Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Mereka tak punya sisa napas untuk bicara ketika mulai mendaki Bukit Stoatshead, kadang-kadang terhuyung jika terperosok ke dalam lubang kelinci, atau terpeleset gerumbul lebat rumput yang licin. Setiap helaan napas Harry membuat dadanya sakit, dan kakinya mulai susah digerakkan ketika akhirnya telapak kakinya menginjak tanah datar.

“Whew!” engah Mr Weasley, mencopot kacamatanya dan menggosokkannya ke sweternya. “Yah, cukuplah—kita masih punya sepuluh menit….”

Hermione yang terakhir tiba di puncak bukit, memegangi sisi perutnya.

“Sekarang tinggal cari Portkey-nya,” kata Mr Weasley, memakai kembali kacamatanya dan menyipitkan mata mencari-cari di tanah. “Pasti tidak besar… Ayo…”

Mereka menyebar, mencari. Baru beberapa menit, terdengar teriakan membelah keheningan.

“Di sini, Arthur! Di sini, Nak, sudah ketemu!”

Dua sosok jangkung membentuk siluet berlatar langit berbintang di sisi lain bukit.

“Amos!” kata Mr Weasley, tersenyum, seraya melangkah mendekati laki-laki yang tadi berteriak. Yang lain mengikuti. Mr Weasley berjabat tangan dengan penyihir berwajah kemerahan dengan jenggot cokelat lebat yang tangan satunya memegangi sepatu bot usang.

“Ini Amos Diggory, anak-anak,” kata Mr Weasley. “Dia bekerja di Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib. Dan kurasa kalian kenal anaknya, Cedric?”

Cedric Diggory adalah pemuda luar biasa tampan berusia kira-kira tujuh belas tahun. Dia Kapten dan Seeker tim Quidditch Hufflepuff di Hogwarts.

“Hai,” sapa Cedric, memandang berkeliling kepada mereka semua.

Semua membalas ber-hai, kecuali Fred dan George, yang hanya mengangguk. Mereka tak pernah sepenuhnya memaafkan Cedric karena mengalahkan tim mereka, Gryffindor, dalam pertandingan pertama tahun ajaran lalu.

“Perjalanan jauh, Arthur?” tanya ayah Cedric. “Tidak juga,” kata Mr Weasley. “Kami tinggal di balik desa. Kau?”

“Harus bangun pukul dua, ya, Ced? Aku akan senang kalau dia sudah lulus ujian ber-Apparate. Tapi… aku tidak mengeluh… Piala Dunia Quidditch, tak akan mau ketinggalan walaupun dibayar sekantong emas—dan harga tiketnya kira-kira memang segitu. Padahal kelihatannya aku dapat dengan mudah, ya…” Amos Diggory dengan ramah memandang ke ketiga anak laki-laki Weasley, Harry, Hermione, dan Ginny. “Semua anakmu, Arthur?”

“Oh, bukan, cuma yang rambutnya merah,” kata Mr Weasley, seraya menunjuk anak-anaknya. “Ini Hermione, teman Ron—dan Harry, temannya yang lain…”

“Jenggot Merlin,” kata Amos Diggory, matanya melebar. “Harry? Harry Potter?”

“Er—yeah,” kata Harry.

Harry sudah terbiasa dengan orang-orang yang me-mandangnya penuh ingin tahu sewaktu bertemu dengannya, terbiasa dengan mata mereka yang langsung bergerak ke bekas luka berbentuk sambaran kilat di dahinya, tetapi itu selalu membuatnya salah tingkah.

“Ced sudah cerita tentang kau, tentu,” kata Amos Diggory. “Cerita kepada kami tentang bertanding melawan kau tahun lalu… aku bilang padanya, Ced, ini bisa diceritakan kepada cucu-cucumu… Kau mengalahkan Harry Potter!”

Harry tak tahu harus menanggapi bagaimana, maka dia diam saja. Fred dan George cemberut. Cedric tampak agak malu.

“Harry jatuh dari sapunya, Dad,” gumamnya. “Kan sudah kubilang… itu kecelakaan…”

“Ya, tapi kau tidak jatuh, kan?” raung Amos senang, seraya menepuk punggung anaknya. “Anak ini selalu rendah hati, selalu sopan… tapi yang terbaik yang menang, aku yakin Harry akan bilang begitu, iya kan, eh? Yang satu jatuh dari sapunya, yang satu tidak, tak perlu jadi jenius untuk mengatakan mana yang lebih pintar terbang!”

“Sudah hampir saatnya,” kata Mr Weasley cepatcepat sambil menarik keluar arlojinya lagi. “Apa masih ada yang kita tunggu, Amos?”

