Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry melihat Madame Maxime mengawasi mereka dari balik jendela keretanya.

“Kenapa tanganmu, Hermione?” tanya Hagrid, cemas.

Hermione menceritakan tentang surat-surat benci yang diterimanya pagi tadi dan amplop penuh nanah Bubotuber.

“Ah, jangan khawatir,” kata Hagrid lembut, menunduk memandangnya. “Aku terima surat-surat begitu dan macam-macam, setelah Rita Skeeter menulis tentang ibuku. ‘Kau monster dan kau harus dibunuh.’

‘Ibumu bunuh orang tak bersalah dan kalau tahu diri kau pantasnya terjun ke danau.’”

“Tidak!” kata Hermione, tampak kaget sekali.

“Yeah” kata Hagrid, mengangkat kotak-kotak Niffler dan menaruhnya di depan dinding pondoknya.

“Mereka orang sinting, Hermione. Jangan buka kalau kau dapat lagi. Langsung masukkan perapian.”

“Pelajarannya tadi asyik sekali. Sayang kau tak ikut,” kata Harry kepada Hermione ketika mereka berjalan kembali ke kastil. “Niffler itu binatang yang baik dan lucu. Iya, kan, Ron?”

Tetapi Ron mengernyit memandang cokelat yang dihadiahkan Hagrid kepadanya. Tampaknya ada

sesuatu yang membuatnya terpukul.

“Kenapa?” tanya Harry. “Tak suka rasanya?”

“Bukan,” jawab Ron pendek. “Kenapa kau tak cerita padaku soal emas itu?”

“Emas apa?” tanya Harry.

“Emas yang kuberikan padamu waktu Piala Dunia Quidditch,” kata Ron. “Uang emas Leprechaun yang kuberikan sebagai bayaran Omniocular-ku. Di Boks Utama. Kenapa kau tidak memberitahuku uang itu menghilang?”

Harry harus berpikir dulu sejenak sebelum dia menyadari apa yang dibicarakan Ron.

“Oh….” katanya, ingat akhirnya. “Entahlah… aku tak menyadari uangnya lenyap. Aku lebih mencemaskan tongkatku, kan?”

Mereka menaiki undakan menuju Aula Depan dan masuk ke Aula Besar untuk makan siang.

“Menyenangkan sekali pasti,” kata Ron tiba-tiba, ketika mereka sudah duduk dan menikmati daging panggang dan puding. “Punya begitu banyak uang sampai kau tak menyadari sekantong Galleon sudah lenyap.”

“Dengar, pikiranku penuh persoalan lain malam itu!” kata Harry tak sabar. “Kita semua begitu, ingat?”

“Aku tak tahu emas Leprechaun lenyap,” Ron bergumam. “Kupikir aku membayarmu. Harusnya kau tak memberiku hadiah Natal topi Chudley Cannon.”

“Lupakan saja, oke?” kata Harry.

Ron menusuk kentang panggang dengan ujung garpunya, mendelik memandang kentang itu. Kemudian dia berkata, “Aku benci jadi orang miskin.”

Harry dan Hermione saling pandang. Mereka tak tahu harus mengatakan apa.

“Sangat tidak menyenangkan,” kata Ron, masih memandang galak kentangnya. “Aku tak menyalahkan Fred dan George yang berusaha mendapatkan uang tambahan. Kalau saja aku bisa begitu. Ingin sekali aku punya Niffler.”

“Nah, kalau begitu kami sudah tahu hadiah apa yang sebaiknya kami berikan untukmu Natal nanti,” kata Hermione cerah. Kemudian, ketika Ron tetap murung, dia berkata, “Sudahlah, Ron, keadaan bisa lebih buruk. Paling tidak jari-jarimu tidak penuh nanah.” Susah sekali bagi Hermione untuk menggunakan pisau dan garpu, jari-jarinya kaku dan bengkak. “Aku benci si Skeeter itu!” celetuknya bengis. “Kubalas dia nanti, kalaupun itu hal terakhir yang bisa kulakukan!” Surat-surat benci terus berdatangan untuk Hermione selama minggu berikutnya, dan meskipun dia mengikuti nasihat Hagrid dan tak lagi

membukanya, beberapa pembencinya mengirim Howler, yang meledak di meja Gryffindor dan

meneriakkan penghinaan yang bisa didengar oleh seluruh Aula Besar. Bahkan anak-anak yang tidak membaca Witch Weekly sekarang tahu tentang cinta segitiga Harry-Krum-Hermione. Harry sampai bosan memberitahu orang-orang bahwa Hermione bukan pacarnya.

