Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Jadi, mereka masih di tempat tidur?” gerutu Fred, menarik mangkuk buburnya ke dekatnya. “Kenapa kami tidak ber-Apparate juga?”

“Karena kalian belum cukup umur dan belum ujian,” bentak Mrs Weasley. “Dan di mana dua anak perempuan itu?”

Dia bergegas keluar dapur dan mereka mendengarnya menaiki tangga.

“Kita harus lulus ujian untuk ber-Apparate?” tanya Harry.

“Oh, ya,” kata Mr Weasley, menyelipkan tiketnya agar aman di saku belakang jinsnya. “Departemen Transportasi Sihir terpaksa mendenda dua orang kemarin dulu gara-gara ber-Apparate tanpa lisensi. Tidak mudah ber-Apparate, dan kalau tidak dilakukan dengan benar, komplikasinya bisa sangat tidak enak. Dua orang yang kuceritakan ini terbelah.”

Semua orang di sekeliling meja, kecuali Harry, berjengit.

“Er—terbelah?” tanya Harry.

“Mereka meninggalkan separo tubuh mereka,” kata Mr Weasley, sekarang menuang saus banyak-banyak ke dalam buburnya. “Jadi, tentu saja mereka tak berdaya. Tak bisa bergerak. Harus menunggu Pasukan Pembalikan Sihir Tak Sengaja untuk menolong mereka. Berarti ada surat-surat yang harus dibereskan, ada Muggle-muggle yang melihat paroan tubuh yang mereka tinggalkan…”

Harry mendadak membayangkan sepasang kaki dan sebutir bola mata tergeletak di trotoar Privet Drive.

“Mereka tak apa-apa?” tanyanya, kaget.

“Tidak,” kata Mr Weasley tanpa berbelit-belit. “Tetapi mereka kena denda besar dan kurasa mereka tidak akan mencoba lagi dalam waktu dekat. Kita tak boleh main-main dalam hal ber-Apparate ini. Banyak penyihir dewasa yang tak mau melakukannya. Lebih suka naik sapu—lebih lambat, tetapi lebih aman.”

“Tetapi Bill dan Charlie dan Percy semua bisa me-lakukannya?”

“Charlie harus ujian dua kali,” kata Fred nyengir. “Yang pertama tidak lulus, muncul kejauhan tujuh setengah kilo ke selatan dari tempat tujuannya, persis di atas nenek tua yang sedang belanja, ingat?”

“Ya, tapi dia lulus ujian keduanya,” kata Mrs Weasley, masuk kembali ke dapur di tengah kikik tawa yang ramai.

“Percy baru lulus dua minggu lalu,” kata George. “Sejak itu dia ber-Apparate turun dari kamarnya setiap pagi untuk membuktikan dia bisa.”

Terdengar langkah-langkah kaki di lorong di luar dan Hermione bersama Ginny muncul. Keduanya tampak pucat dan mengantuk.

“Kenapa kita harus bangun pagi sekali?” tanya Ginny, menggosok matanya dan duduk di depan meja.

“Kita harus jalan sedikit,” kata Mr Weasley.

“Jalan?” tanya Harry. “Kita jalan ke Piala Dunia?”

“Tidak, tidak, itu berkilo-kilo meter jauhnya,” kata Mr Weasley, tersenyum. “Kita cuma perlu jalan sedikit. Susah sekali bagi serombongan besar penyihir untuk berkumpul tanpa menarik perhatian Muggle. Kita harus sangat berhati-hati tentang bagaimana kita bepergian pada saat yang terbaik, dan untuk peristiwa besar seperti Piala Dunia Quidditch…”

“George!” tegur Mrs Weasley tajam, dan mereka semua terlonjak. “Apa?” kata George dengan nada tak bersalah yang tak bisa membohongi siapa pun.

“Apa itu dalam kantongmu?”

“Tidak ada apa-apa!”

“Jangan bohong padaku!”

Mrs Weasley mengacungkan tongkatnya ke saku George dan berkata, “Actio!”

Beberapa benda kecil berwarna-warni cerah melesat keluar dari kantong George. Dia berusaha menangkapnya, tapi gagal, dan benda-benda itu meluncur ke tangan Mrs Weasley yang terulur.

“Kami sudah menyuruh kalian menghancurkan ini!” kata Mrs Weasley marah, menunjukkan permen Lidah-Liar di tangannya. “Sudah kami suruh buang semuanya! Kosongkan kantong kalian, ayo, dua-duanya!”