“Tidak, keluarga Lovegood sudah di sana seminggu dan keluarga Fawcett tidak berhasil mendapat tiket,” kata Mr Diggory. “Tak ada lagi kaum kita di daerah ini, kan?”

“Setahuku tidak,” kata Mr Weasley. “Ya, satu menit lagi… Lebih baik kita bersiap-siap…” Dia memandang Harry dan Hermione.

“Kalian cuma perlu menyentuh Portkey-nya, satu jari sudah cukup…”

Dengan susah payah, karena ransel mereka besarbesar, mereka bersembilan berdesakan mengitari sepatu bot butut yang dipegangi oleh Amos Diggory.

Mereka berdiri di sana, dalam lingkaran rapat, sementara angin dingin menyapu puncak bukit. Tak seorang pun bicara. Mendadak terlintas di benak Harry, betapa ganjil pemandangan ini jika ada Muggle yang kebetulan naik ke bukit ini sekarang… sembilan orang, dua di antaranya laki-laki dewasa, memegangi sepatu bot butut dalam keremangan subuh, menunggu…

“Tiga…,” gumam Mr Weasley, sebelah.matanya masih memandang arlojinya, “dua… satu…”

Terjadinya begitu saja. Harry merasa seakan ada kaitan persis di belakang pusarnya yang mendadak ditarik tak tertahankan ke depan. Kakinya terangkat dari tanah. Dia bisa merasakan Ron dan Hermione di kanan-kirinya, bahu mereka berbenturan dengan bahunya. Mereka semua melesat ke depan dalam deru angin dan pusaran warna. Telunjuk Harry menempel ke bot seakan jari itu menariknya secara magnetis ke depan dan kemudian…

Kakinya menghantam tanah. Ron terhuyung me-nabraknya dan Harry jatuh. Portkey jatuh di tanah di dekat kepalanya dengan bunyi “bluk” keras. Harry mendongak. Mr Weasley, Mr Diggory, dan Cedric masih tetap berdiri, meskipun tampak baru diterpa angin kencang. Yang lain bergeletakan di tanah. “Tujuh lewat lima dari Bukit Stoatshead,” terdengar suara berkata.

 

Bab 7:

Bagman dan Crouch

HARRY melepaskan diri dari Ron dan berdiri. Mereka telah tiba di hamparan tanah kosong berkabut. Di depan mereka berdiri sepasang penyihir yang tampak lelah dan galak. Yang satu memegangi arloji emas besar, satunya lagi segulung besar perkamen dan pena bulu. Keduanya berpakaian sebagai Muggle, meskipun agak aneh. Yang memegang arloji memakai setelan wol dengan sepatu bot setinggi betis. Temannya memakai kilt—pakaian tradisional Skotlandia yang seperti rok—dan ponco.

“Pagi, Basil,” kata Mr Weasley, seraya memungut bot dan menyerahkannya kepada penyihir yang berkilt, yang melemparkannya ke dalam kotak besar berisi Portkey yang sudah digunakan di sebelahnya. Harry bisa melihat koran bekas, kaleng minuman, dan bola sepak bocor.

“Halo, Arthur,” sapa Basil lelah. “Tidak tugas, eh?

Enak ya… Kami di sini semalam suntuk. Lebih baik kalian minggir. Ada rombongan besar dari Black Forest yang akan tiba pukul lima seperempat. Tunggu, kuberitahu tempat perkemahan kalian… Weasley… Weasley…” Dia memeriksa daftar perkamennya. “Kirakira empat ratus meter dari sini, lapangan pertama yang kaujumpai. Manajer lapanganmu bernama Mr Roberts. Diggory… lapangan kedua… cari Mr Payne.”

“Terima kasih, Basil,” kata Mr Weasley, dan dia memberi isyarat agar semua mengikutinya.

Mereka menyeberangi tanah yang kosong, tak bisa melihat banyak menembus kabut. Setelah berjalan kira-kira dua puluh menit, tampak pondok batu kecil di sebelah gerbang. Di balik gerbang, Harry bisa melihat sosok-sosok gelap ratusan tenda, memenuhi lapangan yang membukit ke arah hutan gelap di kaki langit. Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Cedric dan ayahnya dan mendatangi pintu pondok.

Seorang laki-laki berdiri di pintu, memandang ke arah tenda-tenda. Sekali pandang Harry langsung tahu bahwa dia satu-satunya Muggle asli dalam radius beberapa hektar. Mendengar langkah-langkah mereka, laki-laki itu menoleh.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.