Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

mempercepat lajunya. Dia menggerakkan kakinya yang bersirip sekuat tenaga, tetapi Ron dan adik Fleur seperti karung berisi kentang yang menyeretnya ke bawah kembali… Harry mengarahkan matanya ke atas, meskipun tahu dia pasti masih berada jauh di bawah, air di atasnya sangat gelap….

Para duyung naik bersamanya. Dia bisa melihat mereka berenang dengan mudah, menontonnya

bersusah payah menembus air… Akankah mereka menariknya kembali ke bawah jika waktunya telah habis? Apakah mereka mungkin makan manusia? Kaki Harry kaku akibat usaha kerasnya untuk terus berenang. Bahunya sakit sekali karena keberatan menarik Ron dan adik Fleur…

Dia bernapas dengan susah payah. Sisi lehernya terasa sakit lagi… dia jadi sadar sekali betapa basahnya air di mulutnya… tetapi kegelapan sudah mulai memudar sekarang… dia bisa melihat cahaya di atasnya…

Dia menendang keras-keras dengan siripnya, tetapi ternyata sekarang sudah tinggal kakinya… air mengucur lewat mulutnya ke paru-parunya… dia mulai merasa pusing, tetapi dia tahu cahaya dan udara cuma tinggal tiga meter di atasnya… dia harus sampai ke sana… harus.

Harry menjejakkan kakinya begitu keras dan cepat sehingga rasanya otot-ototnya menjerit memprotes.

Otaknya serasa digenangi air, dia tak bisa bernapas, dia perlu oksigen, dia harus terus, dia tak boleh berhenti…

Dan kemudian dia merasa kepalanya menembus permukaan air danau. Udara segar yang dingin

menyengat wajahnya. Dia menghirupnya, merasa seakan belum pernah bernapas dengan benar, dan tersengal, dia menarik Ron dan si anak perempuan ke atas bersamanya. Di sekelilingnya, kepala-kepala berambut hijau berantakan ikut bermunculan, tetapi mereka tersenyum senyum kepadanya.

Penonton di tribune bising sekali, berteriak-teriak dan menjerit-jerit. Mereka tampaknya berdiri semua.

Harry mendapat kesan mereka mengira Ron dan anak perempuan ini mungkin sudah meninggal, tetapi mereka keliru… keduanya telah membuka mata. Anak perempuan itu tampak ketakutan dan bingung, tetapi Ron cuma menyemburkan air, mengejap dalam cahaya terang, menoleh ke Harry, dan berkata,

“Basah ya?” Kemudian dia melihat adik Fleur. “Mau apa kau bawa-bawa dia?”

“Fleur tidak muncul, aku tak bisa meninggalkannya,” kata Harry tersengal.

“Astaga, Harry!” kata Ron. “Kau tidak menganggap seflus nyanyian itu, kan? Dumbledore tak akan membiarkan salah satu dari kami tenggelam!”

“Nyanyian itu mengatakan…”

Itu hanya untuk memastikan kau kembali dalam batas waktu yang ditentukan!” kata Ron. “Mudah-mudahan kau tidak membuang-buang waktu di bawah sana berlagak sebagai pahlawan!”

Harry merasa tolol sekaligus jengkel. Enak saja bagi Ron ngomong begitu. Dia tidur. Dia tidak merasakan betapa mengerikan di dasar danau, dikelilingi duyung-duyung yang membawa tombak, yang tampaknya sanggup melakukan lebih dari pembunuhan.

“Ayo,” kata Harry pendek, “bantu aku membawanya. Kurasa dia tak begitu pandai berenang.”

Mereka menarik adik Fleur melintasi air, menuju pantai tempat para juri berdiri menonton, dua puluh duyung menemani mereka seperti pengawal kehormatan, menyanyikan lagu mereka yang melengking mengerikan.

Harry bisa melihat Madam Pomfrey sibuk mengurusi Hermione, Krum, Cedric, dan Cho, yang semuanya terbungkus selimut tebal. Dumbledore dan Ludo Bagman berdiri di pantai, tersenyum kepada Harry dan Ron ketika mereka berenang mendekat. Tetapi Percy, yang tampak sangat pucat dan lebih muda daripada biasanya, terjun ke air menyambut mereka. Sementara Madame Maxime berusaha menahan Fleur Delacour, yang histeris, meronta-ronta ingin kembali ke air.

“Gabrielle! Gabrielle! Apakah dia hidup? Apakah dia luka?”

