Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Dia tak akan mau mematuhi Voldemort… dia tak akan memohon…

“Kutanya kau, apakah kau mau aku melakukan itu lagi?” kata Voldemort pelan. “Jawab aku! Imperio!”

Dan Harry merasa, untuk ketiga kalinya dalam hidupnya, sensasi bahwa semua pikirannya telah disapu dari otaknya… Ah, betapa membahagiakan, tak perlu berpikir, rasanya dia melayang, bermimpi… jawab saja “tidak”… katakan “tidak”… jawab saja “tidak”…

Aku tak mau, kata suara yang lebih kuat, dari belakang kepalanya, aku tak mau menjawab…

Jawab saja “tidak”…

Tidak mau, aku tak mau mengatakannya…

Jawab saja “tidak”…

“TIDAK MAU!”

Dan kata-kata ini terlontar dari mulut Harry, bergaung di makam, dan suasana seperti mimpi mendadak terangkat, seakan dia diguyur air dingin–rasa sakit yang ditinggalkan Kutukan Cruciatus kembali melanda tubuhnya kembali pula dia menyadari di mana dia berada, dan apa yang sedang dihadapinya.

“Kau tidak mau menjawab?” kata Voldemort pelan, dan para Pelahap Maut kini tak lagi tertawa. “Kau tak mau mengatakan tidak? Harry, kepatuhan adalah nilai yang harus kuajarkan kepadamu sebelum kau mati… Mungkin sedikit dosis kesakitan lagi?”

Voldemort mengangkat tongkat sihirnya, tetapi kali ini Harry sudah siap. Dengan refleks yang terbentuk berkat latihan Quidditch-nya, dia melempar tubuhnya miring ke tanah. Harry berguling ke balik nisan pualam ayah Voldemort dan mendengar nisan itu retak ketika kutukan itu menghantamnya.

“Kita tidak sedang main petak umpet, Harry,” kata suara dingin Voldemort pelan, makin dekat, sementara para Pelahap Maut tertawa. “Kau tak bisa sembunyi dariku. Apa ini berarti kau sudah capek berduel denganku? Apakah ini berarti kau lebih suka aku mengakhirinya sekarang, Harry? Keluarlah, Harry… keluarlah dan bermainlah, kemudian… kematianmu akan berlangsung cepat… mungkin malah tidak sakit… aku tak tahu… aku belum pernah mati…”

Harry meringkuk di belakang nisan dan tahu ajalnya telah tiba. Tak ada harapan… tak ada bantuan. Dan ketika dia mendengar Voldemort datang semakin dekat, dia hanya tahu satu hal, dan hal itu melampaui ketakutan ataupun akal sehat: Dia tak mau mati meringkuk di sini seperti anak yang bermain petak umpet. Dia tak mau mati berlutut di kaki Voldemort… dia akan mati berdiri gagah seperti ayahnya, dan dia tak mau mati tanpa membela diri, walaupun tak ada cara mempertahankan diri…

Sebelum Voldemort memunculkan wajahnya yang seperti ular dari balik nisan, Harry berdiri… dia memegang tongkat sihirnya erat-erat, mengacungkannya ke depan, dan melempar dirinya ke depan nisan, menghadapi Voldemort.

Voldemort sudah siap. Ketika Harry meneriakkan, “Expelliarmus!” Voldemort berseru, “Avada Kedavra!”

Sinar hijau memancar dari tongkat Voldemort, bersamaan dengan pancaran sinar merah dari tongkat Harry–kedua cahaya itu bertemu di tengah udara dan mendadak tongkat Harry bergetar, seakan dialiri arus listrik. Tangannya mencengkeramnya erat-erat. Dia tak akan bisa melepasnya, kalaupun ingin dan cahaya kecil menghubungkan kedua tongkat itu, tidak merah dan tidak hijau, melainkan cemerlang

keemasan. Harry, yang menelusuri cahaya itu dengan pandangannya yang keheranan, melihat bahwa jari-jari putih panjang Voldemort juga mencengkeram tongkatnya yang berguncang dan bergetar.

