Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Voldemort mulai tertawa. Dia mengangkat tongkat sihirnya. “Crucio!”

Si Pelahap Maut di tanah menggelepar dan menjerit. Harry yakin jeritannya terdengar ke rumah-rumah di sekitar situ… Biarlah polisi datang, dia membatin putus asa… siapa saja… apa saja… datanglah….

Voldemort mengangkat tongkat sihirnya. Si Pelahap Maut yang tersiksa terkapar di tanah, terengah sesak napas.

“Bangun, Avery,” kata Voldemort pelan. “Bangun. Kau minta dimaafkan? Aku tidak memaafkan. Aku tidak melupakan. Tiga belas tahun… aku ingin pembayaran selama tiga belas tahun sebelum memaafkanmu.

Si Wormtail ini telah membayar sebagian utangnya, ya kan, Wormtail?”

Dia memandang Wormtail, yang masih terus terisak.

“Kau kembali kepadaku, bukan karena setia, tetapi karena ketakutan terhadap teman-teman lamamu.

Kau layak menderita kesakitan ini. Kau tahu itu, kan?”

“Ya, Tuan,” ratap Wormtail, “tolong, Tuan… tolong..”

“Tetapi kau telah membantuku kembali ke tubuhku,” kata Voldemort dingin, memandang Wormtail yang terisak di tanah. “Kendatipun kau tak berharga dan pengkhianat, kau membantuku… dan Lord Voldemort membalas mereka yang membantunya…”

Voldemort mengangkat tongkat sihirnya lagi dan memutar-mutarnya di udara. Sesuatu seperti perak meleleh muncul dari tongkat dan menggantung berkilauan di angkasa. Sesaat tak berbentuk, tetapi kemudian menggeliat dan membentuk tiruan tangan manusia yang berkilauan, secemerlang cahaya bulan. Replika tangan itu meluncur turun dan menempelkan diri di pergelangan tangan Wormtail yang berdarah.

Sedu-sedan Wormtail mendadak berhenti. Bernapas keras dan putus-putus, dia mengangkat tangannya dan menatapnya tak percaya. Tangan perak itu sekarang menempel mulus di pergelangannya, seakan dia memakai sarung tangan berkilauan. Dia melenturkan jari-jari peraknya, kemudian dengan gemetar memungut ranting kecil dari tanah dan memungut ranting kecil dari tanah dan meremasnya sampai menjadi bubuk.

“Yang Mulia,” bisiknya. “Tuan… ini bagus sekali.” terima kasih… terima kasih…”

Dia beringsut maju pada lututnya dan mencium ujung jubah Voldemort.

“Semoga kesetiaanmu takkan pernah goyah lagi, Wormtail,” kata Voldemort.

“Tidak, Yang Mulia… tak akan pernah, Yang Mulia.,.”

Wormtail berdiri dan mengambil tempat di lingkaran, menatap tangan barunya yang kuat, wajahnya masih berkilau bersimbah air mata. Voldemort sekarang mendekati orang di sebelah kanan Wormtail.

“Lucius, temanku yang licin,” dia berbisik, berhenti di depannya. “Aku diberitahu bahwa kau belum meninggalkan cara-cara lama, meskipun ke hadapan dunia kau menampilkan wajah terhormat. Kau masih siap memimpin dalam acara penyiksaan Muggle, kan? Tetapi kau tak pernah berusaha mencariku, Lucius… Perbuatanmu dalam Piala Dunia Quidditch menyenangkan memang… tetapi apakah tak sebaiknya energimu digunakan untuk menemukan dan membantu tuanmu?”

“Yang Mulia, saya selalu waspada,” terdengar jawaban sigap Lucius Malfoy dari bawah kerudung. “Jika ada isyarat dari Anda, ada bisikan tentang di mana keberadaan Anda, saya akan langsung berada di sisi Anda, tak ada yang bisa mencegah saya…”

“Tetapi kau melarikan diri dari Tanda-ku, ketika ada pelahap maut yang setia melepasnya ke angkasa musim panas lalu,” kata Voldemort malas-malasan, dan Mr Malfoy mendadak berhenti bicara. “Ya, aku tahu tentang semua itu, Lucius… Kau telah mengecewakan aku … aku mengharap pelayanan yang lebih setia di masa depan.”

“Tentu saja, Yang Mulia, tentu saja… Anda penuh belas kasihan, terima kasih…”

Voldemort bergerak lagi, dan berhenti, memandang celah–cukup besar untuk dua orang yang

memisahkan Malfoy dari orang berikutnya.

