Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Aku suka Ludo,” kata Mr Weasley lunak. “Dialah yang memberi kita tiket bagus Piala Dunia. Aku membantunya sedikit. Kakaknya, Otto, mendapat kesulitan—mesin pemotong rumput dengan kekuatan luar biasa—aku membereskannya.”

“Oh, Bagman cukup menyenangkan, tentu saja,” kata Percy sambil lalu, “tapi bagaimana dia bisa jadi Kepala Departemen… kalau aku bandingkan dengan Mr Crouch! Tak bisa kubayangkan Mr Crouch kehilangan salah satu anak buahnya dan tidak berusaha mencari tahu apa yang terjadi padanya. Ayah tahu kan, Bertha Jorkins sudah menghilang lebih dari sebulan sekarang? Berlibur ke Albania dan tak pernah kembali?”

“Ya, aku tanya Ludo tentang itu,” kata Mr Weasley, mengerutkan kening. “Dia bilang Bertha sudah sering tersesat sebelum ini—meskipun jujur saja, kalau itu orang dari departemenku, aku pasti sudah cemas….”

“Oh, Bertha payah, memang,” kata Percy “Kudengar dia disingkirkan dari satu departemen ke departemen lain selama bertahun-tahun, tukang bikin susah… tapi meskipun demikian, Bagman seharusnya berusaha mencarinya. Mr Crouch menaruh perhatian khusus, dia pernah bekerja di departemen kami, soalnya, dan kurasa Mr Crouch cukup suka padanya—tapi Bagman cuma tertawa dan mengatakan dia mungkin salah baca peta dan tiba di Australia alih-alih Albania. Meskipun demikian”—Percy mengembuskan napas dengan impresif dan meneguk anggur elderflower banyak-banyak—”pekerjaan kami di Departemen Kerjasama Sihir Internasional sudah cukup banyak, tanpa harus mencari karyawan departemen lain yang hilang. Seperti Ayah tahu, masih ada acara besar lain yang harus kami organisir setelah Piala Dunia.”

Percy berdeham sok penting dan memandang ke ujung meja yang lain, tempat Harry, Ron, dan Hermione duduk. “Ayah tahu apa yang kumaksud.” Suaranya dikeraskannya sedikit. “Yang top secret.”

Ron memutar matanya dan bergumam kepada Harry dan Hermione, “Sudah lama dia berusaha membuat kami bertanya acara apa itu sejak dia mulai bekerja. Mungkin pameran kuali berpantat-tebal.”

Di tengah meja, Mrs Weasley berdebat dengan Bill soal anting-antingnya, yang rupanya belum lama dipakai.

“… dengan taring besar mengerikan. Astaga, Bill, apa kata mereka di bank?”

“Mum, tak seorang pun di bank peduli bagaimana aku berpakaian asal aku membawa pulang banyak harta,” kata Bill sabar.

“Dan rambutmu makin tidak pantas, Nak,” kata Mrs Weasley, mengelus tongkatnya dengan sayang. “Bagaimana kalau kupotong sedikit…”

“Aku suka rambut panjangnya,” kata Ginny, yang duduk di sebelah Bill. “Mum kuno sekali. Lagi pula, panjangnya tidak seberapa dibanding rambut Profesor Dumbledore…”

Di sebelah Mrs Weasley Fred, George, dan Charlie bicara penuh semangat tentang Piala Dunia.

“Pasti Irlandia,” kata Charlie tak jelas, mulutnya penuh kentang. “Mereka menggilas Peru di semifinal.”

“Tapi Bulgaria punya Viktor Krum,” kata Fred.

“Krum cuma satu pemain hebat, Irlandia punya tujuh,” kata Charlie singkat. “Sayang sekali Inggris tidak berhasil lolos. Memalukan benar.”

“Apa yang terjadi?” tanya Harry bergairah, sangat menyesalkan keterisolasiannya dari dunia sihir saat harus tinggal di Privet Drive. Harry tertarik sekali pada Quidditch. Dia sudah bermain sebagai Seeker tim Asrama Gryffindor sejak tahun pertamanya di Hogwarts dan memiliki Firebolt, salah satu sapu balap terbaik di dunia.

“Kalah dari Transylvania, tiga ratus sembilan puluh lawan sepuluh,” kata Charlie muram. “Penampilan yang mengejutkan. Dan Wales kalah dari Uganda, dan Skotlandia dibabat Luksemburg.”

