Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Pikirkan, katanya kepada diri sendiri, sementara semua darahnya mengalir ke kepala, pikirkan…

Tetapi tak satu pun mantra yang telah dilatihnya didesain untuk menghadapi langit dan bumi yang tiba-tiba terbalik. Beranikah dia memindahkan kakinya? Dia bisa mendengar darah bertalu-talu di telinga nya.

Du punya dua pilihan mencoba bergerak, atau mengirim bunga api merah, dan diselamatkan serta didiskualifikasi dari pertandingan.

Harry memejamkan mata, agar dia tak melihat angkasa kosong di bawahnya, dan menarik kaki kanannya sekuat tenaga dari langit-langit berumput.

Mendadak saja dunia lurus lagi. Harry jatuh terduduk di tanah padat yang menyenangkan. Sesaat dia lemas saking shock-nya. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, kemudian bangkit lagi dan berlari maju, menoleh memandang kabut emas yang berkelip naif kepadanya dalam cahaya bulan.

Dia berhenti di ujung jalan bercabang dan memandang berkeliling mencari-cari Fleur. Dia yakin Fleurlah yang tadi berteriak. Apa yang dia jumpai? Apakah dia baik-baik saja? Tak ada tanda-tanda bunga api merah-apakah itu berarti dia bisa melepaskan diri dari kesulitan, atau apakah kesulitannya begitu besar sehingga dia tak bisa mencabut tongkat sihirnya? Harry mengambil jalan ke kanan dengan perasaan yang semakin tak enak… pada saat bersamaan mau tak mau dia berpikir, satu juara telah jatuh…

Piala itu berada di dekat-dekat situ, dan kedengarannya Fleur sudah tak ikut bertanding. Harry sudah sejauh ini, kan? Bagaimana jika dia berhasil menang? Sekilas, dan untuk pertama kalinya sejak dia menjadi juara, Harry melihat lagi bayangan dirinya, mengangkat Piala Triwizard di depan seluruh sekolah….

Dia tak bertemu apa pun selama sepuluh menit, tetapi berkali-kali menemui jalan buntu. Dua kali dia berbelok ke jalan keliru yang sama. Akhirnya dia menemukan rute baru dan mulai berlari kecil sepanang

jalan itu, cahaya tongkatnya bergoyang-goyang, mernbuat bayangannya hilang-timbul dan berdistorsi di dinding pagar. Kemudian dia membelok di tikungan lain dan berhadapan dengan Skrewt Ujung-Meletup.

Cedric betul-Skrewt itu besar sekali. Dengan panjang tiga meter, Skrewt itu mirip sekali kalajengking raksasa. Sengatnya yang panjang melingkar di punggungnya. Kulit cangkangnya yang tebal berkilap tertimpa cahaya tongkat Harry yang diacungkan ke arahnya.

“Stupefy!”

Mantra ini mengenai kulitnya dan memantul. Harry menunduk tepat pada waktunya, tetapi bisa membaui rambut yang hangus. Mantra yang membalik tadi telah mengenai ujung rambutnya. Si Skrewt

mengeluarkan semburan api dari ujungnya dan berlari ke arahnya.

“Impedimenta!” teriak Harry. Mantra ini mengenai cangkang Skrewt lagi dan kembali memantul. Harry terhuyung ke belakang beberapa langkah dan terjatuh. “IMPEDIMENTA!”

Skrewt itu tinggal beberapa senti darinya ketika membeku–Harry berhasil mengenai bagian bawah tubuhnya yang tak tertutup cangkang. Terengah, Harry memaksa diri menjauh darinya dan berlari, kencang, ke arah berlawanan-Sihir Perintang ini tidak permanen. Si Skrewt akan bisa menggunakan kakinya lagi setiap saat.

Dia mengambil jalan ke kiri dan tiba di jalan buntu kanan, jalan buntu juga, memaksanya berhenti, jantung berdegup kencang, dia melakukan Mantra Empat Penjuru lagi, mundur, dan memilih jalan setapak yang akan membawanya ke barat laut.

Harry sudah berlarian di jalan baru ini selama beberapa menit ketika dia mendengar sesuatu di jalan yang sejajar dengan jalan pilihannya, yang membuatnya berhenti.

“Apa yang kaulakukan?” terdengar teriakan Cedric. “Menurutmu sedang apa kau?”

Dan kemudian Harry mendengar suara Krum.

“Crucio!”

