Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Oh, untung aku tidak bertugas,” gumam Mr Weasley mengantuk. “Bayangkan kalau aku harus menyuruh orang-orang Irlandia berhenti merayakan kemenangan mereka.”

Harry, yang tidur di tempat tidur di atas Ron, terbaring nyalang menatap langit-langit kanvas tenda, memandang cahaya lentera Leprechaun yang kadangkadang terbang melintas, dan membayangkan lagi beberapa gerakan spektakuler Krum. Dia sudah ingin sekali menaiki Firebolt-nya dan mencoba Wronski Feint…. Oliver Wood, dengan diagramnya yang bergerak-gerak, tak pernah berhasil menyampaikan bagaimana seharusnya gerakan itu…. Harry melihat dirinya memakai jubah yang di punggungnya tertera namanya, dan membayangkan sensasi ketika mendengar teriakan membahana seratus ribu penonton, ketika suara Ludo Bagman bergaung di seluruh stadion, “Dan inilah dia… Potter!”

Harry tak pernah tahu apakah sebetulnya dia tertidur atau tidak—khayalannya terbang seperti Krum mungkin saja benar-benar berubah menjadi mimpi— yang dia tahu hanyalah, mendadak, Mr Weasley berteriak-teriak.

“Bangun! Ron… Harry… bangun, bangun, cepat!”

Harry buru-buru duduk dan bagian atas kepalanya membentur kanvas. “‘Da ‘pa?” tanyanya. Samar-samar, dia merasakan ada yang tak beres.

Suara-suara di bumi perken\ahan telah berubah. Nyanyian-nyanyian telah berhenti. Dia bisa mendengar jeritan-jeritan dan suara orang berlarian. Dia turun dari tempat tidurnya dan meraih pakaiannya, tetapi Mr Weasley, yang telah memakai jins di atas piamanya, berkata, “Tak ada waktu lagi, Harry… sambar jaket saja dan pergilah keluar… cepat!”

Harry melakukan seperti yang disarankan dan bergegas keluar dari tenda, Ron menyusul di belakangnya.

Dalam cahaya beberapa api yang masih menyala, dia bisa melihat orang-orang berlarian ke hutan, melarikan diri dari sesuatu yang bergerak melintasi lapangan ke arah mereka, sesuatu yang mengeluarkan pijar-pijar cahaya dan bunyi seperti letusan senapan. Olok-olok keras, gelak tawa, dan teriakan orang mabuk terbawa angin ke arah mereka, kemudian muncul semburan cahaya hijau terang, yang menerangi suasana.

Serombongan penyihir, bergerak rapat dan bersamaan dengan tongkat terarah lurus ke atas, berjalan pelan melintasi lapangan. Harry menyipitkan mata memandang mereka… Kelihatannya mereka tidak memiliki wajah… Kemudian dia sadar bahwa kepala mereka ditutup tudung dan wajah mereka memakai topeng. Jauh di atas mereka, melayang di udara, empat sosok menggeliat sedang diubah menjadi bentuk-bentuk aneh. Seakan para penyihir bertopeng di darat itu pemain sandiwara boneka, dan orang-orang di atas mereka adalah bonekanya, yang digerakkan dengan tali-tali tak tampak yang meluncur ke atas dari ujung tongkat. Dua dari empat sosok itu sangat kecil.

Lebih banyak penyihir bergabung dengan grup yang berbaris itu, tertawa-tawa dan menunjuk-nunjuk tubuh-tubuh yang melayang. Tenda-tenda tertabrak dan roboh ketika rombongan yang berjalan itu semakin besar. Satu-dua kali Harry melihat salah satu dari rombongan itu meledakkan tenda yang menghalangi jalan mereka dengan tongkatnya. Beberapa tenda terbakar. Teriakan-teriakan semakin keras.

Orang-orang yang melayang itu mendadak diterangi cahaya ketika mereka melewati tenda yang terbakar dan Harry mengenali salah satunya: Mr Roberts, manajer bumi perkemahan. Tiga yang lainnya tampaknya istri dan kedua anaknya. Salah satu rombongan di bawah menjungkirkan Mrs Roberts dengan tongkatnya. Gaun tidurnya merosot ke bawah sehingga tampaklah celana dalamnya yang besar dan dia berusaha menutupinya sementara rombongan di bawahnya mengolok-oloknya dan tertawa terbahakbahak.

“Memuakkan,” gumam Ron, mengawasi Muggle paling kecil, yang telah mulai berpusing bagai gasing, kepalanya terkulai lemas dari kanan ke kiri. “Sungguh memuakkan….”

