Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

pengadilan lain.

Pintu di sudut terbuka dan Ludo Bagman masuk.

Tetapi ini bukan Ludo Bagman yang kekuatannya mulai mundur, tetapi Ludo Bagman yang sedang dalam puncak kejayaannya sebagai pemain Quidditch. Hidungnya belum patah. Dia jangkung, tegap, dan berotot. Bagman tampak gugup ketika duduk di kursi berantai, tetapi rantai itu tidak mengikatnya seperti Karkaroff, dan Bagman, mungkin mendapat semangat dari ini, mengerling para penyihir yang hadir, melambai kepada dua di antaranya, dan tersenyum sedikit.

“Ludo Bagman, kau dibawa ke sini ke hadapan Dewan Hukum Sihir sehubungan dengan tuduhan yang berkaitan dengan aktivitas Pelahap Maut,” kata Mr Crouch. “Kami telah mendengar bukti-bukti yang memberatkanmu, dan sebentar lagi akan mengambil keputusan. Apakah kau masih mau menyampaikan sesuatu sebelum keputusan dijatuhkan?”

Harry tak bisa mempercayai telinganya. Ludo Bagman, Pelahap Maut?

“Hanya,” kata Bagman, tersenyum canggung, “yah… saya tahu saya telah bertindak sedikit bodoh…”

Satu-dua penyihir di bangku yang mengelilinginya tersenyum ramah. Perasaan Mr Crouch tampaknya tidak sama dengan mereka. Dia menunduk menatap Bagman dengan sangat galak dan benci.

“Betul sekali yang kaukatakan, Nak,” ada yang bergumam kering kepada Dumbledore di belakang Harry.

Harry menoleh dan melihat Moody duduk di sana lagi. “Kalau aku tak tahu sejak dulu dia memang goblok, aku akan bilang beberapa Bludger yang menghantamnya telah merusak otaknya secara

permanen…”

“Ludovic Bagman, kau tertangkap menyampaikan informasi kepada para pendukung Lord Voldemort”

kata Mr Crouch. “Untuk ini, aku mengusulkan penahanan di Azkaban yang berlangsung tak kurang dari…”

Tetapi ada teriakan marah dari bangku-bangku di sekitarnya. Beberapa penyihir di sekeliling dinding berdiri, menggelengkan kepala, dan bahkan menggoyangkan tinju mereka, kepada Mr Crouch.

“Tetapi sudah saya katakan, saya tak tahu!” seru Bagman sungguh-sungguh mengatasi celoteh hadirin, mata birunya yang bundar melebar. “Sama sekali tak tahu! Rookwood teman ayah saya… tak pernah saya duga dia bekerja untuk Anda-Tahu-Siapa! Saya pikir saya mengumpulkan informasi untuk pihak kami! Dan Rookwood berkali-kali mengatakan akan memberi saya pekerjaan di Kementerian nantinya…

kalau karier saya di Quidditch sudah berakhir, Anda tahu… maksud saya, saya tak bisa dihantam Bludger terus sepanjang sisa hidup saya, kan?”

Hadirin terkekeh.

“Kami akan mengadakan voting,” kata Mr Crouch dingin. Dia menoleh ke sisi kanan ruang bawah tanah.

“Para juri yang menyetujui penahanan… silakan angkat tangan…”

Harry memandang ke arah kanan. Tak seorang pun mengangkat tangan. Banyak para penyihir yang duduk mengelilingi dinding mulai bertepuk tangan. Seorang juri perempuan berdiri.

“Ya?” bentak Crouch.

“Kami hanya ingin memberi selamat pada Mr Bagman atas permainannya yang bagus untuk Inggris dalam pertandingan Quidditch melawan Turki hari Sabtu lalu,” kata si penyihir wanita terengah.

Mr Crouch tampak berang. Ruang bawah tanah dipenuhi gemuruh tepuk tangan sekarang. Bagman

bangkit dan membungkuk, tersenyum.

“Memalukan,” Mr Crouch menggerutu ke arah Dumbledore seraya duduk, sementara Bagman keluar meninggalkan ruangan. “Rookwood memberinya pekerjaan… Hari Ludo Bagman bergabung dengan kami sungguh akan menjadi hari menyedihkan bagi Kementerian…”

Dan ruangan itu memudar lagi. Setelah muncul kembali, Harry memandang berkeliling. Dia dan Dumbledore masih duduk di sebelah Mr Crouch, tetapi atmosfernya sungguh sangat berbeda.

