Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry merasakan ujung dingin jari panjang putih itu menyentuhnya, dan merasa kepalanya akan pecah saking sakitnya.

Voldemort tertawa pelan di telinganya, kemudian menyingkirkan jarinya dan meneruskan ceritanya kepada para Pelahap Maut. “Aku salah perhitungan, kawan-kawan, kuakui itu. Kutukanku ditangkis oleh pengorbanan bodoh wanita itu, dan berbalik menghantamku. Aah… kesakitan yang luar biasa, kawan-kawan; tak ada yang bisa menyiapkanku untuk itu. Aku tercabik dari tubuhku, aku lebih rendah dari arwah, lebih rendah dari hantu yang paling hina… tetapi aku masih hidup. Sebagai apa, bahkan aku sendiri pun tak tahu… aku, yang telah menapaki jalan menuju keabadian lebih jauh daripada siapa pun.

Kalian tahu cita-citaku… mengalahkan kematian. Dan kini, aku telah diuji, dan tampaknya satu atau lebih percobaanku berhasil… karena aku tidak terbunuh, meskipun seharusnya kutukan itu sudah

membunuhku. Meskipun demikian, aku sama tak berdayanya dengan makhluk hidup yang paling lemah, dan tanpa sarana untuk bisa menolong diriku sendiri… karena aku tak punya tubuh, dan semua mantra yang mungkin bisa membantuku memerlukan penggunaan tongkat sihir…”

“Aku ingat hanya memaksa diriku, tanpa tidur, tanpa kenal lelah, detik demi detik, untuk tetap hidup aku bermukim di tempat yang jauh, di hutan, dan menunggu… tentunya salah satu Pelahap Mautku yang setia akan berusaha mencariku… salah satu dari mereka akan datang dan melakukan sihir yang tak bisa kulakukan, mengembalikanku ke tubuhku… tetapi sia-sia saja aku menunggu…”

Gigilan kembali melanda para Pelahap Maut yang mendengarkan. Voldemort membiarkan keheningan membelit mengerikan sebelum meneruskan.

“Hanya tinggal satu kemampuan yang kumiliki. Aku bisa menguasai tubuh makhluk lain. Tetapi aku tak berani pergi ke tempat yang banyak orangnya, karena aku tahu para Auror masih berkeliaran di luar negeri mencariku. Aku kadang-kadang menempati tubuh binatang-ular tentu saja, karena ular binatang favoritku–tetapi berada dalam tubuh ular tak lebih baik daripada sebagai roh, karena tubuh mereka tak bisa digunakan untuk melakukan sihir… dan penguasaanku atas tubuh mereka membuat hidup mereka lebih singkat. Tak satu pun di antara mereka bertahan lama…”

“Kemudian… empat tahun lalu… sarana untuk kembalinya aku tampaknya sudah terjamin. Seorang penyihir pria-muda, bodoh, dan mudah ditipu-bertemu denganku saat dia mengeluyur di hutan yang telah kujadikan rumahku. Oh, dia tampaknya kesempatan yang telah lama kuimpikan… karena dia guru di sekolah Dumbledore… dia mudah dibelokkan menuruti kehendakku… dia membawaku kembali ke negara ini, dan setelah lewat beberapa waktu, aku menguasai tubuhnya, untuk mengawasinya dari dekat saat dia melaksanakan perintah-perintahku. Tetapi rencanaku gagal. Aku tak berhasil mencuri Batu Bertuah Hidup abadiku tak jadi terjamin. Aku digagalkan. digagalkan, sekali lagi, oleh Harry Potter…”

Hening lagi. Tak ada yang bergerak, bahkan daundaun di pohon cemara pun tidak. Para Pelahap Maut bergeming, mata-mata yang berkilat di dalam topeng mereka tertuju pada Voldemort, dan pada Harry.

“Abdiku mati waktu aku meninggalkan tubuhnya, dan aku kembali selemah sebelumnya,” Voldemort melanjutkan. “Aku kembali ke tempat persembunyianku yang jauh, dan aku tak akan berpura-pura kepada kalian, kuakui waktu itu aku takut tak akan pernah lagi memperoleh kembali kekuasaanku… Ya, saat itu mungkin saatku yang tergelap… Aku tak bisa berharap akan bertemu penyihir lain untuk kukuasai… dan aku saat itu juga sudah melepas harapan bahwa salah satu dari Pelahap Maut-ku peduli apa yang terjadi padaku…”

Satu-dua penyihir bertopeng di lingkaran bergerak salah tingkah, tetapi Voldemort tidak memedulikan mereka.

