Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry balas memandang Snape, bertekad tidak akan mengejap ataupun tampak bersalah. Dia memang tidak mencuri kedua benda itu dari Snape. Hermione mengambil Boomslang-selongsong kulit ular pohon saat dia ganti kulit-sewaktu mereka kelas dua. Mereka memerlukannya untuk Ramuan Polijus, dan

walaupun Snape sudah mencurigai Harry waktu itu, dia tak pernah berhasil membuktikannya. Dan yang mencuri Gillyweed tentu saja Dobby.

“Saya tak tahu apa yang Anda bicarakan,” Harry berbohong dingin.

“Kau tidak di tempat tidur pada malam kantorku dimasuki orang!” Snape mendesis. “Aku tahu, Potter!

Mad-Eye Moody boleh saja jadi anggota fan club-mu, tetapi aku tak akan mentoleransi tingkah lakumu!

Sekali lagi memasuki kantorku di malam hari, kau akan membayar!”

“Baik,” Harry menimpali dingin, kembali mengikis akar jahenya. “Akan saya ingat jika timbul dorongan untuk ke sana.”

Mata Snape berkilat. Tangannya merogoh ke balik jubah hitamnya. Sekejap Harry mengira Snape akan mencabut tongkat sihir dan mengutuknya kemudian dilihatnya Snape mengeluarkan botol kristal kecil berisi cairan bening. Harry memandangnya.

“Kau tahu apa ini, Potter?” tanya Snape, matanya berkilat berbahaya lagi.

“Tidak” kata Harry, jujur sepenuhnya kali ini.

“Ini Veritaserum-Ramuan Kebenaran yang sangat kuat sehingga tiga tetes saja cukup untuk membocorkan rahasiamu yang paling dalam untuk didengar seluruh kelas,” kata Snape kejam.

“Penggunaan ramuan ini dikontrol oleh pedoman dari Kementerian yang sangat ketat. Tetapi kalau kau tidak berhati-hati, tanganku bisa saja tergelincir” dia mengguncang pelan botol kristal itu “di atas jus labumu waktu makan malam. Dan kemudian, Potter… kemudian kita akan tahu apakah kau pernah ke kantorku atau tidak.”

Harry diam saja. Dia memungut pisaunya dan mulai mengiris akar jahenya lagi. Dia sama sekali tak suka Ramuan Kebenaran itu. Dan dia percaya Snape bisa saja melaksanakan ancamannya. Dia menekan keinginan bergidik ketika memikirkan apa yang bisa keluar dari mulutnya jika Snape meneteskan ramuan itu ke dalam minumannya… Lepas dari membuat banyak orang mendapat kesulitan–Hermionee dan Dobby di antaranya–ada banyak hal lain yang di sembunyikannya… seperti bahwa dia berhubungan dengan Sirius dan organ-organ tubuhnya menggeliat memikirkan ini bagaimana perasaannya terhadap Cho … Dia menuang akar jahenya ke dalam kuali luga, dan membatin apakah sebaiknya dia mengikuti jejak Moody dan mulai minum dari tempat minumnya sendiri.

Terdengar ketukan di pintu kelas.

“Masuk,” kata Snape dengan suaranya yang biasa.

Anak-anak menoleh ketika pintu terbuka. Profesor Karkaroff masuk. Semua memandangnya ketika dia mendekati meja Snape. Dia mengelus jenggot kambingnya dan tampak gelisah.

“Kita perlu bicara,” kata Karkaroff begitu tiba di meja Snape. Rupanya dia bertekad orang lain tak boleh mendengar apa yang dikatakannya, sehingga nyaris tak membuka bibirnya. Jadinya dia seperti ventriloquist-ahli bicara perut-yang parah. Harry memandang akar jahenya, mendengarkan dengan cermat.

“Aku akan bicara denganmu setelah pelajaran ini, Karkaroff,” Snape bergumam, tetapi Karkaroff menyelanya.

“Aku mau bicara sekarang, selagi kau tak bisa menghindar, Severus. Selama ini kau menghindariku.”

“Sesudah pelajaran,” tukas Snape galak.

Berpura-pura mengangkat cangkir pengukur untuk memeriksa apakah dia sudah menuang cukup

empedu armadillo, Harry melirik keduanya. Karkaroff tampak cemas sekali, dan Snape tampak marah.

Karkaroff mondar-mandir di belakang meja Snape selama sisa jam pelajaran. Dia tampaknya bertekad mencegah Snape kabur pada akhir pelajaran. Ingin mendengar apa yang mau dikatakan Karkaroff, Harry sengaja menjatuhkan botol empedu armadillo-nya dua menit sebelum bel berdering, sehingga dia punya alasan untuk berjongkok di belakang kualinya sementara teman-temannya bergerak bising ke pintu.