“Nanti juga padam sendiri,” katanya kepada Hermione, “kalau tidak kita acuhkan… Orang-orang akhirnya bosan sendiri dengan artikel yang ditulisnya tentangku dulu itu…”

“Aku ingin tahu bagaimana dia bisa mencuri dengar percakapan pribadi, padahal dia sudah dilarang masuk ke kompleks sekolah!” kata Hermione berang.

Hermione tinggal di kelas setelah pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam berikutnya untuk bertanya sesuatu kepada Profesor Moody. Anak-anak yang lain ingin buru-buru pergi. Moody tadi memberi mereka tes berat Pengelakan Kutukan sehingga banyak di antara mereka yang luka ringan. Harry sendiri kena Kuping-Kedut parah, dia harus menekankan tangan ke kedua telinganya saat meninggalkan kelas.

“Rita jelas tidak memakai Jubah Gaib!” kata Hermione terengah lima menit kemudian, menyusul Harry dan Ron di Aula Depan dan menarik satu tangan Harry dari telinganya supaya Harry bisa mendengarnya.

“Moody mengatakan dia tidak melihat Rita di dekat meja juri sewaktu tugas kedua, ataupun di dekat danau!”

“Hermione, apakah ada gunanya menyuruhmu melupakan ini?” kata Ron.

“Tidak!” kata Hermione keras kepala. “Aku ingin tahu bagaimana dia bisa mendengarku bicara dengan Viktor! Dan bagaimana dia bisa tahu tentang ibu Hagrid!”

“Mungkin kau disadap,” kata Harry.

“Disedap?” kata Ron bengong. “Apa… diberi bumbu penyedap atau bagaimana?”

Harry mulai menjelaskan tentang mikrofon yang tersembunyi dan peralatan rekaman.

Ron terpesona, tetapi Hermione menyela mereka, “Apakah kalian berdua tak akan pernah membaca Sejarah Hogwarts?”

“Buat apa?” kata Ron. “Kau hafal isinya, kami tinggal tanya kau.”

“Semua alat pengganti sihir yang digunakan Muggle-listrik, komputer, dan radar, dan semua benda lain itu semuanya jadi rusak di sekitar Hogwarts, karena ada terlalu banyak sihir di udara. Tidak, Rita menggunakan sihir untuk menguping, pasti… Kalau aku bisa menemukan sihir apa… ooh, kalau ilegal, kulaporkan dia…”

“Tidakkah pekerjaan kita sudah cukup banyak?” Ron menanyainya. “Apakah kita harus memulai vendeta terhadap Rita Skeeter juga?”

“Aku tidak memintamu untuk membantu!” bentak Hermione. “Akan kukerjakan sendiri!”

Dia menaiki tangga pualam tanpa menoleh ke belakang. Harry yakin dia akan pergi ke perpustakaan.

“Yuk taruhan, dia kembali dengan sekotak lencana Aku Benci Rita Skeeter,” ajak Ron.

Ternyata Hermione memang tidak meminta Harry dan Ron membantunya melaksanakan pembalasannya terhadap Rita Skeeter. Untuk itu mereka berdua berterima kasih, karena beban tugas mereka

menggunung lebih tinggi daripada hari-hari sebelum liburan Paskah. Harry terus terang kagum sekali bagaimana Hermione masih bisa melakukan riset tentang metode mencuri dengan secara sihir, di samping mengerjakan semua hal lain yang harus mereka kerjakan. Harry bekerja setengah mati hanya untuk menyelesaikan semua PR mereka, meskipun dia menyempatkan mengirim bungkusan makanan

secara teratur ke gua di gunung kepada Sirius. Setelah musim panas kemarin, Harry belum melupakan bagaimana rasanya kelaparan terus. Dia melampirkan surat kepada Sirius, memberitahunya tak ada hal aneh yang terjadi, dan bahwa mereka masih menunggu jawaban dari Percy.

Hedwig baru kembali pada akhir liburan Paskah. Surat Percy dilampirkan dalam bungkusan telur Paskah yang dikirim Mrs Weasley. Telur Harry dan Ron seukuran telur naga dan penuh berisi gula-gula. Tetapi telur Hermione lebih kecil daripada telur ayam. Wajahnya langsung muram ketika melihatnya.

“Ibumu tidak membaca Witch Weekly, kan, Ron?” tanyanya pelan.

“Baca,” kata Ron, yang mulutnya penuh permen. “Langganan karena resepnya.”

Hermione memandang telur kecilnya dengan sedih.

“Apakah kau tak ingin melihat apa yang ditulis Percy?” Harry buru-buru menanyainya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.