Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Tentu saja tidak!” kata Profesor Trelawney, tampak sangat bergairah. Matanya yang besar menatap Harry tajam-tajam. “Apa yang kaualami, Potter? Pertanda? Penampakan? Apa yang kaulihat?”

“Tidak ada,” Harry berbohong. Dia duduk. Dia bisa merasa tubuhnya gemetar. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak memandang berkeliling, ke dalam keremangan di belakangnya. Suara Voldemort tadi kedengarannya dekat sekali…

“Kau tadi memegangi bekas lukamu!” kata Profesor Trelawney. “Kau berguling-guling di lantai, memegangi bekas lukamu! Ayolah, Potter, aku sudah berpengalaman dalam hal-hal seperti ini!”

Harry menengadah menatapnya.

“Saya perlu ke rumah sakit, saya rasa,” katanya. “Kepala saya pusing sekali.”

“Nak, kau jelas terstimulasi oleh vibrasi pertenungan yang luar biasa di dalam kelasku!” kata Profesor Trelawney. “Kalau kau pergi sekarang, kau mungkin kehilangan kesempatan untuk melihat lebih jauh daripada yang pernah…”

“Saya tak ingin melihat apa pun selain obat pusing,” kata Harry.

Dia berdiri. Teman-temannya mundur. Mereka semua tampak bingung dan ngeri.

“Sampai nanti,” Harry bergumam kepada Ron, lalu dia mengangkat tasnya dan menuju pintu tingkap, mengabaikan Profesor Trelawney yang tampaknya frustrasi sekali, seakan kesenangan besarnya baru saja dirampas.

Setiba di kaki tangga, Harry tidak menuju ke rumah sakit. Dia tak bermaksud ke sana sama sekali. Sirius sudah memberitahunya apa yang harus dilakukan jika bekas lukanya sakit lagi, dan Harry akan mematuhi nasihatnya. Dia akan langsung ke kantor Dumbledore. Dia berjalan menyusur koridor, memikirkan apa yang telah dilihatnya dalam mimpinya… sama jelasnya dengan yang pernah membuatnya terbangun di Privet Drive… Dia mengulangi semua detailnya dalam pikirannya, berusaha memastikan dia bisa mengingatnya… Dia telah mendengar Voldemort menuduh Wormtail membuat kesalahan besar… tetapi burung hantu telah membawa kabar baik, kesalahan itu telah diperbaiki, ada yang telah mati. Maka Wormtail tidak jadi diumpankan kepada si ular… dia, Harry, yang akan diumpankan sebagai gantinya…

Harry telah melewati gargoyle batu yang menjaga pintu masuk ke kantor Dumbledore tanpa

memperhatikannya. Dia mengejap, memandang berkeliling, menyadari apa yang telah dilakukannya, dan berjalan baik, berhenti di depan gargoyle. Kemudian dia ingat dia tidak tahu kata kuncinya.

“permen jeruk?” ujarnya coba-coba.

Si gargoyle tidak bergerak.

“Oke, kata Harry, memandangnya. “Tetes mutiara. Er,.. Tongkat Loll Pedas. Kumbang Berdesing. Permen Karet Tiup Paling Hebat Drooble. Kacang Segala Rasa Bertie Bott… oh tidak, dia tidak menyukai permen-permen itu, kan? … Oh, buka saja kenapa sih?” katanya marah. “Aku betul-betul perlu ketemu dia, penting sekali!”

Si gargoyle tetap bergeming.

Harry menendangnya, tak mendapatkan hasil apapun kecuali jempol kakinya jadi sakit sekali.

“Cokelat Kodok!” dia berteriak marah, berdiri di atas satu kaki. “Pena Bulu Gula! Kerumunan Kecoak!”

Si gargoyle tiba-tiba hidup dan melompat menepi. Harry mengejap.

“Kerumunan Kecoak?” katanya, terpana. “Padahal aku cuma bergurau lho…”

Dia bergegas melewati celah di dinding dan melangkah ke kaki tangga batu spiral, yang bergerak pelan ke atas sementara pintu menutup di belakangnya, membawanya ke pintu ek berpelitur dengan pengetuk dari kuningan.

Dia bisa mendengar suara-suara dari dalam kantor. Dia melangkah dari tangga yang bergerak dan ragu-ragu, mendengarkan.

“Dumbledore, aku tak melihat hubungannya, sama sekali tidak!” terdengar suara Menteri Sihir, Cornelius Fudge. “Ludo mengatakan orang seperti Bertha gampang sekali tersesat. Aku setuju mestinya kita sudah menemukan dia sekarang, tetapi kita toh tidak mendapatkan bukti-bukti permainan kotor, Dumbledore, sama sekali tidak. Tetapi kalau lenyapnya dia dihubung-hubungkan dengan lenyapnya Barty Crouch… !”

