Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry tertawa tetapi tidak menyuarakan keheranan yang dirasakannya ketika mendengar tentang sekolahsekolah sihir yang lain. Dia beranggapan, setelah melihat begitu banyak perwakilan dengan berbagai kebangsaan, bahwa selama ini dia bodoh karena tak pernah menyadari bahwa Hogwarts tak mungkin satusatunya sekolah sihir yang ada. Dia mengerling Hermione, yang tampak sama sekali tidak terkejut mendengar informasi ini. Pastilah dia sudah membaca tentang sekolah-sekolah sihir yang lain itu dari buku atau apa.

“Kalian lama sekali,” kata George ketika mereka akhirnya tiba kembali di kemah keluarga Weasley. “Ketemu beberapa orang,” kata Ron, menaruh airnya. “Apinya belum kaunyalakan?” “Dad lagi bersenang-senang dengan korek apinya,” kata Fred.

Mr Weasley belum menyalakan api, tapi bukannya belum mencoba. Batang korek api yang patah bertebaran di tanah di sekitarnya, tetapi tampaknya dia senang sekali.

“Oops!” katanya ketika dia berhasil menyalakan sebatang korek dan buru-buru menjatuhkannya karena kaget.

“Begini, Mr Weasley,” kata Hermione berbaik hati, mengambil kotak korek api darinya dan menunjukkan cara menyalakannya dengan benar.

Akhirnya mereka berhasil menyalakan api, walaupun masih perlu satu jam lagi sampai apinya cukup panas untuk memasak. Namun ada banyak yang bisa dilihat selama mereka menunggu. Tenda mereka rupanya berdiri sejajar dengan semacam jalan yang menuju ke tengah lapangan, dan para pegawai Kementerian tak hentinya bergegas melewati jalan itu, menyapa Mr Weasley dengan hangat ketika lewat. Mr Weasley terusmenerus memberi komentar, terutama untuk Harry dan Hermione. Anak-anaknya sendiri sudah tahu banyak tentang Kementerian Sihir, sehingga tidak tertarik.

“Itu Cuthbert Mockridge, Kepala Kantor Hubungan Goblin… Yang akan lewat ini Gilbert Wimple. Dia anggota Komite Sihir Eksperimental; sudah beberapa waktu dia bertanduk begitu… Halo, Arnie… Arnold Peasegood, dia ahli Penghilang—anggota Pasukan Pembalikan Sihir Tak Sengaja, kalian tahu kan… dan itu Bode dan Croaker… mereka Tak-Bisa-Dikatakan…”

“Mereka apa?”

“Dari Departemen Misteri, top secret, entah apa yang mereka lakukan….”

Akhirnya apinya siap, dan mereka baru saja mulai memasak telur dan sosis ketika Bill, Charlie, dan Percy berjalan keluar dari hutan ke arah mereka.

“Baru saja ber-Apparate, Dad,” kata Percy keraskeras. “Ah, makan siang yang enak!”

Mereka sudah setengah jalan makan telur dan sosis ketika Mr Weasley melompat bangun, melambai dan tersenyum pada seorang laki-laki yang berjalan ke arah mereka. “Aha!” katanya. “Tokoh utama kita! Ludo!”

Ludo Bagman adalah orang yang paling gampang dikenali, sejauh yang dilihat Harry, bahkan mengalahkan si tua Archie yang memakai gaun malam berbunga. Ludo memakai jubah Quidditch panjang bergarisgaris horisontal kuning cerah dan hitam. Gambar lebah raksasa terpampang di dadanya. Penampilannya mengesankan orang tinggi besar yang kondisinya kurang dipertahankan. Jubahnya tampak tertarik ketat di bagian perutnya yang besar—perut yang pasti tak sebesar itu ketika dia masih menjadi pemain Quidditch nasional Inggris. Hidungnya melesak (mungkin patah terhantam Bludger, pikir Harry), tetapi mata birunya yang bulat, rambut pirangnya yang pendek, dan wajahnya yang merah sehat membuatnya tampak seperti anak sekolah bertubuh besar.

“Ahoi!” seru Bagman riang. Dia berjalan ringan seakan ada pegas di telapak kakinya dan jelas sedang bergairah sekali.

“Arthur, sobat,” sapanya ketika tiba di api unggun, “hari yang hebat, eh? Hari yang hebat! Tak bisa kita mengharap cuaca yang lebih bagus dari ini. Malam nanti tak berawan… dan semua rencana berjalan lancar… Tak banyak yang harus kukerjakan!”