“Dan kemudian, bahkan belum genap setahun lalu, ketika aku nyaris melepas harapan, terjadilah akhirnya… seorang abdi kembali kepadaku. Wormtail yang telah memalsukan kematiannya sendiri untuk menghindari pengadilan, dipaksa keluar dari persembunyiannya oleh mereka yang pernah dianggapnya sebagai sahabat, dan dia memutuskan untuk kembali kepada tuannya. Dia mencariku di negara yang sudah lama didesas-desuskan sebagai tempatku berada… dibantu, tentu saja, oleh tikus-tikus besar yang ditemuinya sepanjang jalan. Wormtail ini punya pertalian ganjil dengan tikus-tikus. Betul, kan, Wormtail?

Temanteman kecilnya yang kotor memberitahunya, ada tempat, jauh di dalam hutan Albania, yang mereka hindari. Di tempat itu binatang-binatang kecil seperti mereka menemui ajal oleh bayangan gelap yang menguasai mereka…”

“Tetapi perjalanan kembalinya kepadaku tidaklah mulus. Betul, kan, Wormtail? Karena, suatu malam ketika kelaparan, di tepi hutan tempat dia berharap bisa menemukanku, dengan bodoh dia berhenti di sebuah losmen untuk makan… dan siapa yang ditemuinya di sana, kalau bukan Bertha Jorkins, pegawai Kementerian Sihir?”

“Sekarang lihat bagaimana takdir berpihak kepada Lord Voldemort. Pertemuan itu bisa berarti tamatnya riwayat Wormtail, juga tamatnya harapan terakhirku untuk regenerasi. Tetapi Wormtail memperlihatkan kecerdikan yang tak pernah kuharapkan darinyameyakinkan Bertha untuk menemaninya jalan-jalan malam. Dia menyergap Bertha… membawanya kepadaku. Dan Bertha Jorkins, yang sebetulnya bisa menghancurkan segalanya, ternyata malah menjadi hadiah di luar impianku yang paling liar sekalipun…

karena dengan sedikit bujukan dia menjadi sumber informasi yang luar biasa.”

“Dia memberitahuku bahwa Turnamen Triwizard akan diselenggarakan di Hogwarts tahun ini. Dia memberitahuku bahwa dia kenal Pelahap Maut setia yang dengan sukarela akan membantuku, kalau saja aku bisa mengontaknya. Dia memberitahuku banyak hal… tetapi sarana yang kugunakan untuk

mematahkan Jampi Memori yang dikenakan padanya juga kuat sekali, dan ketika aku sudah memeras semua informasi yang berguna darinya, pikiran dan tubuhnya telah rusak berat, tak mungkin diperbaiki lagi. Dia telah digunakan sesuai tujuan. Tubuhnya tak bisa kupakai. Kusingkirkan dia.”

Voldemort menyunggingkan senyumnya yang mengerikan, mata merahnya hampa dan tanpa belas

kasihan.

“Tubuh Wormtail, tentunya, tidak bisa kugunakan, karena semua sudah menganggapnya meninggal, dan akan menarik terlalu banyak perhatian kalau sampai ada yang melihat. Tetapi, dia abdi yang kubutuhkan, dan meskipun dia penyihir tolol, Wormtail bisa mengikuti instruksi yang kuberikan kepadanya, yang akan mengembalikanku ke tubuh elementerku yang masih lemah dan belum sempurna, tubuh yang bisa

kutempati selama menunggu bahan-bahan pokok untuk kelahiranku kembali yang sesungguhnya… satu-dua mantra temuanku sendiri… sedikit bantuan dari Nagini-ku yang tersayang,” mata Voldemort menatap ular yang tak hentinya melingkar-lingkar, “ramuan yang dibuat dari darah Unicorn dan bisa ular yang disediakan Nagini… aku segera kembali ke bentuk hampir manusia, dan cukup kuat untuk bepergian.”

“Tak ada lagi, harapan untuk mencuri Batu Bertuah, karena aku tahu Dumbledore pasti sudah mengatur agar batu itu dihancurkan. Tetapi aku bersedia menjalani hidup fana lagi, sebelum mengejar keabadian.

Kupasang targetku lebih rendah… aku bersedia memiliki tubuhku yang lama lagi, dan kekuatanku yang lama.”

“Aku tahu bahwa untuk mencapai ini ramuan yang menghidupkanku kembali malam ini adalah sedikit ilmu Sihir Hitam kuno-aku akan memerlukan tiga bahan utama. Nah, salah satunya sudah di tangan, ya kan, Wormtail? Daging yang diberikan oleh seorang abdi…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.