“Dia baik-baik saja!” Harry berusaha memberitahunya, tetapi dia lelah sekali sampai nyaris tak bisa bicara, apalagi berteriak. Percy menyambar Ron dan menariknya ke tepi. (“Lepaskan, Percy, aku tak apaapa!”) Dumbledore dan Bagman menarik Harry berdiri. Fleur telah melepaskan diri dari Madame Maxime dan memeluk adiknya.

“Gara-gara Grindylow… mereka menyerangku… oh, Gabrielle, kupikir… kupikir…”

“Ke sini kau,” kata Madam Pomfrey. Dia menyambar Harry dan menariknya ke tempat Hermione dan yang lain, membungkusnya rapat-rapat dalam selimut sehingga Harry merasa dia memakai jaket ketat, dan menuangkan ramuan sangat panas ke tenggorokannya. Asap mengepul dari lubang telinganya.

“Harry, hebat sekali!” seru Hermione. “Kau berhasil, kau berhasil menemukan caranya!”

“Er…” kata Harry. Dia mau memberitahu Hermione tentang Dobby, tetapi terpandang olehnya Karkaroff mengawasinya. Dia satu-satunya juri yang tidak meninggalkan meja, satu-satunya juri yang tidak menunjukkan tanda-tanda senang dan lega bahwa Harry, Ron, dan adik Fleur telah kembali dengan selamat. “Yeah, betul,” kata Harry, sengaja mengeraskan suaranya sedikit agar Karkaroff mendengarnya.

“Ada kumbang air di rambutmu, Herm-ayon-nini,” kata Krum. Harry mendapat kesan Krum ingin mengembalikan perhatian Hermione kepada dirinya, mungkin untuk mengingatkannya bahwa dia baru saja menyelamatkannya dari dalam danau, tetapi Hermione menyapu kumbang itu dengan tak sabar dan berkata, “Tapi kau jauh melampaui batas waktu, Harry… Apakah lama kau baru berhasil menemukan kami?”

“Tidak… aku menemukan kalian cukup cepat…”

Harry, merasa makin tolol. Sekarang setelah keluar dari air, jelas bahwa tindakan pengamanan Dumbledore tidak akan memungkinkan kematian salah satu sandera hanya karena juara mereka tidak muncul. Kenapa tadi dia tidak cuma menyambar Ron dan langsung naik? Dia akan jadi orang pertama yang kembali… Cedric dan Krum tidak membuang-buang waktu mencemaskan orang lain. Mereka tidak menanggapi nyanyian duyung itu dengan serius…

Dumbledore berjongkok di tepi air, berbicara serius dengan… tampaknya kepala para duyung. Duyung perempuan yang bertampang galak dan liar. Dia mengeluarkan bunyi melengking yang biasa dikeluarkan duyung jika mereka berada di atas air. Jelas Dumbledore bisa berbahasa duyung. Akhirnya dia bangkit, berpaling kepada rekan-rekan jurinya dan berkata, “Konferensi sebelum pemberian angka, kukira.”

Para juri berkerumun mendekat. Madam Porrifrey telah membebaskan Ron dari cengkeraman Percy. Dia membawa Ron kepada Harry dan yang lain, memberinya selimut dan Ramuan Merica Mujarab, kemudian pergi menjemput Fleur dan adiknya. Wajah Fleur terluka di banyak tempat dan jubahnya robek, tetapi dia tampaknya tak peduli. Dia juga tak mengizinkan Madam Pomfrey membersihkan luka-lukanya.

“Rawatlah Gabrielle,” katanya, dan kemudian dia menoleh kepada Harry. “Kau menyelamatkannya,”

katanya terengah. “Meskipun dia bukan sanderamu.”

“Yeah,” kata Harry, yang sekarang sepenuh hati berharap tadi dia meninggalkan ketiga anak perempuan itu terikat di patung.

Fleur membungkuk, mencium-Harry dua kali pada , masing-masing pipi (Harry merasa wajahnya terbakar dan tak akan heran kalau asap mengepul dari telinganya lagi), kemudian berkata kepada Ron, “Dan kau juga… kau membantu…”

“Yeah,” kata Ron, tampak sangat berharap, “yeah, sedikit…”

Fleur membungkuk dan menciumnya juga. Hermione tampak marah, tetapi kemudian, suara Ludo

Bagman yang dikeraskan secara sihir membahana di sebelah mereka, membuat mereka semua terlonjak, dan para penonton diam sehingga suasana sunyi senyap.

“Para hadirin sekalian, kami telah mengambil keputusan. Kepala duyung Murcus telah memberitahu kami apa persisnya yang terjadi di dasar danau, dan karena itu kami memutuskan untuk memberikan nilai berdasarkan nilai tertinggi lima puluh kepada masing-masing juara, sebagai berikut…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.