Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Mudah-mudahan yang lain tidak apa-apa,” kata Hermione setelah hening sesaat.

“Mereka tak apa-apa,” kata Ron.

“Bayangkan kalau ayahmu menangkap Lucius Malfoy,” kata Harry, duduk di sebelah Ron dan mengawasi boneka Krum berjalan bungkuk di atas daundaun kering. “Ayahmu selalu bilang ingin melakukan sesuatu terhadapnya.”

“Itu akan menghapus cengiran dari wajah Draco,” kata Ron.

“Tapi kasihan Muggle-muggle itu,” kata Hermione cemas. “Bagaimana kalau mereka tidak bisa menurunkannya?”

“Pasti bisa,” kata Ron menghibur. “Mereka akan menemukan cara.”

“Gila benar, melakukan hal seperti itu sementara seluruh petugas Kementerian Sihir ada di sini malam ini!” kata Hermione. “Maksudku, bagaimana mungkin mereka bisa lolos? Apa menurutmu mereka kebanyakan minum atau cuma…”

Mendadak Hermione berhenti dan menoleh. Harry dan Ron cepat-cepat ikut menoleh. Kedengarannya ada yang terhuyung datang ke tempat mereka. Mereka menunggu, mendengarkan bunyi langkah-langkah tak rata di belakang pepohonan gelap. Tetapi langkahlangkah itu tiba-tiba berhenti.

“Halo?” sapa Harry.

Sunyi. Harry bangkit dan mengintip dari balik pohon. Terlalu gelap untuk bisa melihat jauh, tetapi dia bisa merasakan ada orang yang berdiri di luar jangkauan pandangannya.

“Siapa itu?” tanyanya.

Dan kemudian, tiba-tiba saja, keheningan dirobek oleh suara yang belum pernah mereka dengar di dalam hutan. Dan yang dikeluarkan suara itu bukanlah jeritan panik, melainkan kutukan.

“MORSMORDRE!”

Dan sesuatu yang berwarna hijau dan berkilauan meluncur cepat dari dalam kegelapan yang coba ditembus mata Harry, terbang melewati puncak-puncak pepohonan, dan melesat ke angkasa.

“Apa i…?” tanya Ron kaget seraya melompat bangun, terpana melihat benda yang mendadak muncul itu.

Selama sepersekian detik Harry mengira itu formasi lain para Leprechaun. Kemudian dia sadar itu tengkorak kolosal, terdiri atas bintang-bintang zamrud, dengan ular terjulur dari mulutnya seperti lidah.

Sementara mereka memandangnya, tengkorak itu naik makin lama makin tinggi, menyemburkan asap kehijauan, terpeta jelas berlatar langit hitam, seperti konstelasi bintang baru.

Mendadak, hutan di sekitar mereka dipenuhi jeritan. Harry tak mengerti kenapa, tetapi satu-satunya penyebab yang mungkin adalah kemunculan tiba-tiba tengkorak itu, yang sekarang sudah naik cukup tinggi untuk menerangi seluruh hutan, seperti lampu neon reklame yang mengerikan. Harry mencari-cari dalam kegelapan orang yang menyihir tengkorak itu, tetapi tak bisa melihat siapa-siapa.

“.Siapa di situ?” dia memanggil lagi. “Harry, ayo pergi!” Hermione telah menyambar kerah jaketnya dan menariknya mundur. “Ada apa?” tanya Harry, kaget melihat wajah Hermione yang sangat pucat dan ketakutan.

“Itu Tanda Kegelapan, Harry!” keluh Hermione, me-nariknya sekuat mungkin. “Itu tanda si Kau-Tahu-Siapa!”

“Voldemort?”

“Harry, ayo!”

Harry berbalik. Ron buru-buru memungut Krum miniaturnya. Mereka bertiga menyeberangi petak terbuka itu, tetapi baru beberapa langkah, serangkaian bunyi pop mengumumkan kedatangan dua puluh penyihir, yang muncul begitu saja dari udara kosong, mengepung mereka.

Harry berputar, dan dalam sekejap dia menangkap satu hal. Semua penyihir itu memegang tongkat dan semua tongkat terarah kepadanya, Ron, dan Hermione.

Tanpa berhenti untuk berpikir dulu, dia berteriak, “TIARAP!” Dia menyambar kedua sahabatnya dan menarik mereka ke tanah.

“STUPEFY!” raung dua puluh suara—ada sambaran cahaya menyilaukan susul-menyusul dan Harry merasa rambut di kepalanya berkibar, seakan ada angin kuat yang meniup tempat terbuka itu. Mengangkat kepalanya kira-kira satu senti, Harry melihat pancaran cahaya merah-api beterbangan di atas mereka dari tongkat para penyihir, saling silang, memantul dari batang-batang pohon, memancar lagi ke dalam kegelapan…

“STOP!” terdengar teriakan suara yang dikenalnya. “STOP! Itu anakku!”