Di belakangnya, serombongan petugas Kementerian yang tampak kelelahan buru-buru lewat, menunjuk bukti di kejauhan bahwa ada api sihir yang memancarkan bunga api ungu setinggi enam meter ke angkasa.

Percy bergegas maju dengan tangan terulur. Rupanya celaannya mengenai cara Ludo Bagman menjalankan departemennya tidak mencegahnya ingin memberi kesan baik.

“Ah—ya,” kata Mr Weasley, tersenyum, “ini anakku, Percy. Dia baru mulai bekerja di Kementerian—dan ini Fred—bukan, George, maaf—yang itu Fred—Bill, Charlie, Ron—anak perempuanku Ginny—dan temanteman Ron… Hermione Granger dan Harry Potter.”

Bagman agak kaget mendengar nama Harry, dan matanya, seperti yang sudah dihafal Harry, terangkat ke atas ke bekas luka di dahi Harry.

“Anak-anak,” Mr Weasley meneruskan, “ini Ludo Bagman, kalian tahu siapa beliau, berkat beliaulah kita mendapatkan tiket yang bagus sekali…”

Bagman tersenyum dan melambaikan tangan seakan itu cuma soal kecil.

“Mau taruhan untuk pertandingan nanti, Arthur?” katanya bersemangat, menggerincingkan uang emas yang kedengarannya banyak di dalam saku-saku jubah kuning-hitamnya. “Roddy Pontner sudah bertaruh Bulgaria yang akan mencetak gol lebih dulu—aku memberi tawaran cukup baik, mengingat tiga pemain depan Irlandia adalah yang terkuat yang pernah kulihat selama beberapa tahun belakangan ini—dan si kecil Agatha Timms mempertaruhkan separo sahamnya di peternakan belut untuk tebakannya bahwa pertandingan akan berlangsung seminggu.”

“Oh… baiklah,” kata Mr Weasley. “Apa ya enaknya… satu Galleon untuk kemenangan Irlandia?”

“Satu Galleon?” Ludo Bagman tampak sedikit kecewa, tapi langsung menguasai diri lagi. “Baiklah, baiklah… ada lagi yang mau taruhan?”

“Mereka masih terlalu kecil untuk berjudi,” kata Mr Weasley. “Molly tak akan suka…”

“Kami mau ikut. Tiga puluh tujuh Galleon, lima belas Sickle, tiga Knut,” kata Fred sementara dia dan George mengumpulkan uang mereka, “tebakan kami Irlandia menang—tetapi Viktor Krum mendapatkan Snitch-nya. Oh, dan kami juga menawarkan tongkat sihir palsu.”

“Kalian jangan menunjukkan barang rongsokan ma-cam itu kepada Mr Bagman…,” desis Percy, tetapi Bagman rupanya tidak menganggap itu barang rongsokan, sebaliknya malah. Wajahnya yang kekanakan tampak bergairah ketika dia mengambil tongkat itu dari Fred, dan ketika tongkat itu mengeluarkan bunyi “ciap-ciap” keras dan berubah menjadi ayam-ayaman karet, Bagman tertawa gelak-gelak.

“Luar biasa! Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat yang sehebat ini! Kubeli lima Galleon!”

Percy langsung bersikap kaku, mencela.

“Anak-anak,” bisik Mr Weasley. “Kalian tak boleh bertaruh… Itu seluruh tabungan kalian… Ibu kalian…”

“Jangan merusak kesenangan, Arthur!” dentum Ludo Bagman, menggerincingkan uang dalam kantongnya dengan penuh semangat. “Mereka sudah cukup besar untuk mengetahui apa yang mereka inginkan! Menurut kalian Irlandia akan menang tapi Krum akan mendapatkan Snitch-nya? Tak mungkin, Nak, tak mungkin… Aku beri tawaran mahal untuk tebakan kalian itu… Kita tambahkan lima Galleon dari tongkat lucu ini, ya….”

Mr Weasley cuma bisa memandang tak berdaya ketika Ludo Bagman mengeluarkan buku catatan dan pena bulu dan mencatat nama si kembar.

“Bagus,” kata George, mengambil secarik perkamen yang diulurkan Bagman kepadanya dan menyelipkannya ke dalam saku depan jubahnya. Bagman menoleh riang lagi ke Mr Weasley.

“Kalian bisa bantu tidak? Aku sedang cari-cari Barty Crouch. Menteri Olahraga Bulgaria bikin repot, dan aku tidak mengerti sepatah pun yang dikatakannya. Barty akan mengerti. Dia bisa bicara kira-kira seratus lima puluh bahasa.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.