Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Pembohong,” desah suara kedua. “Aku tidak lebih kuat, dan beberapa hari sendirian sudah cukup untuk memunahkan sedikit kesehatan yang kudapatkan dari perawatanmu yang kaku. Diam!”

Wormtail, yang sejak tadi merepet tak jelas, lang-sung terdiam. Selama beberapa detik, Frank hanya bisa mendengar derik api. Kemudian laki-laki kedua berbicara lagi, dalam bisikan yang nyaris seperti desisan.

“Aku punya alasan kenapa menggunakan anak itu, seperti yang sudah kujelaskan kepadamu, dan aku tak mau memakai yang lain. Aku sudah menunggu selama tiga belas tahun. Beberapa bulan lagi tak ada artinya. Sedangkan mengenai perlindungan untuk anak itu, aku yakin rencanaku akan efektif. Yang diperlukan hanyalah sedikit keberanian darimu, Wormtail—keberanian yang akan kautemukan, kalau kau tidak ingin merasakan kemurkaan Lord Voldemort yang sebesar-besarnya…”

“Yang Mulia, saya harus bicara!” kata Wormtail panik. “Sepanjang perjalanan saya telah memikirkan rencana ini—Tuanku, menghilangnya Bertha Jorkins pasti tak lama lagi akan disadari, dan kalau kita terus, kalau saya membunuh…”

“Kalau?” bisik suara kedua. “Kalau? Kalau kau mengikuti rencana, Wormtail, Kementerian tak perlu tahu bahwa ada orang lain lagi yang mati. Kau akan melakukannya diam-diam, tanpa banyak cincong. Aku cuma berharap aku bisa melakukannya sendiri, tetapi dalam kondisiku sekarang… Ayolah, Wormtail, satu lagi penghalang kita singkirkan, dan jalan kita ke Harry Potter aman. Aku tidak memintamu melakukannya sendirian. Pada saat itu, abdiku yang setia sudah akan bergabung dengan kita…”

“Saya abdi yang setia,” kata Wormtail, ada sedikit nada protes dalam suaranya.

“Wormtail, aku perlu orang yang punya otak, orang yang kesetiaannya tak pernah goyah, dan kau, sayangnya, tak memenuhi kedua syarat itu.”

“Saya menemukan Anda,” kata Wormtail, dan sekarang jelas ada nada kesal dalam suaranya. “Sayalah yang menemukan Anda. Saya yang membawakan Bertha Jorkins kepada Anda.”

“Itu betul,” kata pria yang kedua, kedengarannya geli. “Itu tindakan brilian, tak pernah terpikir olehku kau bisa melakukannya, Wormtail… meskipun, kalau mau jujur, kau tidak sadar betapa bergunanya dia ketika kau menangkapnya, kan?”

“Saya… saya berpendapat dia akan berguna, Yang Mulia…”

“Pembohong,” kata suara kedua lagi, kegelian yang keji terdengar lebih jelas dari sebelumnya. “Meskipun demikian, aku tak membantah bahwa informasinya sangat berharga. Tanpa informasi itu, aku tak akan pernah membuat rencana ini, dan untuk itu, kau akan menerima imbalan, Wormtail. Aku akan mengizinkanmu melakukan tugas penting untukku. Banyak pengikutku yang lain akan bersedia merelakan tangan kanannya untuk melakukan tugas ini…”

“Be—betulkah, Yang Mulia? Apakah…?” Wormtail kedengarannya ketakutan lagi.

“Ah, Wormtail, kau kan tak mau kalau kejutannya kubuka sekarang? Bagianmu akan datang pada saat terakhir… tetapi aku berjanji, kau akan mendapat kehormatan menjadi orang yang sama bergunanya dengan Bertha Jorkins.”

“Anda… Anda…,” suara Wormtail mendadak parau, seakan mulutnya menjadi sangat kering. “Anda… akan… membunuh saya juga?”

“Wormtail, Wormtail,” kata suara dingin itu licin, “buat apa aku membunuhmu? Aku membunuh Bertha karena terpaksa. Dia tak bisa apa-apa lagi setelah aku selesai menanyainya, tak berguna. Lagi pula, pertanyaan-pertanyaan menyulitkan akan diajukan kalau dia kembali ke Kementerian dengan berita bahwa dia bertemu kau dalam liburannya. Penyihir yang sudah dianggap mati sebaiknya jangan sampai bertemu pegawai Kementerian Sihir di losmen pinggir jalan…”

Wormtail menggumamkan sesuatu pelan sekali sehingga Frank tidak bisa mendengarnya, tetapi gumaman itu membuat si pria kedua tertawa—tawa yang sama sekali tanpa keriangan, sama dinginnya dengan bicaranya.

