Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Miss Fleur Delacour, meskipun mendemonstrasikan penggunaan Mantra Gelembung-Kepala yang hebat, dia diserang oleh Grindylow ketika mendekati sasarannya, dan gagal menyelamatkan sanderanya. Kami memberinya angka dua puluh lima.”

Penonton bertepuk.

“Aku layak mendapat nol” kata Freur parau menggelengkan kepalanya yang cantik.

“Mr Cedric Diggory, yang juga menggunakan Mantra Gelembung-Kepala, yang pertama kembali membawa sanderanya, meskipun dia kembali satu menit melewati batas waktu satu jam.” Sorak gemuruh dari anak-anak Hufflepuff. Harry melihat Cho memandang Cedric dengan wajah berseri.

“Dengan demikian kami memberi dia angka empat puluh tujuh.”

Semangat Harry merosot. Jika Cedric melewati batas waktu, apalagi dia.

Mr Viktor Krum menggunakan Transfigurasi yang tidak sempurna, meskipun demikian efektif, dan kembali nomor dua dengan membawa sanderanya. Kami memberinya angka empat puluh. Karkaroff

bertepuk keras sekali, tampak sangat superior.

“Mr Harry Potter menggunakan Gillyweed dengan sangat efektif,” Bagman meneruskan. “Dia kembali paling akhir, dan jauh melewati batas waktu yang satu jam. Meskipun demikian, kepala para duyung memberitahu kami bahwa Mr Potter yang pertama tiba di tempat para sandera, dan bahwa

keterlambatan kembalinya dikarenakan tekadnya untuk menyelamatkan semua sandera, bukan hanya sanderanya sendiri.”

Ron dan Hermione memberi Harry pandangan separo-jengkel, separo-bersimpati.

“Sebagian besar juri,” sambil mengatakan ini, Bagman melempar pandang sangat sebal kepada Karkaroff, “menganggap ini menunjukkan sifat akhlak yang baik dan layak mendapat nilai tertinggi.

Meskipun demikian… angka Mr Potter adalah empat puluh lima.”

Perut Harry serasa melonjak-sekarang kedudukannya seri dengan Cedric, untuk meraih tempat pertama.

Ron dan Hermione, yang sama sekali tak menyangka, terpana menatap Harry, kemudian tertawa dan ikut bertepuk keras bersama penonton yang lain.

“Wah, Harry!” Ron berteriak mengatasi gemuruh sorak. “Ternyata kau tidak tolol kau menunjukkan sifat akhlak yang baik!”

Fleur juga bertepuk keras, tetapi Krum sama sekali tak tampak senang. Dia berusaha mengajak Hermione ngobrol lagi, tetapi Hermione terlalu sibuk bersorak untuk Harry.

“Tugas ketiga dan terakhir akan berlangsung sore hari pada tanggal dua puluh empat Juni,” Bagman melanjutkan. “Para juara akan diberitahu apa yang akan mereka hadapi tepat satu bulan sebelumnya.

Terima kasih atas dukungan kalian kepada para juara.”

Sudah selesai, pikir Harry linglung, sementara Madam Pomfrey menggiring para juara dan sandera mereka kembali ke kastil untuk berganti pakaian kering… sudah selesai, dia telah berhasil lolos… dia tak perlu mencemaskan apa pun sampai tanggal dua puluh empat Juni….

Kali berikutnya dia ke Hogsmeade, Harry memutuskan saat menaiki undakan batu kastil, dia akan membelikan Dobby kaus kaki, sepasang untuk setiap hari dalam setahun.

 

Bab 27:

KEMBALINYA PADFOOT

SALAH satu hal terbaik yang terjadi setelah pelaksanaan tugas kedua adalah bahwa semua orang sangat ingin tahu secara rinci apa yang terjadi di dasar danau. Ini berarti sekali ini Ron bisa menjadi pusat perhatian bersama Harry. Harry memperhatikan bahwa rangkaian kejadian versi Ron berubah sedikit demi sedikit pada setiap kali penceritaan. Mula-mula dia kelihatannya menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Paling tidak ceritanya cocok dengan cerita Hermione-Dumbledore menyihir semua sandera tertidur lelap di kantor Profesor McGonagall, setelah sebelumnya meyakinkan mereka bahwa mereka akan cukup aman, dan akan terbangun kembali jika mereka sudah berada di atas air lagi. Tetapi seminggu kemudian, Ron menceritakan kisah penculikan seru. Dalam penculikan itu dia berjuang seorang diri melawan lima puluh duyung bersenjata lengkap yang harus memukulinya sampai pingsan sebelum bisa mengikatnya.

