Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Di mana orangtuamu?” kata Harry, kemarahannya bangkit. “Salah satu dari yang pakai topeng itu?”

“Wah… kalaupun iya, mana aku mau bilang padamu, Potter?”

“Oh, ayolah,” kata Hermione, memandang jijik ke arah Malfoy, “ayo kita susul yang lain.” “Tundukkan kepala besar penuh rambut itu, Granger,” ejek Malfoy. “Ayolah,” Hermione mengulangi, dan dia menarik Harry dan Ron ke jalan setapak lagi. “Berani taruhan, ayahnya pasti salah satu yang pakai topeng itu!” kata Ron panas.

“Yah, kalau beruntung, Kementerian akan me-nangkapnya!” kata Hermione bersemangat. “Oh, aku tak percaya ini. Ke mana yang lain?”

Fred, George, dan Ginny tak kelihatan, meskipun jalan setapak itu penuh orang yang menoleh ke belakang dengan cemas, ke arah kehebohan di bumi perkemahan. Serombongan remaja berpiama sedang berdebat riuh tak jauh di depan mereka. Ketika mereka melihat Harry, Ron, dan Hermione, seorang gadis dengan rambut ikal lebat berbalik dan berkata cepatcepat, “Ou est Madame Maxime? Nous I’avons perdue…”

“Er… apa?” tanya Ron. Sebetulnya gadis itu bertanya dalam bahasa Prancis, di mana Madame Maxime. Dia dan kawan-kawannya telah kehilangan dia.

“Oh…” Gadis yang tadi bicara kembali memunggunginya, dan sementara berjalan menjauh, mereka dengan jelas mendengarnya berkata, ‘”Ogwarts.”

“Beauxbatons,” gumam Hermione.

“Sori?” kata Harry.

“Mereka pasti murid Beauxbatons,” kata Hermione. “Kau tahu, kan… Akademi Sihir Beauxbatons… Aku membaca tentang sekolah itu di buku Penilaian Pendidikan Sihir di Eropa.”

“Oh… yeah… betul,” komentar Harry.

“Fred dan George pasti belum jauh,” kata Ron, mencabut tongkatnya, menyalakannya seperti Hermione, dan menyipitkan mata memandang jalan setapak di depannya. Harry memasukkan tangan ke dalam saku jaketnya untuk mengambil tongkatnya— tapi tongkatnya tak ada. Yang ada di dalam saku tinggal Omniocular-nya.

“Ya ampun… tongkatku hilang!”

“Kau bergurau!”

Ron dan Hermione mengangkat tongkat mereka cukup tinggi untuk menebarkan cahayanya lebih jauh ke tanah. Harry mencari di sekelilingnya, tetapi tongkat sihirnya tak kelihatan.

“Mungkin masih di kemah,” kata Ron.

“Mungkin terjatuh dari kantongmu waktu kita lari?” Hermione menebak cemas. “Yeah,” kata Harry, “mungkin…” Harry biasanya selalu membawa tongkatnya ke

mana pun di dunia sihir, dan tanpa tongkat itu, dalam situasi seperti ini, membuatnya merasa mudah kena serang.

Bunyi berkeresak di dekat mereka membuat ketiganya terlonjak. Winky si peri-rumah berkutat menerobos serumpun semak di dekat situ. Dia bergerak dengan janggal sekali, dengan susah payah, seakan ada orang tak kelihatan yang menahannya.

“Ada penyihir-penyihir jahat di sekitar sini!” jeritnya bingung seraya terus berusaha keras lari. “Orang tinggi—tinggi di atas! Winky mau pergi!”

Dan dia menghilang ke pepohonan di sisi lain jalan

setapak, terengah dan menjerit saat dia melawan kekuatan yang menahannya. “Kenapa dia?” tanya Ron, memandangnya keheranan. “Kenapa larinya aneh begitu?”

“Pasti dia tidak minta izin mau bersembunyi,” kata Harry. Harry memikirkan Dobby. Setiap kali Dobby mencoba melakukan sesuatu yang tak akan disukai keluarga Malfoy, peri-rumah itu terpaksa memukuli diri sendiri.

“Kalian tahu, hidup peri-rumah sengsara sekali!” kata Hermione jengkel. “Itu perbudakan! Mr Crouch me-maksanya ke tingkat atas stadion, dan Winky ketakutan sekali, dan dia menyihir Winky sehingga dia bahkan tak bisa lari ketika mereka mulai menginjakinjak tenda! Kenapa tidak ada yang berbuat sesuatu?”

“Yah, peri-rumah itu bahagia, kan?” kata Ron. “Kau-dengar sendiri apa kata si Winky di pertandingan tadi… ‘Peri-rumah tidak boleh bersenang-senang’…itu yang dia suka, disuruh-suruh…”

“Orang-orang seperti kau-lah, Ron,” ujar Hermione panas, “yang menopang sistem yang busuk dan tidak adil, hanya karena mereka terlalu malas untuk…”

Terdengar letusan keras lain dari tepi hutan.

