Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry menduga banyak di antara mereka telah mempercayai artikel Rita Skeeter tentang betapa terganggunya dan mungkin betapa sangat berbahayanya dia. Mungkin mereka membuat teori sendiri tentang bagaimana Cedric meninggal. Ternyata Harry tidak begitu peduli. Dia paling senang jika sedang bersama Ron dan Hermione dan mereka bicara tentang hal-hal lain, atau membiarkannya duduk diam sendiri sementara mereka berdua main catur. Dia merasa seakan mereka bertiga telah mencapai tingkat pemahaman yang tak perlu mereka utarakan dalam kata-kata, bahwa mereka masing-masing menunggu adanya petunjuk, adanya kabar, tentang apa yang terjadi di luar Hogwarts dan bahwa tidak ada gunanya berspekulasi tentang apa yang akan terjadi sebelum ada kepastian. Sekali-kalinya mereka menyinggung topik ini adalah ketika Ron memberitahu Harry tentang pertemuan Mrs Weasley dengan Dumbledore sebelum ibunya pulang.

“Mum bertanya apakah kau boleh langsung ke rumah kami musim panas ini,” katanya. “Tetapi Dumbledore ingin kau pulang ke rumah keluarga Dursley dulu, sebentar, paling tidak.”

“Kenapa?” tanya Harry.

“Katanya Dumbledore punya alasan,” kata Ron, menggelengkan kepala tak paham. “Kurasa kita harus mempercayainya, kan?”

Satu-satunya orang lain, selain Ron dan Hermione, dengan siapa Harry merasa bisa berbicara, adalah Hagrid. Karena sudah tak ada lagi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, mereka bebas dalam pelajaran tersebut. Mereka menggunakan jam bebas Kamis sore untuk mengunjungi Hagrid di pondoknya. Hari itu matahari bersinar cerah. Fang melompat ke pintu yang terbuka ketika mereka datang, menggonggong dan menggoyang ekornya dengan seru.

“Siapa itu?” seru Hagrid, datang ke pintu.

“Harry!”

Dia keluar menemui mereka, menarik Harry dalam pelukan satu-tangan, mengacak rambutnya, dan berkata, “Senang ketemu kau, Nak. Senang ketemu kau.” Mereka melihat dua cangkir sebesar ember dengan tatakannya di atas meja kayu di depan perapian ketika mereka memasuki pondok Hagrid.

“Tadi minum teh dengan Olympe,” kata Hagrid.

“Dia baru saja pergi.

“Siapa?” tanya Ron penasaran.

“Madame Maxime, tentu saja!” kata Hagrid.

“Kalian berdua baikan, ya?” kata Ron.

“Tak tahu apa maksudmu,” kata Hagrid ringan, mengambil lebih banyak cangkir dari lemari. Setelah membuat teh dan menawari mereka sepiring kue, dia bersandar di kursinya dan mengamati Harry dengan teliti dengan mata kumbang-hitamnya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya parau.

“Yeah,” kata Harry.

“Tidak, kau tidak baik-baik saja,” kata Hagrid.

“Tentu saja tidak. Tapi nantinya kau akan baik-baik saja.” Harry tidak berkata apa-apa.

“Sudah tahu dia akan kembali,” kata Hagrid, dan Harry, Ron, dan Hermione menatapnya, kaget. “Sudah tahu selama bertahun-tahun, Harry. Tahu dia di luar sana, tunggu waktu. Pasti terjadi. Nah, sekarang sudah terjadi, dan kita harus terima. Kita akan lawan dia. Mungkin bisa stop dia sebelum dia kuat. Itu rencana Dumbledore, paling tidak. Orang besar, Dumbledore. Asal kita masih punya dia, aku tak terlalu cemas.” Hagrid mengangkat alisnya yang lebat melihat ekspresi tak percaya di wajah mereka.

“Tak ada gunanya cuma duduk cemas memikirkan hal itu,” katanya. “Apa yang akan terjadi pasti terjadi, dan kita akan songsong kalau datang. Dumbledore cerita padaku apa yang kaulakukan, Harry.” Dada Hagrid membusung bangga saat dia memandang Harry.

“Yang kaulakukan itu sama seperti yang akan dilakukan ayahmu, dan aku tak bisa beri kau pujian lebih tinggi daripada itu.”

Harry balas tersenyum. Itu pertama kalinya dia tersenyum setelah berhari-hari ini. “Kau disuruh apa oleh Dumbledore, Hagrid?” dia bertanya. “Dia menyuruh Profesor McGonagall untuk memintamu dan Madame Maxime menemuinya… malam itu.”

