Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Tubuh Cedric terbaring kira-kira enam meter dari tempatnya. Tak jauh dari Cedric, berkilauan tertimpa cahaya bintang, tergeletak Piala Triwizard. Tongkat Harry di tanah di dekat kaki Cedric. Buntelan jubah

yang dikira Harry sesosok bayi ada di dekatnya, di kaki makam. Buntelan itu tampaknya bergerak-gerak gelisah. Harry memandangnya, dan bekas lukanya tersengat sakit lagi… dan dia mendadak tahu bahwa dia tak ingin melihat apa yang ada dalam jubah itu… dia tak ingin buntelan itu dibuka…

Dia mendengar bunyi di kakinya. Dia menunduk dan melihat seekor ular besar melata di rerumputan, mengelilingi nisan tempatnya terikat. Napas Wormtail yang cepat dan berderik terdengar semakin keras.

Kedengarannya dia menyeret sesuatu yang berat. Kemudian dia berada dalam jarak pandang Harry lagi, dan Harry melihatnya mendorong kuali batu ke kaki makam. Kuali itu penuh sesuatu yang tampaknya seperti air Harry bisa mendengarnya bergolak dan kuali itu lebih besar daripada semua kuali yang pernah digunakan Harry. Kuali batu besar yang cukup untuk memuat orang dewasa duduk di dalamnya.

Makhluk di dalam buntelan jubah bergerak-gerak terus-menerus, seakan berusaha membebaskan diri.

Sekarang Wormtail sedang sibuk di dasar kuali dengan tongkatnya. Mendadak api berderak-derak menyala di bawahnya. Si ular besar merayap pergi ke dalam kegelapan.

Cairan di dalam kuali tampaknya cepat sekali panas. Permukaannya tak hanya mulai menggelegak, tetapi juga menyemburkan bunga api, seakan sedang terbakar. Asap menebal, menyamarkan sosok Wormtail yang sedang mengurus api. Gerakan-gerakan di bawah jubah menjadi semakin gelisah. Dan Harry mendengar suara dingin melengking itu lagi.

“Cepat!”

Seluruh permukaan air sudah menyala dengan percikan bunga api sekarang. Seakan bertaburan berlian.

“Sudah siap, Tuan.”

“Sekarang…. ” kata suara dingin itu.

Wormtail membuka buntalan di tanah, memperlihatkan apa yang ada di dalamnya, dan Harry

mengeluarkan jeritan yang tertahan gumpalan kain yang menyumpal mulutnya.

Seakan Wormtail telah membalik batu dan menunjukkan sesuatu yang jelek, berlendir, dan buta–tetapi lebih buruk daripada itu, seratus kali lebih buruk. Benda yang tadi digendong Wormtail berbentuk anak yang bungkuk, tapi bagi Harry sosok itu tidak kelihatan seperti anak manusia. Dia tak berambut, tapi bersisik, berkulit hitam kemerahan seperti daging mentah. Tangan dan kakinya kurus dan lemah, dan wajahnya tak ada anak yang berwajah seperti itu–datar dan seperti ular, dengan mata merah berkilauan.

Makhluk itu tampaknya nyaris tak berdaya. Dia mengulurkan lengannya yang kurus, melingkarkannya ke sekeliling leher Wormtail, dan Wormtail mengangkatnya. Saat itu tudungnya merosot ke belakang, dan Harry melihat rasa jijik di wajah Wormtail yang lemah dan pucat dalam cahaya api ketika dia menggendong makhluk itu ke bibir kuali. Sekejap, Harry melihat datar jahat itu diterangi bunga api yang menari-nari di permukaan ramuan. Dan kemudian Wormtail menurunkan makhluk itu ke dalam kuali.

Terdengar desisan, dan makhluk itu menghilang di bawah permukaannya. Harry mendengar tubuhnya yang lemah jatuh ke dasar kuali dengan bunyi duk lemah.

Biarkan dia tenggelam, Harry membatin, bekas lukanya membara nyaris tak tertahankan, tolong…

biarkan dia tenggelam…

Wormtail bicara. Suaranya bergetar, dia tampaknya sangat ketakutan. Dia mengangkat tongkatnya, memejamkan mata, dan berbicara kepada kegelapan malam.

“Tulang sang ayah, diberikan tanpa sadar, kau akan menghidupkan putramu!”