Keheningan mendadak dipenuhi jeritan-jeritan Cedric. Ngeri, Harry mulai berlari, berusaha mencari jalan ke tempat Cedric. Ketika tak ada yang muncul, dia mencoba Mantra Reduktor lagi. Tak begitu efektif, tetapi berhasil membuat lubang kecil di pagar, ke dalam mana Harry menjejalkan kakinya, menendang-nendang semak berduri lebat dan ranting-ranting sampai akhirnya terbentuk lubang cukup besar. Harry menyeruak masuk melewatinya, membuat jubahnya robek, dan memandang ke kiri, dia melihat Cedric menggelepar dan menggeliat-geliat di tanah, Krum berdiri di sebelahnya.

Harry berhenti dan mengacungkan tongkatnya ke arah Krum, tepat ketika Krum mendongak. Krum berbalik dan lari.

“Stupefy!” teriak Harry.

Kutukan itu mengenai punggung Krum. Dia berhenti mendadak, jatuh terjerembap, dan berbaring menelungkup di rerumputan. Harry berlari mendekati Cedric, yang sudah berhenti berkelojotan dan terbaring tersengal, tangannya menutupi wajahnya.

“Kau tak apa-apa?” tanya Harry keras, menarik lengan Cedric.

“Yeah” sengal Cedric. “Yeah… aku tak percaya… dia mengendap-endap di belakangku… aku mendengarnya. Aku menoleh, dan ternyata tongkat sihirnya sudah teracung kepadaku…”

Cedric berdiri. Dia masih gemetar. Dia dan Harry menunduk melihat Krum.

“Aku tak percaya… kupikir dia baik,” Harry berkata, menatap Krum.

“Aku juga,” kata Cedric.

“Apakah kau tadi mendengar Fleur menjerit?” tanya Harry.

“Yeah,” kata Cedric. “Menurutmu Krum menyerangnya juga?”

“Aku tak tahu,” kata Harry pelan.

“Kita tinggalkan dia di sini?” gumam Cedric.

“Tidak,” kata Harry. “Kurasa kita harus mengirim bunga api merah. Akan ada yang datang mengambilnya… kalau tidak, jangan-jangan nanti dia dimakan Skrewt.”

“Pantas baginya,” gumam Cedric, tetapi dia toh mengangkat tangannya dan mengirim semburan bunga api merah ke angkasa, yang melayang tinggi di atas Krum, menandai tempatnya tergeletak.

Harry dan Cedric berdiri dalam kegelapan, memandang ke sekeliling mereka. Kemudian Cedric berkata,

“Kurasa… sebaiknya kita jalan lagi…”

“Apa?” kata Harry. “Oh… yeah… betul…”

Saat yang canggung. Dia dan Cedric sekejap tadi dipersatukan oleh Krum sekarang fakta bahwa mereka bersaing teringat oleh Harry. Keduanya berjalan sepanjang jalan gelap tanpa bicara, kemudian Harry menikung ke kiri dan Cedric ke kanan. Langkah-langkah kaki Cedric segera tak terdengar lagi.

Harry maju, terus memakai Mantra Empat Penjuru nya, memastikan dia bergerak ke arah yang besar.

Sekarang tinggal dia dan Cedric. Keinginannya untuk mencapai piala lebih dulu berkobar lebih kuat daripada sebelumnya, tetapi dia nyaris tak percaya melihat apa yang baru saja dilakukan Krum.

Menggunakan Kutukan Tak Termaafkan pada sesama rekan berarti hukuman seumur hidup di Azkaban, itu yang dikatakan Moody kepada mereka. Krum tentunya tidak menginginkan Piala Triwizard sampai separah itu… Harry bergegas.

Berkali-kali dia bertemu jalan buntu lagi, tetapi kegelapan yang semakin pekat membuatnya merasa yakin dia semakin dekat dengan pusat maze. Kemudian, ketika menyusuri jalan panjang lurus, dia melihat gerakan lagi, dan cahaya tongkatnya mengenai makhluk luar biasa, makhluk yang hanya pernah dia lihat gambarnya, di dalam Buku Monster tentang Monster.

Makhluk itu sphinx. Tubuhnya adalah tubuh singa yang ekstra-besar; dengan cakar berkuku tajam dan ekor besar kekuningan yang ujungnya berupa sejumput rambut cokelat. Tetapi kepalanya adalah kepala

perempuan. Dia mengarahkan matanya yang panjang berbentuk buah badam pada Harry sementara

Hary mendekat. Harry mengangkat tangannya, ragu-ragu. sphinx itu tidak mendekam siap menerkam, melainkan berjalan dari sisi ke sisi, menghalangi jalan Harry. Kemudian dia berbicara, dengan suara dalam dan parau.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.