Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Mereka mematuhinya, semuanya. Kursi-kursi berderit ketika mereka berdiri, dan mengangkat gelas, dan berseru bersama, dalam suara keras, rendah, menggemuruh, “Cedric Diggory.”

Sekilas Harry melihat Cho di antara teman-temannya. Air matanya bercucuran. Harry menunduk memandang meja ketika mereka semua sudah duduk lagi.

“Cedric adalah anak yang menunjukkan banyak kualitas yang merupakan karakteristik Hufflepuff,”

Dumbledore melanjutkan. “Dia teman yang baik dan setia, pekerja keras, dia menghargai permainan yang jujur. Kematiannya telah mempengaruhi kalian semua, apakah kalian kenal baik dengannya atau tidak. Karena itu, kurasa kalian berhak untuk mengetahui bagaimana persisnya kematiannya terjadi.”

Harry mengangkat kepala dan menatap Dumbledore. “Cedric Diggory dibunuh oleh Lord Voldemort.”

Bisikan-bisikan panik menyapu Aula Besar. Anak-anak memandang Dumbledore tak percaya, dengan ngeri. Dumbledore tampak sangat tenang sementara menunggu mereka diam.

“Kementerian Sihir,” Dumbledore melanjutkan, “tidak setuju aku menyampaikan hal ini kepada kalian.

Mungkin juga beberapa dari orangtua kalian terkejut sekali aku memberitahukan hal ini entah karena mereka tidak percaya bahwa Lord Voldemort telah kembali atau karena mereka beranggapan aku seharusnya merahasiakan hal ini, mengingat kalian masih terlalu muda. Meskipun demikian aku percaya, bahwa kebenaran lebih baik daripada kebohongan, dan bahwa segala usaha untuk berpura-pura bahwa Cedric meninggal karena kecelakaan, atau semacam kekeliruan yang dilakukan olehnya sendiri, merupakan penghinaan bagi kenangan akan dirinya.”

Terpana dan ketakutan, semua wajah di Aula Besar menghadap Dumbledore sekarang… atau hampir semua wajah. Di meja Slytherin. Harry melihat Draco Malfoy menggumamkan sesuatu kepada Crabbe dan Goyle. Harry merasakan gelombang kemarahan yang membara dan memualkan melanda perutnya.

Dia memaksa diri memandang Dumbledore lagi.

“Ada satu orang lagi yang harus disebut dalam kaitannya dengan kematian Cedric,” Dumbledore melanjutkan. “Yang kubicarakan ini, tentu saja, adalah Harry Potter.”

Seakan ada riak menyapu aula ketika kepala-kepala menoleh pada Harry, sebelum kembali memandang Dumbledore.

“Harry Potter berhasil lolos dari Lord Voldemort,” kata Dumbledore. “Dia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk mengembalikan jenazah Cedric ke Hogwarts. Dia menunjukkan, dalam segala hal, keberanian yang hanya diperlihatkan sedikit penyihir dalam menghadapi Lord Voldemort, dan untuk ini, aku menghormatinya.”

Dumbledore menoleh takzim kepada Harry dan mengangkat pialanya sekali lagi. Hampir semua hadirin mengikutinya. Mereka menggumamkan namanya, seperti sewaktu menggumamkan nama Cedric, dan minum untuknya. Tetapi dari celah-celah di antara anak-anak yang berdiri, Harry melihat Malfoy, Crabbe, Goyle, dan banyak anak-anak Slytherin lain bertahan menantang di tempat duduk mereka, piala mereka tak tersentuh. Dumbledore, yang tidak memiliki mata gaib, tidak melihatnya.

Ketika semua sudah duduk di tempat masing-masing, Dumbledore melanjutkan, “Tujuan Turnamen Triwizard adalah membina dan meningkatkan saling pengertian di dunia sihir. Mengingat apa yang telah terjadi–kembalinya Lord Voldemort–hubungan semacam ini lebih penting daripada sebelumnya.”

Dumbledore memandang dari Madame Maxime dan Hagrid ke Fleur Delacour dan teman-teman

Beauxbatons-nya, ke Viktor Krum dan murid-murid Durmstrang di meja Slytherin. Krum, Harry melihat, tampak waspada, nyaris takut, seakan dia mengharap Dumbledore mengatakan sesuatu yang kasar.

