Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Mr Crouch?” kata Percy, mendadak menanggalkan kekakuan penuh cela di wajahnya dan menjadi ber-semangat. “Dia bisa lebih dari dua ratus bahasa! Mermish dan Gobbledegook dan Troll…”

“Semua orang bisa bahasa Troll,” kata Fred meremehkan. “Tinggal tunjuk dan menggeram saja.”

Percy melempar pandang marah kepada Fred dan menyodok api keras-keras supaya ketel mendidih lagi.

“Sudah ada berita tentang Bertha Jorkins, Ludo?” Mr Weasley bertanya ketika Bagman mendudukkan diri di rumput di sebelah mereka.

“Belum sama sekali,” ujar Bagman santai. “Tapi dia pasti muncul. Kasihan si Bertha… ingatannya seperti kuali bocor dan sama sekali tak bisa menentukan arah. Tersesat, pasti. Dia akan muncul lagi di kantor bulan Oktober dan mengira masih bulan Juli.”

“Menurutmu belum waktunya kirim orang untuk mencari dia?” Mr Weasley menyarankan ketika Percy menyerahkan teh untuk Bagman.

“Barty Crouch berkali-kali bilang begitu,” kata Bagman, matanya yang bulat melebar dengan polos, “tapi saat ini betul-betul sibuk sekali, kita tak bisa kirim orang. Oh… panjang umur! Barty!”

Seorang penyihir baru saja ber-Apparate di sebelah api unggun mereka, dan kekontrasannya dengan Ludo Bagman yang duduk santai di rerumputan memakai jubah Wasps-nya tak bisa lebih mencolok dari itu. Barty Crouch sudah agak tua, kaku, memakai setelan jas bagus dan berdasi. Belahan rambut abu-abunya yang pendek sangat lurus, nyaris tak wajar, dan kumis tipisnya yang seperti sikat gigi seakan diratakan menggunakan penggaris. Sepatunya disemir berkilap. Harry bisa memahami kenapa Percy mengidolakannya. Percy orang yang sangat patuh pada peraturan, dan Mr Crouch mematuhi peraturan tentang berpakaian ala Muggle begitu telitinya sampai dia bisa dikira manajer bank. Harry bahkan menyangsikan Paman Vernon bisa menebak dia sebetulnya bukan Muggle.

“Duduk di rumput sini, Barty,” kata Ludo riang, mengelus rerumputan di sebelahnya. “Tidak, terima kasih, Ludo,” kata Crouch, dan ada sedikit ketidaksabaran dalam suaranya. “Aku cari kau ke mana-mana. Pihak Bulgaria mendesak kita menambah dua belas tempat duduk di Boks Utama.” “Oh, jadi itu mau mereka?” kata Bagman. “Kukira mereka mau pinjam jepitan. Aksennya tajam sekali.”

“Mr Crouch!” kata Percy terengah, seraya membungkuk sedemikian rupa sehingga dia tampak seperti orang bungkuk. “Anda mau secangkir teh?”

“Oh,” kata Mr Crouch, memandang Percy agak heran. “Ya… terima kasih, Weatherby.”

Fred dan George sampai tersedak. Percy, yang telinganya merah padam, menyibukkan diri membuat teh.

“Oh, dan aku juga mau bicara denganmu, Arthur,” kata Mr Crouch, matanya yang tajam memandang Mr Weasley. “Ali Bashir marah-marah. Dia mau bicara denganmu tentang pelarangan ekspor karpet terbang.”

Mr Weasley menghela napas berat.

“Aku mengirim burung hantu kepadanya soal itu minggu lalu. Sudah berkali-kali kuberitahukan kepadanya: karpet didefinisikan sebagai Barang Muggle oleh Kantor Pendaftaran Benda-benda Tersihir yang Dilarang, tapi maukah dia memahaminya?”

“Aku ragu,” kata Mr Crouch, menerima cangkir dari Percy. “Dia ingin sekali mengekspor ke sini.” “Karpet tidak akan menggantikan sapu di Inggris, kan?” kata Bagman.

“Ali berpendapat ada peluang di pasar sebagai kendaraan keluarga,” kata Mr Crouch. “Aku ingat kakekku punya Axminster yang cukup untuk dua belas orang… tapi itu sebelum karpet dilarang, tentu saja.”