“Suami-istri Lestrange seharusnya berdiri di sini,” kata Voldemort pelan. “Tetapi mereka dikubur di Azkaban. Mereka setia. Mereka memilih ke Azkaban daripada menyangkalku… Kalau Azkaban berhasil dijebol, suami-istri Lestrange akan diberi kehormatan di luar impian mereka. Para Dementor akan bergabung dengan kita… mereka sekutu alami kita… kita akan memanggil kembali para raksasa yang dikucilkan… semua pelayanku yang setia akan dikembalikan kepadaku, juga sepasukan makhluk yang ditakuti oleh semua…”

Dia berjalan terns. Beberapa Pelahap Maut dilewatinya tanpa bicara, tetapi dia berhenti di depan beberapa yang lain dan bicara kepada mereka.

“Macnair… membinasakan binatang-binatang berbahaya untuk Kementerian Sihir sekarang, begitu yang diceritakan Wormtail? Kau akan mendapatkan korban yang lebih baik dari itu tak lama lagi, Macnair. Lord Voldemort akan menyediakannya untukmu…”

“Terima kasih, Tuan… terima kasih,” gumam Macnair.

“Dan inilah,” Voldemort bergerak ke dua sosok berkerudung yang paling besar, “Crabbe… kau akan berbuat lebih baik kali ini, kan, Crabbe? Dan kau, Goyle?”

Mereka membungkuk dengan canggung, bergumam patuh.

“Ya, Tuan…”

“Lebih baik, Tuan…”

“Kau juga, Nott,” kata Voldemort pelan saat melewati sosok bungkuk di dalam bayangan Mr Goyle.

“Yang Mulia, saya serahkan diri saya kepada Anda, saya abdi Anda yang paling setia…”

“Cukup,” kata Voldemort.

Dia telah tiba di celah yang paling lebar, dan dia berdiri mengawasinya dengan matanya yang merah.

Pandangannya kosong, seakan dia bisa melihat orang-orang berdiri di sana.

“Dan di sini ada enam Pelahap Maut yang kurang… tiga meninggal dalam melayaniku. Satu terlalu pengecut untuk kembali… dia akan membayar. Satu, kurasa telah meninggalkanku untuk selamanya…

dia akan dibunuh, tentu saja… dan satu, yang tetap menjadi abdiku yang paling setia dan yang telah kembali melayaniku.”

Para Pelahap Maut bergerak, dan Harry melihat mata mereka saling-kerling di balik topeng mereka.

“Dia di Hogwarts, abdiku yang setia, dan berkat usahanyalah teman kecil kita tiba di sini malam ini…”

“Ya,” kata Voldemort, seringai menghiasi mulutnya yang tak berbibir ketika mata-mata di sekeliling lingkaran tertuju ke arah Harry. “Harry Potter telah berbaik hati bergabung dengan kita untuk pesta kelahiranku kembali. Kita bisa mengatakan dia tamu kehormatanku.”

Sunyi. Kemudian Pelahap Maut di sebelah kanan Wormtail maju, dan suara Lucius Malfoy berbicara dari balik topeng.

“Tuan, kami ingin sekali tahu… kami memohon Anda menceritakan kepada kami… bagaimana Anda berhasil melakukan… keajaiban ini… bagaimana Anda berhasil kembali kepada kami…”

“Ah, ceritanya sungguh luar biasa, Lucius,” ujar Voldemort. “Dan cerita itu diawali dan diakhiri oleh teman kecilku ini.”

Dia berjalan santai untuk berdiri di sebelah Harry, sehingga mata seluruh lingkaran memandang mereka berdua. Si ular terus melingkar-lingkar.

“Kalian tahu, tentu saja, bahwa mereka menyebut anak ini penyebab kejatuhanku?” Voldemort berkata pelan, matanya yang merah memandang Harry. Bekas luka Harry mulai membara sakit sekali sehingga dia nyaris menjerit kesakitan. “Kalian semua tahu bahwa pada malam aku kehilangan kekuasaan dan tubuhku, aku mencoba membunuhnya. Ibunya mati dalam usahanya menyelamatkannya dan tanpa

sengaja memberi dia perlindungan yang kuakui tak kuperhitungkan sebelumnya… aku tak bisa menyentuh anak ini.”

Voldemort mengangkat salah satu jari putihnya yang panjang dan menjulurkannya sangat dekat ke pipi Harry.

“Ibunya meninggalkan bekas-bekas pengorbanannya… Ini sihir kuno, aku seharusnya ingat itu. Aku bodoh mengabaikannya… tapi sudahlah. Aku bisa menyentuhnya sekarang.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.