Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kalau begitu, bagaimana kalau kau, Harry, dan Hermione ke sana dan mengambil air untuk kita…”

Mr Weasley mengulurkan ketel dan dua panci, “… dan kami yang di sini akan mencari kayu untuk api?” “Tapi kita punya oven,” kata Ron. “Kenapa kita. tidak…”

“Ron, pengamanan anti-Muggle!” kata Mr Weasley, wajahnya berseri penuh gairah. “Kalau Muggle asli berkemah, mereka memasak dengan api di luar. Aku sudah pernah lihat!”

Setelah tur-kilat di kemah anak perempuan, yang sedikit lebih kecil daripada kemah para pria, meskipun tanpa bau kucing, Harry, Ron, dan Hermione menyeberangi bumi perkemahan membawa ketel dan panci.

Kini, seiring dengan terbitnya matahari dan menipisnya kabut, mereka bisa melihat hamparan tenda yang bertebaran di segala jurusan. Mereka berjalan pelan melewati deretan tenda itu, memandang berkeliling dengan penuh minat. Harry baru menyadari, betapa banyaknya penyihir di dunia ini. Dia tak pernah benar-benar memikirkan penyihir di negara lain.

Para pekemah lain mulai bangun. Awalnya keluarga-keluarga yang punya anak kecil. Harry belum pernah melihat penyihir sekecil-kecil ini. Seorang anak lakilaki, tak lebih dari dua tahun, berjongkok di depan tenda berbentuk piramida, memegang tongkat dan dengan riang menusuk-nusuk siput di rerumputan. Si siput perlahan menggelembung sebesar salami. Saat mereka melewati anak itu, ibunya bergegas keluar dari tenda.

“Berapa kali sudah kularang, Kevin? Jangan… sentuh… tongkat… ayahmu—yecchh!”

Si ibu menginjak si siput raksasa, yang langsung pecah. Omelannya memecah keheningan pagi, ditingkah teriakan-teriakan si anak kecil—”Mama pecahin siput! Mama pecahin siput!”

Tak jauh dari situ, mereka melihat dua anak perempuan kecil, tak lebih besar dari Kevin. Mereka berdua naik sapu terbang mainan, yang cuma terbang rendah sehingga jari-jari kaki kedua anak itu masih menyentuh rumput yang berembun. Petugas Kementerian sudah melihat mereka. Saat bergegas melewati Harry, Ron, dan Hermione, dia bergumam bingung, “Di pagi hari yang terang begini! Orangtuanya pasti ketiduran….”

Di sana-sini penyihir dewasa, laki-laki dan perempuan, bermunculan dari tenda-tenda mereka dan mulai memasak sarapan. Beberapa, secara sembunyisembunyi menyihir api dengan tongkat sihir mereka. Yang lain menggores korek api dengan wajah ragu, seakan yakin korek itu tidak akan menyala. Tiga penyihir Afrika sedang bicara serius, ketiganya memakai jubah putih panjang, dan memanggang sesuatu seperti kelinci di atas api berwarna ungu cerah, sementara serombongan penyihir separo-baya Amerika du-duk sambil bergosip riang di bawah spanduk berkelipkelip yang dipasang di antara tenda-tenda mereka dengan tulisan berbunyi: INSTITUT PENYIHIR SALEM. Harry mendengar sekilas-sekilas potongan pembicaraan dalam bahasa-bahasa asing dari dalam tendatenda yang mereka lewati, dan meskipun dia tidak memahami sepatah kata pun, nada semua suara itu bergairah.

“Er—matakukah yang tidak benar, atau semuanya berubah menjadi hijau?” tanya Ron.

Ternyata bukan mata Ron yang salah. Mereka memasuki kawasan berisi sekelompok tenda yang semuanya ditutupi shamrock lebat, sehingga kelihatannya ada bukit-bukit berbentuk aneh telah bermunculan di tanah. Shamrock adalah tanaman dengan daun oval berhelai-tiga yang dipakai sebagai lambang negara Irlandia. Wajah-wajah penuh senyum tampak dari tenda-tenda yang pintunya terbuka. Kemudian, dari belakang, mereka mendengar nama mereka dipanggil.

“Harry! Ron! Hermione!”

Seamus Finnigan-lah yang memanggil. Seamus teman kelas empat yang sama-sama di Gryffindor. Dia duduk di depan tendanya sendiri yang juga tertutup shamrock, bersama perempuan berambut pirang yang tentunya ibunya, dan sahabatnya Dean Thomas, juga dari Gryffindor.

“Suka dekorasinya?” tanya Seamus, nyengir. “Ke-menterian tidak terlalu senang.”