Permukaan makam di kaki Harry membuka. Ngeri, Harry mengawasi titik-titik debu halus terbang ke atas mematuhi perintah Wormtail dan terjatuh pelan ke dalam kuali. Permukaan-berlian cairannya merekah dan mendesis, mengirim percikan bunga api ke segala jurusan, dan berubah menjadi cairan biru yang tampak beracun.

Dan sekarang Wormtail meratap. Dia menarik belati perak panjang, tipis berkilauan dari dalam mantelnya.

Dia terisak ketakutan. “Daging… si abdi… di—diberikan dengan sukarela… kau akan… menghidupkan kembali… tuanmu.”

Dia menjulurkan tangan kanannya di depannyatangan yang jarinya putus. Dia mencengkeram belatinya erat-erat di tangan kiri dan menyabetkannya ke atas.

Harry menyadari apa yang akan dilakukan Wormtail sedetik sebelum terjadi–dia memejamkan mata serapat mungkin, tetapi dia tidak dapat memblokir jeritan yang merobek keheningan malam, yang membuat Harry merasa dia juga ditusuk belati. Dia mendengar sesuatu terjatuh ke tanah, mendengar desah napas kesakitan Wormtail, kemudian bunyi ceburan yang memualkan, ketika sesuatu dijatuhkan ke dalam kuali. Harry tak tahan melihatnya… tetapi ramuan telah berubah menjadi merah menyala, cahayanya menembus pelupuk mata Harry yang tertutup.

Wormtail mendesah dan merintih kesakitan. Setelah merasakan napas Wormtail yang kesakitan di wajahnya, barulah Harry menyadari bahwa Wormtail tepat di depannya.

“D-darah musuh… diambil dengan paksa… kau akan… membangkitkan kembali lawanmu.”

Harry tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya, dia diikat terlalu erat… Menyipitkan mata, memberontak tak berdaya hendak melepaskan tali yang mengikatnya, dia melihat belati perak yang berkilap gemetar di tangan Wormtail yang tinggal satu. Harry merasakan ujung belati menusuk lipatan lengan kanannya dan darah merembes ke lengan jubahnya yang robek. Wormtail, masih terengah kesakitan, meraba-raba dalam sakunya mencari tabung kaca dan memeganginya di bawah luka Harry, sehingga setetes darah masuk ke dalamnya.

Wormtail terhuyung kembali ke kuali, membawa darah Harry. Dituangnya ke dalamnya. Cairan di dalamnya langsung berubah warna menjadi putih menyilaukan. Wormtail, selesai melaksanakan

tugasnya, berlutut di sisi kuali, kemudian roboh miring dan terbaring di tanah, menyangga sisa lengannya yang berdarah, terengah dan terisak.

Isi kuali mendidih, mengirim percikan bunga apinya yang bagai berlian ke segala jurusan, begitu terang menyilaukan sehingga membuat segala yang lain menjadi hitam pekat. Tak ada yang terjadi…

Biarkan dia mati tenggelam, batin Harry, biarkan gagal…

Dan kemudian, mendadak saja, percikan bunga api padam. Sebagai gantinya asap putih tebal mengepul dari dalam kuali, menutupi segala sesuatu di depan Harry, sehingga dia tak bisa melihat Wormtail ataupun Cedric atau apa pun, kecuali asap yang menggantung di udara… Sudah gagal, pikirnya… dia sudah tenggelam… tolong… tolong biarkan dia mati….

Tetapi kemudian, dari dalam kabut di depannya, dia melihat, dengan kengerian yang luar biasa, siluet seorang laki-laki, jangkung dan sekurus kerangka, muncul perlahan dari dalam kuali.

“Pakaikan jubahku,” kata suara dingin melengking dari balik uap, dan Wormtail, terisak dan merintih, masih menggendong tangannya yang putus, merayap untuk memungut jubah hitam dari tanah, bangkit, dan menarik jubah itu dengan tangan satu melewati kepala tuannya.

Laki-laki kurus itu melangkah keluar dari kuali, menatap Harry… dan Harry balas menatap wajah yang telah menghantui mimpinya selama tiga tahun. Lebih putih daripada tengkorak, dengan mata lebar, pucat, dan merah, dan hidung yang sama ratanya dengan hidung ular, dengan dua celah sebagai lubang hidungnya…

Lord Voldemort telah bangkit kembali.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.