Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Bukankah dia juri?” kata Krum, memandang Mr Crouch. “Bukankah dia orang Kementerian Sihir-mu?”

Harry mengangguk, sangsi sejenak, kemudian berjalan pelan mendekati Mr Crouch, yang tidak

memandangnya, melainkan terns bicara kepada pohon di dekatnya.

“… dan kalau kau sudah selesai, Weatherby, kirim burung hantu ke Dumbledore, menegaskan jumlah murid-murid Durmstrang yang akan menghadiri turnamen. Karkaroff baru saja kirim kabar jumlahnya dua belas…”

“Mr Crouch?” panggil Harry hati-hati.

“… lalu kirim burung hantu lain ke Madame Maxime, karena dia mungkin ingin menambah jumlah lurid yang akan dibawanya, setelah Karkaroff mengajak dua betas… kerjakan itu, Weatherby, ya? Ya? Ya…”

Mata Mr Crouch melotot. Dia berdiri memandang pohon, bergumam tanpa suara kepadanya. Kemudian dia terhuyung miring dan jatuh berlutut.

“Mr Crouch?” Harry berkata keras. “Anda tidak apa-apa?”

Mata Crouch berputar terbeliak. Harry menoleh menatap Krum, yang sudah mengikutinya ke pohon dan menunduk memandang Mr Crouch dengan ketakutan.

“Kenapa dia?”

“Entahlah,” gumam Harry. “Dengar, lebih baik kau memanggil seseorang…”

“Dumbledore!” sengal Mr Crouch. Tangannya terjulur mencengkeram jubah Harry, menariknya lebih dekat, meskipun matanya menatap ke atas kepala Harry. “Aku perlu… ketemu… Dumbledore…”

“Baiklah,” kata Harry, “kalau Anda bangun, Mr Crouch, kita bisa ke…”

“Aku telah… berbuat…bodoh….” desah Mr Crouch. Dia tampak seperti orang gila. Matanya terbeliak, berputar-putar, liurnya mengalir ke dagunya. Setiap kata diucapkannya dengan susah payah. “Harus…

kasih… tahu… Dumbledore…”

“Bangun, Mr Crouch,” kata Harry keras dan jelas.

“Bangun, saya akan membawa Anda ke Dumbledore!” Mata Mr Crouch sekarang berputar memandang Harry.

“Siapa… kau?” bisiknya.

“Saya murid sekolah ini,” kata Harry, berpaling kepada Krum minta bantuan, tetapi Krum menjauh, tampak sangat cemas.

“Kau bukan… pengikutnya?” bisik Crouch, mulutnya menganga.

“Bukan,” kata Harry, tanpa memahami sedikit pun apa yang sedang dibicarakan Crouch.

“Murid Dumbledore?”

“Betul” kata Harry.

Crouch menariknya semakin dekat. Harry berusaha melepaskan tangan Crouch dana jubahnya, tetapi cengkeramannya terlalu kuat.

“Peringatkan… Dumbledore…”

“Saya akan memanggil Dumbledore jika Anda melepaskan saya, kata Harry. “Lepaskan, Mr Crouch, nanti saya panggilkan dia…”

“Terima kasih, Weatherby, dan kalau sudah selesai, aku ingin secangkir teh. Istri dan anakku akan segera datang. Kami akan menonton konser malam ini, dengan Mr dan Mrs Fudge.”, Crouch sekarang berbicara lancar kepada pohon lagi, dan tampaknya sama sekali tak sadar akan kehadiran Harry. Saking tercengangnya, Harry tak sadar Crouch telah melepaskannya. “Ya, anakku baru-baru ini memperoleh dua belas OWL, sangat memuaskan, ya, terima kasih, ya, sungguh bangga sekali. Nah, kalau kau ambilkan memo dari Menteri Sihir Andorra, kurasa aku masih punya waktu untuk membuat konsep jawabannya…”

“Kau tunggu di sini bersamanya!” Harry berkata kepada Krum. “Aku akan memanggil Dumbledore. Aku akan lebih cepat, aku tahu di mana kantornya…”

“Dia gila,” kata Krum sangsi, menunduk memandang Crouch, yang masih mengoceh kepada pohon, rupanya yakin pohon itu Percy.

“Tunggui dia,” kata Harry, mulai berdiri, tetapi gerakannya rupanya menyebabkan perubahan mendadak dalam diri Mr Crouch, yang menyambar memeluk lutut Harry dan menariknya ke tanah lagi.

