Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Harry, ayo, mereka menunggumu!”

Benar-benar bingung, Harry bangkit. Mana mungkin keluarga Dursley ada di sini? Dia menyeberangi aula dan membuka pintu ruangan.

Cedric dan orangtuanya tepat di dekat pintu. Viktor Krum di salah satu sudut, mengobrol dengan ibu dan ayahnya yang berambut gelap dalam bahasa Bulgaria yang cepat. Dia mewarisi hidung bengkok

ayahnya. Di sisi lain ruangan, Fleur sedang mengoceh dalam bahasa Prancis kepada ibunya. Adik Fleur, Gabrielle, memegangi tangan ibunya. Dia melambai kepada Harry, yang membalas melambai, tersenyum.

Kemudian dia melihat Mrs Weasley dan Bill berdiri di depan perapian, tersenyum kepadanya.

“Kejutan!” kata Mrs Weasley riang, ketika Harry tersenyum lebar dan berjalan ke arah mereka. “Kami datang mau menontonmu; Harry!” Dia menunduk mengecup pipi Harry.

“Kau baik-baik saja?” kata Bill, nyengir kepada Harry dan menjabat tangannya. “Charlie sebetulnya mau datang, tetapi dia tak bisa cuti. Dia cerita kau hebat sekali waktu melawan si naga Ekor-Berduri.”

Fleur Delacour, Harry memperhatikan, mengawasi Bill dengan penuh perhatian lewat atas bahu ibunya.

Jelas bagi Harry dia sama sekali tak keberatan pada rambut panjang Bill ataupun anting-anting besar dengan taring sebagai gantungannya.

“Kalian baik sekali,” Harry bergumam kepada Mrs Weasley. “Tadi kupikir… keluarga Dursley…”

“Hmm,” kata Mrs Weasley, mengerucutkan bibirnya. Dia selalu menahan diri mengkritik keluarga Dursley di depan Harry, tetapi matanya berkilat setiap kali nama mereka disebut.

“Senang sekali kembali ke sini,” kata Bill, memandang berkeliling ruangan (Violet, teman si Nyonya Gemuk, mengedip kepadanya dari dalam piguranya). “Sudah lima tahun tidak melihat tempat ini. Apa lukisan ksatria gila itu masih ada? Sir Cadogan?”

“Oh yeah,” kata Harry, yang pernah bertemu Sir Cadogan tahun sebelumnya.

“Dan si Nyonya Gemuk?” tanya Bill.

“Dia, sudah ada waktu aku bersekolah di sini,” kata Mrs Weasley. “Dia mendampratku habis suatu malam ketika aku pulang ke asrama pukul empat pagi…”

“Ngapain Mum di luar asrama sampai pukul empat pagi?” tanya Bill, keheranan memandang ibunya.

Mrs Weasley nyengir, matanya berkilauan.

“Ayahmu dan aku jalan-jalan malam,” katanya. Dia tertangkap Apollyon Pringle dia penjaga sekolah waktu itu masih ada bekasnya pada ayahmu.”

“Mau mengantar kami berkeliling, Harry?” kata Bill.

“Yeah, baiklah,” kata Harry, dan mereka berjalan ke pintu menuju Aula Besar. Ketika mereka melewati pmos Diggory, dia menoleh.

“Nah, ini dia,” katanya, memandang Harry dari atas ke bawah.

“Pasti kau tidak sesombong dulu lagi setelah Cedric mengejar angkamu, kan?”

“Apa?” kata Harry.

“Jangan pedulikan dia,” kata Cedric dengan suara rendah kepada Harry, mengernyit kepada ayahnya.

“Dia marah terus sejak munculnya artikel Rita Skeeter tentang Turnamen Triwizard tahu kan, waktu dia menulis cuma kau juara Hogwarts-nya.”

“Dia tidak mengoreksinya, kan?” kata Amos Diggory, cukup keras untuk didengar Harry ketika dia melangkah keluar pintu bersama Mrs Weasley dan Bill. “Tunjukkan padanya, Ced. Kau pernah mengalahkan dia sekali, kan?”

“Rita Skeeter memang tukang bikin masalah, Amos!” kata Mrs Weasley marah. “Mestinya kau tahu itu, kau kan bekerja di Kementerian!”

Tampaknya Mr Diggory akan mengatakan sesuatu dengan marah, tetapi istrinya memegang lengannya, dan Mr Diggory hanya mengangkat bahu lalu berpaling.

Harry menikmati pagi yang sangat menyenangkan, berjalan di lapangan bermandi sinar mentari bersama BiB dan Mrs Weasley, menunjukkan kereta Beauxbatons dan kapal Durmstrang kepada mereka. Mrs Weasley tertarik sekali pada Dedalu Perkasa, yang ditanam setelah dia meninggalkan sekolah, dan mengenang berlama-lama pengawas binatang liar sebelum Hagrid, seorang laki-laki bernama Ogg.

