Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Harry, kau tak apa-apa? Aku sudah tahu–aku tahu sesuatu seperti itu–apa yang terjadi?”

Tangannya gemetar ketika membantu Harry duduk di kursi di depan meja.

“Apa yang terjadi?” tanyanya lebih mendesak.

Dumbledore mulai menceritakan kepada Sirius semua yang telah dikatakan Barty Crouch. Harry hanya separo mendengarkan. Dia lelah sekali sampai semua tulang dalam tubuhnya terasa sakit. Tak ada yang lebih diinginkannya selain duduk saja di sana, tanpa diganggu, selama berjam-jam, sampai dia tertidur dan tak perlu berpikir atau merasa lagi.

Terdengar kepakan sayap pelan. Fawkes si phoenix turun dari tempat hinggapnya, terbang menyeberangi ruangan, dan hinggap di lutut Harry.

“Lo, Fawkes,” kata Harry pelan. Dia membelai bulu merah dan emas si phoenix yang indah. Fawkes mengedip, dengan damai memandangnya. Nyaman rasanya merasakan kehangatan berat tubuhnya.

Dumbledore berhenti bicara. Dia duduk di depan Harry, di belakang mejanya. Dia memandang Harry, yang menghindari tatapannya. Dumbledore akan menanyainya. Dia akan membuat Harry mengenang lagi segalanya.

“Aku perlu tahu apa yang terjadi setelah kau menyentuh Portkey di maze, Harry,” kata Dumbledore.

“Kita bisa menunda itu sampai besok pagi, kan Dumbledore?” kata Sirius tegas. Dia telah meletakkan tangan di bahu Harry. “Biarkan dia tidur. Biarkan dia istirahat.”

Harry merasa sangat berterima kasih kepada Sirius, tetapi Dumbledore mengabaikan kata-kata Sirius. Dia membungkuk ke dekat Harry. Dengan amat enggan, Harry mengangkat kepala dan memandang mata biru itu.

“Jika kupikir aku bisa membantumu,” kata Dumbledore lembut, “dengan membuatmu tidur nyenyak dan mengizinkanmu menunda saat kau harus memikirkan apa yang terjadi malam ini, aku akan melakukannya. Tetapi aku tahu lebih baik. Mengebaskan rasa sakit untuk sementara, akan membuatnya bertambah sakit saat tiba waktunya kau harus merasakannya. Kau telah memperlihatkan keberanian jauh melebihi yang kuharapkan darimu. Kuminta kau memperlihatkan keberanianmu sekali lagi. Kuminta kau menceritakan kepada kami apa yang terjadi.”

Si phoenix mengeluarkan nada lembut bergetar pelan. Nada itu bergetar di udara, dan Harry merasa seakan setetes cairan panas telah mengalir di tenggorokannya, turun ke perutnya, menghangatkannya, menguatkannya.

Dia menarik napas dalam-dalam dan mulai bercerita. Saat dia berbicara, gambaran segalanya yang telah terjadi malam itu serasa muncul di depan matanya. Dia melihat permukaan berkilauan ramuan yang telah menghidupkan kembali Voldemort. Dia melihat para pelahap Maut ber-Apparate di antara makam-makam di sekeliling mereka. Dia melihat tubuh Cedric, tergeletak di tanah di sebelah piala.

Sekali-dua kali, Sirius mengeluarkan suara seakan mau berbicara, tangannya masih memegang bahu Harry erat-erat, tetapi Dumbledore mengangkat tangan mencegahnya, dan Harry senang, sebab begitu dia mulai, lebih mudah terus bercerita daripada berhenti di tengah jalan. Bahkan melegakan. Dia merasa seakan sesuatu yang beracun sedang dikeluarkan dari tubuhnya. Dia mengerahkan seluruh tekad agar bisa terus berbicara, tetapi dia merasa bahwa begitu dia selesai, dia akan merasa lebih baik.

Meskipun demikian, ketika Harry bercerita tentang Wormtail yang menusuk lengannya dengan belati, Sirius mengeluarkan seruan berapi-api dan Dumbledore berdiri begitu mendadak sampai Harry kaget.

Dumbledore berjalan mengitari meja dan menyuruh Harry mengulurkan lengannya. Harry menunjukkan kepada mereka robekan di lengan jubahnya dan luka di bawahnya.

“Dia berkata darah saya akan membuatnya lebih kuat dibanding kalau dia menggunakan darah orang lain,” Harry memberitahu Dumbledore. “Dia bilang perlindungan yang-yang ditinggalkan ibu saya di tubuh saya akan dimilikinya juga. Dan dia betul dia bisa menyentuh saya tanpa kesakitan, dia menyentuh pipi saya.”

