Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

biasanya. Dia membuka lipatan korannya, mengerling halaman pertamanya, dan jus labu kuning di mulutnya tersembur membasahi koran itu.

“Kenapa?” tanya Harry dan Ron bersamaan, heran menatapnya.

“Tidak apa-apa,” kata Hermione buru-buru, berusaha menyingkirkan korannya dari pandangan, tetapi Ron menyambarnya. Dia membaca kepala beritanya dan berkata, “No way. Tidak hari ini. Dasar sapi tua.”

“Apa?” tanya Harry. “Rita Skeeter lagi?”

“Tidak,” kata Ron, dan seperti Hermione, dia berusaha menyingkirkan koran itu.

“Tentang aku, kan?” ujar Harry.

“Tidak,” kata Ron, dengan suara yang sama sekali tidak meyakinkan.

Tetapi sebelum Harry meminta melihat koran it. Draco Malfoy berteriak dari meja Slytherin di seberang aula.

“Hei, Potter! Bagaimana kepalamu? Kau tak apa-apa? Yakin kau tak akan mengamuk kepada kami?”

Malfoy juga memegang Daily Prophet. Anak-anak Slytherin di meja itu terkikik dan berbalik di tempat duduk mereka ingin melihat reaksi Harry.

“Coba kulihat,” Harry berkata kepada Ron. “Berikan padaku.”

Sangat enggan, Ron menyerahkan koran itu. Harry membaliknya dan langsung berhadapan dengan fotonya sendiri, di bawah kepala berita besar:

HARRY POTTER “TERGANGGU DAN BERBAHAYA”

Anak yang mengalahkan Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut tidak stabil dan mungkin berbahaya, demikian tulis Rita Skeeter, Koresponden Khusus. Bukti-bukti mengagetkan baru-baru ini diketahui tentang sikap aneh Harry Potter, yang membuat kita meragukan apakah dia layak ikut bertanding dalam kompetisi yang berat seperti Turnamen Triwizard, atau bahkan untuk bersekolah di Hogwarts.

Potter, Daily Prophet bisa membeberkan secara eksklusif, dari waktu ke waktu pingsan di sekolah, dan sering didengar mengeluhkan rasa sakit yang menyerang bekas luka di dahinya (peninggalan kutukan yang digunakan Anda-Tahu-Siapa untuk membunuhnya). Hari Senin lalu, ketika tengah mengikuti pelajaran Ramalan, reporter Daily Prophet Anda menyaksikan Potter berlari meninggalkan kelas, menyatakan bekas lukanya sakit sekali sehingga dia tak bisa terus ikut belajar.

Ada kemungkinan, kata ahli-ahli top di St Mungo, Rumah Sakit untuk Penyakit dan Luka-luka Sihir, bahwa otak Potter rusak akibat serangan yang dilancarkan Anda-Tahu-Siapa, dan pernyataannya bahwa bekas lukanya masih sakit merupakan ekspresi kebingungannya di bawah sadar.

“Bisa saja dia euma berpura-pura,” kata seorang spesialis. “Ini bisa jadi cuma dalih agar dia mendapat perhatian.”

Kendatipun demikian, Daily Prophet berhasil mengorek fakta mencemaskan yang oleh Albus Dumbledore, Kepala Sekolah Hogwarts, selama ini disembunyikan rapat-rapat dari publik sihir.

“Potter bisa Parseltongue,” Draco Malfoy, murid kelas empat, membeberkan. “Ada banyak serangan kepada murid-murid dua tahun lalu, dan banyak anak mengira Potter di belakang semua ini setelah mereka menyaksikannya meledak march di klub duel dan melepas ular pada seorang anak. Tetapi semua ini ditutup-tutupi. Dia juga berkawan dengan manusia serigala dan raksasa. Kami berpendapat dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan sedikit kekuasaan.”

Parselmouth, kemampuan berbicara dengan ular, sudah sejak lama dianggap Ilmu Hitam. Sesungguh nya, Parselmouth paling terkenal dalam zaman kita ini tak lain dan tak bukan adalah Anda-Tahu-Siapa sendiri. Seorang anggota Liga Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang tak mau disebut namanya, menyatakan bahwa dia akan menganggap penyihir siapa pun yang bisa bicara Parseltongue layak diselidiki. Secara pribadi, “saya akan curiga sekali pada siapa pun yang bisa bicara dengan ular, karena ular seringkali digunakan dalam Ilmu Hitam yang paling mengerikan, dan menurut sejarah diasosiasikan dengan pembuat kejahatan.” Demikian juga, “siapa saja yang berteman dengan makhluk-makhluk mengerikan seperti manusia serigala dan raksasa pastilah menyukai kekejaman.”