Mr Weasley menyihir lilin-lilin untuk menerangi kebun yang sudah mulai gelap sebelum mereka makan es krim stroberi buatan sendiri. Saat makan malam usai, ngengat beterbangan rendah di atas meja dan udara yang hangat dipenuhi aroma rumput dan ha-rum honeysuckle, yang bunganya berbentuk lonceng. Harry merasa kenyang dan senang, ketika dia mengawasi beberapa jembalang melompati semak mawar, tertawa terbahak-bahak dikejar Crookshanks.

Ron memandang berkeliling meja untuk memastikan semua keluarganya sedang sibuk bicara, kemudian berkata sangat pelan kepada Harry, “Jadi—kau sudah dapat kabar dari Sirius belakangan ini?”

Hermione memandang berkeliling, memasang telinga tajam-tajam.

“Yeah,” kata Harry pelan, “dua kali. Dia kelihatannya baik-baik saja. Aku menulis kepadanya kemarin. Mungkin dia akan membalas sewaktu aku di sini.”

Harry mendadak teringat alasannya menulis kepada Sirius, dan sesaat dia sudah nyaris memberitahu Ron dan Hermione tentang bekas lukanya yang sakit lagi, dan tentang mimpi yang membuatnya terbangun… tetapi dia tak ingin membuat mereka cemas sekarang, tidak ketika dia sendiri merasa sangat bahagia dan damai.

“Astaga, sudah jam berapa?” celetuk Mrs Weasley tiba-tiba, memandang arlojinya. “Kalian semua seharusnya sudah di tempat tidur—kalian harus bangun subuh-subuh untuk ke tempat pertandingan. Harry, kalau kautinggalkan daftar keperluan sekolahmu, akan kubelikan besok di Diagon Alley. Aku akan membelikan yang lain juga. Mungkin tak ada waktu lagi

setelah Piala Dunia, pertandingan berlangsung lima hari pada Piala Dunia yang lalu.” “Wow—mudah-mudahan kali ini juga!” kata Harry antusias.

“Kuharap tidak,” kata Percy sok rajin. “Aku bergidik memikirkan tumpukan surat-masukku kalau aku me-ninggalkan kantor selama lima hari.”

“Yeah, siapa tahu ada yang menyelipkan kotoran naga lagi, eh, Perce?” kata Fred.

“Itu contoh pupuk dari Norwegia!” kata Percy, wajahnya merah padam. “Bukan kiriman pribadi untukku!”

“Pribadi,” Fred berbisik kepada Harry ketika mereka beranjak dari meja. “Kami yang kirim.”

 

Bab 6:

Portkey

RASANYA baru saja Harry membaringkan diri untuk tidur di kamar Ron, dia sudah dibangunkan oleh Mrs Weasley.

“Sudah waktunya bangun, Harry,” bisiknya, seraya pergi membangunkan Ron.

Harry meraba-raba mencari kacamatanya, memakainya, dan duduk. Di luar masih gelap. Ron bergumam tak jelas ketika ibunya membangunkannya. Di kaki kasur Harry dia melihat dua sosok besar, berantakan, muncul dari balik selimut kusut.

“S’dah waktunya?” tanya Fred grogi.

Mereka berpakaian dalam diam, masih terlalu mengantuk untuk bicara, kemudian, sambil menguap dan menggeliat, keempatnya turun ke dapur.

Mrs Weasley sedang mengaduk isi panci besar di atas kompor, sementara Mr Weasley duduk di depan meja, memeriksa segebung tiket perkamen. Dia mendongak ketika keempat anak itu masuk dan mengembangkan lengannya supaya mereka bisa melihat pakaiannya dengan lebih jelas. Dia memakai sweter golf dan celana jins butut yang agak kebesaran untuknya dan ditahan dengan ikat pinggang kulit besar.

“Bagaimana menurut kalian?” tanyanya penasaran. “Kita disuruh menyamar—apa aku kelihatan seperti Muggle, Harry?”

“Yeah,” kata Harry, tersenyum, “mirip sekali.” “Mana Bill dan Charlie dan Per-Per-Percy?” kata George, gagal menahan kuap lebar.

“Mereka ber-Apparate, kan?” kata Mrs Weasley, mengangkat panci besar itu ke atas meja dan mulai menyendok bubur ke dalam mangkuk-mangkuk. “Jadi mereka bisa tidur sebentar lagi.”

Harry tahu bahwa ber-Apparate berarti menghilang dari suatu tempat dan muncul nyaris pada saat bersamaan di tempat lain, tetapi belum pernah tahu ada murid Hogwarts yang bisa melakukannya. Dia juga tahu bahwa melakukan itu sulit sekali.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.