Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Musik berhenti. Harry mengejapkan mata. Dia sedang berdiri, dan sebelah kakinya sudah di atas din-ding pembatas boks. Di sebelahnya Ron membeku dalam sikap seakan mau terjun dari papan loncatan.

Jeritan-jeritan marah memenuhi stadion. Penonton tak ingin Veela-veela pergi. Termasuk Harry. Dia tentu saja akan mendukung Bulgaria, dan dia heran sendiri kenapa ada shamrock hijau besar tersemat di dadanya. Ron, sementara itu, seperti orang linglung, mencabuti shamrock-shamrock di topinya. Mr Weasley, sedikit tersenyum, maju dan menarik topi dari tangan Ron.

“Kau akan menginginkan topi ini,” katanya, “kalau Irlandia sudah muncul.” “Hah?” kata Ron, ternganga memandang para Veela yang sekarang berderet di salah satu tepi stadion. Hermione berdecak keras. Ditariknya Harry agar duduk kembali. “Astaga!” katanya.

“Dan sekarang,” raung suara Ludo Bagman, “silakan angkat tongkat kalian… untuk Maskot Tim Nasional Irlandia!”

Saat berikutnya, sesuatu seperti komet besar hijau meluncur ke dalam stadion. Komet itu mengelilingi stadion sekali, kemudian terbelah menjadi dua komet lebih kecil, masing-masing melesat ke tiang gawang. Tiba-tiba pelangi melengkung menghubungkan dua ujung lapangan, menghubungkan dua bola cahaya. Penonton ber-ooooh dan aaaah, seperti kalau menonton pertunjukan kembang api. Sekarang pelangi memudar, dan kedua bola cahaya bergabung menjadi satu lagi, membentuk shamrock besar berpendar-pendar, yang mengangkasa lalu terbang di atas tribune seraya mencurahkan hujan emas….

“Hebat!” teriak Ron, ketika shamrock itu melayang di atas mereka, dan koih-koin emas besar berjatuhan, menghujani kepala dan tempat duduk mereka. Menyipitkan mata memandang tajam shamrock, Harry menyadari bahwa shamrock itu sebetulnya terbentuk dari ribuan laki-laki kecil mungil berjenggot, memakai rompi merah, masing-masing membawa lampu kecil bercahaya keemasan atau hijau.

“Leprechaun!” kata Mr Weasley mengatasi sorak membahana dari penonton, yang sebagian besar masih berkelahi memperebutkan uang emas, atau merabaraba di bawah tempat duduk mencari-carinya. Leprechaun adalah kurcaci kecil dalam dongeng yang dipercaya menyembunyikan emas di ujung pelangi.

“Ini,” Ron berseru senang, menjejalkan segenggam koin emas ke tangan Harry, “untuk Omniocular! Sekarang kau harus membelikan hadiah Natal untukku, ha!”

Shamrock besar itu pecah. Para Leprechaun terbang turun ke lapangan, di seberang para Veela, dan duduk bersila untuk menonton pertandingan.

“Dan sekarang, para penonton, sambutlah… Tim Quidditch Nasional Bulgaria! Inilah… Dimitrov!”

Sosok berjubah merah naik sapu, geraknya begitu cepat sehingga cuma seperti bayangan samar, melesat ke lapangan dari pintu masuk jauh di bawah, disambut sorak riuh para suporter Bulgaria.

“Ivanova!”

Pemain berjubah merah kedua meluncur keluar.

“Zograf! Levski! Vulchanov! Volkov! Daaaaaan… Krum!”

“Itu dia! Itu dia!” pekik Ron, mengikuti Krum dengan Omniocular-nya. Harry buru-buru memfokuskan Omniocular miliknya sendiri.

Viktor Krum bertubuh kurus, berkulit gelap pucat, dengan hidung besar bengkok dan alis lebat. Dia seperti burung pemangsa besar. Susah dipercaya umurnya baru delapan belas tahun.

“Dan sekarang, sambutlah… Tim Quidditch Nasional Irlandia!” teriak Bagman. “Menampilkan… Connoly! Ryan! Troy! Mullet! Moran! Quigley! Daaaaan… Lynch!”

Tujuh bayangan hijau samar melesat ke dalam lapangan. Harry memutar putaran kecil di sisi Omniocular-nya dan melambatkan gerak para pemain sampai dia bisa membaca kata “Firebolt” pada masing-masing sapu mereka, dan melihat nama mereka dibordir dengan benang perak di punggung masing-masing.

“Dan ini, jauh-jauh datang dari Mesir, wasit kita, Ketua Asosiasi Quidditch Internasional yang terkenal, Hassan Mostafa!”