Hermione dan Ginny bergegas menuju mereka, menarik mantel menutupi gaun tidur, dengan Mr Weasley di belakang mereka. Pada saat bersamaan, Bill, Charlie, dan Percy muncul dari tenda anak laki-laki, berpakaian lengkap, dengan lengan baju tergulung dan tongkat siap di tangan.

“Kami akan membantu Kementerian!” Mr Weasley berteriak mengatasi semua kebisingan. “Kalian… masuklah ke hutan, dan jangan berpencar. Aku akan datang menjemput kalian kalau kami sudah membereskan ini!”

Bill, Charlie, dan Percy sudah berlari ke arah rombongan yang mendekat. Mr Weasley berlari mengejar mereka. Para petugas Kementerian berlarian dari segala jurusan ke arah rombongan yang mengacau, yang datang semakin dekat.

“Ayo,” kata Fred, menyambar tangan Ginny dan menariknya ke arah hutan. Harry, Ron, Hermione, dan George mengikuti. Mereka semua menoleh ketika tiba di pepohonan. Rombongan pengacau itu sudah lebih besar dari sebelumnya. Tampak para petugas Kementerian berusaha menyeruak di antara mereka untuk mencapai para penyihir bertopeng di tengah, namun mereka mendapat kesulitan besar. Tampaknya mereka tak berani menggunakan mantra apa pun, takut membuat keluarga Roberts jatuh.

Lentera berwarna yang semula menerangi jalan setapak menuju stadion telah dipadamkan. Sosok-sosok gelap berjalan serabutan di antara pepohonan. Anakanak menangis. Teriakan-teriakan cemas dan suarasuara panik berkumandang di sekitar mereka dalam dinginnya udara malam. Harry terdorong ke sana kemari oleh orang-orang yang wajahnya tak bisa dilihatnya. Kemudian dia mendengar Ron memekik kesakitan.

“Ada apa?” tanya Hermione cemas, berhenti sangat mendadak sehingga Harry menabraknya. “Ron, kau di mana? Oh, ini konyol sekali… lumos!”

Hermione menyalakan tongkatnya dan mengarahkan cahayanya yang kecil ke jalan setapak. Ron tergeletak di tanah.

“Tersandung akar pohon,” katanya jengkel seraya bangkit.

“Yah, dengan ukuran kaki seperti itu, susah tidak tersandung,” kata suara di belakang mereka yang nadanya dipanjang-panjangkan.

Harry, Ron, dan Hermione langsung menoleh. Draco Malfoy berdiri sendirian tak jauh dari mereka, bersandar ke pohon, santai sekali. Tangannya bersedekap. Tampaknya dia mengawasi kejadian di bumi perkemahan lewat celah-celah pepohonan.

Ron mengumpat Malfoy dengan kata-kata yang Harry tahu tak bakal pernah diucapkannya di depan Mrs Weasley.

“Jaga bahasamu, Weasley,” kata Malfoy, matanya yang pucat berkilat-kilat. “Bukankah sebaiknya kau bergegas sekarang? Kau tak ingin dia kelihatan, kan?”

Dia mengangguk ke arah Hermione, dan pada saat bersamaan, ledakan keras seperti bom terdengar dari bumi perkemahan, dan cahaya hijau sesaat menerangi pepohonan di sekitar mereka.

“Apa maksudmu?” tanya Hermione menantang.

“Granger, mereka mencari Muggle,” kata Malfoy. “Apa kau mau memamerkan celana dalammu di udara? Sebab kalau iya… tunggu saja di sini… mereka bergerak ke arah sini, dan kau akan jadi tontonan lucu bagi kami semua.”

“Hermione penyihir,” bentak Harry.

“Terserah kau, Potter,” kata Malfoy, menyeringai jahat. “Kalau menurutmu mereka tak bisa melihat Darah-lumpur, tinggal saja di situ.”

“Jaga mulutmu!” teriak Ron. Semua yang ada di situ tahu bahwa “Darah-lumpur” adalah sebutan penghinaan untuk penyihir yang orangtuanya Muggle.

“Biar saja, Ron,” kata Hermione buru-buru, menyambar lengan Ron untuk menahannya ketika dia sudah maju selangkah mendekati Malfoy.

Terdengar ledakan dari sisi lain pepohonan, lebih keras dari yang sudah beberapa kali mereka dengar. Beberapa orang di dekat mereka menjerit. Malfoy tertawa pelan.

“Gampang amat ketakutan,” katanya bernada malas. “Kurasa ayah kalian menyuruh kalian semua bersembunyi? Mau apa dia… mencoba membebaskan Muggle-muggle itu?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.