Si kembar rupanya mencoba menyelundupkan sebanyak mungkin permen keluar rumah, dan hanya dengan menggunakan Mantra Panggil Mrs Weasley berhasil menemukan semua permen itu. “Actio! Actio! Actio!” teriaknya, dan permen beterbangan dari segala tempat yang tak terduga, seperti lapisan jaket George dan lipatan kaki celana jins Fred.

“Kami menghabiskan enam bulan membuatnya!” Fred berteriak kepada ibunya ketika Mrs Weasley membuang permen-permen itu.

“Oh, cara bagus untuk menghabiskan enam bulan!” jerit Mrs Weasley. “Pantas saja kalian tidak dapat OWL lebih tinggi!”

Suasana jadi kurang enak ketika mereka berangkat. Mrs Weasley masih marah ketika mengecup pipi Mr Weasley, tapi tak semarah si kembar yang mengangkat ransel mereka ke punggung dan pergi tanpa berkata sepatah pun kepadanya.

“Selamat bersenang-senang,” kata Mrs Weasley, “dan jangan bikin kehebohan,” serunya lagi ke punggung si kembar yang semakin menjauh, namun mereka tidak menoleh maupun menjawab. “Aku akan mengirim Bill, Charlie, and Percy ke sana kira-kira tengah hari,” Mrs Weasley berkata kepada Mr Weasley ketika dia, Harry, Ron, Hermione, dan Ginny melangkah ke halaman yang masih gelap, menyusul Fred dan George.

Udara dingin sekali dan bulan masih bersinar. Hanya sedikit warna hijau pucat di kaki langit di sebelah kanan mereka yang menunjukkan bahwa subuh segera tiba. Harry, setelah membayangkan ribuan penyihir bergegas untuk menonton Piala Dunia Quidditch, mempercepat langkah, menjejeri Mr Weasley.

“Jadi bagaimana orang-orang ke sana tanpa menarik perhatian Muggle?” tanyanya.

“Ini memang problem organisasi yang sangat besar,” Mr Weasley menghela napas. “Persoalannya, kira-kira seratus ribu penyihir akan datang menonton Piala Dunia ini, dan tentu saja kita tak punya tempat sihir cukup luas untuk menampung mereka semua. Ada tempat-tempat yang tak bisa dimasuki Muggle, tapi bayangkan saja kalau harus mengumpulkan seratus ribu penyihir di Diagon Alley atau peron sembilan tiga perempat. Jadi kami harus mencari tanah kosong yang nyaman dan menjalankan pengamanan anti-Muggle sebanyak mungkin. Seluruh Kementerian me-nyiapkan ini selama berbulan-bulan. Pertama-tama tentunya, kami harus mengatur kedatangan secara bergiliran. Mereka yang tiketnya murah harus tiba dua minggu sebelumnya. Sejumlah terbatas menggunakan transportasi Muggle, tapi kita tak boleh membuat bus dan kereta api mereka berjejalan—ingat para penyihir berdatangan dari seluruh dunia. Beberapa ber-Apparate, tentu saja, tapi kami harus menentukan jarak aman tertentu untuk tempat mereka muncul, jauh dari para Muggle. Ada hutan strategis yang digunakan sebagai tempat ber-Apparate. Bagi mereka yang tak mau ber-Apparate atau tak bisa, kami menggunakan Portkey. Portkey adalah benda-benda yang digunakan untuk mengangkut penyihir dari satu tempat ke tempat lain pada waktu yang sudah ditentukan. Bisa berangkat serombongan besar sekaligus, kalau perlu. Ada dua ratus Portkey yang ditaruh di tempattempat strategis di seluruh Inggris, dan yang paling dekat dengan tempat kita adalah yang di puncak Bukit Stoatshead, jadi ke sanalah kita sekarang.”

Mr Weasley menunjuk ke depan, ke gundukan besar hitam yang menjulang di balik desa Ottery St. Catch-pole.

“Benda-benda macam apa Portkey itu?” tanya Harry ingin tahu.

“Yah, bisa apa saja,” kata Mr Weasley. “Barangbarang yang tidak menarik perhatian, supaya tidak diambil atau dipakai main oleh Muggle… barangbarang yang mereka pikir cuma sampah….”

Mereka berjalan menyusuri jalan kecil gelap dan lembap menuju ke desa, keheningan hanya dipecahkan oleh langkah-langkah mereka. Langit perlahan sekali bertambah terang sementara mereka melewati desa. Kegelapan yang semula pekat sekarang memudar menjadi biru tua. Tangan dan kaki Harry kedingingan. Mr Weasley berulang-ulang melihat arlojinya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.