Penyihir kecil kurus, dengan kepala botak total, tetapi kumisnya menyaingi Paman Vernon, memakai jubah emas murni untuk menandingi stadion, berjalan masuk ke lapangan. Peluit perak menyembul dari bawah kumisnya. Tangannya yang satu menenteng kotak besar, dan tangan lainnya membawa sapunya. Harry memutar putaran Omniocular-nya kembali ke normal, memandang tajam-tajam ketika Mostafa menaiki sapunya dan menendang kotaknya sampai terbuka—empat bola melesat ke udara: Quaffle merah, dua Bludger hitam, dan (Harry sekejap bisa melihatnya, sebelum bola itu melesat lenyap dari pandangan) Snitch Emas kecil bersayap. Seiring tiupan nyaring peluitnya, Mostafa melesat ke angkasa, mengikuti bola-bola itu.

“PERTANDINGAN muuuuuuuulai!” teriak Bagman. “Dan bola di tangan Mullet! Troy! Moran! Dimitrov! Kembali ke Mullet! Troy! Levski! Moran!”

Belum pernah Harry melihat Quidditch dimainkan seperti itu. Dia menekankan Omniocular-nya keras sekali ke kacamatanya, sehingga batang hidungnya sakit tertekan. Kecepatan para pemain luar biasa— para Chaser saling lempar Quaffle begitu cepatnya sehingga Bagman hanya sempat menyebut nama mereka. Harry memutar lagi tombol pelambat di Omniocular-nya, menekan kenop satu-demi-satu di bagian atas, dan langsung saja dia menonton pertandingan dalam gerak lambat, sementara huruf-huruf ungu berkilauan melintas di depan lensanya dan gemuruh penonton bertalu-talu di gendang telinganya.

Hawkshead Attacking Formation—Formasi Serang Kepala-Elang, dia membaca seraya mengawasi ketika Chaser Irlandia terbang berdekatan. Troy di tengah, sedikit di depan Mullet dan Moran, menyerbu rim Bulgaria. Porskoff Play—Taktik Porskoff adalah kilatan berikutnya ketika Troy seakan melesat ke atas membawa Quaffle, menjauh seraya menarik perhatian Chaser Ivanova dan menjatuhkan Quaffle-nya ke Moran. Salah satu Beater Bulgaria, Volkov, menghantam keras-keras Bludger yang lewat dengan pemukulnya yang kecil, ke arah jalan yang akan dilalui Moran. Moran menunduk menghindar dan menjatuhkan Quaffle-nya; dan Levski, yang terbang di bawahnya, menangkapnya…

“TROY GOL!” raung Bagman, dan stadion bergetar dengan gemuruh aplaus dan sorakan. “Sepuluh nol untuk Irlandia!”

“Apa?” teriak Harry, memandang berkeliling dengan liar melalui Omniocular-nya. “Tapi Levski yang pegang Quaffle-nya!”

“Harry, kalau kau tidak mau menonton dengan kecepatan normal, kau akan banyak ketinggalan!” teriak Hermione, yang menari-nari kegirangan, melambai-lambaikan tangan ke atas, sementara Troy mengitari lapangan dengan riang. Harry cepat-cepat melihat melalui bagian atas Omniocular dan melihat bahwa para Leprechaun di sisi lapangan semua sudah melesat ke angkasa lagi dan membentuk shamrock besar gemerlapan. Di seberang lapangan, para Veela mengawasi mereka dengan cemberut.

Jengkel pada diri sendiri, Harry memutar kembali tombol kecepatan ke normal dan permainan dilanjutkan.

Harry cukup tahu tentang Quidditch, jadi dia bisa melihat bahwa para Chaser Irlandia hebat sekali. Mereka bekerja sama sebagai tim yang prima, gerakan mereka sangat terorganisir sehingga tampaknya mereka saling membaca pikiran masing-masing ketika mereka menempatkan diri, dan mawar di dada Harry berulang-ulang meneriakkan nama mereka, “Troy… Mullet… Moran!” Dan dalam waktu sepuluh menit, Irlandia sudah mencetak gol dua kali lagi, mengubah skor menjadi tiga puluh-nol dan menyebabkan teriakan dan aplaus gegap gempita dari para suporter berjubah hijau.

Pertandingan bertambah cepat, tetapi semakin brutal. Volkov dan Vulchanov, Beater Bulgaria, memukul Bludger sekuat tenaga ke arah Chaser-chaser Irlandia, dan mulai berhasil mencegah mereka menggunakan gerakan-gerakan terbaik mereka. Dua kali mereka dipaksa menyebar, dan akhirnya Ivanova berhasil menerobos barisan mereka, menembus Keeper Ryan, dan mencetak gol pertama Bulgaria.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.