Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kau sudah dekat sekali dengan sasaranmu. Jalan yang paling cepat adalah melewatiku.”

“Jadi… jadi, maukah kau menepi?” kata Harry, sudah tahu apa jawabnya.

“Tidak,” jawabnya, masih terus mondar-mandir. “Tidak, kecuali kau bisa menjawab teka-tekiku.

Jawabannya kata dalam bahasa Inggris. Jika terjawab pada tebakan pertama–kuizinkan kau lewat. Kalau jawabmu salah–kuserang kau. Tetap diam-kuizinkan kau pergi dariku tanpa cedera.”

Hati Harry mencelos. Hermione-lah yang jago tekateki, bukan dia. Dia menimbang kesempatannya. Kalau teka-tekinya terlalu sulit, dia bisa diam saja, meninggalkan si sphinx tanpa cedera, dan berusaha mencari jalan alternatif ke pusat maze.

“Oke,” katanya. “Bolehkah aku mendengar teka-tekinya?”

Si sphinx duduk di atas kaki belakangnya, dan mulai berdeklamasi:

“Awalnya pikirkan orang yang hidup

dalam penyamaran,

Yang melakukan segalanya secara rahasia

dan mengucapkan hanya kebohongan.

Berikutnya, katakan padaku apa yang didapat di ujung tekad,

Ada di awal dendam dan di akhir abad?

Dan akhirnya berikan padaku bunyi yang sering terdengar

Selama mencari kata yang sulit ditemukan.

Sekarang rangkai ketiganya, dan jawablah segera,

Makhluk apa yang kau paling segan menciumnya?”

Harry ternganga menatapnya.

“Boleh kudengar sekali lagi… lebih lambat?” tanya nya ragu.

Dia mengedip, tersenyum, dan mengulang puisi itu.

“Semua petunjuk mengarah kepada makhluk yang aku segan menciumnya?” tanya Harry.

Dia hanya tersenyum misterius. Harry menganggap itu sebagai “ya”. Harry memutar otak. Banyak binatang yang tak ingin diciumnya. Yang langsung muncul dalam benaknya adalah Skrewt Ujung-Meletup, tetapi sesuatu memberitahunya bukan itu jawabnya. Dia harus berusaha merangkai

petunjuknya…

“Orang dalam penyamaran,” Harry bergumam, memandang si sphinx, “yang berbohong… er… itu…

penipu. Bukan, bukan itu tebakanku. Er… mata-mata-spy? Nanti aku balik lagi… bisakah kauberikan lagi petunjuk berikutnya?”

Dia mengulang baris-baris berikutnya.

“Yang didapat di ujung tekad,” Harry mengulang. “Er… tak tahu… ada di awal dendam… boleh aku dengar yang paling akhir lagi?”

Dia mengucapkan empat baris terakhir.

“Bunyi yang sering terdengar selama mencari kata yang sulit ditemukan,” kata Harry. “Er… itu… er…

tunggu—‘er! Er kan bunyi!”

Si sphinx tersenyum kepadanya.

“Spy… er… spy… er….” kata Harry, berjalan mondar-mandir. “Makhluk yang aku tak ingin menciumnya…

spider! Labah-labah!”

Si sphinx tersenyum lebih lebar. Dia bangkit, meregangkan kaki depannya, dan kemudian menyisih agar Harry bisa lewat.

“Trims!” kata Harry, dan kagum akan kecemerlangannya, dia buru-buru lewat.

Dia pasti sudah dekat sekarang, pasti… Tongkatnya menunjukkan dia berada di jalur yang benar, asal dia tidak bertemu sesuatu yang mengerikan, dia punya kesempatan…

Harry berlari sekarang. Dia harus memilih jalan di depan. “Arahkan aku!” dia berbisik lagi kepada tongkatnya, dan tongkat itu berputar dan menunjuk ke jalan yang ke kanan. Dia berlari ke kanan dan melihat cahaya di depan.

Piala Triwizard berkilau di atas podium kira-kira seratus meter di depannya. Mendadak ada sosok gelap meluncur cepat sekali ke jalan di depannya.

Cedric akan sampai di sana lebih dulu. Cedric berlari secepat kilat ke arah piala dan Harry tahu dia tak akan bisa mengejarnya. Cedric jauh lebih jangkung, kakinya jauh lebih panjang…

Kemudian Harry melihat sesuatu yang besar di atas pagar di sebelah kirinya, bergerak cepat sepanjang jalan yang bersilang dengan jalannya. Makhluk itu bergerak cepat sekali sehingga Cedric pasti akan bertabrakan dengannya, dan Cedric, yang matanya tertuju ke piala, tidak melihatnya…

“Cedric!” Harry berteriak. “Sebelah kirimu!”