Kesenyapan ruangan hanya dipecahkan oleh isak seorang penyihir wanita yang penampilannya rapuh dan lemah, di tempat duduk di sebelah Mr Crouch. Dia menutupkan saputangan ke mulutnya dengan tangan gemetar. Harry memandang Mr Crouch. Dia tampak lebih kurus dan pucat daripada sebelumnya.

Otot di keningnya berkedut.

“Bawa mereka masuk,” katanya, dan suaranya bergaung di seluruh ruangan yang sunyi.

Pintu di sudut terbuka lagi. Enam Dementor masuk kali ini, mengapit empat orang. Harry melihat para penyihir dalam ruangan menoleh memandang Mr Crouch. Beberapa di antaranya saling bisik.

Para Dementor menempatkan masing-masing tawanan di empat kursi berantai yang sekarang berdiri di tengah ruangan. Seorang laki-laki gemuk yang menatap Crouch dengan pandangan kosong, seorang laki-laki lebih kurus dan tampak gelisah, yang matanya memandang liar ke sekeliling ruangan, perempuan dengan rambut lebat berkilau berwarna gelap dan mata berpelupuk tebal yang duduk di kursi berantai seakan kursi itu singgasana, dan seorang pemuda akhir belasan tahun, yang tampak sangat ketakutan.

Dia gemetar, rambutnya yang sewarna jerami jatuh berantakan ke wajahnya, kulitnya yang berbintik pu cat seputih susu. Penyihir wanita rapuh di sebelah Crouch mulai berguncang ke depan dan ke belakang di tempat duduknya, merintih ke dalam saputangannya.

Crouch berdiri. Dia menunduk memandang keempat penyihir di depannya, dan wajahnya dipenuhi kebencian luar biasa.

“Kalian dibawa ke hadapan Dewan Hukum Sihir ini,” katanya jelas, “agar kami bisa mengadili kalian, untuk tindak kriminal begitu mengerikan…”

“Ayah,” kata si anak berambut warna jerami. “Ayah… mohon…”

“… sehingga jarang sekali kami dengar dalam persidangan ini” kata Crouch, bicara lebih keras, menenggelamkan suara anaknya. “Kami sudah mendengar bukti-bukti yang memberatkan kalian. Kalian berempat dituduh menangkap Auror-Frank Longbottom-do menyerangnya dengan Kutukan Cruciatus, karena menganggap dia mengetahui keberadaan tuan kalian yang dalam pengasingan, Dia-yang-Namanya-TakBoleh-Disebut…”

“Ayah, saya tidak!” jerit si anak yang terantai di bawah. “Saya tidak. Saya bersumpah, Ayah, jangan kirim kembali saya kepada para Dementor…”

“Selanjutnya kalian juga dituduh,” raung Mr Crouch, “melancarkan Kutukan Cruciatus pada istri Frank Longbottom, ketika Frank tidak mau memberi informasi kepada kalian. Kalian merencanakan membuat Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut kembali berkuasa, dan meneruskan hidup penuh kekejaman yang kemungkinan telah kalian jalani sewaktu dia masih berkuasa. Sekarang aku bertanya kepada para juri…”

“Ibu!” jerit si pemuda, dan si penyihir wanita kecil di sebelah Crouch mulai terisak, berguncang ke depan dan ke belakang. “Ibu, hentikan dia, Ibu, aku tidak melakukannya, bukan aku!”

“Aku sekarang meminta para juri,” teriak Mr Crouch, “untuk mengangkat tangan kalau mereka percaya, seperti halnya aku, bahwa tindak kriminal ini layak menerima hukuman seumur hidup di Azkaban!”

Serentak, para penyihir sepanjang dinding kanan ruang bawah tanah mengangkat tangan. Para penyihir lainnya mulai bertepuk seperti yang mereka lakukan terhadap Bagman, wajah-wajah mereka penuh kemenangan ganas. Pemuda itu mulai menjerit-jerit.

“Jangan! Ibu, jangan! Aku tidak melakukannya, aku tidak melakukannya, aku tidak tahu! Jangan kirim aku ke sana, jangan biarkan dia kirim aku ke sana!”

Para Dementor melayang kembali ke dalam ruangan. Ketiga kawan si pemuda bangkit dari tempat duduk mereka. Si wanita dengan pelupuk tebal mendongak menatap Crouch dan berseru, “Pangeran Kegelapan akan bangkit lagi, Crouch! Lempar kami ke Azkaban; kami akan menunggu! Dia akan bangkit lagi dan akan datang membebaskan kami. Dia akan memberi kami penghargaan lebih daripada kepada

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.