“Bagaimana kabar Percy?” Harry bertanya ketik, mereka berjalan mengelilingi rumah-rumah kaca. “Tidak baik,” kata Bill.

“Dia sedang bingung sekali,” kata Mrs Weasley, merendahkan suaranya dan memandang ke sekitarnya

“Kementerian ingin menyembunyikan lenyapnya Mr Crouch, tetapi Percy berkali-kali diinterogasi soal instruksi yang selama ini dikirim Mr Crouch kepadanya. Mereka rupanya berpendapat ada kemungkinan pesan-pesan itu tidak ditulis olehnya sendiri. Percy belakangan ini stres berat. Mereka tidak mengizinkannya menggantikan Mr Crouch sebagai juri kelima malam ini. Cornelius Fudge yang akan menggantikannya.”

Mereka kembali ke kastil untuk makan siang.

“Mum… Bill!” kata Ron, tercengang, ketika-dia bergabung ke meja Gryffindor. “Kenapa kalian di sini?”

“Mau menonton Harry melaksanakan tugas terakhirnya!” kata Mrs Weasley cerah. “Harus kuakui, asyik juga sekali-sekali tidak memasak. Bagaimana ujianmu?”

“Oh… oke,” kata Ron. “Aku tak bisa ingat semua nama goblin pemberontak, jadi beberapa kukarang saja sendiri. Tidak apa-apa,” katanya, seraya mengambil bubur Cornwall, sementara Mrs Weasley memandangnya galak, “nama-namanya seperti Bodrod si Berewok dan Urg si Jorok, tidak susah kok.”

Fred, George, dan Ginny duduk bersama mereka juga, dan Harry senang sekali. Rasanya seakan dia kembali ke The Burrow. Dia telah lupa mencemaskan tugas nanti malam, dan waktu Hermione muncul, ketika mereka sudah separo-jalan makan, dia baru ingat bahwa Hermione tadi punya ide tentang Rita Skeeter.

“Apakah kau mau memberitahu kami…?”

Hermione menggeleng memperingatkan dan mengerling Mrs Weasley.

“Halo, Hermione,” kata Mrs Weasley, jauh lebih kaku daripada biasanya.

“Halo” kata Hermione, senyumnya menjadi ragu-ragu karena ekspresi dingin di wajah Mrs Weasley.

Harry memandang mereka berdua, kemudian berkata, “Mrs Weasley, Anda tidak percaya omong kosong yang ditulis Rita Skeeter di Witch Weekly, kan? Karena Hermione bukan pacar saya.”

“Oh!” kata Mrs Weasley. “Tidak… tentu saja aku tidak percaya!”

Tetapi dia menjadi jauh lebih hangat terhadap Hermione setelah itu.

Harry, Bill, dan Mrs Weasley melewatkan sore itu dengan berjalan-jalan mengelilingi kastil, dan kemudian kembali ke Aula Besar untuk pesta makan malam. Ludo Bagman dan Cornelius Fudge telah bergabung di meja guru sekarang. Bagman tampak ceria, tetapi Cornelius Fudge, yang duduk di sebelah Madame Maxime, tampak galak dan tidak bicara. Madame Maxime berkonsentrasi ke piringnya, dan matanya tampak merah. Hagrid berulang-ulang mengerling kePadanya dari seberang meja.

Ada lebih banyak jenis makanan daripada biasanya, tetapi Harry, yang mulai merasa gelisah sekarang, tidak makan banyak. Sementara langit-langit sihir di atas mulai berubah warna dari biru ke ungu gelap, Dumbledore bangkit di meja guru dan Aula Besar menjadi sunyi.

“Para ibu-bapak, anak-anak, lima menit lagi saya akan meminta kalian menuju ke lapangan Quidditch untuk menyaksikan tugas ketiga dan terakhir Turnamen Triwizard. Para juara dipersilakan mengikuti Mr Bagman untuk ke stadion sekarang.”

Harry berdiri. Anak-anak Gryffindor bertepuk untuknya. Keluarga Weasley dan Hermione semua mengucapkan semoga sukses. Harry meninggalkan Aula Besar bersama Cedric, Fleur, dan Viktor.

“Kau baik-baik saja, Harry?” Bagman menanyainya ketika mereka menuruni undakan menuju ke halaman. “Mantap?”

“Saya baik-baik saja,” kata Harry. Ada benarnya juga sih. Dia memang gelisah, tetapi ketika, sambil berjalan, mengingat-ingat semua sihir dan mantra yang telah dilatihnya, dan ternyata ingat semuanya, dia merasa lebih baik.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.