Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Pigwidgeon beterbangan riang di dalam sangkarnya, beruhu-uhu nyaring. Harry kenal baik Ron, jadi dia tahu Ron tidak serius. Dia dulu tak hentinya mengeluh tentang tikusnya, Scabbers, tetapi terpukul sekali ketika kucing Hermione, Crookshanks, dikiranya telah memakannya.

“Di mana Crookshanks?” Harry menanyai Hermione sekarang.

“Di kebun kurasa,” jawabnya. “Dia senang mengejar-ngejar jembalang. Dia tak pernah melihat jembalang sebelumnya.”

“Percy senang bekerja, rupanya?” kata Harry, seraya duduk di salah satu tempat tidur dan memandang Chudley Cannons meluncur masuk-keluar poster-poster di langit-langit.

“Senang?” kata Ron sebal. “Kurasa dia tidak akan pulang kalau tidak dipaksa Dad. Dia terobsesi. Jangan sekali-kali menyebut bosnya. Menurut Mr Crouch… seperti kukatakan kepada Mr Crouch… Mr Crouch berpendapat… Mr Crouch memberitahuku… Pertunangan mereka bisa diumumkan setiap saat.”

“Liburan musim panasmu menyenangkan, Harry?” tanya Hermione. “Kauterima kiriman makanan dari kami?”

“Yeah, terima kasih sekali,” kata Harry. “Kue-kue itu menyelamatkan hidupku.”

“Dan apakah kau sudah mendapat kabar dari…?” Ron terhenti ketika Hermione memandangnya dengan tajam. Harry tahu Ron akan bertanya tentang Sirius. Ron dan Hermione sangat terlibat dalam membantu Sirius lolos dari Kementerian Sihir sehingga keprihatinan mereka tentang Sirius sama seperti Harry. Meskipun demikian, membicarakan Sirius di depan Ginny tidaklah bijaksana. Tak ada yang tahu kecuali mereka dan Profesor Dumbledore bahwa Sirius berhasil lolos, juga tak ada yang percaya bahwa Sirius tak bersalah.

“Kurasa mereka sudah berhenti bertengkar,” kata Hermione, untuk menutupi kecanggungan, sementara Ginny penasaran, bergantian memandang Ron dan Harry. “Bagaimana kalau kita turun untuk membantu ibumu menyiapkan makan malam?”

“Yeah, baiklah,” kata mereka. Mereka berempat me-ninggalkan kamar Ron dan turun lagi. Mrs Weasley sendirian di dapur, kelihatannya marah sekali.

“Kita makan di kebun,” katanya ketika mereka muncul. “Tak cukup untuk sebelas orang di dalam sini. Anak-anak perempuan, tolong bawakan piring-piring ini keluar. Bill dan Charlie sedang memasang meja. Pisau dan garpu, kalian berdua,” katanya kepada Ron dan Harry, seraya mengacungkan tongkat sihirnya— sedikit lebih bersemangat daripada yang dimauinya— ke arah seonggok kentang di tempat cuci piring. Kentang-kentang itu lepas dari kulitnya cepat sekali sehingga beterbangan dan melenting dari dinding dan langit-langit.

“Astaga,” bentaknya, sekarang mengacungkan tongkatnya pada baskom, yang melompat dari rak dan mulai meluncur-luncur di lantai, menangkap kentangkentang itu. “Dua anak itu!” katanya jengkel, sekarang mengeluarkan panci dan wajan dari dalam lemari, dan Harry tahu yang dimaksudkannya adalah Fred dan George. “Aku tak tahu mau jadi apa mereka nanti, benar-benar tak tahu. Tak punya ambisi, kecuali kalau membuat sebanyak mungkin keributan dianggap ambisi…”

Mrs Weasley membanting panci tembaga besar di atas meja dapur dan menggoyang tongkat sihirnya memutar di dalamnya. Saus kekuningan mengucur dari ujung tongkat sementara dia mengaduk.

“Bukannya mereka tak punya otak,” dia meneruskan dengan jengkel, membawa panci itu ke atas kompor dan menyalakan kompornya dengan sentuhan tongkatnya, “tetapi mereka menyia-nyiakannya, dan kalau mereka tidak segera mengubah diri, mereka akan dapat kesulitan besar. Jumlah laporan yang dibawa burung hantu dari Hogwarts, lebih banyak daripada laporan anak-anak lain dijumlahkan bersama-sama. Kalau mereka terus begini, mereka akan dibawa ke Kantor Penggunaan Sihir yang Tidak Pada Tempatnya.”

