Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry menunduk memandang laki-laki yang sekarang duduk di kursi dan melihat bahwa dia ternyata Karkaroff.

Tak seperti Dumbledore, Karkaroff tampak jauh lebih muda. Rambut dan jenggot kambingnya hitam. Dia tidak memakai jubah beludru halus, melainkan jubah compang-camping. Dia gemetar. Sementara Harry mengawasi, rantai-rantai di lengan kursi mendadak berpendar keemasan dan merayap naik ke lengan Karkaroff, mengikatnya.

“Igor Karkaroff,” kata suara kasar di sebelah kiri Harry. Harry berpaling dan melihat Mr Crouch berdiri di tengah bangku di sebelahnya. Rambut Crouch hitam, wajahnya tak banyak kerutnya, dia tampak sehat dan waspada. “Kau dibawa ke sini dari Azkaban untuk menyampaikan bukti-bukti kepada Kementerian Sihir. Kau mengatakan bahwa kau punya informasi penting untuk kami.”

Karkaroff menegakkan diri sebisa mungkin, terikat erat ke kursinya.

“Betul, Sir,” katanya, dan kendatipun suaranya sangat ketakutan, Harry masih bisa mendengar nada bermanis-manis yang dikenalnya. “Saya ingin berguna untuk Kementerian. Saya ingin membantu… saya tahu Kementerian sedang berusaha menggulung sisa-sisa pendukung Pangeran Kegelapan. Saya ingin membantu sebisa saya…”

Terdengar gumaman di seluruh bangku. Beberapa penyihir mengawasi Karkaroff dengan tertarik, beberapa lainnya dengan ketidakpercayaan yang kentara. Kemudian Harry mendengar, cukup jelas, dari sisi lain Dumbledore, suara geram yang dikenalnya berkata, “Sampah.”

Harry membungkuk agar bisa melihat melewati Dumbledore. Mad-Eye Moody duduk di situ hanya saja penampilannya jelas berbeda. Dia tak punya mata gaib. Kedua matanya normal. Kedua mata itu menatap Karkaroff, dan dua-duanya menyipit dalam kebencian yang sangat.

“Crouch akan melepaskannya,” Moody berbisik pelan kepada Dumbledore. “Dia sudah membuat kesepakatan dengannya. Perlu enam bulan bagiku untuk melacaknya dan Crouch akan melepasnya kalau dia punya cukup banyak informasi. Kita dengarkan saja informasinya, menurutku, dan kirim kembali dia kepada para Dementor.”

Dumbledore mengeluarkan dengus tak setuju dari hidungnya yang panjang dan bengkok.

“Ah, aku lupa… kau tak suka Dementor, kan, Albus?” kata Moody tersenyum sinis.

“Tidak,” jawab Dumbledore tenang. “Aku tak suka mereka. Sudah lama aku merasa Kementerian keliru bekerja sama dengan makhluk seperti itu.”

“Tetapi untuk sampah masyarakat macam iniā€¦” kata Moody pelan.

“Katamu kau punya nama-nama untuk kami, Karkaroff,” kata Mr Crouch. “Coba sebutkan.”

“Anda harus paham,” kata Karkaroff buru-buru, “bahwa Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut selalu beroperasi dengan sangat rahasia… Dia lebih suka kalau kami-maksud saya, para pendukungnya-dan saya menyesal sekarang, sangat menyesal, bahwa saya pernah menjadi salah satu dari mereka…”

“Ayo teruskan,” cemooh Moody.

“Kami tak pernah tahu nama semua teman kami… Hanya dia sendiri yang tahu persis siapa saja kami…”

“Sikap yang bijaksana, kan, karena bisa mencegah orang seperti kau, Karkaroff, menyerahkan mereka semua,” gumam Moody.

“Tetapi kau bilang kau punya beberapa nama untuk kami?” kata Mr Crouch.

“Be …betul,” kata Karkaroff menahan napas. “Dan ini nama-nama pendukung yang penting. Orang yang saya lihat dengan mata saya sendiri melakukan perintahnya. Saya memberikan informasi ini sebagai tanda bahwa saya benar-benar meninggalkannya, dan saya dipenuhi penyesalan yang begitu mendalam sehingga saya nyaris tak bisa…”

“Dan siapa saja nama itu?” tukas Mr Crouch tajam.

Karkaroff menarik napas dalam-dalam.

“Ada Antonin Dolohov,” katanya. “Saya… saya melihatnya menyiksa Muggle tak terhitung banyaknya dan… dan mereka yang tidak mendukung Pangeran Kegelapan.”

“Dan membantunya,” gumam Moody.

“Kami sudah menahan Dolohov,” kata Crouch, “Dia ditangkap tak lama setelah kau.”

“Begitu?” kata Karkaroff, matanya melebar. “Say…. saya senang mendengarnya!”