Rambut Harry berhenti berkibar. Dia mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi. Penyihir di depannya sudah menurunkan tongkatnya. Harry berguling dan melihat Mr Weasley berjalan ke arah mereka, tampak ngeri.

“Ron… Harry…,” suaranya bergetar “… Hermione… kalian tak apa-apa?”

“Minggir, Arthur,” kata suara dingin, kaku.

Suara Mr Crouch. Dia dan beberapa pegawai Ke-menterian Sihir mengepung mereka makin rapat. Harry berdiri menghadapi mereka. Wajah Mr Crouch tegang saking marahnya.

“Siapa dari kalian yang melakukannya?” bentaknya, matanya yang tajam memandang mereka bergantiganti. “Siapa di antara kalian yang menyihir Tanda Kegelapan?”

“Bukan kami yang melakukannya!” kata Harry, me-nunjuk tengkorak itu.

“Kami tidak melakukan apa-apa!” kata Ron, yang menggosok sikunya dan memandang ayahnya dengan jengkel. “Kenapa kalian menyerang kami?”

“Jangan bohong!” teriak Mr Crouch. Tongkatnya masih teracung ke arah Ron dan matanya mendelik— seperti orang gila. “Kalian ditemukan di tempat kejadian!”

“Barty,” bisik seorang penyihir wanita yang memakai gaun tidur wol panjang, “mereka masih anak-anak, Barty, mereka tak akan sanggup me…”

“Dari mana datangnya tanda itu?” tanya Mr Weasley buru-buru.

“Dari situ,” jawab Hermione gemetar, menunjuk tempat dari mana mereka mendengar suara. “Ada yang sembunyi di balik pepohonan… mereka mengucapkan sesuatu—mantra…”

“Oh, berdiri di sana, ya?” kata Mr Crouch, mengalihkan matanya yang mendelik kepada Hermione sekarang, wajahnya diliputi ketidakpercayaan. “Mengucapkan mantra, begitu? Kelihatannya kau tahu benar bagaimana cara memanggil tanda itu, Nona…”

Tetapi tak seorang pun petugas Kementerian Sihir, kecuali Mr Crouch, yang berpendapat bahwa Harry, Ron, dan Hermione-lah yang membuat tanda itu. Sebaliknya, mendengar keterangan Hermione, mereka semua mengangkat tongkat lagi dan mengarahkannya ke tempat yang ditunjuk Hermione, menyipitkan mata mereka menembus pepohonan gelap.

“Kita sudah sangat terlambat,” kata si penyihir yang memakai gaun tidur wol, menggeleng. “Mereka semua sudah ber-Disapparate.”

“Kurasa tidak,” kata seorang penyihir pria dengan jenggot cokelat lebat. Dia Amos Diggory, ayah Cedric. “Sinar tongkat kita menerobos pepohonan itu… Ada kemungkinan kita berhasil menangkap mereka…”

“Amos, hati-hati!” kata beberapa penyihir mem-peringatkan ketika Mr Diggory membidangkan bahu, mengangkat tongkatnya, berjalan gagah menyeberangi tempat terbuka, dan menghilang dalam kegelapan. Hermione memandangnya menghilang dengan tangan menekap mulut.

Beberapa detik kemudian, mereka mendengar Mr Diggory berteriak. “Ya! Berhasil! Ada yang kena! Pingsan! Ini… tapi… astaga…”

“Ada yang tertangkap?” teriak Mr Crouch, kedengarannya tidak percaya sama sekali. “Siapa? Siapa dia?”

Mereka mendengar ranting-ranting patah, keresak dedaunan, dan kemudian langkah-langkah kaki ketika Mr Diggory muncul lagi dari balik pepohonan. Dia membopong sosok kecil yang terkulai. Harry langsung mengenali serbet tehnya. Winky

Mr Crouch tidak bergerak ataupun bicara ketika Mr Diggory menaruh peri-rumahnya di tanah di depan kakinya. Para pegawai Kementerian lainnya memandang Mr Crouch. Selama beberapa detik Crouch tertegun, matanya menyala di wajah pucatnya ketika dia menunduk memandang Winky. Kemudian dia sadar lagi.

“Ini… tak… mungkin,” katanya gugup. “Tidak…” Dia bergerak cepat melewati Mr Diggory dan berjalan ke arah tempat Winky ditemukan. “Tak ada gunanya, Mr Crouch,” Mr Diggory memanggilnya. “Tak ada orang lain di sana.”

Tetapi Mr Crouch rupanya tidak begitu saja percaya. Mereka bisa mendengarnya berjalan berkeliling, dan bunyi keresak dedaunan ketika dia menyibakkan semak-semak, mencari-cari.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.