“Apa yang begitu penting?” didengarnya Snape mendesis kepada Karkaroff.

“Ini,” kata Karkaroff, dan Harry, mengintip dari balik kuali, melihat Karkaroff menarik ke atas lengan kiri jubahnya dan menunjukkan sesuatu pada sebelah dalam lengannya kepada Snape.

“Nah?” kata Karkaroff, masih berusaha keras tidak menggerakkan bibirnya. “Kaulihat? Tidak pernah sejelas ini, tak pernah sejak…”

“Tutup lagi!” gertak Snape, mata hitamnya menyapu kelas.

“Tapi kau pasti sudah melihatnya…” Karkaroff berkata dengan suara cemas.

“Kita bicara nanti, Karkaroff!” bentak Snape. “Potter! Sedang apa kau?”

“Membersihkan empedu armadillo saya, Profesor,” kata Harry dalam nada tak bersalah, seraya berdiri dan menunjukkan lap basah yang dipegangnya kepada Snape.

Karkaroff berbalik dan berjalan keluar kelas. Dia tampak cemas sekaligus marah. Tak ingin tinggal sendirian dengan Snape yang sedang marah besar, Harry melempar buku-buku dan bahan ramuannya ke dalam tas dan cepat-cepat pergi untuk memberitahu Ron dan Hermione apa yang baru saja

disaksikannya. Mereka meninggalkan kastil esok siangnya. Matahari Yang lemah keperakan menyinari bumi. Cuaca lebih hangat daripada sebelumnya, dan saat tiba di Hogsmeade, ketiganya sudah melepas mantel dal menyampirkannya di bahu. Makanan yang dipesan Sirius ada di dalam tas Harry. Mereka telah mencuri selusin paha ayam, sebantal roti, dan setermos jus labu kuning dari meja makan.

Mereka ke Gladrags Wizardwear-Toko Pakaian-Pesta-Penyihir–membelikan hadiah untuk Dobby. Di sana mereka senang sekali memilih kaus kaki paling norak yang bisa ditemukan, termasuk sepasang yang bermotif bintang-bintang emas dan perak yang berkelap-kelip, dan sepasang lainnya yang menjerit keras kalau sudah terlalu bau. Kemudian, pukul setengah dua, mereka berjalan ke High Street, melewati Dervish and Banges, dan menuju tepi desa.

Harry belum pernah ke arah ini. Jalan setapak yang berputar-putar membawa mereka ke daerah pedalaman liar di luar Hogsmeade. Pondok-pondok semakin jarang di sini, dan halamannya lebih luas.

Mereka berjalan ke kaki gunung yang bayangannya menaungi Hogsmeade. Kemudian mereka membelok di sudut dan melihat undakan di ujung jalan setapak. Seekor anjing besar berbulu panjang, membawa beberapa koran di moncongnya, dengan kaki depannya di jeruji paling atas, sudah menunggu mereka.

Anjing ini rasanya sudah mereka kenal…

“Halo, Sirius,” sapa Harry, ketika mereka telah tiba di depannya.

Anjing hitam itu mengendus tas Harry dengan bergairah, menggoyang ekornya sekali, kemudian berbalik dan menjauh dari mereka, menyeberangi petak tanah penuh semak yang meninggi menyatu dengan kaki gunung. Harry, Ron, dan Hermione memanjat undakan dan mengikutinya.

Sirius membawa mereka ke kaki gunung, yang tanahnya dipenuhi batu-batu besar dan karang. Mudah sekali baginya melintasi tempat ini karena dia berkaki empat, tetapi Harry, Ron, dan Hermione segera saja kehabisan napas. Mereka mengikuti Sirius memanjat lebih tinggi, ke gunung itu sendiri. Selama hampir setengah jam mereka mendaki jalan setapak yang curam, berbelok-belok, dan berbatu, mengikuti ekor Sirius yang bergoyang, mandi keringat di bawah sinar matahari. Tali tas Harry terasa mengiris bahunya.

Kemudian, akhirnya, Sirius menyelinap dan lenyap, dan ketika mereka tiba di tempatnya menghilang, mereka melihat celah sempit di karang. Mereka menyelusup dengan susah payah dan tiba di gua yang sejuk berpenerangan remang-remang. Di ujung gua, salah satu ujung talinya melingkar di batu karang, tertambat Buckbeak si Hippogriff. Separo kuda abuabu, separo elang raksasa, mata jingga Buckbeak yang galak menyala melihat mereka. Ketiganya membungkuk rendah di depannya. Setelah memandang angkuh mereka sejenak, Buckbeak menekuk lutut kaki depannya yang bersisik dan mengizinkan

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.