“Ayo kita terus jalan,” ajak Ron, dan Harry melihatnya mengerling gelisah pada Hermione. Mungkin apa yang dikatakan Malfoy ada benarnya. Mungkin keadaan Hermione lebih rawan daripada mereka. Mereka berjalan lagi, Harry masih mencari-cari di dalam sakunya, meskipun sudah tahu tongkatnya tak ada di sana.

Mereka mengikuti jalan setapak gelap, masuk lebih dalam ke tengah hutan, sambil terus mencari-cari Fred, George, dan Ginny. Mereka melewati serombongan goblin yang tertawa-tawa senang membawa sekantong uang emas yang jelas telah mereka menangkan dari taruhan, dan tampak tidak gentar dengan kehebohan di bumi perkemahan. Lebih jauh lagi, mereka melewati seberkas cahaya keperakan, dan ketika memandang dari celah-celah pepohonan, mereka melihat tiga Veela cantik jangkung berdiri di tempat terbuka, dikelilingi sekelompok penyihir muda, semuanya bicara keras-keras.

“Penghasilanku kira-kira seratus karung Galleon setahun!” salah satu dari mereka berteriak. “Aku pembunuh naga untuk Komite Pemunahan Satwa Berbahaya.”

“Bohong!” teriak temannya. “Kau pencuci piring di Leaky Cauldron… tapi aku pemburu vampir, sejauh ini aku sudah membunuh sembilan puluh…”

Pemuda penyihir yang ketiga, yang jerawatnya kelihatan bahkan hanya dengan penerangan redup keperakan dari Veela-veela itu, sekarang menyela, “Aku sebentar lagi akan menjadi Menteri Sihir termuda.”

Harry mendengus tertawa. Dia mengenali si penyihir jerawatan. Namanya Stan Shunpike, dan dia sebetulnya kondektur Knight Bus—Bus Ksatria, bus sihir bertingkat tiga. Dia menoleh untuk memberitahukan ini kepada Ron, tetapi wajah Ron sudah berubah ganjil, dan detik berikutnya Ron berteriak, “Pernahkah kuberitahu kalian bahwa aku telah menemukan sapu yang bisa sampai ke Jupiter?”

“Astaga!” kata Hermione, dan dia dan Harry memegang lengan Ron kuat-kuat, membalik tubuhnya, dan membawanya pergi jauh-jauh. Saat suara para Veela dan pengagumnya sudah sama sekali tak terdengar lagi, mereka telah tiba di jantung hutan. Tampaknya mereka sekarang tinggal bertiga, suasana jauh lebih tenang.

Harry memandang berkeliling. “Kurasa kita bisa menunggu di sini. Kita akan dengar kalau ada yang datang dari jarak satu setengah kilo.”

Baru saja dia berkata begitu, Ludo Bagman muncul dari balik pohon di depan mereka.

Bahkan dengan penerangan lemah kedua tongkat, Harry bisa melihat bahwa perubahan besar telah terjadi pada Bagman. Dia tak lagi bersemangat dan wajahnya tak lagi kemerahan. Langkahnya pun tak lagi ringan. Dia sangat pucat dan tegang.

“Siapa itu?” tanyanya, menunduk dan mengejap, berusaha mengenali wajah mereka. “Apa yang kalian lakukan di sini, sendirian?”

Mereka saling pandang, heran.

“Kan… ada kerusuhan,” kata Ron.

Bagman memandangnya tak mengerti.

“Apa?”

“Di bumi perkemahan… ada yang mempermainkan keluarga Muggle…” Bagman mengumpat keras. “Brengsek!” katanya, tampak bingung, dan tanpa

sepatah kata pun lagi, dia ber-Disapparate dengan bunyi pop pelan! “Kacau, ya, si Bagman itu,” kata Hermione, mengernyit.

“Tapi dulu dia Beater hebat,” kata Ron, memimpin ke tempat terbuka, dan duduk di sepetak rumput kering di kaki sebatang pohon. “Wimbourne Wasps memenangkan liga tiga kali berturut-turut ketika dia masih jadi anggota tim itu.”

Ron mengeluarkan boneka kecil Krum dari sakunya lalu meletakkannya di tanah, dan memandangnya berjalan berkeliling. Seperti Krum yang asli, boneka ini berkaki rata dan bahunya agak bungkuk. Berdiri di atas kakinya yang melebar ke samping, dia tidak seimpresif kalau di atas sapunya. Harry mendengarkan kalau-kalau masih terdengar sesuatu dari arah bumi perkemahan. Keadaan sudah jauh lebih tenang. Mung-kin kerusuhan sudah berakhir.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.