Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Jangan… tidak usah,” kata Ron, wajahnya merah padam. Dia selalu agak peka terhadap kenyataan bahwa Harry, yang mewarisi sedikit harta orangtuanya, punya lebih banyak uang daripada dirinya.

“Kalian tak akan dapat hadiah Natal lagi,” kata Harry kepadanya, mengulurkan Omniocular ke tangan Ron dan Hermione. “Sampai kira-kira sepuluh tahun.”

“Cukup adil,” kata Ron, nyengir.

“Oooh, trims, Harry,” kata Hermione. “Dan aku akan membeli buku acara untuk kita, lihat…”

Dengan kantong uang mereka jauh lebih ringan, mereka kembali ke tenda. Bill, Charlie, dan Ginny semua memakai mawar hijau juga, dan Mr Weasley membawa bendera Irlandia. Fred dan George tidak punya suvenir, karena semua uang mereka sudah diberikan kepada Bagman.

Dan kemudian, bunyi gong yang dalam membahana dari suatu tempat di balik hutan, dan serentak lenteralentera hijau dan merah menyala di pepohonan, menerangi jalan menuju lapangan.

“Sudah waktunya!” kata Mr Weasley, tampak sama bergairahnya dengan semua anak itu. “Ayo kita berangkat!”

 

Bab 8:

Piala Dunia Quiditch

MENENTENG belanjaan mereka, Mr Weasley di de-pan, mereka semua bergegas memasuki hutan, mengikuti jalan yang diterangi lentera. Mereka bisa mendengar bunyi ribuan orang bergerak di sekitar mereka, teriakan-teriakan dan tawa, penggalan-penggalan nyanyian. Atmosfer kegairahan tinggi itu menular. Harry tak bisa berhenti senyum. Mereka berjalan menembus hutan selama kira-kira dua puluh menit, mengobrol dan bergurau, sampai akhirnya mereka muncul di sisi lain hutan di depan stadion yang luar biasa besarnya. Walau Harry hanya bisa melihat sepotong tembok emas yang mengitari stadion, dia bisa memperkirakan sepuluh katedral bisa masuk di dalamnya.

“Muat untuk seratus ribu penonton,” kata Mr Weasley ketika melihat kekaguman di wajah Harry. “Lima ratus satgas Kementerian mengerjakannya selama setahun penuh. Mantra Penolak Muggle pada setiap sentinya.

Setiap kali ada Muggle datang ke dekat sini sepanjang tahun, mereka tiba-tiba ingat ada janji penting dan langsung pergi lagi… untunglah,” katanya, mengajak mereka ke pintu masuk terdekat, yang sudah dikerumuni para penyihir yang berteriak-teriak.

“Tempat duduk utama!” kata penyihir perempuan di pintu masuk setelah mengecek tiket mereka. “Boks Utama! Langsung ke atas, Arthur, paling tinggi.”

Tangga menuju ke stadion berlapis karpet ungu tua. Mereka naik bersama para penyihir lain, yang perlahan menyebar memasuki pintu-pintu di kanankiri mereka. Rombongan Mr Weasley naik terus, sampai akhirnya mereka tiba di puncak tangga dan berada di dalam boks kecil, yang terpasang pada ketinggian maksimum dan terletak persis di tengah di antara tiang-tiang gawang emas. Kira-kira dua puluh kursi ungu-keemasan berjajar dalam dua deret, dan Harry, yang mengisi deretan depan bersama keluarga Weasley, menunduk menyaksikan pemandangan yang tak pernah bisa dibayangkannya.

Seratus ribu penyihir mengambil tempat mereka, yang naik bertingkat-tingkat di sekeliling stadion oval itu. Segalanya diterangi cahaya keemasan misterius, yang seakan muncul dari dalam stadion itu sendiri. Lapangan tampak sehalus beludru dari tempat mereka yang tinggi. Pada masing-masing ujung stadion berdiri tiga tiang gawang setinggi lima belas meter. Persis di depan mereka, hampir setinggi garis pandang Harry, ada papan raksasa. Tulisan emas tak hentinya meluncur di papan itu, seakan ada tangan raksasa yang tak kelihatan menulis di atasnya, kemudian menghapusnya lagi. Setelah mengawasinya, Harry melihat bahwa papan itu menampilkan iklan.

Bluebottle: Sapu untuk Seluruh Keluarga—aman, bisa diandalkan, dan dilengkapi alarm anti-maling… Penghilang Segala Macam Kotoran Buatan Mrs Skower. Tanpa Upaya, Tanpa Noda!… Gladrags: Merek Pakaian Paling Cocok untuk Penyihir—London, Paris, Hogsmeade….

