Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kau memberitahu aku soal naga,” kata Cedric. “Aku pasti sudah gagal dalam tugas pertama kalau kau tidak memberitahuku apa yang harus kita hadapi.”

“Aku juga diberitahu soal itu,” tukas Harry, berusaha menyeka kakinya yang berdarah dengan jubahnya.

“Kau membantuku dengan telur… kita impas.”

“Aku dibantu soal telur itu,” kata Cedric.

“Kita masih tetap impas,” kata Harry, mengetes kakinya dengan hati-hati sekali. Kakinya gemetar hebat ketika dipakai menapak. Pergelangan kakinya terkilir ketika labah-labah itu menjatuhkannya.

“Kau seharusnya mendapat angka lebih banyak dalam tugas kedua,” Cedric berkeras. “Kau bertahan di bawah untuk menyelamatkan semua sandera. Mestinya kulakukan itu.”

“Aku sendiri yang tolol, menganggap serius nyanyian itu” kata Harry getir. “Sudah, ambil saja piala itu!”

“Tidak,” kata Cedric.

Dia melangkahi kaki-kaki labah-labah yang semrawut untuk bergabung dengan Harry, yang keheranan menatapnya. Cedric serius. Dia menjauh dari kemuliaan yang tak pernah dimiliki Asrama Hufflepuff selama berabad-abad.

“Ayo,” kata Cedric. Tampaknya dia mengerahkan seluruh ketetapan hatinya, tetapi wajahnya mantap, lengannya terlipat, dia tampaknya sudah bertekad bulat.

Harry memandang Cedric dan piala bergantian. Sejenak dia melihat dirinya keluar dari maze, memegang piala. Dia melihat dirinya mengangkat Piala Triwizard, mendengar teriakan penonton, melihat wajah Cho bersinar penuh kekaguman, lebih jelas daripada yang pernah dilihatnya sebelumnya… dan kemudian bayangan ini memudar, dan dia kembali mendapati dirinya memandang wajah Cedric yang keras kepala dalam keremangan.

“Berdua kalau begitu,” kata Harry.

“Apa?”

“Kita akan mengambilnya pada saat bersamaan. Toh masih kemenangan Hogwarts. Kita menang seri.”

Cedric menatap Harry. Dia membuka lipatan lengannya.

“Kau… kau yakin?”

“Yeah,” kata Harry. “Yeah… kita telah saling bantukan? Kita berdua sampai di sini. Ayo kita ambil sama-sama.”

Sejenak Cedric tampaknya tak bisa mempercayai telinganya, kemudian dia nyengir lebar. “Baiklah,”

katanya. “Sini.”

Dia memegang lengan Harry di bawah bahunya dan membantu Harry yang berjalan tertimpangtimpang menuju podium tempat piala berdiri. Setibanya di sana, keduanya mengulurkan tangan ke masing-masing pegangan piala yang berkilauan.

“Pada hitungan ketiga, ya?” kata Harry. “Satu… dua… tiga…”

Dia dan Cedric bersamaan memegang pegangan piala.

Saat itu juga Harry merasakan entakan di belakang pusarnya. Kakinya terangkat dari tanah. Dia tak bisa melepas tangannya yang memegangi Piala Triwizard. Piala itu menariknya menembus lolongan angin dan pusaran warna, dengan Cedric di sampingnya.

 

Bab 32:

DAGING DARAH DAN TULANG

HARRY merasa kakinya menghantam tanah. Kakinya yang luka tak kuat, dan dia jatuh terjerembap.

Tangannya akhirnya melepas Piala Triwizard. Dia mengangkat kepala.

“Di mana kita?” tanyanya.

Cedric menggelengkan kepala. Dia bangkit, menarik Harry berdiri, dan mereka memandang berkeliling.

Mereka telah jauh meninggalkan kompleks Hogwarts. Mereka jelas telah pergi berkilo-kilo meter mungkin bahkan beratus-ratus kilo karena bahkan pegunungan yang mengitari kastil sudah tak ada. Mereka berdiri di kuburan gelap telantar berumput tinggi. Siluet gereja kecil tampak di belakang pohon cemara besar di sebelah kanan mereka. Di sebelah kiri tampak bukit menjulang. Harry samar-samar melihat siluet rumah tua yang indah di sisi bukit.

Cedric menunduk memandang Piala Triwizard dan kemudian ganti menatap Harry.

“Apakah ada yang memberitahumu bahwa piala ini Portkey?” dia bertanya.

“Tidak,” kata Harry. Dia memandang ke sekeliling pemakaman. Suasana sunyi senyap dan agak mengedkan. “Apakah ini bagian dari tugas?”