Mrs Weasley menusukkan tongkatnya pada laci perabot, yang langsung terbuka. Harry dan Ron lang-sung melompat menghindar ketika beberapa pisau meluncur dari dalamnya, terbang melintasi dapur, dan mulai memotong-motong kentang, yang baru saja dituang kembali ke dalam tempat cuci piring oleh si baskom.

“Aku tak tahu apa salah kami terhadap mereka,” kata Mrs Weasley, menaruh tongkatnya dan mulai mengeluarkan lebih banyak panci lagi. “Selalu saja begitu selama bertahun-tahun, dan mereka tak mau mendengarkan—OH TIDAK LAGI!”

Dia telah memungut tongkatnya dari atas meja, dan tongkat itu mengeluarkan cicit keras lalu berubah menjadi tikus karet besar.

“Salah satu tongkat palsu mereka lagi!” teriaknya. “Berapa kali sudah kuberitahu mereka agar jangan menggeletakkan tongkat palsu mereka di sembarang tempat?”

Dia mengambil tongkatnya yang asli dan ketika berbalik, ternyata saus di atas kompor sudah berasap.

“Ayo,” kata Ron buru-buru kepada Harry menyambar segenggam pisau dan garpu dari dalam laci yang terbuka, “kita bantu Bill dan Charlie.”

Mereka meninggalkan Mrs Weasley dan keluar lewat pintu belakang menuju kebun.

Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, kucing jingga Hermione yang berkaki bengkok, Crookshanks, melesat dari kebun, ekor sikat-botolnya tegak ke atas, mengejar sesuatu yang tampak seperti kentang berkaki. Harry langsung mengenalinya sebagai jembalang. Dengan tinggi cuma seperempat meter, kakinya yang bertanduk bergerak sangat cepat ketika dia berlari menyeberangi kebun dan terjun ke dalam salah satu sepatu bot Wellington yang bertebaran di sekitar pintu. Harry bisa mendengar si jembalang terkikik geli ketika Crookshanks memasukkan kaki depannya ke dalam sepatu bot, berusaha meraihnya. Sementara itu, bunyi gedebuk keras datang dari sisi lain rumah. Sumber kebisingan ini baru mereka ketahui ketika mereka tiba di kebun dan melihat Bill dan Charlie mengacungkan tongkat, dan sedang membuat dua meja tua terbang tinggi di atas halaman, bertabrakan, masingmasing berusaha menjatuhkan yang lain. Fred dan George bersorak menyemangati. Ginny tertawa, dan Hermione berdiri dekat pagar tanaman, tercabik antara geli dan cemas.

Meja Bill menghantam meja Charlie dengan bunyi gubrak keras dan mematahkan salah satu kakinya. Terdengar derak dari atas, dan mereka semua mendongak. Kepala Percy terjulur keluar dari jendela di lantai dua.

“Bisa diam tidak sih?!” raungnya. “Sori, Perce,” kata Bill, nyengir. “Bagaimana kemajuan pantat kualinya?”

“Buruk sekali,” keluh Percy, dan dia membanting jendelanya. Terkekeh, Bill dan Charlie mengarahkan kedua meja dengan aman ke rumput, kedua ujung merapat, dan kemudian, dengan satu jentikan tongkatnya, Bill menempelkan kembali kaki mejanya dan menyihir taplak meja entah dari mana.

Pada pukul tujuh kedua meja sudah keberatan menyangga berpiring-piring masakan lezat Mrs Weasley, dan kesembilan Weasley, Harry, dan Hermione duduk bersiap makan di bawah langit jernih biru-gelap. Bagi orang yang cuma makan kue yang semakin hari semakin tengik, ini sungguh surga, dan awalnya Harry cuma mendengarkan, tidak ikut bicara, sementara dia mengambil pai ayam dan daging asap, kentang rebus, dan salad.

Di ujung meja, Percy menceritakan kepada ayahnya seluruh laporannya tentang dasar kuali.

“Mr Crouch sudah kuberitahu bahwa laporannya hari Selasa sudah akan selesai,” kata Percy angkuh. “Lebih awal dari dugaannya, tapi aku suka bekerja gesit. Kurasa dia akan berterima kasih aku menyelesaikannya begitu cepat. Maksudku, departemen kami saat ini luar biasa sibuknya, dengan adanya persiapan Piala Dunia. Kami tidak mendapat dukungan yang kami butuhkan dari Departemen Permainan dan Olahraga Sihir. Ludo Bagman…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.