“Punya tugas kecil untukku musim panas nanti,” kata Hagrid. “Rahasia, tapi. Aku tak boleh bicara tentang ini, bahkan kepada kalian sekalipun. Olympe kalian harus panggil dia Madame Maxime mungkin akan pergi bersamaku. Kurasa dia mau. Kurasa aku sudah berhasil bujuk dia.”

“Apa ada hubungannya dengan Voldemort?” Hagrid berjengit mendengar nama itu.

“Mungkin,” katanya mengelak. “Nah… siapa yang mau ikut aku kunjungi Skrewt terakhir? Aku Cuma bergurau… bergurau!” dia buru-buru menambahkan, melihat tampang mereka. Harry mengepak kopernya dengan berat hati pada malam sebelum kepulangannya ke Privet Drive. Dia ngeri menghadapi Pesta Perpisahan, yang biasanya merupakan ajang perayaan, ketika pemenang Juara Antar-Asrama diumumkan. Sejak meninggalkan rumah sakit, dia menghindar berada di Aula Besar kalau aula itu penuh, dia lebih suka makan saat aula sudah hampir kosong untuk menghindari tatapan teman-temannya.

Ketika dia, Ron, dan Hermione memasuki aula, mereka langsung melihat bahwa dekorasinya tidak seperti biasa. Aula Besar biasanya didekorasi dengan warna asrama pemenang pada acara Pesta Perpisahan.

Tetapi malam ini, dinding di belakang meja guru ditutupi tirai hitam. Harry langsung tahu bahwa tirai itu ada di sana sebagai penghormatan untuk Cedric.

Mad-Eye Moody yang asli ada di meja guru sekarang, kaki kayu dan mata gaibnya kembali berada di tempatnya. Dia luar biasa gugup, terlonjak setiap kali ada yang mengajaknya bicara. Harry tidak menyalahkannya. Ketakutan Moody akan serangan pastilah semakin besar dengan penyekapannya selama sepuluh bulan dalam petinya sendiri. Kursi Profesor Karkaroff kosong. Harry bertanya-tanya dalam hati, saat dia duduk bersama anak-anak Gryffindor lainnya, di mana Karkaroff sekarang, dan apakah Voldemort sudah berhasil menangkapnya.

Madame Maxime masih ada. Dia duduk di sebelah Hagrid. Mereka berdua mengobrol pelan. Agak jauh dari mereka duduk Snape, di sebelah Profesor McGonagall. Matanya sejenak menatap Harry ketika Harry memandangnya. Ekspresinya susah ditebak. Dia tampak sama masam dan tidak menyenangkannya seperti biasanya. Harry terus mengawasinya, lama setelah Snape berpaling.

Apa yang telah dilakukan Snape, atas perintah Dumbledore, pada malam Voldemort kembali? Dan kenapa… kenapa… Dumbledore begitu yakin bahwa Snape benar-benar berada di pihak mereka? Dulu dia mata-mata mereka. Dumbledore sendiri yang mengatakan di dalam Pensieve. Snape telah berbalik menjadi mata-mata yang menentang Voldemort, “dengan risiko pribadi yang amat besar.” Itukah lagi pekerjaannya sekarang? Apakah dia sudah mengontak para Pelahap Maut, mungkin? Berpura-pura bahwa dia tak pernah betul-betul menyeberang ke pihak Dumbledore, bahwa dia, sama seperti Voldemort sendiri, sekadar menunggu waktu?

Renungan Harry diakhiri oleh Profesor Dumbledore, yang berdiri di meja guru. Aula Besar, yang memang lebih sepi dibanding suasana Pesta Perpisahan biasanya, menjadi sunyi senyap.

“Akhir,” kata Dumbledore, mengedarkan pandang kepada mereka semua, “tahun ajaran yang lain.”

Dia berhenti sejenak, dan pandangannya jatuh ke meja Hufflepuff. Meja mereka adalah meja yang paling muram sebelum Dumbledore berdiri, dan wajah-wajah mereka masih yang paling sedih dan paling pucat di aula itu.

“Banyak sekali yang ingin kusampaikan kepada kalian semua malam ini” kata Dumbledore, “tetapi pertama-tama aku harus menyatakan kehilangan orang yang sangat baik, yang seharusnya duduk di sini, dia memberi isyarat ke arah meja Hufflepuff, menikmati pesta ini bersama kita. Kuminta kalian semua berdiri, silakan, dan bersulang untuk Cedric Diggory.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.