Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry menjelaskan bagaimana sososk-sosok yang telah muncul dari tongkat mengitari tepi jaring emas, bagaimana Voldemort tampaknya takut kepada mereka, bagaimana bayangan ayah Harry memberitahunya apa yang harus dilakukan, bagaimana bayangan Cedric mengajukan permohonan terakhirnya.

Sampai disitu, Harry tak bisa meneruskan. Dia berpaling memandang Sirius dan melihat dia menutupi wajahnya.

Harry mendadak sadar bahwa Fawkes telah meninggalkan lututnya. Burung phoenix itu terbang ke lantai.

Dia meletakkan kepalanya yang cantik di kaki Harry yang luka, dan air mata yang besar-besar bergulir dari matanya, jatuh ke luka yang disebabkan oleh labah-labah. Rasa sakitnya lenyap. Kulitnya sembuh.

Kakinya sehat lagi.

“Akan kukatakan lagi,” kata Dumbledore sementara si phoenix terbang ke atas dan bertengger lagi di tempat hinggapnya di sebelah pintu. “Kau telah memperlihatkan keberanian jauh melampaui yang kuharapkan darimu malam ini, Harry. Kau telah memperlihatkan keberanian yang sama seperti yang diperlihatkan mereka yang mati melawan Voldemort, ketika dia di puncak kekuasaannya. Kau telah menyangga beban penyihir dewasa dan ternyata berhasil melakukannya dan kau sekarang telah memberi kami semua yang berhak kami harapkan. Kau akan ikut bersamaku ke rumah sakit. Aku tak ingin kau kembali ke kamarmu malam ini. Ramuan Penidur, dan kedamaian… Sirius, kau ingin tinggal bersamanya?”

Sirius mengangguk dan berdiri. Dia berubah wujud menjadi anjing hitam besar lagi dan berjalan bersama Harry dan Dumbledore meninggalkan ruangan, menemani mereka menuruni tangga menuju rumah sakit.

Ketika Dumbledore mendorong pintu terbuka, Harry melihat Mrs Weasley, Bill, Ron, dan Hermione mengerumuni Madam Pomfrey yang tampak cemas. Mereka rupanya menuntut ingin tahu di mana Harry dan apa yang terjadi padanya. Semuanya langsung berbaiik ketika Harry, Dumbledore, dan si anjing hitam masuk dan Mrs Weasley menjerit tertahan, “Harry! Oh Harry!”

Dia bergegas mendekatinya, tetapi Dumbledore maju di antara mereka.

“Molly,” katanya, mengangkat tangan, “tolong dengarkan aku sebentar. Harry telah mengalami cobaan berat malam ini. Dia baru saja harus menceritakannya padaku. Yang diperlukannya sekarang adalah tidur, dan kedamaian, serta ketenangan. Jika dia menginginkan kalian semua tinggal bersamanya,” dia menambahkan, memandang berkeliling kepada Ron, Hermione, dan Bill juga, “kalian boleh tinggal.

Tetapi aku tak ingin kalian menanyai dia sampai dia siap menjawab, dan jelas bukan malam ini.”

Mrs Weasley mengangguk. Dia sangat pucat. Dia memandang Ron, Hermione, dan Bill, seakan mereka bising, dan mendesis, “Kalian dengar? Dia memerlukan ketenangan!”

“Kepala Sekolah,” kata Madam Pomfrey, memandang si anjing besar yang adalah Sirius, “boleh saya bertanya apa…?”

“Anjing ini akan tinggal bersama Harry untuk sementara waktu,” kata Dumbledore sederhana. “Kujamin, dia sangat terlatih. Harry–aku akan menunggu sampai kau ke tempat tidur.”

Rasa terima kasih Harry kepada Dumbledore tak terkatakan karena dia telah meminta yang lain agar jangan menanyainya. Bukannya dia tidak ingin mereka di sana, tetapi jika harus menjelaskan segalanya sekali lagi, memikirkan dia harus mengalaminya sekali lagi, dia tak tahan.

“Aku akan kembali menengokmu segera setelah bertemu Fudge, Harry,” kata Dumbledore. “Aku ingin kau tetap tinggal di sini besok pagi sampai aku sudah bicara kepada seluruh sekolah.” Dia pergi.

Ketika Madam Pomfrey membawa Harry ke tempat tidur terdekat, terlihat olehnya Moody yang asli terbaring tak bergerak di tempat tidur di ujung kamar. Kaki kayu dan mata gaibnya tergeletak di atas meja di sebelah tempat tidur.