“Ah, kenapa kita tidak boleh menunjukkan warna kebangsaan kita?” kata Mrs Finnigan. “Kalian harus lihat apa yang ditempelkan para penyihir Bulgaria di tenda-tenda mereka. Kalian akan mendukung Irlandia, kan?” dia menambahkan, memandang Harry, Ron, dan Hermione. Setelah meyakinkannya bahwa mereka memang mendukung Irlandia, mereka melanjutkan perjalanan lagi, meskipun Ron menyeletuk, “Dikelilingi mereka, bisa omong apa kita?”

“Aku penasaran, apa ya, yang ditempelkan para penyihir Bulgaria di depan tenda mereka?” kata Hermione.

“Ayo kita lihat ke sana,” ajak Harry, seraya menunjuk tebaran luas tenda di tempat agak tinggi, dengan bendera Bulgaria—putih, hijau, dan merah— berkibar tertiup angin.

Tenda-tenda di situ tidak ditutupi tanaman hidup, tetapi semuanya ditempeli poster yang sama. Poster wajah masam dengan alis lebat hitam. Gambar itu tentu saja bergerak, tapi yang dilakukannya hanyalah mengedip dan memberengut.

“Krum,” kata Ron pelan.

“Apa?” tanya Hermione.

“Krum!” kata Ron. “Viktor Krum, Seeker Bulgaria!”

“Tampangnya galak betul,” kata Hermione, memandang berkeliling ke begitu banyak poster Krum yang mengedip dan memberengut kepada mereka.

“Galak?” Ron mengangkat matanya ke langit. “Siapa peduli tampangnya galak? Dia luar biasa. Dia juga masih muda. Baru delapan belas atau sekitar itulah. Dia jenius. Tunggu sampai malam ini, kalian akan lihat sendiri.”

Sudah ada antrean pendek di depan keran di sudut lapangan. Harry, Ron, dan Hermione ikut antre, persis di belakang dua pria yang sedang berdebat seru. Yang satu penyihir sudah tua sekali, memakai gaun malam berbunga-bunga. Satunya lagi jelas petugas Kementerian Sihir. Dia memegangi celana panjang bergaris dan nyaris menangis saking putus asanya.

“Pakailah ini, Archie, ayolah. Kau tak bisa berkeliaran dengan berpakaian begitu. Si Muggle di gerbang sudah mulai curiga…” “Aku beli ini di toko Muggle,” kata si penyihir tua bandel. “Muggle pakai ini.”

“Muggle perempuan yang pakai, Archie, bukan lakilaki. Yang laki-laki pakai ini” kata si petugas Kementerian, dan dia melambaikan celana bergaris itu.

“Aku tidak mau,” kata si penyihir tua jengkel. “Aku suka angin segar di sekeliling anggota rahasiaku, terima kasih.”

Hermione sudah tak tahan lagi menahan tawa, sehingga dia terpaksa meninggalkan antrean dan baru kembali lagi setelah Archie mengambil airnya dan pergi.

Berjalan lebih lambat sekarang, karena beban air yang mereka bawa, mereka kembali ke kemah mereka. Di sana-sini mereka melihat lebih banyak lagi wajahwajah yang mereka kenal: murid-murid Hogwarts yang lain bersama keluarga mereka. Oliver Wood, mantan kapten tim Quidditch Gryffindor yang baru saja lulus, menyeret Harry ke tenda orangtuanya untuk diperkenalkan, dan dengan bersemangat memberitahu Harry bahwa dia baru saja diterima di tim cadangan Puddlemere United. Berikutnya mereka dipanggil Ernie Macmillan, anak kelas empat Hufflepuff, dan sedikit lebih jauh mereka melihat Cho Chang, gadis sangat cantik yang bermain sebagai Seeker tim Ravenclaw. Dia melambai dan tersenyum kepada Harry. Harry menumpahkan air cukup banyak ke bagian depan tubuhnya ketika dia membalas melambai. Supaya tidak diledek Ron, Harry buru-buru menunjuk serombongan besar remaja yang belum pernah dilihatnya. “Siapa kira-kira mereka itu?” katanya. “Mereka tidak bersekolah di Hogwarts, kan?”

“Kurasa mereka sekolah di sekolah sihir di negara lain,” kata Ron. “Aku tahu ada sekolah-sekolah sihir lain. Tapi belum pernah ketemu anak yang bersekolah di sana. Bill punya teman pena yang bersekolah di Brasil… dulu sekali, sudah bertahun-tahun yang lalu… dan dia ingin ke sana mengunjunginya, tapi Mum dan Dad tidak sanggup membiayainya. Teman penanya tersinggung ketika dia menulis dia tidak bisa datang dan Bill dikirimi topi yang sudah dikutuk. Topi itu membuat telinganya mengerut.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.