Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Duyung-duyung Situ berkulit keabu-abuan dan rambut mereka panjang, berantakan, berwarna hijau tua.

Mata mereka kuning, seperti juga gigi mereka yang patah-patah, dan mereka memakai kalung tali tebal dengan untaian kerikil di sekeliling leher mereka. Mereka melirik Harry ketika Harry berenang lewat.

Satu-dua di antara mereka muncul dari dalam gua agar bisa melihatnya lebih jelas. Ekor ikan mereka yang keperakan dan kuat memukul-mukul air, tombak dicengkeram di tangan.

Harry meluncur lebih cepat, memandang berkeliling, dan segera saja tempat tinggal mereka menjadi lebih banyak. Beberapa di antaranya punya halaman berumput, dan dia bahkan melihat Grindylow piaraan yang diikat di tiang di depan pintu. Duyung-duyung bermunculan dari segala jurusan, memandangnya dengan bergairah, menunjuk-nunjuk tangan dan kakinya yang berselaput, saling

berbicara di balik tangan. Harry membelok di sudut dan pemandangan aneh terlihat di depan matanya.

Kerumunan duyung melayang di depan rumah-rumah yang mengitari apa yang tampak seperti lapangan pangan kota versi-duyung. Paduan suara duyung bernyanyi di tengah lapangan itu, memanggil para juara kepada mereka, dan di belakang mereka menjulang patung sederhana duyung raksasa yang dipahat dari karang besar. Empat orang diikat kuat ke ekor duyung itu.

Ron terikat di antara Hermione dan Cho Chang yang satu lagi anak perempuan yang tampaknya tak lebih dari delapan tahun. Rambutnya yang keperakan membuat Harry yakin dia adik Fleur Delacour.

Keempatnya tampaknya tertidur lelap. Kepala mereka terkulai ke bahu, dan gelembung-gelembung kecil tak hentinya keluar dari mulut mereka.

Harry meluncur mendekati para sandera, setengah mengira para duyung akan menurunkan tombak dan menyerangnya. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Tali rumput laut yang mengikat para tawanan ke patung itu tebal, licin berlendir, dan sangat kuat. Sesaat terlintas di benak Harry pisau yang dihadiahkan Sirius kepadanya Natal yang lalu-terkunci di dalam kopernya di kastil seperempat kilo jauhnya, tak ada gunanya baginya.

Harry memandang berkeliling. Sebagian besar duyung yang mengelilinginya membawa tombak. Dia berenang gesit mendekati duyung pria setinggi kira-kira dua meter dengan jenggot hijau panjang dan kalung choker yang terdiri atas taring ikan hiu, dan berusaha memeragakan gerak mau meminjam tombak. Si duyung tertawa dan menggelengkan kepala.

“Kami tidak membantu,” katanya dengan suara kasar dan parau.

“AYOLAH!” kata, Harry berkeras (tetapi hanya gelembung-gelembung yang keluar dari mulutnya), dan dia berusaha menarik tombak dari duyung itu, tetapi si duyung menariknya kembali, masih menggeleng dan tertawa.

Harry berputar, mencari-cari. Sesuatu yang tajam.. apa saja…

Karang berserakan di dasar danau. Dia menyelam dan mengambil sepotong karang yang sangat tajam dan kembali ke patung. Dia mulai menetak-netak tali yang mengikat Ron, dan setelah beberapa menit bekerja keras, tali itu putus. Ron melayang, pingsan, beberapa senti dari dasar danau, terhanyut sedikit di air surut.

Harry memandang berkeliling. Tak ada tanda-tanda ketiga juara lainnya. Apa maunya mereka? Kenapa mereka tidak bergegas? Harry menoleh ke Hermione, mengangkat karangnya yang tajam, dan mulai menetak ikatannya juga…

Langsung saja beberapa pasang tangan kuat abu-abu menahannya. Enam duyung menariknya menjauh dari Hermione, menggelengkan kepala mereka yang berambut hijau dan tertawa.

“Ambil sanderamu sendiri,” salah satu dari mereka bicara kepadanya. “Tinggalkan yang lain…”

“No way!” kata Harry berang… tetapi hanya dua gelembung besar yang muncul.

