry, tetapi sama sekali tak tahu siapa yang telah menyihir tanda itu.”

“Apa?” tanya Bill, Charlie, dan Percy bersamaan.

“Tongkat Harry?” tanya Fred.

“Peri-rumah Mr Crouch?” tanya Percy, kedengarannya terperanjat sekali.

Dengan bantuan Harry, Ron, dan Hermione, Mr Weasley menjelaskan apa yang terjadi di hutan. Setelah mereka selesai bercerita, Percy marah-marah.

“Mr Crouch benar, memecat peri macam itu!” katanya. “Lari, padahal sudah jelas-jelas dilarang… mem-permalukannya di depan seluruh orang-orang Ke-menterian… bagaimana jadinya kalau dia sampai di-hadapkan ke Departemen Pengaturan dan Pengawasan…”

“Dia tidak melakukan apa-apa… dia cuma berada di tempat yang salah pada waktu yang salah!” bentak Hermione, membuat Percy kaget. Hermione selama ini cocok betul bergaul dengan Percy… bahkan lebih cocok dibanding yang lain.

“Hermione, penyihir dengan posisi seperti Mr Crouch mana bisa punya peri-rumah yang berkeliaran mengacau dengan tongkat!” kata Percy angkuh, setelah mengatasi kagetnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.