Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Miss Granger, anak yang tidak cantik tetapi ambisius, rupanya pemuja penyihir terkenal dan kegemarannya ini tak bisa dipuaskan oleh Harry seorang diri. Sejak kedatangan Viktor Krum, Seeker Bulgaria dan pahlawan Piala Dunia Quidditch yang lalu, di Hogwarts, Miss Granger mempermainkan perasaan kedua pemuda cilik ini. Krum, yang terang-terangan terpesona oleh Miss Granger yang licik, telah mengundangnya untuk mengunjunginya di Bulgaria selama liburan musim panas mendatang, dan berkeras bahwa dia “belum pernah merasa begini terhadap gadis lain.”

Meskipun demikian, mungkin bukan daya tarik alami Miss Granger yang meragukan yang telah menarik perhatian kedua pemuda yang malang ini.

“Dia benar-benar jelek,” kata Pansy Parkinson, gadis kelas empat yang cantik dan periang, “tetapi dia pasti bisa membuat Ramuan Cinta, dia cukup pintar. Kurasa itulah yang dilakukannya untuk memikat keduanya.”

Ramuan Cinta tentu saja dilarang di Hogwarts, dan tak diragukan lagi Dumbledore akan menyelidiki pernyataan ini. Sementara itu, para penggemar Harry Potter harus berharap bahwa, kali berikutnya, dia memberikan hatinya kepada calon yang lebih layak.

“Aku kan sudah bilang!” Ron mendesis kepada Hermione, sementara Hermione keheranan memandang artikel itu. “Aku sudah bilang jangan bikin marah Rita Skeeter! Dia telah membuatmu menjadi semacam semacam perempuan nakal!”

Hermione tak lagi tampak tercengang dan mendengus tertawa. “Perempuan nakal?” dia mengulang, berguncang menahan geli ketika menoleh menatap Ron.

“Begitu Mum menyebut mereka,” gumam Ron, telinganya menjadi merah.

“Kalau ini yang terbaik yang bisa dilakukan Rita, dia kehilangan sentuhannya,” kata Hermione, masih terkikik, ketika dia melempar Witch Weekly ke kursi kosong di sebelahnya. “Benar-benar onggokan sampah.”

Dia menoleh ke anak-anak Slytherin, yang semuanya memandang tajam dia dan Harry dari seberang ruangan untuk melihat. kalau-kalau mereka terpukul oleh artikel itu. Hermione melempar senyum sinis dan melambai, lalu bersama Harry dan Ron, dia mulai membuka bungkus bahan-bahan yang akan mereka perlukan untuk Ramuan Penajam Otak.

“Tapi ada yang aneh,” celetuk Hermione sepuluh menit kemudian, memegangi alat penumbuknya di atas semangkuk scarab, sejenis kumbang yang dianggap keramat pada zaman Mesir kuno. “Bagaimana Rita Skeeter bisa tahu…?”

“Tahu apa?” sambar Ron. “Kau tidak membuat Ramuan Cinta, kan?”

“Jangan ngaco!” bentak Hermione, mulai menumbuk kumbangnya lagi. “Tidak, hanya saja… bagaimana dia tahu bahwa Viktor mengundangku mengunjunginya liburan musim panas nanti?”

Wajah Hermione merona merah saat mengatakan ini dan dengan sengaja dia menghindari tatapan Ron.

“Apa?” tanya Ron, penumbuknya terjatuh dengan bunyi duk keras.

“Dia memintaku setelah menarikku keluar dari danau,” gumam Hermione. “Setelah menyingkirkan kepala hiunya. Madam Pomfrey memberi kami berdua selimut, dan kemudian dia menarikku menjauh dari para juri supaya mereka tidak dengar, dan dia berkata, kalau aku tidak punya acara lain di musim panas, maukah aku…”

“Dan kau bilang apa?” tanya Ron, yang sudah memungut alunya dan menggilaskannya ke meja, kira-kira lima belas senti dari mangkuknya, karena dia memandang Hermione.

“Dan dia memang bilang dia belum pernah merasa begini terhadap orang lain,” Hermione meneruskan, wajahnya merah padam sampai Harry nyaris bisa merasakan panas yang menguak darinya. “Tetapi bagaimana Rita Skeeter bisa mendengarnya? Dia tak ada di sana… atau dia di sana? Mungkin dia punya Jubah Gaib. Mungkin dia menyelinap ke halaman sekolah untuk menonton tugas kedua…”

“Dan kau bilang apa?” Ron mengulang, menumbukkan alunya begitu keras sampai mejanya berlekuk.