Cedric menoleh tepat pada waktunya untuk melompat melewati makhluk itu dan menghindari

bertabrakan dengannya, tetapi dalam ketergesaannya, dia terjatuh. Harry melihat tongkat Cedric terbang dari tangannya sementara si labah-labah raksasa melangkah ke jalan setapak dan mulai mendekati Cedric.

“Stupefy!” Harry berteriak, dan mantranya mengenai tubuh si labah-labah yang besar, hitam, dan berbulu, tetapi efeknya seperti dia melemparnya dengan batu saja. Si labah-labah tersentak, menggerumut membalik, dan malah berlari menuju Harry.

“Stupefy! Impedimenta! Stupefy!”

Tetapi tak ada gunanya-entah karena si labah-labah terlampau besar atau terlampau sakti, tapi mantra-mantra itu malah membuatnya semakin galak. Sekejap Harry melihat delapan mata hitam yang berkilap dan capit setajam silet sebelum si labah-labah menerkamnya.

Harry diangkat ke udara dengan kaki depannya, memberontak sekuat tenaga. Dicobanya

menendangnya, kakinya mengenai capitnya dan sesaat kemudian kakinya sakit bukan buatan. Dia bisa mendengar Cedric menjeritkan “Stupefy!” juga, tetapi mantranya sama saja tak bergunanya dengan mantra Harry. Harry mengangkat tongkatnya ketika si labah-labah membuka capitnya sekali lagi dan berteriak, “Expelliarmus!”

Berhasil Mantra Pelepas Senjata ini membuat si labah-labah menjatuhkannya, tetapi itu berarti Harry terjatuh dari ketinggian lebih dari tiga setengah meter pada kakinya yang sudah luka. Dia roboh. Tanpa berhenti untuk berpikir, dia mengarah ke atas, ke bagian bawah perut si labah-labah, seperti yang telah dilakukannya kepada Skrewt, dan berteriak, “Stupefy!” Bersamaan dengannya, Cedric juga meneriakkan mantra yang sama.

Dua mantra yang diluncurkan bersamaan berhasil melakukan apa yang tak bisa dilakukan satu mantra: labah-labah itu terguling miring, merobohkan pagar yang ditabraknya, dan memenuhi jalan dengan kaki-kaki berbulu.

“Harry!” didengarnya Cedric berseru. “Kau tak apa-apa? Kau kejatuhan labah-labah?”

“Tidak,” Harry balas berteriak, tersengal. Dia menunduk memandang kakinya. Darah mengucur deras.

Dia bisa melihat semacam lendir kental seperti lem dari capit si labah-labah di jubahnya yang robek. Dia berusaha bangkit, tetapi kakinya gemetar hebat dan menolak menopang berat tubuhnya. Dia bersandar ke pagar, terengah kehabisan napas, dan memandang ke sekitarnya.

Cedric berdiri kira-kira semeter dari Piala Triwizard, yang berkilauan di belakangnya.

“Ambillah,” kata Harry terengah kepada Cedric. “Ayo, ambillah. Kau sudah di sana.”

Tetapi Cedric tidak bergerak. Dia hanya berdiri saja, memandang Harry. Kemudian dia berbalik untuk memandang piala. Harry melihat ekspresi kerinduan di wajahnya yang tertimpa cahaya keemasannya.

Cedric menoleh memandang Harry lagi, yang sekarang berpegangan pada pagar untuk menyangga

tubuhnya Cedric menarik napas dalam-dalam.

“Kau saja yang ambil. Kau layak menang. Dua kali kau menyelamatkan hidupku di sini.”

“Bukan begitu aturan mainnya,” kata Harry. Dia merasa marah. Kakinya sakit sekali. Seluruh tubuhnya sakit akibat usahanya melemparkan si labah-labah, dan setelah semua susah payah ini, Cedric telah mengalahkannya, sama seperti dia mengalahkan Harry sewaktu mengajak Cho ke pesta dansa. “Yang lebih dulu tiba di piala-lah yang mendapatkan angka. Dan itu kau. Kuberitahu kau, aku tak akan memenangkan lomba lari dengan kaki ini.”

Cedric mendekat beberapa langkah ke labah-labah yang pingsan, menjauhi piala, menggeleng. “Tidak,”

katanya.

“Berhentilah bersikap mulia,” kata Harry jengkel. “Ambil saja, kexnudian kita bisa keluar dari sini.”

Cedric mengawasi Harry yang memantapkan diri, berpegang erat-erat ke pagar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.