Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Seluruh wajahnya jadi ditumbuhi tentakel kecil-kecil begitu. Yuk, kita singkirkan dari sini, bikin dekor jadi jelek saja.”

Ron, Harry, dan George menendang, menggelindingkan, dan mendorong Malfoy, Crabbe, dan Goyle yang pingsan-masing-masing tampak parah akibat campuran mantra sihir yang mengenai mereka-ke koridor, kemudian kembali ke kompartemen dan menutup pintunya.

“Ada yang mau main kartu?” tanya Fred, mengeluarkan sekotak kartu.

Mereka sudah separo jalan memainkan ronde kelima ketika Harry memutuskan untuk menanyai mereka.

“Kalian maro memberitahu kami?” katanya kepada George. “Siapa yang kalian peras?”

“Oh,” kata George suram. “Itu.”

“Tidak usah,” kata Fred, menggeleng tak sabar. “Tidak penting kok. Sekarang, paling tidak.”

“Kami sudah menyerah,” kata George, mengangkat bahu.

Tetapi Harry, Ron, dan Hermione terus saja bertanya, dan akhirnya Fred berkata, “Baiklah, baiklah, kalau kalian memang ingin tahu… Ludo Bagman.”

“Bagman?” kata Harry tajam. “Apakah maksudmu dia terlibat dalam…”

“Tidak,” kata George muram. “Bukan hal macam itu. Dia tolol. Otaknya tak cukup cerdas.”

“Kalau begitu, apa?” tanya Ron.

Fred ragu-ragu, kemudian berkata, “Kalian ingat taruhan kami dengannya waktu Piala Dunia Quidditch?

Bahwa Irlandia akan menang, tetapi Krum akan menangkap Snitch?”

“Yeah,” kata Harry dan Ron lambat-lambat.

“Nah, si tolol itu membayar kami dengan emas Leprechaun yang dikumpulkannya dari maskot-maskot Irlandia.”

“Jadi?”

“Jadi,” kata Fred tak sabar, “emas itu lenyap, kan? Paginya, sudah lenyap semua!”

“Tapi… itu pasti tak sengaja, kan?” kata Hermione.

George tertawa sangat getir.

“Yeah, mulanya kami pikir begitu. Kami pikir, kalau kami menulis kepadanya, dan memberitahukan kekeliruannya, dia akan membayar ulang. Tetapi ternyata tidak. Dia tidak mengacuhkan surat kami. Kami terus berusaha bicara kepadanya soal itu di Hogwarts, tetapi dia selalu mencari alasan untuk menghindari kami.”

“Pada akhirnya, dia jadi menyebalkan,” kata Fred. “Dia bilang kami terlalu muda untuk berjudi, dan dia tak mau memberi apa-apa pada kami.”

“Maka kami meminta kembali uang kami,” kata George berang.

“Dia menolak!” kata Hermione kaget.

“Tepat sekali,” kata Fred.

“Tapi itu seluruh tabungan kalian!” kata Ron.

“Itulah,” kata George. “Tentu saja kami akhirnya tahu apa yang terjadi. Ayah Lee Jordan juga kesulitan mendapatkan uang dari Bagman. Rupanya dia dalam kesulitan besar dengan para goblin. Meminjam banyak uang emas dari mereka. Serombongan goblin menyudutkannya di hutan seusai Piala Dunia dan mengambil semua uang emas yang dibawanya, dan masih saja itu tidak cukup untuk menutup semua utangnya. Mereka mengikutinya sampai ke Hogwarts untuk mengawasinya. Dia telah kehilangan semua uangnya karena berjudi. Sepeser lagi pun dia tak punya. Dan tahukah kalian bagaimana si idiot itu mencoba membayar utangnya pada para goblin?”

“Bagaimana?” tanya Harry.

“Dia bertaruh soal kau, sobat,” kata Fred. “Taruhan besar bahwa kau akan memenangkan turnamen.

Bertaruh dengan para goblin.”

“Jadi, itulah sebabnya dia berusaha terus membantuku agar menang!” kata Harry. “Nah… aku memang menang, kan? Jadi dia bisa membayar kembali emas kalian!”