Albus Dumbledore seharusnya mempertimbangkan, baikkah anak seperti ini diizinkan bertanding dalam Turnamen Triwizard. Beberapa mengkhawatirkan, Potter akan menggunakan Ilmu Hitam dalam

keputusasaannya untuk memenangkan turnamen, yang tugas ketiganya akan dilangsungkan sore ini.

“Melebih-lebihkan aku sedikit, ya?” kata Harry enteng, melipat kembali korannya.

Di meja Slytherin, Malfoy, Crabbe, dan Goyle menertawakannya, mengetuk-ngetuk kepala mereka dengan jari, mengeriut-ngeriutkan wajah dengan liar, dan menjulur-julurkan lidah mereka seperti ular.

“Bagaimana dia bisa tahu bekas lukamu sakit waktu pelajaran Ramalan” kata Ron. “Dia tak ada di sana, tak mungkin dia bisa mendengar…”

“Jendelanya terbuka,” kata Harry. “Aku membukanya supaya bisa bernapas.”

“Kau ada di puncak Menara Utara!” kata Hermione. “Suaramu tak mungkin terbawa sampai ke tanah!”

“Nah, kau kan yang seharusnya melakukan riset metode penyadapan secara sihir!” komentar Harry.

“Coba dong jelaskan bagaimana dia melakukannya!”

“Aku sedang berusaha!” kata Hermione. “Tetapi aku… tetapi…”

Ekspresi ganjil, seperti melamun, mendadak menyaput wajah Hermione. Perlahan dia mengangkat tangan dan menyisiri rambut dengan jarinya.

“Kau tak apa-apa?” tanya Ron, mengernyit memandangnya.

“Tidak,” kata Hermione menahan napas. Dia menyisiri rambut dengan jarinya lagi, dan kemudian mengangkat tangan ke depan mulutnya, seakan sedang bicara ke walkie-talkie yang tak kelihatan. Harry dan Ron saling pandang.

“Aku punya ide,” kata Hermione, pandangannya menerawang jauh. “Kurasa aku tahu… karena dengan begitu tak seorang pun bisa melihat… bahkan Moody pun tidak… dan dia akan bisa ke ambang jendela…

tetapi dia tak boleh… dia jelas tak boleh… kurasa rahasianya sudah ketahuan! Beri aku dua menit di perpustakaan untuk memastikannya!”

Bicara begitu, Hermione menyambar tas sekolahnya dan berlari meninggalkan Aula Besar.

“Oi!” Ron memanggilnya. “Kita ujian Sejarah Sihir sepuluh menit lagi! Astaga,” katanya, berpaling kenl bali ke Harry, “dia pasti benci sekali si Skeeter itu sampai mau mengambil risiko telat datang ke ujian.

Apa yang akan kaulakukan di kelas Binns–membaca lagi?”

Sebagai juara Triwizard, Harry dibebaskan dari mengikuti ujian akhir tahun ajaran, dan sejauh ini dia duduk di belakang dalam setiap ujian, mencari cari sihir baru untuk tugas ketiga.

“Kurasa begitu,” kata Harry kepada Ron. Tetapi saat itu Profesor McGonagall mendatanginya di meja Gryffindor.

“Potter, para juara berkumpul di ruang di sebelah aula setelah sarapan,” katanya.

“Tetapi tugasnya baru malam ini!” kata Harry, tak sengaja menumpahkan telur orak-ariknya ke bagian depan jubahnya. Harry mengira dia salah mengingat waktunya.

“Aku tahu, Potter,” kata Profesor McGonagall. “Keluarga para juara diundang untuk menonton tugas terakhir, kau tahu. Ini hanya kesempatan bagimu untuk menyambut mereka.”

Dia pergi. Harry melongo memandangnya.

“Dia tidak mengharap keluarga Dursley akan muncul, kan?” katanya bingung kepada Ron.

“Entahlah,” kata Ron. “Harry, aku sebaiknya bergegas, sudah hampir telat ke ujian Binns nih. Sampai nanti.”

Harry menyelesaikan sarapannya di Aula Besar yang semakin kosong. Dia melihat Fleur Delacour bangun dari meja Ravenclaw dan bergabung dengan Cedric kefika Cedric menyeberang ke ruang sebelah dan memasukinya: Krum berjalan membungkuk mengikuti jejak mereka tak lama kemudian. Harry tetap tinggal di tempatnya. Dia tak ingin ke ruangan itu. Dia tak punya keluarga-keluarga yang mau datang untuk menontonnya mempertaruhkan hidupnya, paling tidak. Tetapi ketika dia bangkit, berpikir dia sebaiknya ke perpustakaan dan membaca-baca tentang sihir lagi, pintu ruangan sebelah terbuka, dan Cedric menjulurkan kepalanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.