“Tugasmu adalah mendapatkan kembali temanmu sendiri… tinggalkan yang lain…”

“Dia temanku juga!” Harry berteriak, menunjuk Hermione, gelembung perak besar muncul tanpa suara dari bibirnya. “Dan aku juga tak mau mereka mati!”

Kepala Cho terkulai ke bahu Hermione. Anak perempuan berambut keperakan itu pucat pasi kehijauan.

Harry memberontak mau melepaskan diri dari para duyung, tetapi mereka malah tertawa makin keras, memeganginya kuat-kuat. Harry memandang berkeliling dengan panik. Mana juara lainnya?

Cukupkah waktunya untuk membawa Ron ke permukaan dan menyelam lagi untuk menyelamatkan

Hermione dan yang lain? Bisakah dia menemukan mereka lagi? Dia menunduk memandang arlojinya untuk mengetahui berapa waktu yang masih tersisa arlojinya mati.

Tetapi kemudian duyung-duyung yang mengitarinya menunjuk-nunjuk bergairah ke atas kepalanya.

Harry mendongak dan melihat Cedric berenang ke arah mereka. Ada gelembung besar di kepalanya, yang membuat wajahnya tampak aneh dan teregang.

“Tersesat!” mulutnya mengucapkan, tampak panik. “Fleur dan Krum segera datang!”

Merasa lega sekali, Harry mengawasi Cedric mengeluarkan pisau dari dalam sakunya dan membebaskan Cho. Dia menarik Cho ke atas dan lenyap dari pandangan.

Harry memandang berkeliling, menunggu. Di mana Fleur dan Krum? Waktu semakin sempit, dan

menurut nyanyian, para tawanan tak akan bisa diselamatkan selewat satu jam…

Para duyung mulai menjerit-jerit bersemangat. Yang memegangi Harry mengendurkan cengkeraman, memandang ke belakang mereka. Harry berbalik dan melihat sesuatu yang mengerikan membelah air menuju mereka. Tubuh manusia memakai celana renang berkepala ikan hiu… Krum. Rupanya dia menTransfigurasi dirinya-tetapi tidak sempurna.

Si manusia-hiu berenang lurus ke arah Hermione dan mulai mengatupkan moncong menggigit talinya.

Masalahnya posisi gigi-gigi baru Krum sedemikian rupa sehingga susah sekali digunakan menggigit sesuatu yang lebih kecil daripada lumba-lumba, dan Harry yakin kalau Krum tidak berhati-hati, dia akan menggigit putus Hermione. Meluncur maju, Harry menghantam bahu Krum keras-keras dan mengangkat karang tajamnya. Krum menyambarnya dan mulai memotong ikatan Hermione. Dalam waktu beberapa

detik saja dia sudah berhasil membebaskannya. Dia menyambar pinggang Hermione, dan tanpa menoleh ke belakang, mulai meluncur ke atas menuju permukaan danau.

Sekarang bagaimana? pikir Harry putus asa. Jika dia bisa yakin Fleur pasti datang… tetapi tak ada tanda-tandanya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali…

Dia menyambar karang yang tadi dijatuhkan Krum. Tetapi para duyung sekarang mengerumuni Ron dan anak perempuan kecil itu, menggelengkan kepala mereka. Harry mencabut tongkat sihirnya. “Minggir!”

Hanya gelembung yang keluar dari mulutnya, tetapi dia mendapat kesan para duyung memahaminya, karena mereka mendadak berhenti tertawa. Mata mereka yang kekuningan terpancang pada tongkat sihir Harry, dan mereka tampak ketakutan. Jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding dia yang sendirian, tetapi dari ekspresi wajah mereka Harry bisa tahu, mereka sama sekali tak tahu tentang sihir, sama seperti si cumi-cumi raksasa.

“Kalian punya waktu sampai hitungan ketiga!” Harry berteriak, gelembung-gelembung menyembur dari mulutnya, tetapi dia mengangkat tiga jarinya untuk memastikan mereka menangkap maksudnya.

“Satu…” (dia melipat satu jari) “Dua…” (dilipatnya jari kedua)…

Mereka menyebar. Harry meluncur maju dan mulai menetak tali yang mengikat anak itu ke patung, dan akhirnya dia bebas. Harry menyambar pinggang anak itu, menarik leher jubah Ron, dan menjejak dari dasar danau.

Gerakannya lamban sekali. Dia tak bisa lagi menggunakan tangannya yang berselaput untuk

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.