“Tidak,” kata George, menggeleng. “Para goblin bermain sama kotornya dengannya. Mereka mengatakan kau seri dengan Diggory, dan taruhan Bagman adalah kau menang total. Jadi Bagman terpaksa harus kabur. Dia memang langsung kabur seusai tugas ketiga.”

George menghela napas dalam-dalam dan mulai mengocok kartu lagi.

Sisa perjalanan berlangsung cukup menyenangkan. Malah Harry berharap perjalanan itu bisa berlangsung sepanjang musim panas, dan dia tak usah tiba di King’s Cross… tetapi seperti telah dipelajarinya dengan cara tak enak tahun itu, waktu tidak akan melambat jika ada sesuatu yang tak menyenangkan di depan, dan segera saja Hogwarts Express telah memasuki peron sembilan tiga perempat. Kesemrawutan dan kebisingan yang biasa memenuhi koridor-koridor ketika anak-anak mulai turun. Ron dan Hermione susah payah melewati Malfoy, Crabbe, dan Goyle, membawa koper mereka.

Tetapi Harry tinggal di belakang.

“Fred… George… tunggu sebentar.”

Si kembar berbalik. Harry membuka kopernya dan mengeluarkan hadiah. Triwizard-nya.

“Ambillah,” katanya, dan diulurkannya kantong uang itu ke tangan George.

“Apa?” kata Fred, ternganga keheranan.

“Ambillah,” Harry mengulang dengan tegas. “Aku tak mau uang ini.”

“Kau gila,” kata George, berusaha mendorongnya kembali ke Harry.

“Tidak, aku tidak gila,” kata Harry. “Kalian ambillah, dan mulailah berinvestasi. Ini untuk toko lelucon.”

“Dia gila,” kata Fred dengan suara takjub.

“Dengar,” kata Harry tegas. “Kalau kalian tidak mau mengambilnya, akan kubuang. Aku tidak menginginkannya dan aku tidak membutuhkannya. Tetapi aku perlu tertawa. Kita semua perlu tertawa.

Kurasa kita akan memerlukan tertawa lebih banyak daripada biasanya tak lama lagi.”

“Harry,” kata George lemah, menimbang-nimbang kantong uang di tangannya, “ada seribu Galleon di dalam kantong ini.”

“Yeah,” kata Harry, nyengir. “Bayangkan, berapa banyak Krim Kenari tuh.”

Si kembar menatapnya.

“Hanya saja jangan beritahu ibu kalian dari mana kalian mendapatkannya… meskipun sekarang dia mungkin tak lagi ingin kalian bekerja di Kementerian, kalau dipikir-pikir…”

“Harry,” Fred baru mulai, Harry sudah mencabut tongkat sihirnya.

“Dengar,” katanya datar, “ambil, kalau tidak kusihir kau. Aku sudah menguasai beberapa sihir bagus sekarang. Aku cuma minta tolong satu hal, oke? Belikan Ron beberapa jubah pesta, dan katakan itu dari kalian.”

Harry meninggalkan kompartemen sebelum mereka bisa mengatakan sepatah kata pun lagi, melangkahi Malfoy, Crabbe, dan Goyle yang masih tergeletak di lantai, tubuh mereka penuh berbagai tanda habis kena sihir.

Paman Vernon sudah menunggu di balik palang rintangan. Mrs Weasley berada di dekatnya. Dia memeluk Harry sangat erat ketika melihatnya, dan berbisik di telinganya, “Kurasa Dumbledore akan mengizinkan kau datang ke rumah kami menjelang akhir musim panas, Harry. Tulislah surat, Harry.”

“Sampai ketemu, Harry,” kata Ron, menepuk punggungnya.

“Bye, Harry!” kata Hermione, dan dia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya-mengecup pipi Harry.

“Harry… terima kasih,” George bergumam, sementara Fred mengangguk bersemangat di sebelahnya.

Harry mengedip kepada mereka, berbalik menghadapi Paman Vernon, dan mengikutinya tanpa bicara keluar stasiun. Tak ada gunanya cemas sekarang, katanya pada diri sendiri, ketika dia masuk ke tempat duduk belakang mobil keluarga Dursley.

Seperti kata Hagrid, apa yang akan terjadi, pasti terjadi… dan dia harus menghadapinya.

TAMAT

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.