Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Surat Percy pendek dan bernada jengkel.

Seperti selalu kukatakan pada Daily Prophet, Mr Crouch sedang beristirahat yang sudah selayaknya dilakukannya. Dia secara teratur mengirim instruksi lewat burung hantu. Tidak, aku tidak melihatnya, tetapi kurasa aku bisa dipercaya mengenali tulisan atasanku sendiri. Pekerjaanku cukup banyak saat ini tanpa harus meredam desas-desus konyol ini. Jangan mengganggu aku lagi kecuali kalau ada hal penting sekali. Selamat Paskah.

Awal musim panas biasanya berarti Harry berlatih untuk pertandingan Quidditch terakhir musim itu.

Namun tahun ini, untuk menghadapi tugas ketiga dan terakhir Turnamen Triwizard-lah dia harus bersiap diri, tetapi dia belum tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, pada minggu terakhir bulan Mei, Profesor McGonagall menyuruhnya tinggal sesudah Transfigurasi.

“Kau diminta pergi ke lapangan Quidditch pukul sembilan malam ini, Potter,” katanya memberitahu Harry. “Mr Bagman akan berada di sana untuk memberitahu para juara apa tugas ketiga mereka.”

Maka pada pukul setengah sembilan malam itu, Harry meninggalkan Ron dan Hermione di Menara Gryffindor dan turun. Saat menyeberangi Aula Depan, Cedric muncul dari ruang rekreasi Hufflepuff.

“Menurutmu apa ya tugasnya?” dia bertanya kepada Harry ketika mereka bersama menuruni undakan batu, memasuki malam yang berkabut. “Fleur terus-menerus bilang tentang lorong bawah tanah. Dia menduga kita harus mencari harta.”

“Tak terlalu buruk,” kata Harry, berpikir dia akan minta Niffler pada Hagrid untuk melakukan tugas itu baginya.

Mereka melewati lapangan rumput gelap menuju ke stadion Quidditch, berbelok masuk ke celah di antara deretan tempat duduk, dan masuk ke lapangan.

“Mereka apakan lapangannya?” Cedric bertanya marah, terhenti kaget.

Lapangan Quidditch tak lagi halus dan rata. Tampaknya ada orang yang telah membangun tembok panjang rendah di sekelilingnya, dan tembok itu berbelok serta bersilang ke segala arah.

“Ini pagar tanaman!” kata Harry, membungkuk untuk memeriksa tembok yang paling dekat.

“Halo!” terdengar suara amat riang.

Ludo Bagman berdiri di tengah lapangan bersama Krum dan Fleur. Harry dan Cedric mendatangi, melompati pagar-pagar. Fleur tersenyum kepada Harry ketika dia sudah dekat. Sikapnya terhadap Harry berubah total sejak Harry menyelamatkan adiknya dari danau.

“Nah, bagaimana pendapat kalian?” kata Bagman gembira ketika Harry dan Cedric melompati pagar terakhir. “Tumbuh subur, kan? Tunggu sebulan lagi dan Hagrid akan membuatnya tumbuh setinggi enam meter. Jangan khawatir,” dia menambahkan, nyengir, melihat ekspresi wajah Harry dan Cedric yang tidak senang, “lapangan Quidditch kalian akan kembali normal setelah tugas ini dilaksanakan! Nah, kurasa kalian sudah bisa menebak apa yang sedang kami buat di sini?”

Sesaat tak ada yang bicara. Kemudian…

“Maze,” gerutu Krum. Maze atau taman labirin adalah jaringan jalan yang amat ruwet.

“Betul!” kata Bagman. “Maze. Tugas ketiga sebetulnya sangat jelas. Piala Triwizard akan diletakkan di tengah maze. Juara yang pertama menyentuhnya akan mendapat nilai penuh.”

“Kami cuma harus melewati maze?” tanya Fleur.

“Akan ada rintangan-rintangan,” kata Bagman, berjingkat senang pada tumitnya. “Hagrid menyiapkan beberapa makhluk… ada sihir yang harus dipunahkan… hal-hal semacam itu, kalian tahu. Nah, juara yang angkanya paling tinggi mendapat kesempatan masuk lebih dulu ke dalam maze.” Bagman tersenyum kepada Harry dan Cedric. “Disusul Mr Krum… kemudian Miss Delacour. Tetapi kalian akan punya kesempatan yang sama, tergantung bagaimana kalian menangani rintangan-rintangannya. Asyik sekali, eh?”

Harry, yang tahu betul makhluk-makhluk seperti apa yang akan disediakan Hagrid untuk acara seperti ini, merasa sama sekali tak asyik. Meskipun demikian, dia mengangguk sopan seperti juara-juara lainnya.