Dan kemudian tak ada yang bisa menyiapkan Harry untuk ini, kakinya terangkat dari tanah. Dia dan Voldemort diangkat ke udara, tongkat mereka masih dihubungkan oleh benang emas yang berpendar-pendar. Mereka melayang menjauh dari nisan ayah Voldemort dan mendarat di petak tanah kosong yang tak bermakam… Para Pelahap Maut berteriak-teriak, mereka meminta petunjuk dari Voldemort. Mereka semakin dekat, kembali membentuk lingkaran mengelilingi Harry dan Voldemort, si ular melata di antara kaki-kaki mereka, beberapa di antara mereka sudah mencabut tongkat sihir…

Benang emas yang menghubungkan Harry dan Voldemort memecah: meskipun masih ada benang emas yang menghubungkan kedua tongkat, seribu berkas cahaya lain melengkung tinggi di atas Harry dan Voldemort, bersilangan di sekitar mereka, sampai mereka berdua tertutup jaring emas berbentuk kubah, sangkar cahaya. Para Pelahap Maut mengitari kubah itu seperti serigala-serigala liar, seruan-seruan mereka ini teredam aneh…

“Jangan lakukan apa-apa!” Voldemort berteriak kepada para Pelahap Maut, dan Harry melihat matanya yang merah melebar keheranan melihat apa Yang terjadi, melihatnya berkutat hendak memutuskan benang cahaya yang masih menghubungkan tongkatnya dengan tongkat Harry. Harry memegangi

tongkatnya semakin erat dengan kedua tangannya, dan benang emas itu bertahan tidak putus. “Jangan lakukan apaapa kalau tidak kuperintahkan!” Voldemort berteriak kepada para Pelahap Maut.

Dan kemudian suara gaib yang amat merdu memenuhi udara… datangnya dari semua benang yang terajut menjadi jaring yang bergetar di sekeliling Harry dan Voldemort. Suara itu dikenali Harry, meskipun dia hanya pernah mendengarnya sekali sepanjang hidupnya: nyanyian phoenix.

Itu suara harapan bagi Harry… suara paling indah dan paling disambutnya dalam hidupnya… Dia merasa seakan nyanyian itu ada di dalam dirinya, bukan hanya di sekelilingnya… Itu lagu yang mengingatkannya pada Dumbledore, dan seakan seorang teman sedang berbisik di telinganya…

Jangan putuskan hubungan.

Aku tahu, Harry memberitahu musik itu, aku tahu aku tak boleh memutuskannya… tetapi baru saja dia membatin demikian, hal itu menjadi jauh lebih sulit dilaksanakan. Tongkatnya mulai bergetar lebih hebat daripada sebelumnya… dan sekarang benang antara dia dan Voldemort ikut berubah… manik-manik besar cahaya meluncur naik-turun pada benang yang meng, hubungkan kedua tongkat Harry merasakan tongkatnya bergetar dalam pegangannya dan manik-manik cahaya itu mulai meluncur pelan dan mantap ke arahnya… Arah gerakan cahaya sekarang menuju dirinya, menjauhi Voldemort, dan dia merasakan tongkatnya bergetar marah…

Semakin dekat manik-manik cahaya itu bergerak ke ujung tongkat Harry, kayu dalam genggamannya menjadi panas sekali, sampai Harry takut kayu itu akan menyala. Semakin dekat manik-manik

cahayanya, semakin kuat getaran tongkat Harry. Dia yakin tongkatnya tak akan bertahan jika bersentuhan dengan manikmanik cahaya itu. Rasanya tongkatnya sudah siap hancur dalam genggaman jari-jarinya…

Harry berkonsentrasi menggunakan semua partikel otaknya untuk memaksa manik-manik kembali ke arah Voldemort, telinganya dipenuhi nyanyian phoenix, matanya berang, terpaku… dan pelan, sangat pelan, manik-manik itu bergetar dan berhenti, lalu dengan sama pelannya, mulai bergerak ke arah

berlawanan… dan sekarang giliran tongkat Voldemort yang bergetar ekstra-kuat… Voldemort tampak tercengang dan hampir ketakutan…

Sebutir manik-manik cahaya bergetar hanya beberapa senti dari ujung tongkat Voldemort. Harry tak mengerti kenapa dia melakukan itu, tak tahu apa hasilnya… tetapi dia sekarang berkonsentrasi sepenuhnya untuk memaksa manik-manik itu meluncur ke tongkat Voldemort… dan pelan… sangat pelan… manik-manik itu bergerak sepanjang benang emas… sejenak bergetar… dan kemudian menyentuh ujung tongkat Voldemort…

Mendadak saja tongkat Voldemort mengeluarkan gaung jeritan kesakitan… kemudian-mata merah Voldemort melebar karena shock–asap tebal berbentuk tangan terbang dari ujung tongkatnya dan lenyap hantu tangan Wormtail… lebih banyak lagi teriakan kesakitan… dan kemudian sesuatu yang jauh lebih besar mulai berkembang di ujung tongkat Voldemort, Sesuatu yang besar abu-abu, seakan terbuat dari asap yang paling padat dan paling tebal… Mula-mula kepala… sekarang dada dan lengan… bagian atas tubuh Cedric Diggory.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.