“Aku tak tahu,” kata Cedric. Kedengarannya dia sedikit gugup. “Kita siapkan tongkat?”

“Yeah,” kata Harry, senang Cedric yang memberikan usul itu dan bukan dia.

Mereka menarik keluar tongkat sihir mereka. Harry masih memandang ke sekelilingnya. Sekali lagi dia punya perasaan aneh bahwa mereka diawasi.

“Ada yang datang,” katanya tiba-tiba.

Menyipitkan mata dengan tegang menembus kegelapan, mereka memandang sosok itu mendekat, berjalan mantap ke arah mereka di antara makammakam. Harry tak bisa melihat wajahnya, tetapi dari caranya berjalan dan posisi tangannya, dia bisa menerka bahwa orang itu membawa sesuatu. Siapa pun dia, orang itu pendek, dan memakai mantel bertudung kepala yang dipakainya untuk menyamarkan wajahnya. Dan beberapa langkah lebih dekat, jarak di antara mereka semakin kecil Harry melihat bahwa benda yang digendongnya seperti bayi… atau apakah itu cuma buntalan jubah?

Harry menurunkan tongkatnya sedikit dan mengerling Cedric. Cedric melempar pandangan bertanya.

Mereka berdua berpaling lagi untuk mengawasi sosok yang semakin mendekat.

Sosok itu berhenti di sebelah nisan tinggi dari pualam, hanya kira-kira dua meter dari tempat mereka.

Selama sedetik, Harry dan Cedric, dan sosok pendek itu hanya saling pandang.

Dan kemudian, tanpa peringatan apa pun, bekas luka Harry mendadak luar biasa sakitnya. Penderitaan seperti itu seumur hidup belum pernah dialaminya. Tongkatnya terlepas dari jari-jarinya ketika dia menutupkan tangan ke wajahnya, lututnya tertekuk. Dia roboh ke tanah dan sama sekali tak bisa melihat apaapa. Kepalanya serasa mau pecah.

Dari kejauhan, di atas kepalanya, dia mendengar suara dingin melengking tinggi berkata, “Bunuh temannya.”

Bunyi deru disusul suara kedua, yang berciut menyuarakan kata-kata ke dalam kegelapan malam, “Avada Kedavra!”

Sambaran cahaya hijau menyilaukan menembus pelupuk mata Harry dan dia mendengar sesuatu yang berat jatuh ke tanah di sebelahnya. Rasa sakit di bekas lukanya sedemikian hebatnya sampai dia muntah-muntah, dan kemudian rasa sakitnya mereda. Ngeri pada apa yang akan dilihatnya, dia membuka matanya yang terasa tersengat.

Cedric tergeletak telentang di sebelahnya. Dia sudah meninggal.

Selama sedetik yang serasa seabad, Harry menatap wajah Cedric, menatap mata abu-abunya yang terbuka, kosong dan tanpa ekspresi seperti jendela rumah kosong, menatap mulutnya yang separo terbuka, yang tampak agak keheranan. Dan kemudian, sebelum otak Harry bisa menerima apa yang dilihatnya, sebelum dia bisa merasakan apa pun selain kebas dan tidak percaya, dia merasa dirinya ditarik bangun.

Laki-laki pendek bermantel telah meletakkan bawaannya, menyalakan tongkat sihirnya, dan menarik Harry ke nisan pualam. Harry melihat nama pada nisan itu bergoyang tertimpa cahaya tongkat sebelum dia dipaksa berbalik dan diempaskan ke nisan itu. TOM RIDDLE

Si laki-laki bermantel menyihir tali dan mengikat Harry erat-erat, dari leher sampai ke mata kaki, dan diikatkan ke nisan itu. Harry bisa mendengar napas pendek-pendek dan cepat dari kedalaman

kerudungnya. Dia memberontak dan laki-laki itu menamparnya-menamparnya dengan tangan yang

jarinya hilang satu. Dan Harry menyadari siapa yang ada di bawah kerudung itu. Dia Wormtail.

“Kau!” sengalnya.

Tetapi Wormtail, yang telah selesai menyihir talinya, tidak menjawab. Dia sibuk memeriksa kekencangan talinya, jari-jarinya gemetar tak terkendali, meraba-raba ikatannya. Setelah yakin Harry sudah terikat erat ke nisan sehingga tak bisa bergerak sesenti pun, Wormtail menarik keluar kain hitam dari dalam mantelnya dan menjejalkannya dengan kasar ke dalam mulut Harry. Kemudian, tanpa bicara sepatah kata pun dia berbalik dan bergegas pergi. Harry tak bisa bersuara ataupun melihat ke mana perginya Wormtail. Dia tak bisa menolehkan kepala untuk melihat lebih jauh didepannya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.