“Tetapi tongkatku kusembunyikan di dalam lengan jubahku,” dia meyakinkan Padma Patil, yang tampaknya jauh lebih menyukai Ron setelah Ron mendapat begitu banyak perhatian, dan memastikan mengajaknya bicara setiap kali mereka berpapasan di koridor. “Aku sebetulnya bisa menangkap duyung-duyung idiot itu kapan saja aku mau.”

“Bagaimana caranya? Ngorok di depan mereka?” komentar Hermione menyengat. Belakangan ini anak-anak meledeknya habis sebagai yang paling membuat Viktor Krum kehilangan, sehingga dia gampang marah.

Telinga Ron menjadi merah, dan sesudah itu dia kembali ke versi dirinya disihir tidur.

Memasuki bulan Maret udara menjadi lebih kering, tetapi angin jahat menguliti tangan dan wajah mereka setiap kali mereka keluar ke halaman. Terjadi keterlambatan pos karena burung-burung hantu berkali-kali diterbangkan angin sehingga arahnya melenceng. Burung hantu cokelat, yang dikirim Harry ke Sirius membawa tanggal kunjungan akhir pekan ke Hogsmeade, muncul waktu sarapan Jumat pagi dengan separo bulu-bulunya mencuat ke arah terbalik. Baru saja Harry melepas jawaban Sirius, si burung hantu sudah terbang kabur. Jelas dia ketakutan akan disuruh ke luar lagi.

Surat Sirius hampir sama pendeknya dengan sebelumnya.

Siap di undakan di ujung jalan Hogsmeade (selewat Dervish and Banges) Sabtu, pukul dua siang. Bawa makanan sebanyak kau bisa.

“Dia kembali ke Hogsmeade?” kata Ron menyangsikan.

“Rupanya begitu, kan?” kata Hermione.

“Aku tak percaya,” kata Harry tegang, “kalau dia tertangkap…”

“Sudah berhasil sejauh ini, kan?” kata Ron. “Lagi pula sudah tak ada Dementor berkeliaran.”

Harry melipat suratnya, berpikir. Jika mau jujur, dia sebetulnya ingin sekali bertemu Sirius lagi. Karena itu dia berangkat ke pelajaran terakhir sore itu dua jam pelajaran Ramuan-dengan perasaan jauh lebih riang daripada biasanya jika menuruni tangga ke ruang bawah tanah.

Malfoy, Crabbe, dan Goyle berdiri berkerumun bersama geng cewek Slytherin Pansy Parkinson.

Semuanya memandang sesuatu yang tak bisa dilihat Harry dan mengikik geli. Wajah Pansy yang seperti anjing pug memandang bersemangat dari batik punggung lebar Goyle ketika Harry, Ron, dan Hermione mendekat.

“Itu mereka, itu mereka!” katanya terkikik, dan kerumunan anak-anak Slytherin menyebar. Harry melihat bahwa Pansy memegang majalah–Witch-Weekly—Mingguan Penyihir. Foto yang bergerak-gerak pada sampulnya menunjukkan penyihir perempuan berambut keriting yang tertawa memamerkan giginya yang besar-besar dan menunjuk bolu spons dengan tongkat sihirnya.

“Kau mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik untukmu di dalam sini, Granger!” kata Pansy keras-keras dan dia melempar majalahnya ke Hermione, yang menangkapnya dengan tercengang. Saat itu pintu kelas bawah tanah terbuka dan Snape memberi isyarat agar mereka semua masuk.

Hermione, Harry, dan Ron menuju ke meja di belakang seperti biasanya. Begitu Snape memunggungi mereka untuk menuliskan bahan-bahan ramuan hari ini di papan tulis, Hermione buru-buru membalik-balik majalah di bawah mejanya. Akhirnya, persis di tengah majalah, Hermione menemukan apa yang mereka cari. Harry dan Ron membungkuk mendekat. Foto berwarna Harry terpampang di atas artikel pendek berjudul:

Rahasia Derita Cinta Harry Potter

Anak luar biasa, mungkin tetapi juga anak yang mengalami kepedihan ABG yang biasa, Rita Skeeter menulis. Kehilangan cinta sejak kematian tragis kedua orangtuanya, Harry Potter yang berusia empat belas tahun mengira telah menemukan pelipur lara dalam diri teman kencannya di Hogwarts, gadis kelahiran-Muggle Hermione Granger. Dia sama sekali tak menyadari bahwa hidupnya yang sudah sarat penderitaan tak lama lagi akan menerima deraan emosi yang lain.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.