“Wah, aku terlalu sibuk melihat apakah kau dan Harry tidak apa-apa, sehing…”

“Meskipun kehidupan sosialmu jelas sangat menarik, Miss Granger,” terdengar suara sedingin es di belakang mereka, “aku terpaksa memintamu untuk tidak mendiskusikannya di kelas. Potong sepuluh angka dari Gryffindor.”

Snape telah mendatangi meja mereka sementara mereka mengobrol. Seluruh kelas sekarang menoleh memandang mereka. Malfoy mengambil kesempatan ini untuk menyorotkan POTTER BAU kepada Harry.

“Ah… membaca majalah di bawah meja juga?” Snape menambahkan, menyambar Witch Weekly.

“Potong sepuluh angka lagi dari Gryffindor… oh, pantas saja…” Mata hitam Snape berkilat ketika melihat artikel Rita Skeeter. “Potter harus melengkapi klipingnya…”

Tawa anak-anak Slytherin menggema di kelas bawah tanah, dan senyum sangar menghiasi bibir tipis Snape. Harry berang sekali ketika Snape mulai membaca artikel itu keras-keras.

“‘Rahasia Derita Cinta Harry Potter’… wah, wah, Potter, siapa yang membuatmu menderita sekarang?

‘Anak luar biasa, mungkin…’”

Harry bisa merasakan wajahnya membara. Snape berhenti pada setiap akhir kalimat untuk memberi kesempatan anak-anak Slytherin tertawa puas. Artikel itu kedengarannya sepuluh kali lebih parah saat dibaca Snape.

“‘… Para penggemar Harry Potter harus berharap bahwa, kali berikutnya, dia memberikan hatinya kepada calon yang lebih layak.’ Sungguh mengharukan,” cemooh Snape, menggulung majalah itu sementara anak-anak Slytherin terbahak-bahak. “Yah, kurasa sebaiknya aku, memisahkan kalian bertiga, agar kalian bisa berkonsentrasi pada ramuan kalian dan bukannya sibuk memikirkan kehidupan cinta kalian yang ruwet. Weasley, kau tetap di sini. Miss Granger, ke sana, di sebelah Miss Parkinson. Potter meja di depan mejaku. Pindah. Sekarang.”

Dengan berang Harry melemparkan bahan ramuan dan tasnya ke dalam kualinya dan menyeretnya ke meja kosong di depan. Snape mengikutinya, duduk di belakang mejanya, dan mengawasi Harry

mengosongkan kualinya. Bertekad tidak mau memandang Snape, Harry meneruskan menumbuk scarabnya, membayangkan masing-masing kumbang berwajah Snape.

“Semua perhatian media ini rupanya menggelembungkan kepalamu yang sudah kelewat besar, Potter,”

kata Snape pelan, begitu anak-anak lain sudah tenang lagi.

Harry tidak menjawab. Dia tahu Snape sedang berusaha memanas-manasinya. Snape sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Tak diragukan lagi dia berharap mendapat alasan untuk memotong lima puluh angka dari Gryffindor sebelum pelajaran usai.

“Mungkin kau beranggapan bahwa seluruh dunia sihir terkesan padamu,” Snape meneruskan, pelan sekali sehingga orang lain tak ada yang bisa mendengarnya (Harry terus saja menumbuk kumbangnya, meskipun sudah jadi bubuk halus), “tetapi aku tak peduli berapa kali fotomu muncul di koran. Bagiku, Potter, kau tak lebih dari anak menyebalkan yang menganggap peraturan tak layak untukmu.”

Harry menuang bubuk kumbang ke dalam kualinya dan mulai mengiris akar jahenya. Tangannya agak gemetar saking marahnya, tetapi dia tetap menunduk, seakan tidak mendengar apa yang dikatakan Snape kepadanya.

“Jadi, sudah kuperingatkan kau, Potter,” Snape meneruskan dalam suara yang lebih lembut dan lebih berbahaya, “selebriti kecil atau bukan kalau ku tangkap kau memasuki kantorku sekali lagi…”

“Saya tidak pernah ke dekat-dekat kantor Anda!” kata Harry marah, lupa kalau dia sedang pura-pura tuli.

“Jangan bohong kepadaku,” Snape mendesis, mata hitamnya yang dalam menatap tajam mata Harry.

“Kulit Boomslang. Gillyweed. Keduanya berasal dari simpanan pribadiku, dan aku tahu siapa yang mencurinya.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.