Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Agak memalukan,” kata Mr Diggory muram, me-mandang Winky yang pingsan. “Peri-rumah Barty Crouch… maksudku…”

“Amos,” kata Mr Weasley pelan, “kau tidak serius mengira si peri-rumah pelakunya? Tanda Kegelapan adalah tanda penyihir. Perlu tongkat sihir.”

“Yeah,” kata Mr Diggory, “dan dia punya itu.”

“Apa?” kata Mr Weasley.

“Ini, lihat,” Mr Diggory mengangkat sebatang tongkat, menunjukkannya kepada Mr Weasley. “Tangannya memegang ini tadi. Jadi, pelanggaran pasal ketiga Undang-undang Penggunaan Tongkat Sihir. Tak seorang pun makhluk non-manusia diizinkan membawa atau memakai tongkat sihir.”

Saat itu terdengar bunyi pop lagi dan Ludo Bagman ber-Apparate tepat di sebelah Mr Weasley. Terengah dan tampak bingung, dia berputar di tempat, mendongak, terbelalak memandang tengkorak hijauzamrud itu.

“Tanda Kegelapan!” sengalnya, nyaris menginjak Winky ketika dia berbalik menghadapi kolega-koleganya. “Siapa yang melakukannya? Apa kalian berhasil menangkapnya? Barty! Apa yang terjadi?”

Mr Crouch telah kembali dengan tangan kosong. Wajahnya masih pucat pasi, dan baik tangan maupun kumis sikat-giginya bergetar.

“Dari mana saja kau, Barty?” tanya Bagman. “Kenapa kau tadi tidak menonton pertandingan? Perirumahmu menyediakan tempat bagimu… astaganaga!” Bagman baru saja melihat Winky yang terbaring di depan kakinya. “Kenapa dia?”

“Aku sibuk, Ludo,” kata Mr Crouch, masih bicara dengan gugup, nyaris tidak menggerakkan bibirnya. “Dan peri-rumahku pingsan kena serangan sihir bius.”

“Sihir bius? Oleh kalian semua, maksudmu? Tapi kenapa…?”

Pemahaman mendadak menyapu wajah Bagman yang bundar berkilap. Dia mendongak memandang tengkorak, menunduk memandang Winky, kemudian memandang Mr Crouch.

“Tidak!” katanya. “Winky? Menyihir Tanda Kegelapan? Mana bisa! Dia perlu tongkat, itu yang pertama!

“Dan dia punya tongkat,” kata Mr Diggory “Kutemukan dia memegangi tongkat, Ludo. Kalau Anda setuju, Mr Crouch, kurasa kita harus dengar sendiri apa kata Winky.”

Crouch tidak menunjukkan tanda-tanda dia mendengar Mr Diggory, tetapi Mr Diggory tampaknya menganggap kediamannya sebagai tanda setuju. Dia mengangkat tongkatnya sendiri, mengacungkannya ke arah Winky, dan berkata, “Ennervate!”

Winky bergerak lemah. Mata cokelatnya yang besar terbuka dan dia mengejap beberapa kali dengan bingung. Diawasi oleh para penyihir yang diam, dengan gemetar Winky duduk. Terpandang olehnya kaki Mr Diggory, dan perlahan, dengan gemetar dia mengangkat matanya untuk memandang wajahnya, kemudian, dengan lebih perlahan lagi, dia memandang ke langit. Harry bisa melihat tengkorak yang melayang dipantulkan di kedua mata Winky yang besar dan berkilauan. Mulutnya membuka kaget, dia memandang ke sekelilingnya dengan ketakutan, lalu menangis tersedusedu.

“Peri-rumah!” kata Mr Diggory galak. “Tahukah kau siapa aku? Aku anggota Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib!”

Winky mulai bergoyang ke depan dan ke belakang, napasnya tersengal pendek-pendek. Harry jadi teringat pada Dobby saat ketakutan karena melakukan sesuatu yang menurutnya tidak benar.

“Seperti kaulihat, Peri, Tanda Kegelapan disihir di sini beberapa waktu yang lalu,” kata Mr Diggory. “Dan kau ditemukan tak lama kemudian, tepat di bawahnya! Tolong jelaskan!”

“Bu…bu… bukan saya yang menyihirnya, Sir!” gagap Winky. “Saya tak tahu bagaimana caranya, Sir!”

“Kau ditemukan dengan tongkat di tanganmu!” bentak Mr Diggory, melambai-lambaikan tongkat itu di depannya. Dan saat tongkat itu terkena cahaya hijau yang memenuhi tempat itu. dari tengkorak di atas, Harry mengenalinya.

“Hei… itu tongkatku!” katanya.

Semua orang memandangnya.

“Maaf?” kata Mr Diggory meragukannya.

“Itu tongkat saya!” kata Harry. “Tadi jatuh!”