Caranya bicara seakan dia ingin tak ada yang meragukan bahwa semua leluhurnya tidak pernah melanggar hukum. “Jadi, sedang sibuk sekali, Barty?” kata Bagman riang. “Lumayan,” kata Mr Crouch hambar. “Mengorganisir Portkey di lima benua bukan urusan mudah, Ludo.” “Kurasa kalian berdua akan senang kalau semua ini sudah selesai?” kata Mr Weasley.

Ludo Bagman tampak terkejut. “Senang! Belum pernah aku segembira ini… Tapi bukannya tak ada lagi yang diharapkan, eh, Barty? Eh? Masih banyak yang perlu diorganisir, eh?”

Mr Crouch mengangkat alis ke arah Bagman. “Kita sudah sepakat tidak mengumumkannya sebelum semua detail…”

“Oh, detail!” kata Bagman, melambaikan tangan, mengabaikan kata itu seperti menghalau lalat. “Mereka sudah tanda tangan, kan? Mereka sudah setuju, kan? Taruhan, pasti tak lama lagi anak-anak ini juga tahu. Maksudku, toh akan diadakan di Hogwarts…”

“Ludo, kita harus ketemu delegasi Bulgaria,” kata Mr Crouch tajam, memotong ucapan Bagman. “Terima kasih tehnya, Weatherby”

Dia mendorong tehnya yang belum diminum ke arah Percy dan menunggu Ludo berdiri. Bagman bang-kit, meneguk sisa tehnya, uang emas di dalam kantongnya bergemerencing nyaring.

“Sampai ketemu kalian semua nanti!” katanya. “Kalian akan berada di Boks Utama bersamaku—aku komentator!” Dia melambai. Barty Crouch mengangguk singkat, dan keduanya ber-Disapparate.

“Apa yang akan diadakan di Hogwarts, Dad?” tanya Fred penasaran. “Apa yang mereka bicarakan?” “Tak lama lagi kau akan tahu,” kata Mr Weasley, tersenyum.

“Ini masih termasuk informasi rahasia, sampai tiba saatnya Kementerian memutuskan mengumumkannya,” kata Percy kaku. “Mr Crouch benar jika tidak mau mengungkapnya.”

“Oh, tutup mulut, Weatherby,” kata Fred.

Kegairahan meningkat seperti awan yang tampak jelas di bumi perkemahan selewat tengah hari. Sorenya, bahkan udara musim panas yang tenang serasa bergelora dengan antisipasi, dan saat kegelapan menebar seperti tirai di atas ribuan penyihir yang menanti, kepura-puraan yang tersisa pun lenyap. Para petugas Kementerian tampaknya sudah menyerah pada hal yang tak dapat dihindari dan berhenti melawan tanda-tanda sihir yang sekarang bermunculan di mana-mana.

Para pedagang ber-Apparate setiap beberapa meter, membawa nampan dan mendorong kereta penuh berisi dagangan luar biasa. Ada mawar-mawar yang menyala—hijau untuk Iriandia, merah untuk Bulgaria—yang meneriakkan nama-nama para pemain, topi kerucut hijau dihiasi shamrock yang menari-nari, syal Bulgaria berhias singa yang betul-betul mengaum, bendera-bendera kedua negara yang menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing jika dilambaikan. Ada juga sapu Firebolt mainan kecil-kecil yang benar-benar bisa terbang, dan boneka-boneka para pemain terkenal untuk koleksi, yang bisa berjalan-jalan dengan bergaya di atas telapak tanganmu.

“Aku menabung semua uang sakuku selama musim panas untuk ini,” Ron memberitahu Harry ketika mereka dan Hermione berjalan melewati para pedagang, membeli suvenir. Meskipun Ron membeli topi shamrock yang menari dan mawar hijau, dia juga membeli boneka kecil Viktor Krum, Seeker Bulgaria. Miniatur Krum berjalan bolak-balik di atas telapak tangan Ron, cemberut memandang mawar hijau di atasnya.

“Wow, lihat ini!” kata Harry, bergegas ke kereta dorong yang menggunung, berisi sesuatu seperti teropong kuningan, hanya saja teropong itu dilengkapi segala macam kenop dan putaran aneh.

“Omniocular,” kata si penjual penuh semangat. “Kalian bisa mengulang permainan… melambatkan apa saja… dan bisa memperlihatkan penggalan permainan yang mana saja, kalau diperlukan. Murah— cuma sepuluh Galleon.”

“Jadi nyesal aku sudah beli ini,” kata Ron, menunjuk topi shamrock menarinya dan memandang Omniocular dengan wajah kepingin sekali.

“Tiga,” kata Harry tegas kepada penjualnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.