“Jangan… tinggalkan… aku!” dia berbisik, matanya melotot lagi. “Aku… kabur… harus… beritahu…

ketemu Dumbledore… salahku… semua salahku Bertha… mati… semua salahku… anakku… salahku, beritahu Dumbledore… Harry Potter… Pangeran Kegelapan… lebih kuat… Harry Potter…”

“Saya akan memanggil Dumbledore jika Anda melepaskan saya, Mr Crouch!” kata Harry. Dia berpaling jengkel kepada Krum. “Bantu aku dong!”

Tampak sangat ketakutan, Krum maju dan berlutut di sebelah Mr Crouch.

“Jaga dia tetap di sini,” kata Harry, menarik lepas dirinya dari Mr Crouch. “Aku akan kembali bersama Dumbledore.”

“Cepat, ya!” teriak Krum ketika Harry berlari meninggalkan hutan menuju lapangan gelap. Tak seorang pun tampak. Bagman, Cedric, dan Fleur sudah menghilang. Harry berlari menaiki undakan batu, melewati pintu ek, dan menaiki tangga pualam ke lantai dua.

Lima menit kemudian dia melesat menuju gargoyle batu yang berdiri di tengah koridor kosong.

“Per-permen jeruk!” katanya tersengal kepada si gargoyle.

Ini adalah kata kunci untuk tangga tersembunyi menuju ke kantor Dumbledore paling tidak, itu kata kuncinya dua tahun lalu. Tetapi kata kuncinya terbukti telah berganti, karena gargoyle itu tidak jadi hidup dan melompat ke tepi, melainkan tetap berdiri membeku, memandang galak pada Harry.

“Minggir!” Harry berteriak kepadanya. “Ayo!”

Tetapi di Hogwarts tak ada benda yang bergerak hanya karena dia berteriak kepadanya. Harry tahu percuma saja. Dia memandang ke kanan-kiri koridor yang kosong. Mungkin Dumbledore ada di ruang guru? Dia berlari secepat kilat ke tangga…

“POTTER!”

Harry mengerem larinya dan berpaling. Snape baru saja muncul dari tangga tersembunyi di belakang gargoyle batu. Dindingnya menggeser menutup sementara dia memberi isyarat agar Harry kembali dan datang kepadanya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Potter?”

“Saya perlu bertemu Profesor Dumbledore!” kata Harry, berlari kembali sepanjang koridor dan berhenti di depan Snape. “Mr Crouch… dia baru saja muncul… dia di hutan… dia ingin bertemu…”

“Omong kosong apa ini?” tanya Snape, mata hitamnya berkilat-kilat. “Apa yang kaubicarakan?”

“Mr Crouch!” Harry berteriak. “Dari Kementerian! Dia sakit atau entah kenapa… dia di hutan, ingin bertemu Dumbledore! Tolong berikan kata kunci untuk…”

“Kepala Sekolah sibuk, Potter,” kata Snape, bibir tipisnya melengkung membentuk senyum menyebalkan.

“Saya harus memberitahu Dumbledore!” Harry berteriak.

“Kau tidak mendengarku, Potter?”

Harry bisa melihat Snape sangat menikmati ini, mencegah Harry mendapatkan apa yang diinginkannya pada saat dia sangat panik.

“Dengar” kata Harry marah. “Ada yang tidak beres dengan Crouch… dia… dia kehilangan ingatan… dia mengatakan dia ingin memperingatkan…”

Dinding batu di belakang Snape menggeser terbuka. Dumbledore berdiri di sana, memakai jubah panjang hijau, wajahnya menunjukkan ekspresi agak ingin tahu.

“Ada masalah?” katanya, memandang Harry dan Snape bergantian.

“Profesor!” Harry berkata, melangkah melewati samping Snape, sebelum Snape bisa berkata apa-apa.

“Mr Crouch di sini… dia di hutan, dia ingin bicara kepada Anda!”

Harry mengira Dumbledore akan mengajukan pertanyaan, tetapi sungguh lega dia, Dumbledore tidak bertanya apa-apa. “Tunjukkan,” katanya segera, dan dia bergegas menyusur koridor di belakang Harry, meninggalkan Snape berdiri di sebelah gargoyle, tampangnya dua kali lebih jelek daripada si gargoyle.

“Apa yang dikatakan Mr Crouch, Harry?” kata Dumbledore ketika mereka menuruni tangga pualam dengan cepat.

“Katanya dia ingin memperingatkan Anda… katanya dia telah melakukan hal yang sangat mengerikan..

dia menyebut-nyebut anaknya… dan Bertha Jorkins… dan… dan Voldemort… sesuatu tentang Voldemort yang bertambah kuat…”

“Begitu,” kata Dumbledore, dan dia mempercepat langkahnya ketika mereka bergegas memasuki malam yang gelap gulita.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.