Tetapi dia tidak tampak senang. Harry bisa melihat bahwa berita ini merupakan pukulan berat baginya.

Salah satu namanya tak berguna.

“Ada yang lain?” tanya Crouch dingin.

“Ya, ada… Rosier,” kata Karkaroff buru-buru. “Evan Rosier.”

“Rosier sudah mati,” kata Crouch. “Dia ditangkap tak lama sesudah kau juga. Dia lebih suka melawan daripada ikut dengan patuh dan terbunuh dalam perkelahian.”

“Membawa sebagian mukaku, tapi,” bisik Moody di sebelah kanan Harry. Harry memandangnya sekali lagi, dan melihatnya menunjuk hidungnya yang gerowong kepada Dumbledore.

“Memang… memang pantas diterima Rosier!” kata Karkaroff, nadanya benar-benar panik sekarang.

Harry bisa melihat dia mulai khawatir bahwa tak satu pun informasinya berguna bagi Kementerian. Mata Karkaroff melayang ke pintu di sudut. Di belakang pintu itu para Dementor tak diragukan lagi masih berdiri menunggu.

“Ada lagi?” kata Crouch.

“Ya!” kata Karkaroff. “Ada… Travers–dia membantu membunuh keluarga McKinnon! Mulciber–

spesialisasinya Kutukan Imperius, memaksa banyak orang untuk melakukan hal-hal mengerikan!

Rookwood, dia mata-mata dan menyampaikan informasi berguna kepada Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut dari dalam Kementerian”

Kali ini Karkaroff beruntung. Para penyihir yang hadir saling berbisik.

“Rookwood?” kata Mr Crouch, mengangguk kepada penyihir wanita yang duduk di depannya, yang mulai di atas secarik perkamennya. “Augustus Rookwood dari Departemen Misteri?”

“Betul,” kata Karkaroff bersemangat. “Saya rasa dia menggunakan jaringan para penyihir yang ditempatkan secara strategis, baik di dalam maupun di luar Kementerian, untuk mengumpulkan informasi…”

“Tetapi Travers dan Mulciber kami sudah tahu,” kata Mr Crouch. “Baiklah, Karkaroff, kalau sudah semua, kau akan dikembalikan ke Azkaban sementara kami memutuskan…”

“Belum!” jerit Karkaroff, tampak putus asa. “Tunggu, masih ada lagi!”

Dia tampak berkeringat di bawah cahaya obor. Kulitnya yang putih kontras sekali dengan rambut dan jenggotnya yang hitam.

“Snape!” dia berteriak. “Severus Snape!”

“Snape sudah dinyatakan bersih oleh sidang ini,” kata Crouch dingin. “Albus Dumbledore telah menjaminnya.”

“Tidak!” teriak Karkaroff, bergerak sampai rantai yang mengikatnya ke kursi meregang. “Saya berani pastikan! Severus Snape Pelahap Maut!”

Dumbledore telah berdiri. “Saya sudah memberikan bukti-bukti untuk masalah ini,” katanya tenang.

“Severus Snape memang dulunya Pelahap Maut.

“Meskipun demikian, dia bergabung ke pihak kita sebelum kejatuhan Lord Voldemort dan menjadi mata-mata untuk kita, dengan risiko yang sangat besar. Sekarang dia bukan lagi Pelahap Maut.”

Harry berpaling untuk melihat Mad-Eye Moody, Di belakang punggung Dumbledore wajahnya dipenuhi keraguan.

“Baiklah, Karkaroff,” kata Crouch dingin, “kau telah membantu. Aku akan meninjau kembali kasusmu.

Kau sementara ini akan kembali ke Azkaban…”

Suara Mr Crouch menjadi sayup-sayup. Harry memandang berkeliling. Ruang bawah tanah itu membuyar seakan terbuat dari asap. Segalanya memudar. Dia hanya bisa melihat tubuhnya sendiri-segala yang lain hanyalah pusaran kegelapan…

Dan kemudian ruang bawah tanah muncul lagi. Harry duduk di bangku yang lain, masih di bangku yang paling tinggi, tetapi sekarang di sebelah kiri Mr Crouch. Atmosfernya cukup berbeda: rileks, bahkan menyenangkan. Para penyihir pria dan wanita di sepanjang dinding saling mengobrol, seakan mereka sedang menonton pertandingan olahraga. Seorang penyihir wanita di tengah deretan bangku menarik perhatian Harry. Rambutnya pirang pendek, memakai jubah merah keunguan, dan mengisap ujung pena bulu berwarna hijau-cuka. Dia, tak salah lagi, Rita Skeeter yang masih muda. Harry memandang berkeliling. Dumbledore duduk di sebelahnya lagi, memakai jubah berbeda. Mr Crouch tampak lebih lelah dan lebih galak, lebih kurus dan cekung… Harry paham. Itu memori yang lain, hari yang lain…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.