“Jatuh?” Mr Diggory mengulang tak percaya. “Apakah ini pengakuan? Kau membuangnya setelah menyihir tanda itu?”

“Amos, ingat kau bicara dengan siapa!” kata Mr Weasley, sangat marah. “Mungkinkah Harry Potter menyihir Tanda Kegelapan?”

“Er… tentu saja tidak,” gumam Mr Diggory. “Maaf… terbawa suasana…”

“Lagi pula jatuhnya tidak di situ,” kata Harry, me-nyentakkan ibu jarinya ke arah pepohonan di bawah tengkorak.

“Jadi,” kata Mr Diggory, matanya mengeras ketika dia kembali memandang Winky, yang meringkuk ketakutan di kakinya. “Kau menemukan tongkat ini eh, Peri? Dan kau mengambilnya dan berpikir mau main-main dengan tongkat itu, begitu?”

“Saya tidak bikin sihir dengan tongkat itu, Sir!” lengking Winky, air mata bercucuran mengalir di kanan-kiri hidung bulatnya yang pesek. “Saya… saya cuma memungutnya, Sir! Saya tidak membuat Tanda Kegelapan, Sir, saya tak tahu caranya!”

“Bukan dia!” kata Hermione. Dia tampak sangat cemas, berbicara di depan semua orang Kementerian Sihir ini, tetapi dia sudah memutuskan untuk bicara. “Suara Winky melengking, dan suara yang kami dengar mengucapkan mantra jauh lebih berat!” Hermione memandang Harry dan Ron, minta dukungan. “Sama sekali tidak seperti suara Winky, kan?”

“Tidak,” kata Harry, menggeleng. “Jelas sekali bukan suara peri.”

“Yeah, tadi suara manusia,” kata Ron.

“Kita akan segera tahu,” geram Mr Diggory, tampaknya tidak terkesan. “Ada cara sederhana mengetahui sihir terakhir yang dilakukan tongkat, Peri, tahukah kau?”

Winky gemetar dan menggeleng dengan panik,telinganya berkibar, ketika Mr Diggory mengangkat tongkatnya lagi dan menempelkan ujungnya ke ujung tongkat Harry.

“Prior Incantato!” raung Mr Diggory.

Harry mendengar Hermione memekik tertahan, ngeri, ketika tengkorak raksasa berlidah-ular muncul dari tempat kedua ujung tongkat bertemu. Tetapi tengkorak itu cuma bayangan tengkorak hijau jauh di atas, seperti terbuat dari asap tebal abu-abu.

“Deletrius!” teriak Mr Diggory, dan tengkorak ba-yangan itu sirna, menjadi gumpalan asap. “Nah,” kata Mr Diggory penuh kemenangan, menunduk memandang Winky yang gemetar hebat.

“Saya tidak buat itu!” pekiknya nyaring, matanya berputar ketakutan. “Bukan saya, saya tidak tahu bagaimana caranya! Saya peri baik, saya tidak pakai tongkat, saya tidak tahu bagaimana caranya!”

“Kau tertangkap-tangan, Peri!” raung Mr Diggory. “Ter-tangkap dengan tongkat yang bersalah dalam tanganmu!”

“Amos,” kata Mr Weasley keras-keras, “pikirkan… cuma sedikit sekali penyihir yang bisa melakukan mantra kutukan itu… Dari mana peri ini bisa mempelajarinya?”

“Mungkin Amos menuduh,” kata Mr Crouch dengan kemarahan yang dingin dalam setiap suku katanya, “bahwa aku secara rutin mengajari pelayanku menyihir Tanda Kegelapan?”

Keheningan yang menyusul sangat tidak enak. Amos Diggory tampak ngeri. “Mr Crouch… tidak… sama sekali tidak…”

“Kau sudah menuduh dua orang di tempat ini yang paling tidak mungkin menyihir Tanda Kegelapan itu!” bentak Mr Crouch. “Harry Potter… dan aku sendiri! Kurasa kau tahu kisah anak ini, Amos?”

“Tentu saja—semua orang tahu…,” gumam Mr Diggory, sangat salah tingkah.

“Dan aku percaya kau ingat banyaknya bukti yang kuberikan, selama karier yang panjang, bahwa aku membenci dan memandang hina Sihir Hitam dan mereka yang mempraktekkannya?” teriak Mr Crouch, matanya mendelik lagi.

“Mr Crouch, saya… saya tak bermaksud menuduh Anda ada sangkut-pautnya dengan ini!” Amos Diggory bergumam lagi, sekarang wajah di balik jenggot cokelatnya merona merah.

“Kalau kau menuduh peri-rumahku, berarti kau menuduhku, Diggory!” teriak Mr Crouch. “Dari mana lagi dia bisa belajar menyihirnya?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.