“Dan menurut Anda apa yang terjadi pada Barty Crouch, Pak Menteri?” terdengar suara menggeram Moody.

“Aku melihat dua kemungkinan, Alastor,” kata Fudge. “Yang pertama, Crouch akhirnya ambruk ini mungkin sekali, aku yakin kalian setuju, mengingat riwayat pribadinya hilang akal, dan pergi ke suatu tempat…”

“Perginya cepat sekali, kalau begitu, Cornelius,” kata Dumbledore kalem.

“Atau kalau tidak… yah…” Fudge kedengarannya malu. “Aku tak akan melontarkan tuduhan sampai sesudah aku melihat di mana dia ditemukan, tetapi menurutmu tak jauh dari kereta Beauxbatons?

Dumbledore, kau tahu perempuan seperti apa dia?”

“Aku menganggapnya kepala sekolah yang sangat andal dan penari yang hebat,” kata Dumbledore tenang.

“Dumbledore, akui saja!” kata Fudge. “Apakah menurutmu kau tidak melindunginya demi Hagrid? Tidak semua dari mereka tak berbahaya… kalau kau bisa menganggap Hagrid tak berbahaya, dengan

kegemarannya akan monster…”

“Aku tidak mencurigai Madame Maxime maupun Hagrid,” kata Dumbledore, sama kalemnya. “Kurasa kaulah yang berprasangka, Cornelius.”

“Bisakah kita mengakhiri diskusi ini?” geram Moody.

“Ya, ya, mari kita ke tempat itu kalau begitu,” kata Fudge tak sabar.

“Tidak, bukan karena itu,” kata Moody. “Hanya saja potter ingin bicara denganmu, Dumbledore. Dia ada di depan pintu.”

 

Bab 30

PENSIEVE

PINTU kantor terbuka.

“Halo, Potter,” sapa Moody. “Masuklah.”

Harry melangkah masuk. Dia pernah berada dalam kantor Dumbledore sekali sebelum ini. Kantor itu berupa ruangan bundar yang sangat indah. Di dinding berderet lukisan para mantan Kepala Sekolah Hogwarts, semuanya sedang tidur nyenyak, dada mereka naik-turun dengan lembut.

Cornelius Fudge berdiri di sebelah meja Dumbledore, memakai mantel bergarisnya yang biasa dan memegangi topinya yang berwarna hijau-lemon.

“Harry!” sapa Fudge riang, menyongsongnya. “Apa kabar?”

“Baik,” Harry berbohong.

“Kami baru saja membicarakan tentang malam ketika Mr Crouch muncul di halaman sekolah ini,” kata Fudge. “Kau kan yang menemukannya?”

“Ya” kata Harry. Kemudian, merasa tak ada gunanya berpura-pura dia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, dia menambahkan, “Tetapi saya tidak melihat Madame Maxime sama sekali, dan dia akan sulit menyembunyikan diri, kan?”

Dumbledore tersenyum kepada Harry di belakang punggung Fudge, matanya berkilau.

“ya, sudahlah,” kata Fudge, tampak malu, “kami baru akan berjalan-jalan sebentar di luar, Harry, maafkan… mungkin kau sebaiknya kembali ke kelasmu…”

“Saya ingin bicara kepada Anda, Profesor,” kata Harry buru-buru, memandang Dumbledore, yang balas menatapnya penuh selidik.

“Tunggu di sini, Harry,” katanya. “Pemeriksaan lapangan yang akan kami lakukan tidak lama.”

Mereka berjalan beriringan, tanpa bicara melewatinya, dan menutup pintu. Setelah kira-kira semenit, Harry mendengar tak-tok kaki kayu Moody semakin samar di koridor di bawah. Dia memandang

berkeliling.

“Halo, Fawkes,” katanya.

Fawkes, burung phoenix Profesor Dumbledore, berdiri di tempat hinggapnya yang keemasan di samping pintu. Seukuran angsa, dengan bulu indah berwarna merah dan emas, dia mengibaskan ekornya yang panjang dan mengedip ramah kepada Harry.

Harry duduk di kursi di depan meja Dumbledore. Selama beberapa menit dia mengawasi para mantan kepala sekolah, pria dan wanita, tidur dalam pigura mereka, memikirkan apa yang baru saja

didengarnya, dan meraba bekas lukanya. Bekas luka itu sekarang tidak sakit lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.