Harry mengalihkan matanya dari papan dan menoleh untuk melihat siapa saja yang duduk di boks itu bersama mereka. Sejauh ini masih kosong, hanya ada makhluk kecil yang duduk di ujung deretan di belakang mereka. Makhluk itu, yang kakinya pendek sekali sehingga terjulur di depan tubuhnya di atas kursi, memakai serbet yang dikerudungkan seperti toga, dan wajahnya disembunyikan di balik tangannya. Tetapi, telinganya yang panjang seperti kelelawar rasanya dikenal Harry….

“Dobby?” sapa Harry keheranan.

Makhluk mungil itu mendongak dan meregangkan jari-jarinya. Tampak matanya yang sangat besar berwarna cokelat dan hidungnya yang bentuk serta ukurannya sebesar tomat. Dia bukan Dobby—tetapi jelas dia peri-rumah, seperti halnya teman Harry si Dobby. Harry telah membebaskan Dobby dari pemiliknya, keluarga Malfoy.

“Apakah Anda memanggil saya Dobby?” kata si peri ingin tahu dari balik jari-jarinya. Suaranya bahkan lebih melengking dibanding Dobby, kecil, nyaring, dan bergetar, dan Harry menduga—meskipun susah sekali membedakan peri-rumah—bahwa yang ini mungkin perempuan. Ron dan Hermione menoleh ikut melihat. Meskipun mereka sudah banyak mendengar tentang Dobby dari Harry, mereka belum pernah bertemu dengannya. Bahkan Mr Weasley pun ikut menoleh dengan penuh minat.

“Maaf,” kata Harry pada si peri. “Kukira tadi kau peri yang kukenal.”

“Tapi saya kenal Dobby juga, Sir!” cicit si peri. Dia melindungi wajahnya, seakan kesilauan, meskipun Boks Utama itu tidak begitu terang. “Nama saya Winky, Sir—dan Anda, Sir…” Matanya yang cokelat gelap melebar sampai sebesar piring kecil ketika memandang bekas luka Harry. “Anda pasti Harry Potter!”

“Ya,” kata Harry.

“Dobby bicara tentang Anda sepanjang waktu, Sir!” katanya, menurunkan tangannya sedikit saja dan tampak terkesima.

“Bagaimana kabarnya?” tanya Harry. “Dia menikmati kebebasannya?”

“Ah, Sir,” kata Winky, menggelengkan kepala, “ah, Sir, saya tak bermaksud mencela Anda, Sir, tapi saya tak yakin Anda berbuat baik kepada Dobby, Sir, dengan membebaskannya.”

“Kenapa?” tanya Harry, kaget. “Kenapa dia?”

“Kebebasan merasuki kepalanya, Sir,” kata Winky sedih. “Menganggap diri di atas statusnya, Sir. Tidak bisa dapat pekerjaan lain, Sir.”

“Kenapa tidak?” tanya Harry. Winky merendahkan suaranya setengah oktaf dan berbisik, “Dia minta bayaran, Sir.” “Bayaran?” kata Harry tak mengerti. “Yah—kenapa dia tak boleh minta bayaran?”

Winky tampaknya ngeri mendengar itu dan merapatkan jari-jarinya sehingga wajahnya setengah tersembunyi lagi.

“Peri-rumah tidak dibayar, Sir!” katanya dalam leng-kingan yang teredam. “Tidak, tidak. Saya bilang pada Dobby, cari keluarga yang.baik, lalu menetap, Dobby. Tingkahnya macam-macam, Sir, tidak pantas untuk peri-rumah. Kau bikin heboh terus, Dobby, kata saya, dan kali berikutnya aku akan dengar kau dibawa ke Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib, macam goblin biasa saja.”

“Yah, sudah waktunya dia sedikit bersenangsenang,” kata Harry.

“Peri-rumah tidak boleh bersenang-senang, Harry Potter,” kata Winky tegas, dari balik tangannya. “Perirumah melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Saya takut ketinggian, Harry Potter”—dia mengerling ke tepi boks dan menelan ludah—”tetapi tuan saya mengirim saya ke boks paling atas dan saya patuh, Sir.”

“Kenapa dia mengirimmu ke sini kalau dia tahu kau takut ketinggian?” tanya Harry, mengernyit.

“Tuan… Tuan ingin saya menyediakan tempat untuknya, Harry Potter. Dia sibuk sekali,” kata Winky, menelengkan kepala ke kursi kosong di sebelahnya. “Winky kepingin sekali kembali ke tenda Tuan, Harry Potter, tetapi Winky melakukan yang diperintahkan kepadanya. Winky peri-rumah yang baik.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.