Sekejap Harry merasa seperti melihat kilat kemenangan dalam mata Dumbledore. Tetapi detik berikutnya, Harry yakin dia hanya membayangkannya karena ketika Dumbledore telah kembali ke kursinya di balik meja, dia tampak sama tua dan lelahnya seperti yang biasa dilihat Harry.

“Baiklah,” katanya, duduk lagi. “Voldemort telah mengatasi hambatan itu. Harry, tolong lanjutkan.”

Harry meneruskan. Dia menjelaskan bagaimana Voldemort muncul dari kuali dan menyampaikan kepada mereka semua yang bisa diingatnya dari pidato Voldemort kepada para Pelahap Maut. Kemudian dia bercerita bagaimana Voldemort melepas ikatannya, mengembalikan tongkat sihirnya, dan bersiap untuk duel.

Namun ketika sampai di bagian ketika benang emas cahaya menghubungkan tongkatnya dan tongkat Voldemort, dia merasa kerongkongannya tersumbat. Dia berusaha terus bicara, tetapi kenangan akan apa yang keluar dari tongkat Voldemort melanda benaknya. Dia bisa melihat Cedric muncul, si laki-laki tua, Bertha Jorkins… ibunya… ayahnya…

Dia senang ketika Sirius memecahkan keheningan.

“Tongkat kalian berhubungan?” katanya, memandang Harry, kemudian beralih ke Dumbledore.

“Kenapa?”

Harry memandang Dumbledore lagi, yang wajahnya sekarang tampak tertarik.

“Priori Incantatem,” dia bergumam.

Matanya menatap mata Harry, dan seakan ada sorot pengertian tak tampak yang menghubungkan mereka.

“Efek Mantra Balik?” kata Sirius tajam.

“Persis,” kata Dumbledore. “Tongkat Harry dan Voldemort memiliki inti yang sama. Masing-masing berisi bulu dari ekor burung yang sama. Burung phoenix ini, sesungguhnya, dia menambahkan, dan menunjuk ke burung berbulu merah dan emas, yang hinggap damai di lutut Harry.

“Bulu tongkat saya berasal dari Fawkes?” Harry bertanya, keheranan.

“Ya,” kata Dumbledore. “Mr Ollivander menulis surat, memberitahuku kau telah membeli tongkat yang kedua, begitu kau meninggalkan tokonya empat tahun lalu.”

“Jadi, apa yang terjadi jika tongkat bertemu pasangannya?” tanya Sirius.

“Mereka tidak berfungsi normal jika saling lawan,” kata Dumbledore. “Tetapi, jika pemilik kedua tongkat itu memaksa tongkat mereka untuk bertempur… efek yang sangat langka akan terjadi. Salah satu dari tongkat itu akan memaksa tongkat lainnya untuk memuntahkan mantra-mantra yang telah dilakukannya secara terbalik. Yang paling akhir lebih dulu… dan kemudian yang sebelumnya…”

Dia memandang Harry penuh tanya, dan Harry mengangguk.

“Itu berarti,” kata Dumbledore perlahan, matanya memandang wajah Harry, “bahwa semacam sosok Cedric pasti muncul.”

Harry mengangguk lagi.

“Diggory hidup lagi?” tanya Sirius tajam.

“Tak ada mantra yang bisa menghidupkan yang telah mati,” kata “Dumbledore berat. “Yang terjal pastilah hanya semacam gaung terbalik. Bayangan Cedric yang hidup akan muncul dari tongkat… apakah aku betul, Harry?”

“Dia berbicara kepada saya,” kata Harry. Dia mendadak gemetar lagi. “Han…hantu Cedric atau entah apanya, berbicara.”

“Gaung,” kata Dumbledore, “yang memiliki sosok dan karakter Cedric. Aku menebak sosok-sosok lain semacam itu muncul juga… korban-korban tongkat Voldemort yang sebelumnya…”

“Seorang laki-laki tua,” kata Harry, lehernya masih sakit. “Bertha Jorkins. Dan…”

“Orangtuamu?” kata Dumbledore pelan. “Ya,” kata Harry.

Pegangan Sirius di bahu Harry sekarang kencang sekali sampai terasa sakit.

“Pembunuhan-pembunuhan terakhir yang dilakukan tongkat itti,” kata Dumbledore mengangguk.

“Dengan urutan terbalik. Lebih banyak lagi akan muncul, tentu saja, kalau kau mempertahankan hubungan tongkat kalian. Baiklah, Harry, gaung-gaung ini, bayangan-bayangan ini… apa yang mereka lakukan?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.