Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

menggali penuh semangat di depan pondoknya. Harry ingin tahu, sedang membuat apa dia.

Kelihatannya dia sedang membuat kebun sayur baru. Sementara Harry mengawasi, Madame Maxime keluar dari dalam kereta Beauxbatons dan mendekati Hagrid. Tampaknya dia mencoba mengajak ngobrol Hagrid. Hagrid bersandar ke sekopnya, namun rupanya dia tak ingin memperpanjang obrolan, karena Madame Maxime kembali ke keretanya tak lama setelah itu.

Enggan kembali ke Menara Gryffindor dan, mendengarkan Ron dan Hermione saling bentak, Harry memandang Hagrid menggali sampai kegelapan menelannya dan burung-burung hantu di sekitarnya mulai bangun, beterbangan melewatinya menembus malam.

Saat sarapan esok paginya, kejengkelan Ron dan Hermione sudah mereda, dan Harry lega sekali karena ramalan buruk Ron, bahwa para peri-rumah akan mengirim makanan di bawah standar ke meja

Gryffindor karena Hermione telah menghina mereka, terbukti tidak benar. Daging, telur, dan ikan haring asapnya sama enaknya seperti biasanya.

Ketika burung hantu pos datang, Hermione mendongak penuh harap. Rupanya dia menanti sesuatu.

“Percy belum sempat membalas,” kata Ron. “Kita baru mengirim Hedwig kemarin.”

“Bukan itu,” kata Hermione. “Aku sekarang langganan Daily Prophet. Aku sudah bosan tahu segala sesuatu dari anak-anak Slytherin.”

“Pemikiran bagus!” kata Harry, ikut memandang burung-burung hantu. “Hei, Hermione, kurasa kau beruntung…”

Seekor burung hantu abu-abu meluncur turun ke arah Hermione.

“Tapi dia tidak bawa koran,” katanya, tampak kecewa, “Dia…”

Betapa tercengangnya Hermione, burung hantu abu-abu itu mendarat di depan piringnya, diikuti oleh empat burung hantu serak, seekor burung hantu cokelat, dan seekor lagi kuning kecokelatan.

“Berapa banyak kau langganan?” kata Harry, menyambar piala Hermione, sebelum ditabrak oleh kerumunan burung hantu, yang semuanya mendekat ke Hermione, berebut menyerahkan suratnya lebih dulu.

“Apa gerangan…?” Hermione berkata, mengambil surat dari si burung abu-abu, membukanya dan mulai membacanya. “Oh, astaga!” dia tergagap, wajahnya merona merah.

“Ada apa?” tanya Ron.

“Ini… oh, konyol sekali…”

Dia menyorongkan surat itu kepada Harry. Surat itu tidak ditulis tangan, melainkan disusun dari tempelan huruf-huruf yang tampaknya digunting dari Daily Prophet.

Cewek Jelek. Harry Potter layak mendapat gadis

lebih baik. Pulang sana ke tempat muggle.

“Semua seperti itu!” kata Hermione putus asa, membuka suratnya satu per satu. “’Harry Potter layak mendapat cewek yang jauh lebih baik daripada orang macam kau…’ ‘Kau pantas direbus bersama telur katak…’ Ouch!”

Dia telah membuka amplop terakhir, dan cairan hijau kekuningan berbau bensin tertuang ke tangannya, yang langsung penuh ditumbuhi bisul-bisul besar berwarna kuning.

“Nanah Bubotuber yang belum dicairkan!” kata Ron, memungut amplop itu dengan amat hati-hati dan mengendusnya.

“Ow!” kata Hermione, air matanya berlinangan sementara dia berusaha mengelap nanah dari tangannya dengan serbet, tetapi jari-jarinya sekarang dipenuhi bisul yang menyakitkan sehingga kelihatannya dia memakai sarung tangan tebal berbenjol-benjol.

“Kau sebaiknya ke rumah sakit,” kata Harry ketika burung-burung hantu di sekeliling Hermione terbang pergi. “Kami akan memberitahu Profesor Sprout kau ke mana…”

“Sudah kuperingatkan dia!” kata Ron, ketika Hermione bergegas meninggalkan Aula Besar, menyangga tangannya. “Sudah kuperingatkan jangan membuat jengkel Rita Skeeter! Lihat yang ini…” Ron membaca salah satu surat yang ditinggalkan Hermione: “Aku membaca di Witch Weekly bagaimana kau mempermainkan Harry Potter dan anak itu sudah cukup banyak menderita dan aku akan mengirimimu kutukan dengan pos berikutnya begitu aku sudah mendapatkan amplop yang cukup besar.” Ampun deh, sebaiknya dia hati-hati.”