“Apakah dia baik-baik saja?” tanya Harry.

“Dia akan sembuh,” kata Madam Pomfrey, memberikan piama kepada Harry dan menarik tirai di sekeliling tempat tidurnya. Harry melepas jubahnya, memakai piamanya, dan naik ke tempat tidur. Ron, Hermione, Bill, Mrs Weasley, dan si anjing hitam datang ke balik tirai dan duduk di kursi-kursi di kanan-kirinya. Ron dan Hermione memandangnya dengan hati-hati, seakan takut kepadanya.

“Aku tak apa-apa,” katanya kepada mereka. “Hanya lelah.”

Air mata Mrs Weasley merebak ketika dia merapikan penutup tempat tidur Harry, yang sebetulnya tak perlu dilakukannya.

Madam Pomfrey, yang tadi bergegas ke kantornya, kembali membawa botol kecil berisi ramuan ungu dan piala.

“Kau perlu meminum ini sampai habis, Harry,” katanya. “Ini ramuan untuk tidur tanpa mimpi.”

Harry mengambil pialanya dan meminum beberapa teguk. Dia langsung merasa mengantuk. Segala di sekitarnya menjadi kabur. Lampu-lampu di bangsal rumah sakit tampaknya mengedip ramah kepadanya menembus tirai di sekeliling tempat tidurnya. Tubuhnya serasa tenggelam semakin dalam ke kasur bulu.

Sebelum menghabiskan ramuannya, sebelum bisa berkata sepatah pun lagi, rasa lelahnya membawanya ke tidur pulas. Harry terbangun, sangat hangat, sangat mengantuk, sehingga dia tidak membuka mata, ingin tidur lagi. Kamarnya masih berpenerangan remang-remang. Dia yakin hari masih malam dan dia punya perasaan bahwa dia belum begitu lama tidur.

Kemudian dia mendengar bisik-bisik di sekelilingnya. “Mereka akan membuatnya bangun kalau tidak diam!”

“Ngapain sih mereka teriak-teriak? Tak mungkin ada kejadian lain, kan?”

Harry membuka mata. Semuanya tampak buram. Ada yang telah mencopot kacamatanya. Dia bisa melihat sosok remang-remang Mrs Weasley dan Bill di sebelahnya. Mrs Weasley sedang berdiri.

“Itu suara Fudge,” Mrs Weasley berbisik. “Dan itu suara Minerva McGonagall, kan? Tetapi apa yang mereka pertengkarkan?”

Sekarang Harry bisa mendengar mereka juga. Orang-orang yang berteriak-teriak dan berlari menuju rumah sakit.

“Sangat disayangkan, tetapi apa boleh buat, Minerva….” kata Cornelius Fudge keras.

“Anda seharusnya tidak membawanya ke dalam kastil!” teriak Profesor McGonagall. “Kalau Dumbledore sampai tahu…”

Harry mendengar pintu rumah sakit menjeblak terbuka. Tanpa ada yang memperhatikan, karena orangorang di sekeliling tempat tidurnya semua memandang ke pintu ketika Bill menyibakkan tirai, Harry duduk dan memakai kembali kacamatanya.

Fudge memasuki bangsal. Profesor McGonagall dan Snape di belakangnya.

“Di mana Dumbledore?” Fudge bertanya galak kepada Mrs Weasley.

“Dia tidak di sini,” kata Mrs Weasley berang. “Ini bangsal rumah sakit, Pak Menteri, tidakkah lebih baik kalau Anda…”

Tetapi pintu terbuka, dan Dumbledore menghambur masuk.

“Ada apa?” tanya Dumbledore tajam, memandang Fudge dan Profesor McGonagall bergantian. “Kenapa kalian mengganggu orang-orang ini? Minerva, aku heran padamu–kuminta kau menjaga Barty Crouch…”

“Tak perlu lagi menjaganya, Dumbledore!” dia menggeram. “Gara-gara Pak Menteri ini!”

Harry belum pernah melihat Profesor McGonagall kehilangan kendali seperti ini. Pipinya merah padam, dan kedua tangannya terkepal. Tubuhnya gemetar saking marahnya.

“Ketika kami memberitahu Mr Fudge bahwa kita telah menangkap Pelahap Maut yang bertanggung jawab untuk kejadian malam ini,” kata Snape, dalam suara rendah, “dia rupanya menganggap keselamatan dirinya dalam bahaya. Dia memaksa memanggil Dementor untuk menemaninya ke dalam kastil. Dia membawa Dementor itu ke dalam kantor tempat Barty Crouch…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.