“Baiklah… kalau kalian tak punya pertanyaan, kita akan kembali ke kastil. Ayo, agak dingin…”

Bagman bergegas merendengi Harry ketika mereka mulai meninggalkan maze. Harry punya perasaan Bagman akan mulai menawarkan bantuan lagi, tetapi saat itu Krum mengetuk bahu Harry.

“Boleh aku bicara?”

“Yeah, baiklah,” kata Harry, agak heran. “Maukah kau jalan bersamaku?”

“Oke” kata Harry ingin tahu.

Bagman tampak agak gelisah.

“Kutunggu kau, Harry?”

“Tidak usah, tak apa-apa, Mr Bagman,” kata Harry, menahan senyum. “Saya rasa saya bisa menemukan kastil sendiri, terima kasih.”

Harry dan Krum meninggalkan stadion bersama-sama, tetapi Krum tidak berjalan ke arah kapal Durmstrang. Sebaliknya malah, dia berjalan ke arah Hutan Terlarang.

“Kenapa kita ke sini?” tanya Harry ketika mereka melewati pondok Hagrid dan kereta Beauxbatons yang terang.

“Supaya tak ada yang dengar,” jawab Krum singkat.

Ketika akhirnya mereka tiba di petak tanah yang sunyi senyap tak jauh dari lapangan tempat kuda-kuda Beauxbatons merumput, Krum berhenti di keremangan pepohonan dan berbalik menghadapi Harry.

“Aku ingin tahu,” katanya menatap tajam Harry, “ada apa di antara kau dan Herm-ayon-nini.”

Harry yang melihat sikap Krum yang serba rahasia, menduga dia akan mendengar sesuatu yang jauh lebih serius dari ini terperangah memandang Krum.

“Tidak ada apa-apa,” katanya. Tetapi Krum memandangnya galak, dan Harry, yang mendadak menyadari betapa jangkungnya Krum, menjelaskan, “Kami berteman. Dia bukan pacarku dan belum pernah jadi Pacarku. Itu cuma rekaan si Skeeter.”

“Herm-ayon-nini sering sekali bicara tentang kau,” kata Krum, memandang Harry curiga.

“Yeah,” kata Harry, “karena kami berteman.”

Dia nyaris tak percaya dia mengobrol begini dengan Viktor Krum, pemain Quidditch internasional yang terkenal. Seakan Krum yang berusia delapan belas tahun menganggap dia, Harry, sederajat dengannya, rival yang sesungguhnya…

“Kau belum pernah… kau tidak…”

“Tidak,” kata Harry sangat tegas.

Krum tampak sedikit lebih senang. Dia memandang Harry beberapa detik, kemudian berkata, “Kau terbang hebat sekali. Aku menontonmu waktu tugas pertama.”

“Terima kasih,” kata Harry, nyengir lebar dan mendadak merasa dirinya jauh lebih jangkung. “Aku menontonmu waktu Piala Dunia Quidditch. Gerakan Wronski Feint, kau sungguh…”

Tetapi ada yang bergerak di pepohonan di belakang Krum, dan Harry, yang sudah punya pengalaman dengan apa saja yang bersembunyi di dalam Hutan Terlarang, secara refleks menyambar lengan Krum dan menariknya.

“Ada apa?”

Harry menggeleng, memandang tempat di mana tadi dia melihat gerakan. Dia menyelipkan tangan ke dalam jubahnya, memegang tongkat sihirnya.

Tiba-tiba seorang laki-laki terhuyung keluar dari batik pohon ek tinggi. Sesaat Harry tidak mengenalinya… kemudian dia sadar itu Mr Crouch.

Penampilannya seakan dia telah bepergian selama berhari-hari. Jubahnya robek di bagian lututnya dan berdarah, wajahnya tergores-gores. Dia tak bercukur dan pucat kelelahan. Rambut dan kumisnya, yang biasanya rapi, perlu dikeramas dan dicukur. Tetapi penampilannya yang ganjil ini bukan apa-apa dibanding tingkahnya. Bergumam dan menggerak-gerakkan tangan, Mr Crouch kelihatannya sedang bicara dengan orang yang hanya bisa dilihatnya sendiri. Harry jadi ingat gelandangan tua yang pernah dilihatnya ketika dia sedang berbelanja bersama keluarga pursley. Orang itu juga mengobrol seru dengan udara kosong. Bibi Petunia langsung menarik tangan Dudley dan menyeretnya ke seberang jalan untuk menghindarinya. Paman Vernon setelah itu berpidato panjang lebar kepada keluarganya tentang apa yang ingin dilakukannya terhadap pengemis dan gelandangan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.