Hermione tidak muncul dalam pelajaran Herbologi. Ketika Harry dan Ron meninggalkan rumah kaca untuk mengikuti pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib, mereka melihat Malfoy, Crabbe, dan Goyle menuruni undakan batu kastil. Pansy Parkinson berbisik-bisik dan Cekikikan di belakang mereka bersama geng cewek-cewek Slytherin-nya. Melihat Harry, Pansy berseru, “Potter, kau putus dengan cewekmu, ya?

Kenapa dia sedih banget waktu sarapan tadi?”

Harry mengabaikannya. Dia tak ingin Pansy puas kalau tahu artikel di Witch Weekly itu telah mendatangkan banyak kesulitan.

Hagrid, yang telah memberitahu mereka dalam pelajaran yang lalu bahwa mereka sudah selesai mempelajari Unicorn, menunggu di depan pondoknya dengan kotak-kotak baru yang terbuka di dekat kakinya, Hati Harry mencelos melihat kotak-kotak itu-masa mau menetaskan Skrewt lagi? tetapi setelah cukup dekat untuk melihat ke dalamnya, dia melihat makhluk hitam berbulu dengan moncong panjang.

Kaki depan mereka datar aneh sekali, seperti sekop, dan mereka berkejap-kejap memandang anak-anak, tampak cukup bingung mendapat begitu banyak perhatian.

“Mereka ini Niffler,” kata Hagrid ketika semua anak sudah berkumpul. “Kebanyakan mereka ditemukan di tambang-tambang. Mereka senang benda-benda mengilap… Nah, lihat.”

Salah satu Niffler tiba-tiba melompat dan berusaha menggigit lepas arloji Pansy Parkinson dari pergelangan tangannya. Pansy menjerit dan melompat ke belakang.

“Detektor harta kecil yang sangat berguna,” kata Hagrid senang. “Kita akan main-main dengan mereka hari ini. Lihat di sana itu?” Dia menunjuk petak luas yang malam sebelumnya melalui jendela Kandang Burung Hantu dilihat Harry tengah dicangkul Hagrid, “Aku sudah pendam koin emas. Aku sudah siapkan

hadiah buat siapa yang memilih Niffler yang gali paling banyak koin. Sekarang lepas semua perhiasan kalian dan pilih Niffler, dan siap-siap untuk lepas mereka.”

Harry melepas arlojinya, yang hanya dipakainya karena kebiasaan saja, sebab arloji itu mati, dan menyimpannya di kantong. Kemudian dia mengangkat satu Niffler. Niffler itu memasukkan moncongnya yang panjang ke telinga Harry dan mengendus-endus penuh semangat. Lucu sekali.

“Tunggu,” kata Hagrid, memandang ke dalam kotak, “masih ada satu Niffler di sini… siapa yang tidak ada? Di mana Hermione?”

“Dia harus ke rumah sakit,” kata Ron.

“Kami jelaskan nanti,” gumam Harry. Pansy Parkinson mendengarkan.

Belum pernah mereka segembira ini dalam pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib. Niffler-niffler menyusup dan muncul dari dalam tanah seakan masuk ke air saja, masing-masing berlarian ke anak yang telah melepasnya dan meludahkan koin emas ke tangannya. Niffler Ron sangat gesit. Segera saja pangkuan Ron penuh koin.

“Bisakah ini dibeli untuk binatang piaraan, Hagrid?” tanyanya bersemangat sementara Niffler-nya menukik lagi ke dalam tanah, menciprati jubahnya.

“Ibumu tak akan senang, Ron,” kata Hagrid, nyengir. “Mereka bikin rumah kacau-balau. Kurasa hampir semua koin sudah diambil sekarang,” dia menambahkan, berkeliling petak sementara Niffler-niffler terjun terus ke dalam tanah. “Aku cuma pendam seratus. Oh, kau datang, Hermione!”

Hermione menyeberangi lapangan rumput ke arah mereka. Kedua tangannya dibebat dan dia tampak sedih. Pansy Parkinson memandangnya tajam.

“Nah, ayo kita cek hasilnya!” kata Hagrid. “Hitung koin kalian! Dan tak ada gunanya mencuri, Goyle” dia menambahkan, mata kumbang-hitam-nya menyipit. “Itu emas Leprechaun. Lenyap setelah beberapa jam.”

Goyle mengosongkan sakunya, tampak cemberut berat. Ternyata Niffler Ron yang paling berhasil, maka Hagrid memberinya sepotong besar cokelat Honeydukes sebagai hadiah. Dering bel terdengar dari seberang lapangan, menandakan waktu makan siang. Anak-anak kembali ke kastil, tetapi Harry, Ron, dan Hermione tinggal untuk membantu Hagrid memasukkan Niffler-niffler ke dalam kotak-kotak mereka.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.