“Kita bisa memodifikasi ingatannya? Tetapi Jampi Memori bisa dipatahkan oleh penyihir yang kuat, seperti telah kubuktikan sewaktu aku menanyai dia. Akan jadi penghinaan bagi almarhumah jika informasi yang kukeluarkan darinya tidak digunakan, Wormtail.”

Di koridor di luar, Frank mendadak menyadari bahwa tangan yang mencengkeram tongkatnya kini licin karena keringat. Pria bersuara dingin itu telah membunuh seorang wanita. Dia membicarakannya tanpa penyesalan sama sekali—malah dengan perasaan geli.

Dia berbahaya—orang gila. Dan dia sedang merencanakan pembunuhan lain—anak ini, Harry Potter, siapa pun dia—dalam bahaya…

Frank tahu apa yang hams dilakukannya. Sekaranglah saatnya dia pergi ke polisi. Dia akan mengendapendap meninggalkan rumah dan langsung menuju boks telepon di desa… tetapi suara dingin itu bicara lagi, dan Frank bertahan di tempatnya, ketakutan, mendengarnya seteliti mungkin.

“Pembunuhan sekali lagi… abdiku yang setia di Hogwarts… Harry Potter sudah bisa dikatakan berada dalam genggamanku, Wormtail. Ini sudah keputusanku. Tak ada argumen lagi. Tapi diam… kurasa aku mendengar Nagini…”

Dan suara orang kedua itu berubah. Dia mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang belum pernah didengar Frank. Dia mendesis dan meludah tanpa menarik napas. Frank mengira dia mendapat semacam serangan jantung.

Dan kemudian Frank mendengar gerakan di belakangnya, di koridor yang gelap. Dia menoleh untuk melihat, dan langsung lumpuh ketakutan.

Ada yang melata menuju kepadanya sepanjang lantai koridor yang gelap, dan ketika semakin dekat dengan leret cahaya perapian, Frank menyadari dengan ngeri bahwa itu adalah ular raksasa, paling sedikit tiga setengah meter panjangnya. Ngeri, terpaku, Frank hanya bisa memandang tubuh ular yang meliukliuk membuat jejak lebar di debu tebal di lantai, makin lama makin dekat. Apa yang harus dilakukannya? Satu-satunya jalan lolos adalah dengan masuk ke dalam ruangan tempat kedua pria itu merencana-kan pembunuhan. Tetapi jika tetap di tempatnya, ular itu jelas akan membunuhnya…

Tetapi sebelum dia mengambil keputusan, ular itu sudah sejajar dengannya, dan kemudian, luar biasa sekali, ajaib sekali, ular itu lewat. Dia menuju bunyi meludah dan mendesis yang dikeluarkan si pria bersuara dingin di balik pintu, dan dalam beberapa detik saja, ujung ekornya yang bermotif berlian sudah menghilang melewati celah.

Keringat membasahi dahi Frank sekarang, dan tangan di tongkatnya gemetar. Di dalam ruangan, suara dingin itu masih terus mendesis, dan Frank menyadari, walaupun ini aneh, walaupun tak mung-kin… pria ini bisa bicara dengan ular.

Frank tidak mengerti apa yang terjadi. Dia ingin sekali kembali ke tempat tidurnya dengan botol air panasnya. Masalahnya, kakinya rupanya tak mau bergerak. Sementara dia berdiri gemetar dan berusaha menguasai diri, suara dingin itu berubah, bicara biasa lagi.

“Nagini punya kabar menarik, Wormtail,” katanya.

“Be-betulkah, Yang Mulia?” kata Wormtail.

“Betul,” kata suara itu. “Menurut Nagini, ada Muggle tua berdiri persis di luar ruangan ini, mendengarkan semua yang kita bicarakan.”

Frank tak punya kesempatan untuk menyembunyikan diri. Terdengar langkah-langkah kaki, dan kemudian pintu dibuka lebar-lebar.

Seorang laki-laki pendek botak, rambutnya yang tersisa beruban, dengan hidung runcing dan mata kecil berair berdiri di depan Frank, wajahnya diliputi kekagetan dan ketakutan. “Persilakan dia masuk, Wormtail. Mana sopan santunmu?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.