“Semua tamu dalam aula ini,” kata Dumbledore, dan matanya bertahan memandang murid-murid Durmstrang, “akan disambut dengan senang hati setiap saat, jika mereka ingin kembali. Kukatakan kepada kalian semua, sekali lagi sehubungan dengan kembalinya Lord Voldemort, kita hanya bisa kuat kalau bersatu. Seperti kata pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

“Kemampuan Lord Voldemort untuk menyebarkan perpecahan dan permusuhan sangat besar. Kita hanya bisa melawannya dengan memperlihatkan ikatan persahabatan dan saling percaya yang sama kuatnya.

Perbedaan kebiasaan dan bahasa tak ada artinya jika tujuan kita sama dan hati kita terbuka.”

“Aku menduga dan aku sungguh berharap dugaanku ini keliru bahwa kita semua menghadapi masa yang gelap dan sulit. Beberapa di antara kalian di dalam aula ini sudah mengalami penderitaan langsung di tangan Lord Voldemort. Banyak keluarga kalian yang telah dicerai-berai dan dihancurkannya. Seminggu yang lalu, seorang rekan diambil dari tengah-tengah kita.”

“Ingatlah Cedric. Ingatlah, jika tiba waktunya kalian harus memilih antara yang benar dan yang salah, ingatlah apa yang terjadi pada seorang anak yang hebat, dan baik, dan pemberani, hanya karena dia berada di jalan yang dilalui Lord Voldemort. Ingatlah Cedric Diggory.”

Koper Harry sudah selesai dipak. Hedwig sudah kembali berada di dalam sangkarnya di atas koper itu.

Harry, Ron, dan Hermione berada di Aula Depan yang penuh bersama anak-anak kelas empat lainnya, menunggu kereta yang akan membawa mereka ke stasiun Hogsmeade. Hari itu hari yang cerah di musim panas. Dia menduga Privet Drive pastilah panas dan tumbuhannya rimbun, petak-petak bunganya penuh bunga warna-warni, ketika dia tiba di sana malam itu. Pikiran ini sama sekali tidak membuatnya senang.

“‘Arry!”

Harry menoleh. Fleur Delacour sedang bergegas menaiki undakan batu. Di belakangnya, jauh di halaman, Harry bisa melihat Hagrid membantu Madame Maxime memasang kendali pada dua dari kuda-kuda raksasa. Kereta Beauxbatons siap berangkat.

“Kita akan bertemu lagi, kuharap,” kata Fleur ketika tiba di dekat Harry, mengulurkan tangannya. “Aku berharap bisa bekerja di sini, untuk memperbaiki bahasa Inggris-ku.”

“Sudah bagus sekali,” kata Ron dengan suara seperti tersekat. Fleur tersenyum kepadanya. Hermione merengut.

“Selamat tinggal, ‘Arry,” kata Fleur, berbalik untuk pergi. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu!”

Mau tak mau semangat Harry terangkat sedikit melihat Fleur bergegas menyeberangi lapangan rumput menuju Madame Maxime, rambutnya yang pirang berkilauan tertimpa cahaya matahari.

“Bagaimana caranya anak-anak Durmstrang pulang, ya?” kata Ron. “Menurut kalian apakah mereka bisa mengemudi kapal itu tanpa Karkaroff?”

“Karkaroff tidak mengemudi,” kata suara yang keras. “Dia tinggal dalam kabinnya dan membiarkan kami yang bekerja.” Krum telah datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Hermione. “Boleh aku bicara?” tanya Krum kepadanya.

“Oh… ya… baiklah,” kata Hermione, tampak agak bingung, dan mengikuti Krum menyeruak di antara anak-anak dan menghilang dari pandangan.

“Jangan lama-lama!” Ron berteriak keras kepada Hermione. “Keretanya sebentar lagi datang!”

Meskipun demikian, dia membiarkan Harry yang menunggu kereta, dan melewatkan beberapa menit berikutnya dengan menjulurkan leher di atas kerumunan anak-anak, berusaha melihat apa yang dilakukan Krum dan Hermione. Mereka kembali tak lama kemudian. Ron memandang Hermione tajam, tetapi wajah Hermione tenang-tenang saja.

“Aku suka Diggory,” kata Krum tiba-tiba kepada Harry. “Dia selalu sopan kepadaku. Selalu. Meskipun aku dari Durmstrang… dengan Karkaroff,” dia menambahkan sambil merengut.

“Apakah kalian sudah mendapat kepala sekolah baru?” tanya Harry.

Krum mengangkat bahu. Dia mengulurkan tangan seperti Fleur, menjabat tangan Harry, kemudian Ron.

Ron tampak seakan dia sedang mengalami pergolakan batin yang menyakitkan. Krum sudah berjalan pergi ketika Ron tiba-tiba berseru, “Boleh aku minta tanda tanganmu?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.